Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 24 : Sinetron Yang Menyedihkan


__ADS_3

Gia terlihat begitu syok dan terkejut saat melihat banyaknya wartawan yang mengarahkan kamera ke dirinya dan Airlangga. Bahkan dia tidak tersadar saat Airlangga menarik tangannya, kemudian mengajak masuk lagi.


“Tutup gerbangnya, Pak!” perintah Airlangga ke satpam.


Satpam pun buru-buru menutup kembali gerbang agar tidak ada wartawan yang menerobos masuk.


Airlangga sendiri buru-buru menarik Gia masuk karena tidak ingin gadis itu terlibat masalahnya, serta muncul di televisi dengan pemberitaan miring.


Gia terkejut hingga tubuhnya membeku, dia sampai tidak sadar jika Airlangga memeluk dengan cara memegang kedua lengannya.


“Kita masuk dulu, jangan sampai wartawan semakin banyak mengambil gambar kita,” kata Airlangga. Ia pun mengeluarkan ponsel, kemudian menghubungi Alvian.


“Al, tolong datang ke rumah. Kalau perlu bawa beberapa orang untuk mengusir wartawan yang tiba-tiba muncul di sini!” perintah Airlangga saat panggilannya dijawab Alvian.


“Baik, Pak. Akan segera saya kerjakan.”


Airlangga berjalan masuk bersama Gia, mereka kini sudah berada di dalam rumah dan merasa sedikit aman.


Zie pun melihat banyaknya wartawan yang berdiri di depan gerbang rumah, menggeleng-gelengkan kepala karena wartawan itu berdesak-desakan di sana.


“Wah, jangan-jangan besok kalau aku berangkat sekolah, bakal dikejar wartawan juga,” gumam Zie yang mengintip dari balik jendela kamarnya di lantai dua.


Zie melihat Airlangga yang masuk bersama Gia tadi, papanya itu bahkan terpantau menutup pintu dengan cepat.


“Kenapa wartawan itu tiba-tiba muncul? Padahal tadi sepi-sepi saja,” celoteh Zie setelah turun dan berhadapan dengan papanya.

__ADS_1


“Mungkin ada yang menyuruh mereka ke sini,” kata Airlangga menduga.


Gia diam dan masih mencerna apa yang sedang terjadi, memang sedikit aneh karena wartawan tiba-tiba muncul di sana.


Airlangga meminta Gia untuk tetap tingal sampai wartawan bubar. Gadis itu sendiri merasa canggung dan bingung karena tidak ada yang bisa dikerjakan di sana.


“Kak, daripada bengong, nonton televisi saja!” ajak Zie, lantas mengajak Gia ke ruang keluarga.


Gia mengangguk, kemudian mengikuti langkah Zie. Mereka sudah duduk di sofa menatap ke arah televisi, sedangkan Airlangga memilih pergi ke kamar Gani.


“Kakak suka nonton apa?” tanya Zie yang memegang remot dan siap mencari acara di saluran televisi.


“Apa saja boleh, asal bukan gosip,” jawab Gia. Gia yakin jika saluran gosip pasti masih memberitakan tentang Airlangga, sebab itu lebih baik menonton acara lain.


Zie menangguk paham, lantas mengajak Gia menonton sinetron berjudul Pesona Mama Muda yang disutradarai oleh din din.


Gia mengangguk-angguk, kemudian menonton episode kedua sinetron yang dilihatnya bersama Zie. Gia dan Zie terlihat sedih saat melihat pemeran utama wanita dipenjara, padahal sedang hamil muda.


“Ya ampun, kasihan sekali.” Gia mengambil tisu, kemudian menggunakan untuk mengusap ingus.


Zie mengangguk, kemudian melakukan hal sama dengan Gia, mengusap ingus karena menangis.


Airlangga yang baru saja keluar dari kamar Gani pun keheranan, kenapa Gia dan Zie menangis bersamaan.


“Kalian kenapa?” tanya Airlangga.

__ADS_1


“Itu, Pa. Sinetronnya sedih,” jawab Zie sambil menunjuk ke televisi.


“Oh … kirain kenapa.” Airlangga pun kembali meninggalkan keduanya karena Gia dan Zie masih asyik nonton sinetron meski sambil menangis.


Airlangga pergi ke ruang kerjanya. Dia duduk di kursi kemudian menghubungi Alina.


“Apa maksudmu menyebar berita yang sama sekali tidak benar?” tanya Airlangga saat panggilannya dijawab Alina.


“Untuk memperingatkanmu, jika kamu tidak akan pernah bisa menang dariku, Air!” Secara terang-terangan Alina malah mengatakan hal itu.


Tentu saja Airlangga tak terkejut, dugaannya benar jika Alina memang dalang dibalik semuanya. Mantan istrinya memang sengaja melakukan itu untuk menjatuhkan dirinya.


“Kita lihat saja, siapa yang akan menang,” tantang Airlangga yang mulai kesal dengan sikap Alina.


Sementara itu, Zie ternyata memesan makanan dari aplikasi online, saat pesanan sampai, gadis itu sengaja keluar sendiri untuk menunggu abang ojek online yang mengantar makanan.


Saat keluar, wartawan masih berada di depan gerbang karena Alvian belum sampai di sana. Gadis itu malah dengan bangga melambaikan tangan ke arah wartawan, saat wartawan itu mengangkat kamera dan mengambil fotonya.


***


Di LPA, Rafli kebingungan saat tidak mendapati Gia di mejanya. Hingga pria rambut cangkok itu pun menemui Citra.


“Di mana Gia?” tanya Rafli.


“Saya tidak tahu, Pak.” Citra menggelengkan kepala karena memang tidak tahu.

__ADS_1


“Ke mana lagi dia? Jangan sampai membuat masalah.” Rafli berkacak pinggang, memikirkan ke mana Gia pergi, setelah tadi pagi berdebat dengannya karena masalah Gani.


__ADS_2