Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 14 : Berdebat


__ADS_3

Gia menggerutu sebal, kenapa dirinya harus diberi tugas yang berhubungan dengan Airlangga, ini membuat suasana hati dan harinya menjadi semakin suram. Ditatapnya nama kontak Airlangga, Gia malas karena tahu jika Airlangga pasti akan besar kepala kalau dirinya menghubungi setelah marah seperti tadi.


Namun, Gia juga tidak bisa mengabaikan perintah Rafli, ini membuatnya berada di situasi yang membingungkan.


“Ah! Sial!” gerutu Gia sambil mengacak-acak rambut.


Mau tidak mau, akhirnya Gia menghubungi Airlangga. Ia masih tak habis pikir padahal masih ada karyawan lain, tapi entah kenapa dirinya yang mendapatkan tugas mengurus pria itu. Alih-alih mengirim pesan, dia menelepon.


“Halo, Pak Airlangga. Apa kita bisa bertemu siang ini?” tanya Gia dengan wajah begitu malas.


“Bertemu?” Airlangga nampak kebingungan, baru saja Gia marah-marah, tapi kini sudah mengajaknya bertemu.


“Tentu!” jawab Airlangga. Pria itu terdengar begitu bersemangat dari seberang panggilan sana.


“Baiklah, aku akan mengirimkan alamat di mana tempat kita bisa bertemu,” ucap Gia. “Jangan terlambat!” ancamnya sebelum menutup panggilan.


“O … o … oke.” Airlangga terbata-bata karena Gia menutup pembicaraan seperti itu. “Dasar gadis ini!” gerutunya.


Setelah menutup panggilan, Gia benar-benar mengirimkan alamat restoran tempat dirinya ingin bertemu dengan Airlangga. Sebenarnya dia benar-benar enggan pergi jika tidak terpaksa.

__ADS_1


***


Siang harinya, Airlangga dan Gia benar-benar bertemu. Mereka mendatangi sebuah restoran sushi yang cukup terkenal. Makanan sudah terhidang di atas meja, tapi belum ada seorang pun di antara mereka yang membuka pembicaraan.


Airlangga penuh percaya diri mengira Gia akan menerima permintaan maafnya, gadis itu pasti menyesal sudah ketus sehingga mengajaknya bertemu seperti ini. sedangkan pada kenyataannya jelas tidak demikian.


“Aku harap kamu jangan berpikiran macam-macam karena aku mengajakmu bertemu,” ketus Gia membuka percakapan karena keduanya sudah diam lumayan lama.


Airlangga yang sedang mencicipi makanan yang dipesan, hampir tersedak mendengar ucapan Gia, lantas memandang heran gadis itu.


“Tentu, siapa yang berpikiran macam-macam?” balas Airlangga meski sebelumnya sudah penuh percaya diri jika Gia mengajaknya bertemu karena masalah bunga.


Meski sedikit kecewa karena ternyata pertemuan itu bukan dalam rangka memberi maaf, tapi Airlangga tetap tenang bicara dengan Gia.


“Sepertinya atasanmu itu memang tidak benar,” balas Airlangga.


Gia terlihat sedikit malas, mengambil potongan sushi dan memasukkan ke mulut, kemudian berkata, “Sudah tahu pria itu tidak benar, tapi kenapa kamu malah percaya kepadanya.”


Airlangga tersedak mendengar sindiran Gia, dia lantas membalas ucapan gadis itu. “Aku mana tahu, aku juga baru tahu akhir-akhir ini.”

__ADS_1


Gia memukulkan sumpit ke piring, membuat Airlangga terkejut dan langsung memandangnya.


“Besok lagi, cari tahu dulu bagaimana orang itu sebelum percaya kepadanya. Kamu seoramg CEO dan banyak uang, masa tidak menyelidiki dulu seperti apa orang yang akan kamu mintai bantuan,” cibir Gia.


Gadis itu kemudian mengambil sushi lalu memakannya lagi. Meski sedang berdebat dengan Airlangga, tapi Gia tidak bisa mengabaikan perut yang keroncongan dan meminta jatah makan. Airlangga kesal sendiri karena Gia seolah memojokkan dan terus menyalahkannya.


“Ya beruang, tapi tidak semua hal bisa diurus dengan duit!”


Airlangga pun sama, dirinya juga makan setelah berdebat dengan Gia. Pemandangan ini membuat siapapun yang melihat, tidak akan mengira jika keduanya sebenarnya sedang saling perang kata.


Tanpa Gia sadari, ternyata siang itu Indra bertemu kliennya di restoran sushi yang sama. Pria itu melihat dari kejauhan dirinya yang sedang makan bersama Airlangga, hingga kedua sudut bibir Indra tertarik ke atas menciptakan lengkungan kecil saat melihat pemandangan itu.


“Wah, tampaknya mereka semakin dekat. Apa ini pertanda baik?” Indra tersenyum-senyum sendiri karena senang melihat putrinya dan Airlangga bersama.


Indra mengira jika mereka sedang berkencan, tapi siapa sangka kalau Gia dan Airlangga sebenarnya sedang berdebat.


"Aku meminta bertemu hanya untuk memberitahu, pak Rafli tidak akan membantu. Dia berpesan sebaiknya kamu tidak usah memperebutkan hak asuh lagi dengan mantan istrimu itu."


"Apa?" Airlangga melotot tak percaya.

__ADS_1


"Uang yang diberikan istrimu sepertinya lebih besar," cibir Gia.


__ADS_2