
“Kamu yakin mau ikut? Kamu tidak mau aneh-aneh ‘kan?”
Indra masih heran dengan permintaan sang putri yang ingin ikut dengannya bermain golf. Gia bahkan sudah duduk di teras menunggu. Polo shirt berwarna merah muda dan celana panjang hitam membuat penampilan gadis itu sempurna.
Gia kemarin sempat bertanya apa yang akan dilakukan Indra hari ini, dan saat papanya menjawab akan pergi bermain golf dengan pemilik AIR Food, gadis itu girang setengah mati.
“Apa Gia mengenal Airlangga secara pribadi?” gumam Indra di dalam hati. “Haruskah aku menjodohkan mereka berdua?”
Meski Airlangga duda dua kali, tapi Indra tahu dia pria yang baik. Skandal-skandal yang beredar di luaran sana jelas tidak benar. Semua pengusaha yang berhubungan dengan pria 36 tahun itu juga tahu bagaimana karakter aslinya, hingga masalah dengan Alina-sang mantan istri, sama sekali tidak mempengaruhi bisnis Airlangga.
“Aku siap!” teriak Gia. Ia mengagetkan Indra yang tengah melamun.
“Siap? Apa dia siap aku jodohkan dengan Airlangga?” Indra malah kebingungan sendiri, sampai sang putri berdiri di depannya dan merapikan penampilan.
Sepanjang perjalanan ke golf course tempat mereka janjian bertemu, Gia hanya diam karena tidak ingin sikap atau ucapannya nanti mempengaruhi kesepatakan yang akan dibuat Airlangga dengan papanya.
Namun, tetap saja Gia harus merancang beberapa kalimat yang pas, karena dia ingin tahu kenapa Airlangga malah meminta bantuan Rafli, atasan yang menurutnya berwujud beruang teddy tapi berjiwa chucky. Lucu di luar menyeramkan di dalam.
“Gi, Airlangga itu tidak seburuk pemberitaan yang beredar lho. Kebanyakan dari kami tahu bahwa dia hanya korban pemberitaan yang keji,” ucap Indra memecah keheningan kabin mobil yang ditumpangi.
“Papa tidak bisa melihat seseorang hanya dari satu sisi, mungkin apa yang Papa tahu tentang orang itu belum semuanya,” ucap Gia. “Lagi pula kenapa juga berbicara seperti ini padaku?" Gumamnya dalam hati.
“Orang kadang memakai topeng agar terlihat baik, tapi terkadang ada juga yang memakai topeng karena tidak ingin terlihat terlalu baik, sejatinya hati manusia itu rumit,”imbuh Gia.
__ADS_1
Indra mengangguk, ucapan Gia memang ada benarnya, tapi entah kenapa mulutnya tiba-tiba gatal untuk tidak mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya.
“Bagaimana kalau kamu mencoba kenal dan dekat dengan Airlangga.”
“Cih … seperti perjaka sudah habis di dunia ini,” sinis Gia.
Namun, kesinisan dan rasa jengkelnya tiba-tiba musnah tatkala melihat pria bernama Airlangga itu. Sosoknya benar-benar seperti vampire, wajahnya terlalu imut untuk pria berumur tiga puluh lima tahunan lebih. Gia seperti tersihir kala Airlangga yang duduk berbincang dengan sekretarisnya terlihat tertawa.
“Tidak-tidak! Hentikan pikiranmu Gia! Di situasi rumit yang sedang dihadapi saja, pria itu bisa tertawa riang, dia pasti psikopat!” geram Gia meski hanya di pikiran dan tak sampai dia ucapkan.
Menyadari Indra berjalan mendekat, Airlangga pun bangun dan melempar senyuman. Rasa kaget nampak jelas di wajahnya saat melihat Gia yang berjalan di samping pria itu. Diam-diam meski malam itu dia seolah tak peduli, tapi Airlangga mengingat dengan jelas wajah Gia. Ia hanya terlalu lelah, hingga selepas menolong ibu dan anaknya yang terjatuh dari motor, dia memilih untuk pergi tanpa berbicara.
“Apa kamu sudah lama menunggu?” tanya Indra sambil menerima uluran tangan dari Airlangga.
“Tidak Pak, saya juga baru saja sampai,” jawab pria itu dengan senyuman lebar. Ia menatap Gia yang masih memasang ekspresi muka datar.
