Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 23 : Wartawan


__ADS_3

Airlangga terdiam saat Alvian memberitahukan tentang gosip yang tersebar di internet dan beberapa tayangan infotainment. Di sana diberitakan jika Alina dilarang bertemu dengan putranya juga diusir dengan kejam dari rumah Airlangga.


“Apa-apaan ini? Dia berulah lagi.”


Airlangga sangat kesal melihat berita itu. Hingga ponselnya terus berdering dan banyak pesan masuk dari rekan bisnis menanyakan tentang kebenarannya.


Di perusahaan. Alvian dibuat geram sendiri melihat berita yang terus memojokkan sang atasan.


“Ya Tuhan, ini cobaan apa lagi, Pak? Dulu berita tentang KDRT sekarang ibu ga boleh ketemu anak. Kenapa Bu Alina sangat suka membuat hura-hara?” Alvian ikut pusing sendiri dengan masalah yang menimpa Airlangga. Bosnya itu sampai tidak datang ke kantor.


Sementara di rumah, pria yang dicemaskan Alvia itu terlihat santai dan cuek dengan masalah yang terjadi. Namun, Zie melihat ada kesedihan di mata Airlangga, Zie tahu kalau sang papa pasti sedih karena terus dipojokkan dengan hal yang tidak pernah dilakukan.


Keduanya pun memilih tidak ke kantor dan sekolah karena ingin menemani Gani.


***


Gia kesal saat Rafli berkata kalau Airlangga itu jahat, apalagi dengan gosip yang kini menyebar. Gadis itu tahu semua kebenaran yang terjadi, sehingga memilih untuk menentang Rafli.

__ADS_1


Gia pun pergi ke rumah Airlangga meski sang atasan tidak mengizinkan, kini dia sudah berada di depan pagar dan masuk setelah satpam membukakan gerbang.


“Apa kamu datang untuk membahas tentang berita yang tersebar?” tanya Airlangga saat bertemu Gia. Dia terlihat tenang, meski sebenarnya sedang gelisah.


Gia menggelengkan kepala, kemudian menjawab, “Aku datang ke sini karena sudah memutuskan akan membantumu. Meski Pak Rafli tidak mengizinkan dan mungkin aku nantinya akan terkena sanksi, aku tidak peduli. Di sini aku hanya membela yang aku rasa benar.”


Airlangga ingin tersenyum, tapi urung karena merasa ini bukan waktu yang tepat. Dia pun mempersilakan Gia masuk dan menyambut hangat gadis itu di sana.


Gia meminta izin bertemu Gani, tentu saja Airlangga mengizinkan. Di sana gadis itu sengaja mengajak Gani bermain agar terjalin interaksi, tujuan Gia adalah ingin melihat bagaimana psikologis bocah itu saat mereka mengobrol.


“Baik Gani, besok Kakak akan datang lagi. Bolehkan?” tanya Gia setelah melihat jika waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


Gani tersenyum lebar, lantas mengangguk tanda setuju.


Gia tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Gani, kemudian berdiri dan menyematkan tali ke pundak. Gia menghampiri Airlangga yang berdiri tak jauh dari tempatnya bermain dengan bocah itu.


“Aku balik ke kantor dulu. Aku sudah mendapatkan jawaban yang aku cari tentang kondisi Gani, hingga semakin yakin untuk membantumu,” ucap Gia ke Airlangga.

__ADS_1


“Terima kasih.” Airlangga senang karena akhirnya Gia mau memercayai dirinya.


Gia mengangguk sebelum kembali menoleh ke Gani.


“Gani tampaknya memiliki sedikit ketakutan terhadap Alina. Saat aku membahasnya, terlihat jelas kalau dia menghindar. Mungkin karena Gani sering ditinggal sendiri dan kurang perhatian,” ucap Gia lagi.


“Hem... bisa jadi,” balas Airlangga.


“Baiklah, kalau begitu aku permisi." Pamit Gia dan Airlangga pun mengantarnya sampai depan rumah.


“Terima kasih akhirnya kamu mau membantu dan berpihak kepadaku,” ucap Airlangga sebelum Gia pergi.


“Jangan gede rasa. Aku melakukan semua ini demi kepentingan Gani. Aku paling tidak bisa membiarkan anak kecil disiksa secara fisik dan mental,” balas Gia yang tidak ingin Airlangga besar kepala.


Airlangga tersenyum mendengar balasan Gia, kemudian mengantar gadis itu ke mobil yang terparkir di depan gerbang rumah Airlangga.


Namun, tak disangka saat gerbang dibuka, tiba-tiba wartawan muncul entah dari mana, mereka langsung mengarahkan kamera dan mengambil gambar Gia dan Airlangga. Tentu saja hal itu membuat Gia dan Airlangga begitu terkejut. Gia bahkan menuduk dan memalingkan muka sampai terbentur dada pria itu.

__ADS_1


__ADS_2