
Mendengar Gani sakit dan tidak ada orang dewasa di apartemen, tentu saja membuat Airlangga panik dan cemas. Dia masuk kembali ke ruang rapat, kemudian mengakhiri rapat itu meski belum selesai.
“Maaf, kita akan menjadwal ulang rapat ini,” ucap Airlangga kemudian pamit undur diri.
Airlangga pun buru-buru keluar dari gedung untuk pergi ke apartemen Alina karena Alvian terjebak macet di jalanan. Pria itu berinisiatif pergi menggunakan ojek, tidak mau kalau sampai naik taksi dan terjebak seperti sekretarisnya.
“Pak, turun!” perintah Airlangga saat mendapatkan ojek.
Pengemudi ojek pun keheranan karena diminta turun oleh CEO AIR FOOD itu.
“Biar aku yang di depan,” kata Airlangga, kemudian menyerobot naik ke bagian depan motor.
Pengemudi ojek itu pun ikut saja, lantas duduk di belakang membonceng Airlangga.
Airlangga memacu motor dengan kecepatan tinggi, bahkan mobil dan truk-truk dijalanan pun disalipnya.
“Hati-hati, Pak. Nanti nabrak, ini motor cicilan belum lunas,” kata tukang ojek yang ngeri sendiri dengan cara Airlangga mengemudi.
“Kalau nabrak, aku belikan motor baru,” ucap Airlangga dengan entengnya.
Tukang ojek itu hanya bisa berdoa agar mereka selamat sampai tujuan. Airlangga masih memacu motor secara kebut-kebutan, hingga Alvian yang masih terjebak macet saja disalipnya.
“Pak Air?” Alvian sangat terkejut melihat atasannya naik motor ugal-ugalan.
__ADS_1
Orang-orang yang melihat pun keheranan karena merasa ada pemandangan aneh di jalanan. Seorang pria mengenakan jas formal, kebut-kebutan di jalan layaknya preman.
Sementara itu di apartemen, Zie membuatkan teh pahit untuk Gani, setidaknya itu bisa sedikit meringankan rasa sakit perut adiknya.
“Gani sabar dulu ya, minum ini dulu sampai Papa datang dan bawa ke dokter,” ucap Zie.
Gani mengangguk-angguk menuruti ucapan Zie, meski pahit tapi bocah laki-laki itu mau meminum teh yang dibuat Zie.
Airlangga akhirnya sampai di apartemen Alina. Dia langsung membayar tukang ojek tadi, kemudian menghampiri sopir taksi yang masih ada di depan apartemen.
“Bapak tadi ngantar anak SMA ke sini, ya?” tanya Airlangga sambil membuka dompet.
“Iya, Pak,” jawab sopir taksi itu.
“Kelebihannya buat kompensasi karena sudah menunggu lama,” ucap Airlangga kemudian berlari masuk ke apartemen.
Airlangga langsung naik ke unit apartemen Alina, Zie pun bergegas membukakan pintu saat bel berbunyi, dia yakin pasti Airlangga yang datang.
“Gani diare, Pa. Tadi sudah Zie buatkan teh pahit, tapi tetap harus dibawa ke dokter,” ucap Zie ke Airlangga.
Airlangga langsung mencari Gani, hingga putranya itu berlari kemudian memeluknya erat karena sangat ketakutan.
“Gani takut sendirian, Pa,” lirih Gani masih memeluk Airlangga.
__ADS_1
Airlangga merasa bersalah mengetahui kondisi Gani yang seperti ini. Dia sampai menciumi kepala putranya itu berulang kali.
“Kita pergi!” ajak Airlangga.
Zie mengangguk, kemudian mereka pun keluar dari unit apartemen Alina dan turun untuk bisa segera membawa Gani ke dokter.
Saat sampai di bawah, Airlangga melihat taksi yang mengantar Zie masih berada di sana karena sedang mangkal. Dia pun meminta sopir taksi itu mengantar mereka ke dokter.
***
“Mungkin karena makan sembarangan dan tidak bersih, jadi bakteri masuk ke lambung. Ini saya resepkan obat, jangan lupa diminum sesuai dosis yang dianjurkan,” ucap dokter yang memeriksa Gani.
Airlangga bersyukur karena sakitnya Gani tidak buruk dan hanya diare biasa. Dia akhirnya membawa Gani pulang ke rumahnya, tidak peduli jika nantinya Alina kebingungan mencari keberadaan Gani.
“Gani bobok di kamar, ya. Papa keluar sebentar,” kata Airlangga saat sudah sampai di rumah.
Gani mengangguk, kemudian ditemani Zie masuk kamar untuk tidur setelah minum obat.
Airlangga mengeluarkan ponsel, lantas mengetik pesan untuk dikirimkan ke Gia. Dia mengetik tentang kejadian yang menimpa Gani siang ini, bertanya apakah layak dan pantas seorang ibu meninggalkan anak berumur empat tahun di apartemen sendirian, hingga akhirnya si anak sakit diare.
Di LPA, Gia kaget mendapatkan pesan dari Airlangga. Terlebih saat membaca isi pesan dari pria itu.
“Ini keterlaluan, tega sekali,” gerutu Gia.
__ADS_1
Akhirnya Gia memutuskan pergi dari LPA secara diam-diam untuk ke rumah Airlangga. Hanya ingin memastikan apakah pesan yang dikirimkan Airlangga benar adanya.