
Suasana butik seketika senyap, tidak ada suara yang terdengar selain bising mobil dan motor yang melintas di luar. Airlangga, Alvian, dan Citra, sama-sama menatap Gia setelah mendengar apa yang diucapkan gadis itu.
Gia menelan ludah melihat ketiga orang itu menatapnya, salah tingkah karena keceplosan bicara.
“Apa Gia sudah jadian dengan Pak Airlangga?” Tanpa disadari Citra dan Alvian berpikiran sama.
“Kalian sudah jadian?” tanya Citra sambil menunjuk Gia dan Airlangga bergantian.
Gia salah tingkah, hingga menggelengkan kepala untuk menyangkal pertanyaan Citra.
“Tidak, memangnya aku bilang apa tadi?" sanggah Gia yang kebingungan.
Airlangga sendiri mengatupkan bibir rapat-rapat, memandang Gia yang kini salah tingkah. Dia tentunya tahu kalau Gia hanya salah bicara saja.
“Daripada bingung, kita ambil pilihan Airlangga saja!”
Takut jika dirinya kembali keceplosan bicara jika kembali ada perdebatan, akhirnya Gia memutuskan untuk membeli pakaian pilihan Airlangga, daripada berlama-lama di butik.
***
Selama perjalanan pulang, suasana kabin mobil terasa hening, tidak ada satu pun yang bersuara di sana. Gia sendiri memalingkan wajah, menatap ke jalanan yang mereka lewati.
Gia merasa canggung ke Airlangga dan lainnya karena tadi keceplosan bicara, padahal hubungan Airlangga dan dirinya hanya sebatas saling menguntungkan saja.
“Terima kasih,” ucap Gia saat baru saja turun dari mobil yang berhenti tepat di depan lobi.
Airlangga hanya melongok dari jendela dan mengangguk. Mobil yang dikemudian Alvian itu pun melaju meninggalkan LPA.
Saat mobil Airlangga sudah menghilang dari pandangan, Citra langsung menoleh ke Gia yang berdiri di sampingnya.
“Gi, kalian beneran sudah jadian? Jadi berita itu benar? Maksudnya bukan selingkuhan, tapi kalian yang memiliki hubungan serius?” tanya Citra sedikit meralat ucapannya.
Gia melongo mendengar pertanyaan Citra, sebelum kemudian menjelaskan. “Ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” jawab Gia menyangkal.
__ADS_1
“Lalu, seperti apa?” tanya Citra yang penasaran.
Gia tidak mau menjawab, kemudian memilih langsung masuk LPA.
“Gia!” panggil Citra, kemudian mengejar temannya itu.
Gia masuk ke ruang kerjanya diikuti oleh Citra. Gadis itu lantas duduk dan meletakkan paper bag berisi gaun yang dibeli di bawah meja. Belum juga duduk dengan tenang dan benar, Gia mendengar suara ponselnya berdering, sebuah pesan chat terpampang di layarnya.
[Ternyata nomormu belum ganti.]
Gia sedikit mencebik mendapatkan pesan dari Zayn.
“Mau ganti atau nggak, apa urusanmu?” Gia memaki Zayn melalui ponselnya. Hingga pesan lain masuk ke aplikasi berbalas pesannya.
[Jangan lupa kamu harus datang ke acaraku.]
Gia ingin sekali mengacak-acak rambut, kenapa Zayn bersikeras ingin dirinya datang. Mungkinkah Zayn hanya ingin melihat apakah dia sudah benar-benar move on dan memiliki kekasih.
[Tentu saja aku akan datang, kamu jangan cemas!!!!]
Di sisi lain. Airlangga masih dalam perjalanan menuju perusahannya. Alvian yang sedang menyetir, terlihat sesekali melirik ke kaca spion tengah untuk bisa melihat atasannya.
“Wah, apa Anda benar-benar jadian dengan Gia?” tanya Alvian menggoda Airlangga.
Berbeda dengan Gia yang kesal, ternyata Airlangga memberikan respon lain.
“Bagaimana kalau memang benar?” Airlangga memandang bayangan Alvian dari pantulan spion tengah.
“Itu malah bagus,” kata Alvian sambil menganggukkan kepala. “Tapi, bisa tidak Bapak deketin saya sama Citra?” Ternyata dibalik ucapan baiknya, Alvian mengharapkan balasan.
**
Malam di mana pesta Zayn diadakan pun tiba. Airlangga sudah berpakaian rapi, dan kini menuruni anak tangga bersiap untuk pergi menjemput Gia.
__ADS_1
“Wah ….” Zie yang sedang menonton televisi, langsung berdiri ketika melihat sang papa.
Gadis itu mengamati penampilan sang ayah dari ujung kaki hingga kepala sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan karena kagum.
“Bagaimana?” tanya Airlangga penuh percaya diri.
“Perfect!” Zie membuat bentuk huruf ‘OK’ menggunakan jempol dan telunjuk.
“Papa terlihat tampan dan seperti masih berumur dua puluh tujuh tahun.” Zie terus memuji hingga membuat Airlangga gede kepala.
Airlangga tertawa mendapatkan pujian dari Zie, sebelum kemudian pamit karena harus menjemput Gia terlebih dahulu.
Di rumah Gia. Gadis itu sudah berdandan sangat cantik dengan gaun yang sangat pas melekat di tubuh. Dia kini menunggu Airlangga menjemput dan duduk di ruang tamu.
Indra melihat Gia yang sesekali menengok keluar, hingga pria itu iseng berdeham untuk membuat Gia menoleh ke arahnya. Indra sendiri senang karena Gia akan pergi dengan Airlangga, menandakan jika hubungan putrinya dan pria itu sudah semakin baik.
“Kamu dan Air mau ke pesta siapa?” tanya Indra penasaran.
“Ke pestanya Zayn,” jawab Gia yang jujur ke sang papa.
Mengetahui jika Gia mengajak Airlangga ke pesta Zayn, tentu saja membuat Indra semakin senang dan mendukung.
“Bagus itu, jangan ke tempat mantan tanpa pasangan!”
Gia langsung melotot mendengar ucapan Indra, sadar jika sang papa tampaknya benar-benar tidak menyukai Zayn semenjak pria itu menyakiti hatinya.
Airlangga pun sampai di rumah Gia, kemudian turun dari mobil dan hendak meminta izin Indra untuk mengajak gadis itu pergi.
“Saya ajak Gia dulu, ya Pak.” Airlangga pun meminta izin dengan sopan.
“Boleh, tapi dengan satu syarat.” Indra bicara sambil menunjukkan telunjuk di depan wajah.
Airlangga dan Gia pun saling tatap, tidak tahu syarat apa yang diminta Indra, hingga keduanya secara bersamaan menatap pria yang akan memberi mereka izin itu.
__ADS_1
“Syarat apa, Pa?”