
“Aku menyukaimu, Zie juga Gani.”
Airlangga yang sudah terlanjur senang mendengar ucapan Gia menjadi sedikit kecewa. Ternyata gadis itu belum selesai dengan kalimatnya dan dia sudah menyimpulkan sendiri.
“Aku membantu orang yang aku sukai, lagipula kamu adalah pria baik,”imbuhnya.
Tepat setelah mengatakan itu, Gia menjauhkan badan. Ia berjalan mendahului Airlangga untuk menghindari tatapan mata pria itu – yang membuat jantungnya berdetak tak karuan.
“Aku haus, aku benar-benar bisa mati kehausan,”ucap Gia dengan suara lantang agar Airlangga mendengar.
Setelah duduk dan memesan minuman, mereka kembali mengobrol. Kali ini Gia tidak ingin membahas masalah perasaan tapi lebih ke masalah yang harus dihadapi Airlangga.
Menurut pria itu, kemungkinan besar Alina pasti akan ditetapkan menjadi tersangka. CCTV rumah dan kesaksian pembantunya bisa memberatkan wanita itu.
“Aku mencurigai sesuatu, entah kamu menyadarinya atau tidak, tapi Alina seperti orang yang kecanduan narkotika,”kata Gia.
Airlangga kaget, dia bahkan urung menyeruput kopinya karena dugaan Gia tadi. Pria itu meletakkan kembali cangkir di tangannya, dan memandangi Gia dengan ekspresi tak percaya.
__ADS_1
“Apa kamu tidak curiga dengan tingkah managernya? Coba kamu tekan dia, atau minta polisi melakukan tes urine ke mantan istrimu itu.”
Ucapan Gia yang tanpa keraguan itu mengingatkan Airlangga tentang masa lalunya bersama Alina. Ya, wanita itu memang pernah menggunakan obat-obatan terlarang, tapi setahu Airlangga Alina sudah berhenti semenjak mengandung Gani.
“Apa dia kumat lagi?” gumam pria itu di dalam hati.
_
Sementara itu, Rafli yang menerima cek dari Gia tak menunggu lama untuk mencairkannya. Dengan hati riang pria rakus itu pergi ke bank, tanpa tahu bahwa cek itu diambil Gia dari sang papa.
Indra pun kaget saat mendapat notifikasi penarikan cek sebesar lima puluh juta dari rekening gironya. Pria itu ingat kalau Gia pagi tadi berkata mengambil kertas dari laci meja kerjanya. Indra tak bisa menunggu sampai pulang ke rumah untuk menanyakan hal ini ke Gia. Ia pun meraih ponsel dan segera menghubungi sang putri.
“Bukan aku, Pa,”ucap Gia bahkan saat Indra belum buka suara.
“Lalu siapa?”
“Pak Rafli,”jawab Gia enteng. “Aku akan mengganti uang papa, maaf tidak memberitahu lebih dulu karena aku takut Papa akan melarang dan membuatku mengurungkan niat melakukan rencana ini.”
__ADS_1
Airlangga yang mendengar ucapan Gia mengerutkan kening, karena nama Rafli disebut dia sudah menduga pasti ini bagian dari niatan Gia membantunya.
“Papa jangan cemas, aku akan menceritakan semuanya di rumah nanti.”
Gia mengakhiri panggilan itu, lantas meletakkan kembali ponselnya. Ia heran melihat Airlangga yang menatapnya dengan mimik aneh. Gia membuang muka lalu menenggak ice latte miliknya, sebelum kembali memandang Airlangga dan bertanya apa ada yang salah.
“Kenapa? jangan memperlihatkan mimik muka seperti itu,”pinta Gia yang salah tingkah.
“Katakan! Apa rencanamu? Kalau kamu memang ingin membantuku, setidaknya beritahu aku isi kepalamu itu,”ujar Airlangga.
Gia diam dan malah mengulum bibir. “Ini tidak ada hubungannya denganmu,”jawabnya.
“Tapi aku ingin tahu, agar aku bisa melindungimu.”
Gia menelan ludah karena Airlangga nampak sangat serius. Dadanya bahkan berdebar-debar, seolah tahu kalimat selanjutnya yang akan dikatakan oleh Airlangga akan membuatnya tak bisa berkutik.
“Aku ingin melindungimu, mungkin kamu tidak akan percaya dengan apa yang akan aku katakan, tapi aku menyukaimu. Aku menyukaimu juga pak Indra.”
__ADS_1
Gia tertawa, dia merasa lega sekaligus sedikit kecewa karena Airlangga seperti membalas kelakuannya tadi. Namun, kelegaan gadis itu seketika menguar saat duda beranak dua di depannya ini kembali bicara.
“Aku ingin menjadikanmu kekasih, ah … bukan. Aku ingin menjadikanmu istri.”