Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 31 : Bingung Memikirkan Baju


__ADS_3

“Zie!”


Zie yang sedang menonton televisi, langsung menoleh Airlangga yang berdiri di samping sofa.


“Ada apa, Pa?” tanya Zie. Dia memasukkan camilan ke mulut, dengan pandangan masih tertuju ke sang papa.


“Papa ada acara ke pesta dan akan datang bersama Gia. Tapi Papa bingung harus mengenakan pakaian apa,” jawab Airlangga sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


Zie melongo mendengar jawaban Airlangga, baru kali ini sang papa kebingungan memilih pakaian yang akan dikenakan, biasanya juga tidak pernah bertanya padanya. Zie melihat papanya seperti anak muda yang sedang ingin berkencan, sehingga harus berpenampilan sempurna sampai bertanya ke orang lain.


Zie pun mengajak Airlangga ke kamar pria itu. Dia membuka lemari dan menatap berbagai jenis, warna, dan model setelan jas di sana.


“Itu banyak setelan jas, kenapa Papa bingung?” tanya Zie keheranan, menatap Airlangga yang berdiri di sampingnya.


“Bukan begitu, Zie. Aku takut jika apa yang aku kenakan, tidak sama dengan yang dikenakan Gia,” jawab Airlangga, dia terlihat berpikir sambil memandang pakaiannya yang ada di lemari.


Zie menepuk jidat melihat kelakuan papanya, kemudian berkata, “Kalau masalahnya karena takut tidak serasi, kenapa Papa tidak tanya saja sama Kak Gia, dia pakai baju seperti apa?”


Airlangga salah tingkah mendengar ucapan Zie, hingga kemudian menggaruk-garuk kepala bagian belakang.


“Papa malulah, Zie. Masa menghubungi hanya untuk tanya gaun seperti apa yang akan dia kenakan,” ucap Airlangga.


Zie semakin bingung dengan sikap sang papa, kemudian mengeluarkan ponsel dan siap menghubungi Gia.


“Mau apa kamu?” tanya Airlangga saat melihat gerak-gerik Zie yang mencurigakan.


“Nelpon Kak Gia, mau tanya pakaian seperti apa yang akan dikenakannya. Bukankah Papa malu bertanya? Padahal Papa tahu jika malu bertanya, sesat di pakaian,” ujar Zie dengan sedikit nada candaan.

__ADS_1


Airlangga mencebik mendengar candaan Zie, kemudian mengambil paksa telepon gadis itu.


“Pa, kok diambil?” Zie semakin geleng-geleng kepala dengan sikap Airlangga.


“Biar Papa saja yang menghubungi, jangan sampai Gia menganggap Papa pengecut karena menyuruhmu menghubunginya,” ujar Airlangga yang takut jika Gia sampai berpikir demikian.


Zie mengedikkan kedua bahu, lantas mengambil ponselnya dari tangan Airlangga dan menyimpannya kembali ke saku.


Airlangga pun mengirimkan pesan ke Gia, berharap gadis itu segera membalas agar dirinya tidak bingung lagi.


Di sisi lain. Gia sedang makan malam bersama Indra, keduanya tampak begitu menikmati hidangan yang tersaji di meja.


“Oh ya, minggu ini kamu temani Papa main golf, ya!” ajak Indra.


Gia mengelengkan kepala menjawab pertanyaan sang papa. “Tidak bisa, Pa. Minggu ini aku sudah ada janji,” kata Gia, lantas memasukkan makanan ke mulut.


“Aku ada acara bersama CEO Kecap, jadi tidak bisa menemani Papa,” jawab Gia jujur.


Indra merekahkan senyum mendengar putrinya akan pergi dengan Airlangga, tentu saja merasa itu adalah hal baik karena akhirnya Gia benar-benar akur dengan Airlangga, sampai mau pergi bersama.


“Ya sudah tidak apa-apa jika mau pergi dengan Airlangga, lupakan ajakan Papa tadi,” ucap Indra dengan senyum yang masih terpajang di wajah.


Setelah usai makan malam. Gia masuk ke kamar dan mengambil ponsel yang sejak tadi diletakkan di atas nakas. Dia melihat pesan masuk dari Airlangga, lantas segera membuka dan membaca isi pesan itu.


Tanpa sadar, Gia tersenyum saat membaca pesan Airlangga yang menanyakan pakaian apa yang akan dikenakan Gia saat pesta nanti, entah kenapa dirinya senang Airlangga menanyakan hal itu.


Gadis itu pun mengetikkan pesan, kemudian mengirimkannya ke Airlangga.

__ADS_1


[Sebenarnya aku belum memiliki gaun yang akan dikenakan untuk ke pesta, tapi jika sudah dapat, aku akan segera mengabarimu.]


Gia menunggu pesan balasan dari Airlangga, hingga tidak butuh waktu lama notifikasi pesan terpampang di layar ponsel.


[Bagaimana jika mencari baju bersama? itu kalau kamu tidak keberatan.]


Gia tersenyum sendiri membaca pesan Airlangga, hingga kemudian kembali mengetik pesan balasan untuk pria itu.


[Baiklah, kita pergi besok.]


Gia tersenyum lagi saat Airlangga membalas pesan dan akan menjemputnya sepulang bekerja. Entah kenapa Gia sangat senang dan merasa Airlangga perhatian.


**


Hari berikutnya, Gia pergi bekerja seperti biasa, hingga tiba-tiba Rafli mendekat dan kini berdiri di depan mejanya. Gia pun mendongak dan menatap tidak senang atasannya itu.


“Apa kamu tahu kalau Alina melaporkan Airlangga?”


Gia memutar bola mata, kemudian menjawab, “Bukan urusanku!”


Sejujurnya Gia terlalu malas bicara dengan Rafli yang memiliki pemikiran licik.


“Dasar kamu! Kamu ini lagi PHP-in dua pria ya? Airlangga dan juga pria kemarin yang ngajak kamu ngopi!” balas Rafli karena Gia terlihat tak acuh.


Gia membulatkan bola mata mendengar ucapan Rafli, hingga terlihat begitu kesal sambil menatap atasan menjengkelkannya itu.


“Apa Bapak sekarang juga berprofesi jadi mata-mata?”

__ADS_1


__ADS_2