Indra memperkenalkan Gia ke Airlangga, mereka pun serentak mengulurkan tangan lalu mengucapkan nama satu sama lain. Airlangga melihat kesan dingin di paras Gia, sedangkan gadis itu memang sudah terlalu benci, karena baginya pria yang dijuluki CEO kecap itu begitu angkuh, belum lagi meminta bantuan Rafli memenangkan kasus perebutan hak asuh anak. Gia meyakini seratus persen hanya penjahat lah yang meminta bantuan pada penjahat.
Setelah sedikit berbincang dan berbasa-basi. Mereka pun berjalan ke lapangan yang sudah disewa Airlangga. Memang bukan menjadi hal yang tabu, bahwa pebisnis terkadang lebih suka membicarakan perihal bisnis dengan cara seperti ini.
Sambil memukul bola, mereka membicarakan proyek dan Kerjasama. Gia hanya ikut mendengarkan, menunggu kesempatan untuk bisa bicara ke Airlangga tentang apa yang dia pikirkan.
“Anda cukup pandai juga bermain golf,” puji Airlangga sesaat setelah bola yang Gia pukul melambung dan hampir masuk ke dalam lubang.
__ADS_1
“Biasa saja, Anda terlalu memuji,” jawab Gia lantas berjalan sambil mengayunkan stik golf di tangan.
Beberapa menit yang lalu, Indra memilih istirahat agar putrinya dan Airlangga bisa berbincang-bincang. Duduk sambil menyilangkan kaki, pria itu menyesap minuman dingin dari tempatnya, meski Airlangga duda tapi entah kenapa dia merasa senang jika saja pria itu bisa menjadi jodoh sang putri.
“Anda terlalu merendah Nona Gia,” sambung Airlangga. “Oh … ya saya dengar Anda pekerja di LPA, di bagian apa?”
“Bagian menghancurkan rencana Pak Rafli,” sinis Gia.
Ucapannya barusan sontak membuat Airlangga urung memukul bola. Ia menoleh Gia dengan tatapan heran, wajah Gadis itu sudah berubah masam. Airlangga menoleh memberi kode pada Al, agar sekretarisnya itu mengajak dua kedi yang mengikuti mereka menjauh darinya dan Gia.
“Kenapa Anda menyuap Pak Rafli hanya untuk memanangkan hak asuh Gani? Jika Anda merasa percaya diri bisa mendapat hak asuh anak itu, seharusnya Anda tidak perlu melakukan hal kotor,” kata Gia dengan berani.
Airlangga tak langsung menjawab, dia memilih mengolah kalimat yang akan diucapkan di dalam otaknya lebih dulu. Ia tidak mungkin jujur ke orang asing bahwa Alina berselingkuh. Ia juga tidak ingin putranya dijadikan alat sang mantan untuk memerasnya.
“Karena jika aku tidak melakukannya maka Alina akan lebih dulu melakukan itu, aku tahu bagaimana sifat mantan istriku, selama ini Gani tidak pernah dia urus, apa lagi jika tinggal bersamanya,” ucap Airlangga. “Dia bahkan dengan tega meninggalkan anak berumur empat tahun di apartemen sendirian,” imbuhnya. Tenntu saja ini merupakan informasi yang dia dapat dari sang putri tiri, Zie.
“Saya tidak bisa percaya pada Anda, dengan memberikan sejumlah uang ke Pak Rafli Anda sudah menjadi orang yang perlu saya waspadai. Saya tidak hanya pandai memukul bola Pak Air, saya juga bisa menjatuhkan orang yang jahat, terutama jahat ke anaknya,”kata Gia dengan sedikit nada mengancam.
“Kamu pasti salah satu orang yang percaya aku melakukan tindakan KDRT,” cibir Airlangga. “Terserah, aku tidak perlu pendapat dari gadis ingusan sepertimu.”
“Apa?” Gia kehilangan kata-kata, baru kali ini ada yang menyebutnya gadis ingusan.
“Aku yang sudah bertahun-tahun hidup bersama Alina, aku juga yang tahu bagaimana kondisi putraku, sialnya yang aku tidak tahu atasanmu itu busuk sehingga kamu menuduhku yang bukan-bukan.”
__ADS_1
Airlangga berucap tak formal sambil mengayunkan tongkat di tangan. Bola yang baru saja dia pukul menggelinding dan tepat masuk ke lubang. Setelah menatap hole in one yang baru saja dia buat, Airlangga menoleh Gia yang terdiam.
“Banyak cara orangtua melindungi darah dagingnya, kamu gadis yang belum pernah menikah mana paham?”