
“Tentu aku akan datang bersamanya.”
Jawaban Gia tentu saja bertolak belakang dengan hati. Pikirannya langsung mengiakan saja, sedangkan hati ingin berkata jika tidak bisa.
Jelas hati dan pikiran bertentangan karena gadis itu memang tidak memiliki hubungan apa pun dengan Airlangga seperti yang dikatakannya ke Zayn.
Gia bersikap sombong karena tidak ingin Zayn meremehkan dirinya.
“Aku akan menantinya,” ucap Zayn santai. Dia hendak melihat apakah benar Gia akan datang bersama Airlangga ke pestanya.
“Mampus, kenapa aku harus meladeni ucapannya?” Gia menggerutu dalam hati.
Gia membuang muka lagi, menatap ke arah kaca jendela yang memperlihatkan mobil dan orang yang berlalu-lalang di luar sana.
Zayn mengambil cangkir lantas menyesap kopi dengan tatapan mata tertuju ke Gia yang tidak mau memandang ke arahnya. Pria itu sedikit berdecak, sambil meletakkan cangkir ke meja.
Gia masih bersikap tidak acuh, sedetik pun tidak berniat melihat wajah Zayn.
“Oh ya, tadi sebenarnya aku baru saja menghadiri rapat bersama Airlangga. Restoranku butuh suplai produk, dan aku bekerjasama dengan Air food,” ujar Zayn kemudian.
Gia sok tidak peduli, masih memalingkan wajah bahkan mengambil cangkir pun tanpa menggeser posisi kepala.
Mereka pun pergi setelah menghabiskan kopi masing-masing. Gia langsung pulang, bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal atau sekadar terima kasih ke Zayn karena merasa itu tidak perlu.
***
__ADS_1
Sesampainya di rumah. Gia melempar tas ke kasur, sebelum kemudian merebahkan tubuh di ranjang. Dia menatap langit-langit kamar dan terlihat kebingungan.
“Apa yang harus aku lakukan?” Gia mengacak-acak rambutnya.
“Bodoh! Bodoh! Bodoh!” teriaknya kemudian. “Kenapa aku harus bicara sembarangan kepadanya, buat apa?”
Gia benar-benar stres, sampai-sampai menendang udara bahkan meremas angin tepat di depan wajah. Ia mencoba bersikap tenang, menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan.
“Aku juga tidak punya pilihan, terpaksa mengaku jika menjadi kekasih Airlangga."
Gia menghela napas kasar. Dia lantas bangkit, kemudian duduk bersila sambil memeluk bantal. Gia menggigit ujung bantal, mengingat bagaimana dirinya dulu bisa sampai putus dengan Zayn.
Pria itu berselingkuh dengan temannya, tentu saja hal itu membuat Gia sangat patah hati. Hingga dia akhirnya meminta putus meski terpaksa. Gia sangat mencintai Zayn sampai saat putus gadis itu malah yang menderita dan terus menangis.
Zayn sempat mengajak balikan, Gia sendiri sempat terbujuk dan ingin kembali. Namun, Indra menasihati hingga membuat gadis itu memilih untuk tidak kembali bersama Zayn.
Gia mengambil ponsel dari tas, lantas menghubungi Airlangga.
“Halo.” Meski Gia ragu, tapi harus melakukannya.
“Ya, ada apa?” tanya Airlangga dari seberang panggilan.
“Apa besok kamu ada waktu? Aku ingin membahas masalah Gani.” Gia memejamkan mata saat mengucapkan nama Gani, dalam hatinya meminta maaf karena berbohong dan menjadikan Gani sebagai alasan untuk mencapai tujuannya.
“Oke, besok mau bertemu di mana, aku akan datang.”
__ADS_1
Gia pun menyebutkan tempat mereka akan bertemu, hingga kemudian mengakhiri panggilan dan dia bernapas lega. Gia kembali merebahkan tubuh, menatap langit-langit kamar dengan suara helaan napas berat.
“Bagaimanapun caranya, aku harus pergi bersama CEO kecap itu!"
**
Hari berikutnya, Gia dan Airlangga bertemu di sebuah restoran. Keduanya sudah duduk bersama bahkan telah memesan makanan.
“Alina kembali berulah, dia melaporkanku ke polisi dengan tuduhan menghalangibertemu dengan anak. Dia ini mengada-ada, sampai aku bingung cara menghadapinya,” ujar Airlangga saat keduanya membahas masalah Gani.
Gia mengangguk mendengar cerita Airlangga, sebenarnya merasa kikuk dan bersalah karena telah berbohong hanya untuk bertemu dengan pria itu.
“Lalu bagaimana denganmu?” tanya Gia berbasa-basi, tidak mungkin jika dirinya hanya diam, lantas tiba-tiba membahas tentang Zayn.
“Tentu aku tidak takut dengan ancaman Alina. Aku bahkan menyiapkan pengacara terbaik untuk melawannya. Dia pikir aku bodoh dengan membiarkannya terus bertindak sesuka hatinya,” jawab Airlangga sedikit emosi.
Gia mengulum bibir kemudian menganggukkan kepala.
Airlangga memperhatikan gerak-gerik Gia yang sedikit berbeda sejak mereka bertemu, merasa jika gadis itu terkesan sedikit bicara dan tampak kikuk juga salah tingkah seperti hendak bicara sesuatu.
“Apa ada yang salah? Apa kamu ingin menyampaikan sesuatu?” tanya Airlangga penasaran dengan perubahan sikap Gia.
Gia terkejut mendengar pertanyaan Airlangga, hingga kemudian menjawab pertanyaan pria itu dengan pertanyaan lain.
“Apa aku boleh ikut bersamamu ke acara pesta perusahaan Zayn?” tanya Gia pada akhirnya. “Tapi harus datang bersama,” imbuhnya.
__ADS_1
Airlangga mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Gia, hingga ingat jika Zayn berkata kalau mengenal Gia. Dia pun berpikir jika mungkin saja Gia diundang datang ke pesta itu oleh Zayn.
“Kenapa harus bersama?” tanya Airlangga keheranan.