Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 50 : Mengundurkan Diri


__ADS_3

Pagi itu Gia dibuat kesal papanya. Indra terus bertanya apa yang dibicarakan olehnya, Zayn juga Airlangga semalam. Gia yang malas membahas masalah itu memilih buru-buru menyantap sarapan. Ia harus mendapat banyak asupan untuk menghadapi Rafli di kantor nanti.


"Aku tidak mau membahas yang semalam, Pa. Aku harus buru-buru ke LPA dan bertemu dengan si rambut cangkok itu."


Indra pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Pria itu sadar bahwa putrinya memang memiliki sifat yang mirip dengan mendiang istrinya. Gia pantang menyerah, dan fokus akan tujuan. Jika begini Indra pun tak bisa menghalangi, dia mendoakan semoga Gia tidak mendapat lebih banyak masalah nantinya.


“Pa, aku tadi mengambil kertas dari laci meja kerja Papa. Aku harap Papa tidak keberatan,”ucap Gia sambil bangkit dari kursi.


Indra hanya mengangguk ragu, bingung kertas apa yang diambil oleh putrinya itu, tapi kemudian dia tersenyum karena Gia mengecup pipinya untuk pamit berangkat bekerja.


Setibanya di LPA Gia memilih duduk di kursi kerjanya sambil menatap ke arah pintu ruangan Rafli. Ia geram mengingat ucapan Zayn perihal Rafli yang mengadukannya juga ke dewan pengawas. Selain mata duitan, pria itu ternyata jahatnya tak ada obat.


Gia membuka laptop karena Rafli belum datang, dia menatap ragu file laporan observasinya ke anak-anak yang butuh pendampingan LPA, hingga suara Citra mengagetkannya. Gadis itu melepas tas dan langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


"Ada kabar yang berhembus kalau kamu adalah kekasih Pak Airlangga, kamu menerima uang darinya untuk itu mati-matian membela."

__ADS_1


"Kabar itu pasti disebar oleh mahkluk julid yang tak bertanggungjawab," sinis Gia mendapati temannya yang suka menjilat atasannya datang. Sorot matanya tajam penuh kebencian, tapi Gia mencoba untuk tetap bersikap tenang.


Citra merasa Gia tidak dalam suasana hati yang baik. Ia lantas duduk di meja kerjanya sendiri lalu membuka ponsel. Gadis itu melirik Gia dan bertanya, ”Aku mau beli sarapan, apa kamu mau juga?”


“Tidak, Terima kasih! Aku sudah sarapan.”


Citra mengerutkan kening sambil mencoba menjulurkan kepala untuk melihat apa yang sedang ditulis oleh temannya itu. Bunyi benturan keyboard laptop Gia sangat jelas dan cepat, sepertinya Gia buru-buru untuk menyelesaikan laporannya. Namun, benarkah itu laporan?


Saat Citra hendak menyantap makanannya yang baru saja datang, tiba-tiba mesin pencetak di sebelah mejanya berbunyi, Citra menoleh Gia yang mendekat dan mengambil hasil cetakan yang ternyata hanya satu lembar.


Gia tak langsung menjawab, dia sengaja menunggu Citra menelan makanannya dulu karena takut gadis itu terdedak.


”Surat pengunduran diriku,”ucapnya.


“Apa? kamu mau keluar dari sini?”

__ADS_1


Citra tak bisa meredam rasa terkejutnya hingga bicara dengan suara lantang.


Gia sendiri tak terganggu dengan ekspresi Citra yang berlebihan dan menjawabnya dengan anggukan kepala santai. Ia memang memutuskan untuk mengundurkan diri agar Rafli tidak bisa menekan. Gia berpikir jika diperlukan kesaksiaannya dalam kasus Gani, majelis pasti mempertimbangkan karena dirinya lebih netral dan sudah tidak terikat pekerjaan apapun di LPA.


“Aku ini kaya Citra, uang bukan alasanku bekerja di LPA. Semua aku lakukan karena cita-cita Mamaku, tapi aku tidak bodoh untuk terus bertahan di lembaga busuk ini,”kata Gia.


Bersamaan dengan itu Rafli nampak datang, pria itu masih sama. Melirik Gia sebelum masuk ke ruangannya.


“Gi, apa kamu yakin? Apa kamu tidak kasihan ke aku? aku di sini sendirian menghadapi pria rambut cangkok itu,”keluh Citra.


“Tenang saja! aku juga akan membuatnya keluar dari sini, aku jelas tidak akan membiarkan kebusukan semakin menjalar di tubuh LPA, aku akan memotongnya sampai ke akar.”


Tepat setelah bicara, Gia memandang pintu ruang kerja Rafli yang tertutup. Dengan langkah lebar dia mendekat lalu mengetuk pintu.


“Pak Rafli saya mau bicara.”

__ADS_1


__ADS_2