
Airlangga terlihat berpikir, hingga menatap Alvian yang menunggu jawabannya.
“Idemu bagus juga,” kata Airlangga membenarkan ide sang sekretaris.
Alvian tersenyum lebar, kemudian mengacungkan jempol.
“Tapi sebentar.” Airlangga terlihat berpikir lagi.
“Ada apa lagi, Pak?” tanya Alvian.
“Bagaimana caraku mendekatinya agar dia mau membantuku? Kamu tahu sendiri bagaimana penilaian Gia terhadapku. Buruk.” Airlangga berpikir, itu karena Gia sudah tidak mempercayainya lagi.
Alvian juga bingung dan malah membenarkan apa yang dikatakan oleh Airlangga.
**
Seharian Airlangga berpikir, hingga tiba-tiba teringat ke Zie. Mungkinkan Airlangga harus meminta tolong putrinya untuk mendekati Gia.
“Tidak ada salahnya meminta bantuan Zie,” gumam Airlangga dengan senyum lebar.
Saat pulang ke rumah, Airlangga langsung menemui Zie yang sedang di kamar. Zie sendiri sedang belajar dan langsung mempersilakan Airlangga masuk saat dia mengetuk pintu.
“Zie, bantu Papa buat deketin Gia, ya. Tolong,” pinta Airlangga to the point, mengutarakan maksud kedatangannya ke kamar putri tirinya.
Zie yang masih berumur empat belas tahun, merasa bingung dengan permintaan ayahnya hingga menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
“Kenapa Papa memintaku buat dekatin kakak itu?” tanya Zie keheranan. Dia menganggap sang papa tidak gentle dengan meminta anak ingusan sepertinya untuk membantu.
“Kenapa tidak Papa sendiri yang dekati?” tanya Zie lagi dengan wajah terheran-heran.
Airlangga terkejut mendengar pertanyaan Zie, kemudian mencari alasan yang pas agar Zie bisa menerima.
“Jadi gini, Zie. Gia berpikir Papa itu bukan pria baik dan tidak benar karena telah melakukan suap ke atasannya. Padahal kamu tahu, apa tujuan Papa melakukan itu. Semua demi mendapatkan Gani,” jawab Airlangga menjelaskan
Zie pun terlihat berpikir, jika memang urusannya karena menyangkut soal adik tirinya, Zie pun terlihat bersemangat.
“Lalu, Papa ingin aku melakukan apa?” tanya Zie yang akhirnya setuju membantu.
Airlangga tersenyum lebar, yakin jika Zie pasti tidak akan mengecewakan dirinya.
“Kamu datanglah ke LPA, lalu berpura-puralah ingin meminta pendampingan karena mentalmu terganggu,” jawab Airlangga.
“Aku ‘kan baik-baik saja, Pa.” Zie tentu saja memprotes ide Airlangga.
“Hanya pura-pura, Zie.”
**
Hari berikutnya. Di sekolah Zie sedang berbincang bersama Marsha di kantin. Zie menceritakan misi yang diberikan papanya, hingga meminta bantuan Marsha untuk menemani.
“Bagaimana, Sha. Kamu mau ‘kan menemaniku?” tanya Zie penuh harap.
__ADS_1
Marsha masih menyeruput jus, kemudian memandang temannya yang memelas meminta bantuan.
“Okelah, mau ke sana kapan?” tanya Marsha yang terlihat bersemangat membantu.
“Ntar pulang sekolah, ya!”
Marsha langsung mengacungkan jempol tanda setuju untuk pergi menemani sahabatnya.
Benar saja, setelah pulang sekolah. Zie dan Marsha pergi ke LPA untuk menemui Gia. Keduanya sudah berada di gedung LPA dan kini menunggu di ruang tamu khusus yang ada di sana.
“Selamat siang, apa ada yang bisa saya bantu?”
Ternyata yang menemui Zie dan Marsha adalah Citra, tentu saja hal itu membuat Zie terlihat tidak senang.
Zie menengok pintu, tapi tidak melihat Gia.
“Aku maunya Kak Gia yang menangani masalahku, aku tidak mau yang lain,” ucap Zie dengan suara khas anak kecil.
Citra kebingungan mendengar permintaan Zie, tapi sadar jika yang ditangani adalah anak yang bisa dibilang remaja, dia pun mengangguk dan meminta agar Zie menunggu.
Zie dan Marsha benar-benar menunggu Gia datang, hingga akhirnya gadis itu benar-benar menemui mereka.
Gia terkejut melihat Zie di sana. Berpikir kenapa anak Airlangga datang ke LPA dan berkata ingin mendapatkan pendampingan. Hingga membuat Gia tiba-tiba berpikir hal negatif, jangan-jangan ada kasus lain yang menimpa Zie.
“Apa jangan-jangan dia dilecehkan ayahnya?” Gia bergumam dalam hati, tapi sedetik kemudian menggelengkan kepala dengan cepat.
__ADS_1
“Jangan sampai, apa yang akan terjadi dengan dunia ini kalau sampai setiap anak tiri diperlakukan buruk? Tidak!”
Gia sangat syok membayangkan kemungkinan kedatangan Zie di sana menemui dirinya. Hatinya yang lembut tidak akan sanggup melihat cerita anak tiri yang teraniaya.