
“Mana Gani?”
Nyalang Airlangga menatap Alina yang terlihat biasa saja mendapati kedatangannya. Pria itu menerobos masuk menuju kamar dan membuat Auda yang baru saja membaringkan Gani kaget.
“Dia baru saja aku pindah ke kasur, jangan ganggu kasihan!”
Ucapan ambigu dari manager sang mantan istri membuat Airlangga keluar lalu menyodorkan jari telunjuk tepat di depan muka Alina.
“Kamu, akan aku pastikan mendapat hukuman atas perbuatanmu ini, kamu sudah membuat Zie terluka dan Gani trauma. Alina, ibu macam apa kamu ini?” Airlangga marah, dia berbicara dengan nada suara berapi-api. Sang pengacara harus sampai menarik lengannya takut jika sampai tangan pria itu melayang memukul sang mantan istri.
Namun, bukannya membalas ucapan Airlangga, Alina malah memandang Gia yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri lalu mencibir.
“Oh … pantas kamu percaya diri akan mendapat hak asuh Gani, ternyata kamu memang memiliki hubungan spesial dengan staff LPA ini.”
Gia yang tak menyangka akan diserang oleh Alina pun hanya mengerutkan kening, dia sadar wanita itu sedang membuat benteng pertahanan agar tidak perlu menjawab pertanyaan Airlangga tadi.
__ADS_1
“Kalian datang malam-malam ke sini, ingin mengeroyokku ‘kan?” tuduh Alina. “Aku hanya seorang ibu yang sedang merindukan putranya, salah sendiri Zie menghalang-halangi. Lagi pula bukankah di rumahmu ada CCTV, coba cek! Aku sama sekali tidak mendorongnya,,”imbuhnya beralibi.
Airlangga tersenyum ironi, tak menyangka bahwa tak hanya pandai berakting di depan kamera, Alina juga pandai membual di dunia nyata. Padahal pembantu rumah dan Zie cukup bisa dipercaya sebagai saksi kalau dirinya memang bersalah.
Namun, belum juga Airlangga membalas ucapan Alina, Gia sudah mengeluarkan jurus pedang kata-kata. Ucapannya menusuk tepat ke jantung Alina hingga wanita itu terdiam seribu bahasa.
“Lalu bagaimana hubunganmu dengan Pak Rafli? jangan menyudutkanku dengan tuduhan macam itu, kamu pikir aku takut dengan wanita sepertimu? Apa hebatnya menjadi artis yang minim prestasi tapi syarat sensasi, cuih … “
Gia mengibaskan rambut lantas bersedekap dada. Tanpa dia tahu, Airlangga menarik sudut bibir karena senang dengan tamparan tak kasat mata yang diberikannya ke Alina. Saat mereka masih berdebat, Gani ternyata bangun. Bocah itu menangis dan memanggil nama papanya.
Airlangga tanpa permisi mendekat ke arah kamar tapi Alina bergegas menghadang, wanita itu meracau dan mengancam akan melaporkan Airlangga dengan tuduhan menghalangi seorang ibu bertemu dengan anak kandungnya.
“Apa telingamu tuli? Apa kamu tidak bisa mendengar Gani menangis dan memanggilku? Kalau kamu memang sayang ke anak itu, jangan menampakkan muka lagi dihadapannya. Kamu hanya membuatnya takut.” Airlangga menarik lengan Alina agar menyingkir dari hadapannya. Ia masuk kamar dan langsung memeluk Gani yang sangat ketakutan.
“Papa, aku mau pulang, aku tidak mau di sini. Mama jahat!” ucap Gani di sela isak tangisnya.
__ADS_1
“Anda dengar Bu Alina? Siapapun yang mendengar pasti tahu dengan jelas kalau Gani tertekan berada di sini.” Pengacara Airlangga kembali bicara. “Pak Airlangga berencana menuntut Anda karena kejadian yang menimpa sang putri.”
“Apa kamu pikir aku takut? Lagipula Zie masih hidup ‘kan? dia tidak mati, kalau dia mati tentu saja kalian tidak mungkin datang ke sini, kalian pasti sedang sibuk mengurus mayatnya.”
Auda geleng-geleng mendengar perkataan Alina yang minim empati, sejak tadi dia memilih diam karena tidak ingin ikut campur masalah pribadi sang artis. Namun, kali ini Auda merasa Alina sangat keterlaluan. Ia curiga mungkinkan Alina menggunakan obat-obat terlarang dan kini sedang berada di bawah pengaruhnya.
“Alina, ini sudah malam, jangan mencari keributan!” pinta Auda.
“Kenapa kamu malah membela mereka? bukankah seharusnya yang kamu bela itu aku?” sembur Alina.
Mendengar Auda menyebut kata sudah malam, Gia pun ingat akan pesan papanya untuk tidak pulang lebih dari jam dua belas malam. Gadis itu menyisir ruangan di mana dia berdiri sekarang untuk mencari jam dinding. Mata Gia membelalak lebar melihat jam ternyata sudah menunjukkan pukul sebelas lebih tiga puluh lima menit.
“Bisakah kamu mengantarku pulang?” pinta Gia ke Airlangga yang baru saja keluar kamar sambil menggendong Gani.
“Ya ampun, kenapa aku bodoh sekali, aku ‘kan bisa pulang naik taksi.”
__ADS_1