Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 42 : Secangkir Kopi


__ADS_3

Alina masih berdebat dengan Gia. Tidak ada satupun di antara keduanya yang mau mengalah, hingga membuat Auda dan Citra kebingungan melerai perselisihan keduanya.


“Sudah, jangan dilanjut. Nanti semakin kisruh,” kata Citra mencoba menenangkan Gia


“Kamu nggak usah ikutan, Cit. Biar aku yang menghadapi wanita tidak tahu diri ini.” Gia terlihat tidak takut dan malah seolah menantang Alina. Dia menatap sinis wanita itu.


“Kamu mengataiku tidak tahu diri? Lalu bagaimana denganmu? Alina juga tidak mau kalah.


“Apa?” Gia maju untuk menantang Alina, tapi langsung dicegah oleh Citra.


“Sudah! Jangan dilanjut!” Citra memegangi lengan Gia, takut kalau sang sahabat sampai berkelahi dengan Alina di sana.


Auda sendiri juga mencoba menenangkan Alina dan mencegah agar tidak semakin bertengkar dengan Gia.


Alina sangat kesal, lantas memilih pergi meninggalkan Gia. Wanita itu sendiri langsung mengangkat dagu, seolah mencemooh Alina yang takut hingga akhirnya pergi.


Alina keluar dari gedung LPA dengan perasaan kesal, tapi tanpa diduga, ternyata di depan gedung LPA sudah banak wartawan yang menantinya. Alina kaget dan bingung, tapi tidak bisa menghindar.


“Alina, bagaimana menurutmu tentang laporan pak Airlangga?” tanya salah satu wartawan yang melihatnya keluar dari gedung.


“Kenapa kamu juga pergi ke LPA?” tanya wartawan lain.


Gia melihat Alina yang sedang ditodong pertanyaan oleh wartawan. Dia menatap mencibir, serta berharap Alina kena batu atas perbuatannya.


***


Sore berganti malam, Gia hari itu sengaja lembur sendirian di LPA untuk bisa segera menyelesaikan semua pekerjaannya. Saat sedang fokus dengan pekerjaan, ponselnya berdering dan sebuah pesan chat masuk ke sana.

__ADS_1


Gia memandang benda pipih miliknya, hingga terkejut melihat pesan itu yang ternyata dari Airlangga.


[Kamu di mana?]


Gia menaikkan satu sudut alis membaca rangkaian huruf yang tertera, lantas mengetik pesan balasan untuk pria itu.


[Aku lembur di kantor.]


Gia menatap layar seolah berharap akan ada jawaban segera, tapi ternyata tidak ada balasan dari Airlangga. Gia pun meletakkan kembali ponselnya dan kembali melanjutkan pekerjaan.


Satu jam berlalu, ponsel Gia berdering. Tak disangka sebuah panggilan masuk dari Airlangga.


“Halo.”


“Aku ada di lobi LPA.” Suara Airlangga terdengar dari seberang panggilan.


Gia sangat terkejut, kemudian memilih keluar dari ruangannya dan pergi menuju lobi, dan benar saja, Airlangga di sana dan kini menunggunya. Pria itu melempar senyum dan menunjukkan bungkusan yang dibawa.


“Minumlah,” kata Airlangga sambil memberikan satu cup kopi ke Gia.


“Terima kasih!"


“Aku khawatir kamu tidak sempat makan malam, jadi aku juga membawakan makanan untukmu.”


Gia mengangguk dan merasa sedikit canggung karena Airlangga sampai datang membawa makanan dan kopi untuknya. Dia berpikir, sejak kapan hubungannya dan Airlangga menjadi sedekat ini?


“Bagaimana kondisi Zie?” tanya Gia.

__ADS_1


“Baik, sebenarnya dia sudah boleh pulang, tapi malam ini ada Marsha yang menemaninya di rumah sakit,” jawab Airlangga.“Bahkan mereka melakukan pesta piyama."


"Dasar gadis-gadis itu!"


Gia dan Airlangga kompak menertawai tingkah Zie dan Marsha.


“Oh ya, soal pesta kemarin. Apakah Zayn curiga?” tanya Airlangga.


“Aku sudah tidak peduli dia mau curiga atau tidak. Banyak hal yang harus aku kerjakan, selain memikirkan buaya darat seperti Zayn,” jawab Gia santai. Dia menoleh Airlangga, lantas mengulas senyum ke pria itu.


Airlangga mengangguk mendengar jawaban Gia. Merasa perbincangan soal Zayn tidak membuat Gia tertarik, dia pun memilih membahas hal lain.


“Apa kamu suka bekerja di LPA? Bagaimana awalnya kamu bisa bekerja di sini?” tanya Airlangga kemudian.


“Dulu, mamaku adalah direktur di sini. Aku sangat bersemangat ketika melihat sosok mama yang selalu memperjuangkan hak anak-anak,” jawab Gia dengan seulas senyum di wajah, terlihat bahagia ketika mengingat masa-masa saat ibunya masih hidup.


Airlangga tersenyum, dia yakin Gia sangat menyukai anak kecil, terlihat jelas betapa semangatnya Gia saat membahas hak anak-anak.


“Tapi sekarang kamu bukan hanya memperjuangkan hak anak seperti ibumu, kamu juga memperjuangkan hak orangtua untuk bisa mendapatkan anak mereka,” ucap Airlangga memuji.


Gia merasa malu karena mendapatkan pujian dari pria yang dipanggilnya CEO kecap itu, hingga kemudian memilih tertawa untuk menutupi rasa malunya.


“Alina sepertinya sedang terkena masalah, banyak media yang meminta penjelasan darinya,” ucap Gia mengalihkan perbincangan mereka ke masalah Alina.


“Biar saja dia mendapatkan balasan atas perbuatannya. Aku juga tidak akan pernah berhenti untuk menuntutnya,” ujar Airlangga.


“Alina memang pantas dihukum, tapi kita juga harus melihat bagaimana psikologi Gani nantinya. Kasihan Gani kalau sampai berpikir menjadi anak penjahat, otak anak kecil masih belum memahami masalah orang dewasa," ujar Gia panjang lebar mengemukakan penilaian dari sudut pandangnya.

__ADS_1


"Lalu datanglah ke rumah, observasi bagaimana kondisi mental Gani!"


"Apa?"


__ADS_2