Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 55 : Menantuku


__ADS_3

Indra awalnya terkejut mendengar ucapan Gia, tapi sedetik kemudian melebarkan senyum dan terlihat senang.


“Apa itu benar?” tanyanya memastikan.


Gia mengangguk menjawab pertanyaan Indra, lantas meninggalkan ruang kerja sang papa.


Indra buru-buru mengambil ponsel begitu Gia sudah pergi, pria itu menghubungi Airlangga untuk memastikan lagi apakah yang dikatakan putrinya memang benar.


“Halo.” Suara Airlangga terdengar dari seberang panggilan.


“Oh ... Ya menantuku, apa kamu bisa datang ke rumah untuk makan malam?” tanya Indra memanggil nama Airlangga dengan sebutan menantu.


Di rumahnya, Airlangga tampak terkejut mendengar sapaan yang diberikan Indra, tapi kemudian tersenyum menebak jika Gia pasti sudah bercerita ke pria itu.


“Malam ini aku tidak bisa, Pak. Mungkin lain waktu,” ucap Airlangga menjawab pertanyaan Indra.


Meski sedikit kecewa, tapi Indra paham mungkin Airlangga sangat sibuk.


“Oh ya, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu. Apa kamu benar-benar serius dengan Gia?” tanya Indra menyelidik.


“Tentu saja, aku serius dengan Gia. Bahkan aku ingin meminta izin ke Papa untuk mendekatinya,” jawab Airlangga dengan suara penuh penegasan. Bahkan dia sudah tak sungkan lagi memanggil pria itu papa.


“Jika kamu serius ingin mempersunting Gia, tentu saja aku akan memberi izin.”


Di rumahnya, Airlangga terlihat tersenyum-senyum sendiri saat mendengar jawaban dari Indra, hingga kemudian mengakhiri panggilan setelah selesai bicara.


Zie yang melihat papanya tertawa-tawa sendiri pun keheranan, hingga kemudian mendekat masih sambil mengamati ekspresi wajah Airlangga.

__ADS_1


“Papa kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Zie.


Airlangga menoleh dan melihat Zie yang sudah ada di sana. Sebelum kemudian menjawab, “Ini urusan orang dewasa, anak kecil tidak perlu tahu.”


Zie memanyunkan bibir mendengar jawaban sang papa, jika sudah begitu dia tidak akan pernah kepo lagi.


“Oh ya Zie, mama Alina hari ini diperiksa, kemungkinan statusnya akan naik jadi tersangka,” ucap Airlangga.


Zie memasang ekspresi wajah datar, sebelum kemudian berkata, “Sejujurnya aku ga mau Mama Alina sampai dihujat banyak orang.”


Airlangga terdiam mendengar ucapan sang putri. Ia tahu Zie terkadang memang tak tegaan.


“Pa, bagaimana kalau papa cabut tuntutannya, lalu tukar dengan hak asuh Gani. Jadi Mama Alina ga boleh lagi mengharapkan Gani,” ucap Zie memberikan ide cemerlang.


Airlangga malah tidak pernah berpikir sampai ke sana.


“Sudah, kamu jangan memikirkan hal itu, fokus saja belajar,” ucap Airlangga kemudian.


**


Hari berikutnya, Gia melancarkan aksinya untuk membuat Rafli jatuh tersungkur. Dia membuka grup chat kantor untuk berpamitan sekalian membahas soal uang pinalty yang dibayarkan ke Rafli.


[Maaf ya teman-teman kalau aku ada salah. Mungkin setelah ini aku akan keluar dari grup.]


Gia mulai melakukan perbincangan di grup chat kantor, setelah melihat banyaknya teman-teman yang melihat pesan chat darinya, Gia pun kembali mengetik pesan.


[Oh ya, aku kemarin terkena pinalty karena resign. Aku diharuskan membayar uang pinalty sebesar lima puluh juta ke Pak Rafli. Aku hanya ingin mengingatkan ke kalian untuk jangan sampai resign, atau rugi kayak aku.]

__ADS_1


Teman-teman Gia mulai membalas pesan chat Gia, mereka semua menanyakan kebenaran hal itu. Gia pun dengan semangat mengatakan kalau itu benar, bahkan dia punya bukti.


[Kira-kira uang pinalty masuk ke mana ya? Apa untuk biaya lembaga, atau tambahan bonus kalian?]


Gia kembali mencoba memprovokasi teman-temannya, hal itu ternyata berhasil karena sebagian besar dari teman-temannya juga menanyakan ke mana uang itu mengalir, serta tidak percaya jika uang pinalty digunakan untuk menambah bonus mereka.


Setelah membuat huru-hara di grup, serta berhasil menghasut teman-temannya, Gia lantas melaporkan masalah uang pinalty ke Irawan.


[Saya resign dari LPA karena merasa sudah tidak sejalan dengan visi misi awal LPA itu didirikan. Namun, sayangnya saya malah diminta membayar uang pinalty karena mengundurkan diri. Saya merasa ini tidak benar, jika Pak Irawan tidak bisa menindaklanjuti masalah tentang Pak Rafli yang meminta uang pinalty sebesar lima puluh juta ke saya, maka saya akan melaporkan hal ini ke KPK.]


Di ruang kerjanya, Irawan sangat terkejut membaca pesan dari Gia. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Gia akan seberani ini.


**


Hari berikutnya, Zayn ingin menemui Gia setelah mendengar cerita dari Irawan. Dia juga ingin tahu kondisi Gia paska keluar dari LPA. Zayn menghubungi Gia, tapi sayangnya panggilanya tidak dijawab Gia. Saat itu Zayn sedang menunggu bertemu Airlangga di gedung AIR FOOD.


“Kenapa dia tidak menjawab panggilanku,” gumam Zayn sambil menatap ponselnya.


Zayn pun memilih menunggu Airlangga, hingga ternyata yang datang menemuinya adalah Alvian.


“Maaf Pak Zayn. Pak Airlangga tidak bisa menemui Anda sekarang karena ada urusan penting,” ucap Alvian saat bertemu Zayn.


Zayn terkejut karena Airlangga malah menyuruh sang sekretaris untuk menemuinya.


“Sepenting apa urusannya, sampai membuat rekan bisnisnya menunggu?” tanya Zayn dengan sedikit rasa kesal.


“Penting, karena ini menyangkut masa depannya,” jawab Alvian.

__ADS_1


__ADS_2