
Airlangga terkejut dan bingung mendengar ucapan Gia, bahkan sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Pria itu lantas memandang Alvian yang juga ada di ruangan itu.
“Al, apa kamu bisa keluar dulu? Ada yang ingin aku bicarakan berdua dengan Gia,” kata Airlangga memberi perintah.
Alvian pun mengangguk, dengan senyum yang susah sekali dia sembunyikan, Alvian pergi meninggalkan Gia dan Airlangga.
“Apa kamu serius dengan yang kamu katakan?” tanya Airlangga ke Gia, saat Alvian sudah pergi meninggalkan mereka berdua.
“Perkataanku yang mana?” tanya Gia berpura-pura tidak peka.
“Menjadi istriku,” jawab Airlangga tampak begitu antusias menunggu jawaban Gia.
“Iya,” jawab Gia, “kalau tidak, untuk apa aku berkata seperti itu,” imbuhnya.
Airlangga terlihat begitu senang mendengar jawaban Gia. Dia tersenyum, pipinya merona seperti anak ABG yang baru saja diterima cintanya.
“Aku ingin mencoba jalan dulu denganmu, tidak ada salahnya, ‘kan?” tanya Gia kemudian.
“Tentu saja.”
Airlangga benar-benar senang dan tidak bisa menutupi hal itu. Dia hampir memeluk Gia, tapi masih merasa bingung juga canggung, membuatnya terlihat salah tingkah dan akhirnya hanya mengulurkan tangan ke Gia. Mereka pun berjabat tangan seolah baru saja mencapai kesepakatan bisnis.
**
Sebulan kemudian. Siang itu, Gia bertemu dengan Citra, mereka ke kafe yang menyediakan makanan dan minuman kesukaan mereka. Awalnya baik Gia dan Citra hanya membahas hal-hal random saja, sampai akhirnya mereka membahas soal LPA.
“Akhirnya Pak Rafli dipecat dan kini sudah resmi dicopot jabatannya dari direktur LPA,” ucap Citra yang terlihat begitu lega.
“Baguslah, dengan begini LPA akan selamat dari manusia-manusia seperti Pak Rafli,” timpal Gia.
“Hak asuh Gani juga sudah jatuh ke tangan Airlangga, aku ikut lega dan senang mendengarnya,” ucap Gia kemudian.
Citra mengangguk-angguk, hingga pandangannya tertuju ke cincin yang tersemat di jari manis tangan kiri Gia.
__ADS_1
“Cincinmu baru? Atau ada yang ngasih? Emang kamu sudah punya pacar?” tanya Citra yang baru saja melihat cincin bertahtakan berlian milik Gia.
Gia mengamati jarinya, lantas menunjukkan ke Citra agar temannya itu bisa melihat dengan lebih jelas.
“Bukan hanya pacaran, aku sudah dilamar dan sebentar lagi akan menikah,” jawab Gia.
Citra tentu saja terkejut hingga melongo mendengarnya. “Dengan siapa?” tanyanya penasaran.
Gia tersenyum lebar, hingga menunjuk ke arah pintu masuk kafe. “Itu.”
Citra menoleh, hingga semakin melongo tidak percaya melihat Airlangga masuk kafe. Pria itu tersenyum lebar ketika melihat Gia menunjuk ke dirinya. Airlangga pun bergegas menghampiri Citra dan Gia.
“Bagaimana kabarmu, Cit?” tanya Airlangga.
“Baik,” jawab Citra masih penasaran apakah benar yang dikatakan sahabatnya barusan.
“Apa kalian sepasang kekasih?” tanya Citra saat Airlangga sudah duduk di samping Gia.
Citra tidak menyangka jika itu benar, hingga menggeleng-gelengkan kepala karena merasa terheran-heran sebab Gia dan Airlangga menjalin hubungan.
“Mustahil!”ucapnya tak percaya.
**
Malam harinya, Indra mengundang Airlangga datang ke rumah bersama Zie dan Gani. Mereka pun makan malam bersama dan terasa begitu hangat menyelimuti ruangan itu.
“Apa aku boleh memanggilmu dengan sebutan kakek?” tanya Zie di sela makan. “Gani pasti juga senang kalau diperbolehkan memanggil dengan nama kakek,” imbuh Zie lagi.
Indra tertawa mendengar pertanyaan Zie, hingga kemudian menjawab, “Tentu saja, kenapa tidak boleh?”
Zie dan Gani tertawa senang, hingga kemudian memanggil Indra serempak dengan sebutan kakek.
Gia dan Airlangga juga tertawa kecil, mereka makan malam bersama sambil bercanda dan sesekali terdengar suara gelak tawa Gani yang begitu lepas.
__ADS_1
“Kakek mau punya berapa cucu?” tanya Zie di sela candaan.
“Berapa ya? Menurutmu berapa?” tanya Indra balik menanggapi pertanyaan Zie.
“Kalau bisa, yang banyak biar rame,” jawab Zie diakhiri tawa kecil.
Indra tertawa mendengar jawaban Zie, tapi Gia merasa malu dan berdeham mendengar jawaban calon anak tirinya itu.
**
Setelah makan malam dan berbincang cukup lama. Zie dan Gani tidur di kamar tamu, sedangkan Airlangga dan Gia tampak duduk sambil mengobrol di halaman depan.
“Sepertinya Zie dan Gani sudah sangat nyaman dengan papamu. Bahkan menganggapnya kakek sendiri,” kata Airlangga.
“Aku juga bersyukur karena mereka bisa menerima dan akrab dengan Papa,” balas Gia.
Airlangga meraih telapak tangan Gia, lantas menggenggamnya erat.
“Gia, terima kasih karena mau menerimaku apa adanya,” ucap Airlangga sambil menatap Gia.
Gia memandang Airlangga, hingga kemudian mengulas senyum.“Kenapa berterima kasih? Memangnya aku sudah berbuat apa, sampai kamu harus mengucapkan terima kasih?” tanyanya.
Airlangga tersenyum kecil, hingga kemudian menjawab, “Karena kamu mau menerimaku, padahal aku berstatus duda dengan dua orang anak . Kamu bisa menerima semua kekuranganku dan aku sangat berterima kasih akan hal itu.”
“Itu bukan masalah, aku melihatmu bukan karena status, tapi karena hatimu yang baik, terlebih tidak ada orang yang sempurna di dunia ini,” ujar Gia menjelaskan.
Airlangga semakin mempererat genggaman tangan di Gia, hingga kemudian mendekatkan wajah dan mencium bibir gadis itu.
“Ini manis,” bisik Gia.
“Aku yakin ini bukan ciuman pertamamu.”
TAMAT
__ADS_1