
Hari itu Zie datang ke kantor polisi ditemani Airlangga, untuk memberikan keterangan sebagai korban atas kejadian yang menimpanya. Awalnya Zie ragu, tapi karena penjelasan sang papa dia pun bersedia.
“Jadi saat itu ibu Alina mendorongmu ketika kamu hendak menghalanginya membawa paksa Gani?” tanya polisi yang menangani kasus yang menyeret nama Alina.
“Benar, dia memaksa Gani ikut, meski Gani meronta dan menangis karena tidak mau. Lalu dia marah saat aku mencegah dan mendorongku hingga jatuh,” jawab Zie. Dia sebenarnya takut, tapi demi membantu Gani dan Airlangga, membuat Zie harus berani.
Polisi pun mencatat semua keterangan yang diberikan Zie, lantas berkata akan segera memproses dan meminta Zie juga Airlangga menunggu kabar dari pihak penyidik.
Setelah selesai memberi informasi, Airlangga dan Zie pun keluar dari kantor polisi untuk pergi. Namun, alangkah terkejutnya mereka saat melihat banyaknya wartawan yang menunggu mereka di depan.
“Pak Air, apa Anda benar-benar melaporkan mantan istri Anda karena kekerasan.”
“Mbak Zie, apa benar bu Alina mendorongmu?”
Pertanyaan demi pertanyaan terlontar, membuat Airlangga kewalahan karena wartawan itu memaksa mewawancarai mereka.
Alvian yang melihat hal itu pun mendekat, dia yang sejak tadi menemani sang atasan pun membelah kerumunan wartawan layaknya pengawal, Alvian lantas membantu Airlangga membawa Zie masuk ke mobil.
Para wartawan tetap berusah mengejar, tapi Zie dan Airlangga sudah lebih dulu masuk ke mobil. Alvian langsung memacu mobil dengan kecepatan tinggi meninggalkan kantor polisi.
“Kenapa para wartawan itu seperti semut yang melihat gula,” gumam Airlangga sambil melonggarkan dasi.
“Ya, karena begitu pekerjaan mereka, Pak. Wajarlah,” timpal Alvian. Dia melirik atasannya dari kaca spion tengah sebelum berkata lagi.
“Oh ya, Pak. Apa Anda tahu soal Gia yang menentang pak Rafli?”
“Bukankah dia memang tidak suka dengan pria itu?” Kening Airlangga berkerut, dia balik menatap sang sekretaris dan menuntut jawaban. "Apa ada yang lain?" tanyanya kemudian.
“Gia melaporkan pak Rafli ke dewan pengawas LPA, karena kinerjanya yang dianggap sudah melenceng,” ucap Alvian.
Bukannya kaget, Airlangga dan Zie lebih ke heran, dari mana Alvian tahu soal itu.
__ADS_1
“Memangnya Om Al tahu dari mana?” tanya Zie.
“Citra yang cerita,” jawab Alvian santai.
“Sejak kapan kamu dekat dengan Citra?”
Alvian terdiam dan langsung mengatupkan bibir sambil nyengir kuda mendapati pertanyaan Airlangga.
***
Di waktu yang sama, Rafli dibuat kalang kabut karena mendapatkan panggilan untuk menghadap dewan pengawas. Dia pun geram dan bisa menebak siapa yang sudah membuatnya dipanggil seperti ini.
Rafli keluar dari ruangannya, dia lantas berjalan cepat menuju ke meja kerja Gia. Dia bahkan menggebrak meja dan membuat semua staf terkejut karena sikap arogannya.
“Pasti kamu yang sudah melaporkanku ke dewan pengawas!”
“Iya, memangnya kenapa? Aku memang melaporkan Anda ke pak Irawan,” ujar Gia dengan santai.
Rafli terkejut dan terlihat meremas udar di depan muka Gia. Ia tak menyangka Gia menemui Irawan dan benar-benar mengadukannya. Dia pun akhirnya pergi sambil marah-marah, sedangkan Gia hanya menatap kesal dan berharap Rafli terkena batunya.
“Halo.” Gia pun menjawab panggilan itu.
“Apa kamu ada waktu? Ada hal yang ingin aku bicarakan, apa kita bisa bertemu?” tanya Airlangga dari seberang panggilan.
“Sepertinya tidak bisa, banyak pekerjaan yang harus aku lakukan,” jawab Gia.
“Tapi ini penting, apa kamu tidak bisa meluangkan waktu?” Airlangga terdengar memaksa.
Gia terlihat bingung, tapi kemudian berkata, “Baiklah, kalau begitu nanti malam saja di rumah.”
***
__ADS_1
Malam harinya. Airlangga benar-benar datang ke rumah Gia. Dia disambut Indra dan mereka pun mengobrol sambil menunggu Gia keluar.
Saat keduanya sedang berbincang, tiba-tiba satu unit mobil masuk ke halaman rumah Indra. Airlangga dan Indra yang duduk di teras pun mengamati, hingga melihat Zayn keluar dari sana.
“Kenapa dia juga datang?”
Indra bertanya-tanya dalam hati, terkejut karena kedatangan Zayn ke rumahnya. Mantan kekasih putrinya itu mendekat, tersenyum ramah ke arahnya juga Airlangga.
“Apa Gia ada, Om?” tanya Zayn sopan, meski dia bisa menebak jika Gia berada di rumah, tapi tetap saja tidak sopan kalau tidak berbasa-basi.
“Ada. Duduklah dulu,” kata Indra mempersilakan Zayn duduk.
Sementara itu, Gia baru saja menuruni anak tangga, dia melangkah dengan riang dan tidak tahu kalau ada Zayn di depan. Hingga langkah Gia terhenti dan dia terlihat mati gaya melihat Airlangga dan Zayn sama-sama menatapnya.
“Kenapa Zayn juga ada di sini?”
Gia menelan ludah kemudian mencoba bersikap biasa dan hendak duduk, tapi parahnya Indra malah bangun kemudian meninggalkannya bersama Airlangga dan Zayn.
“Dasar, Papa. Kenapa malah pergi dan ninggalin aku sendirian di sini,” gerutu Gia di dalam hati.
“Kenapa kamu ke sini?” tanya Gia ke Zayn dengan nada ketus. Dia memang membenci pria itu karena masa lalu mereka yang bisa dibilang menyakitkan untuk Gia.
“Kamu tidak suka aku datang ke sini?” tanya Zayn diikuti senyuman ramah.
“Ya iyalah, sudah jelas itu,” ketus Gia.
Meski pernah membantunya bertemu irawan, tapi tetap saja Gia tak ingin Zayn berpikir dia gampang didekati lagi.
“Padahal aku ke sini karena membawa informasi penting tentang rapat dewan pengawas LPA siang tadi,” ucap Zayn.
Gia langsung melongo, sedangkan Airlangga hanya diam mendengarkan dengan seksama.
__ADS_1
“Pak Rafli mencoba menjatuhkanmu, dia berkata kalau kamu melaporkannya karena kamu dekat dengan Pak Airlangga, makanya kamu sampai mati-matian membela,” ucap Zayn di depan muka Airlangga.
"Apa?"