Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 40 : Batagor


__ADS_3

Gia duduk di meja kerjanya sambil melamun, memikirkan tentang kondisi Zie juga sikap Alina yang sangat berlebihan. Saat Gia sedang melamun, Citra ternyata terus memandangi, hingga kemudian dengan iseng mendekat ke temannya itu.


“Hei!” Citra dengan sengaja membuat Gia kaget.


Gia berjingkat karena terkejut, hingga menoleh dan melihat Citra yang malah menertawai sikapnya.


“Kamu ini bener-bener kurang ajar!” Gia sontak mengamuk karena sangat terkejut.


Citra tertawa terbahak-bahak melihat Gia yang kaget kemudian marah-marah.


“Jangan suka melamun, Gi. Nanti kesambet setan,” seloroh Citra.


“Aku tidak melamun, tapi sedang kesal!” gerutu Gia.


Citra pun menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Gia, merasa penasaran kenapa temannya itu sampai kesal.


“Memangnya apa yang membuatmu kesal?” tanya Citra.


"Alina merebut Gani dari rumah Airlangga, sampai membuat Zie jatuh dan kini dirawat di rumah sakit,” jawab Gia menceritakan yang terjadi.


Tentu saja Citra tak percaya mendengar hal itu. “Kok bisa sampai begitu?” tanyanya penasaran.


Gia menceritakan kronologi kejadian, bagaimana Alina datang ke rumah saat Airlangga pergi bersamanya, sampai membawa paksa Gani dan dihalangi Zie, hingga gadis itu berakhir cidera dan masuk rumah sakit.


“Aku menduga Alina memakai obat-obatan sejenis narkotika. Dia seperti orang gila saat kami datang untuk menjemput Gani,” ujar Gia setelah bercerita.


“Bisa saja dia menggunakan obat itu, kita tahu bagaimana gemerlapnya dunia yang dijalaninya.” Citra membenarkan dugaan Gia tentang Alina.


“Oh ya, lalu bagaimana acara pestanya?” tanya Citra kemudian.

__ADS_1


“Berantakan,” jawab Gia. “Zayn curiga kalau aku dan Airlangga bukanlah sepasang kekasih,” imbuhnya dengan wajah lesu.


Saat keduanya masih mengobrol, Rafli nampak datang dan memandang Gia dengan tatapan sinis.


Gia tidak senang melihat tatapan Rafli, terlebih moodnya pagi ini juga sedang tidak baik-baik saja.


“Apa-apaan dia? Kenapa menatapku seperti itu?” Gia tidak terima dan langsung berdiri untuk mengejar Rafli.


Citra terkejut dan ikut berdiri karena Gia berjalan menuju ruangan sang atasan.


“Gia, kamu mau apa? Masih pagi, jangan bikin gara-gara.” Citra mencoba mencegah, tapi tidak berhasil.


Gia pun masuk ke ruangan Rafli, membuat pria itu terkejut karena tak menyangka Gia berani menerobos masuk.


“Kenapa Pak Rafli memandangku seperti itu?” tanya Gia dengan nada tinggi.


“Kamu ini kenapa? Baper?” Rafli dengan enteng menanggapi ucapan Gia. “Apa pekerjaanmu sudah selesai?” tanyanya kemudian.


“Belum,” jawab Gia sambil menggelengkan kepala.


“Ya sudah sana kerjakan! Kenapa malah buat keributan di sini!” bentak Rafli.


Gia akhirnya keluar dari ruangan Rafli, gadis itu malah bingung sendiri kenapa dia bisa bersikap seperti tadi. Ia buru-buru mengambil tasnya karena harus pergi ke rumah seorang anak yang butuh pendampingan.


***


Saat siang hari. Zia dijenguk oleh Marsha. Temannya itu datang membawa batagor dan cireng yang penjualnya kadang mangkal di dekat sekolahnya.


“Makan Zie, di sini pasti kamu tidak akan bisa makan ini kalau bukan aku yang bawa,” kata Marsha jemawa.

__ADS_1


“Memangnya boleh makan itu?” tanya Zie ragu.


“Memangnya kalau makan batagor, jahitan di kepalamu akan sakit! Nggak, ‘kan?”


Zie menggaruk rambutnya yang tidak gatal, memang benar yang dikatakan Marsha, dan dia pun akhirnya mengambil satu bungkus batagor dan makan langsung dengan menggigit ujung bawah plastiknya.


“Nih, aku punya contekan untuk ulangan besok dari kelas sebelah,” ucap Marsha sambil mengeluarkan buku catatannya dari tas.


“Kok kamu bisa dapat?” tanya Zie keheranan.


“Dapatlah! Kelas sebelah sudah ulangan duluan, jadi aku palak kisi-kisi soalnya dari anak kelas sebelah,” jawab Marsha dengan bangganya.


Zie pun kagum dengan kepintaran Marsha, tapi tidak dengan caranya mendapatkan contekan itu.


“Kamu sekarang kok pinter sih Sya? Padahal makannya micin mulu,” seloroh Zie.


Saat mereka sedang asyik mengobrol, Gia datang bersama Citra untuk menjenguk Zie. Mereka membawa sekeranjang buah, hingga Gia terkejut saat melihat Zie makan batagor langsung dari plastik.


“Kok kamu makan begituan? Seharusnya kalau sakit itu makan yang bergizi,” omel Gia.


Bukannya kesal karena Gia mengomel, Zia malah menawari Gia makan batagor juga.


“Cobain deh kak, ini batagornya enak, mumpung masih satu bungkus,” kata Zie sambil menyodorkan satu bungkus batagor.


Gia malah bingung, kenapa Zie menawarinya batagor. Namun, karena penasaran, akhirnya membuat Gia pun menerima batagor itu.


Namun, saat Gia hendak memakannya, pintu ruang inap Zie terbuka. Airlangga masuk saat Gia membuka mulut untuk menggigit ujung plastik batagor itu.


Gia seketika mengatupkan bibir, merasa malu dan tidak jadi menyantap batagor itu. Entah kenapa sejak kemarin Airlangga terus saja membuatnya salah tingkah, dadanya berdebar-debar padahal ini belum tanggal tua.

__ADS_1


__ADS_2