
Rafli duduk di ruang kerja tapi tidak fokus bekerja karena Gia pergi tidak meminta izin. Belum lagi mereka baru saja berdebat masalah Gani.
“Ke mana dia? Jangan sampai membuat masalah,” gumam Rafli.
Baru saja Rafli hendak mengabaikan kepergian Gia, televisi yang sedang menyala di ruang kerjanya menyiarkan berita terhangat hari itu.
Rafli membulatkan bola mata lebar saat melihat foto Gia dan Airlangga berdiri di gerbang. Apalagi di berita itu menginformasikan jika Airlangga meminta bantuan satff LPA untuk mendapatkan hak asuh Gani.
“Gia!” Rafli terlihat begitu emosi.
Di saat bersamaan. Gia baru saja bisa kembali ke LPA setelah wartawan di rumah Airlangga diusir. Rafli pun langsung berdiri dan keluar dari ruangan saat melihat Gia datang.
“Gia! Ke sini kamu!” panggil Rafli dengan suara lantang.
Gia yang baru saja akan meletakkan tas di meja pun terkejut, bahkan Citra juga terkejut dan langsung memandang temannya itu.
“Pak Rafli tampaknya sejak tadi memang marah,” bisik Citra saat melihat temannya itu hendak pergi ke ruangan Rafli.
Gia tidak menanggapi ucapan Citra, lantas memilih segera pergi ke ruangan atasannya itu.
“Apa maksudnya berita itu?” tanya Rafli sambil menunjuk ke televisi yang memang masih menyiarkan berita tentang Gia dan Airlangga.
Gia memandang ke arah televisi, hingga menyadari kekuatan media yang memang bisa menyebarluaskan berita yang belum valid dengan kilat.
__ADS_1
“Kamu jangan membuat nama LPA buruk dengan mendatangi Airlangga sembarangan!” amuk Rafli.
“Tapi dia itu baik, nyatanya Gani merasa nyaman dengan Pak Airlangga. Dia tidak seperti yang Pak Rafli pikirkan!”
Gia mencoba membela diri. Dia masih kekeh kalau Airlangga adalah pria yang bertanggung jawab.
Rafli geram karena Gia membantah ucapannya, hingga kemudian berkata, “Kamu ini mau lindungi siapa? Lindungi anak apa duda itu? Ini lembaga perlindungan anak, Gia! Bukan lembaga perlindungan duda! Tidak usah kamu muji-muji dia!”
Gia megap-megap mendengar ucapan Rafli hingga tidak bisa membalas ucapan atasannya itu.
Di luar ruangan, teman-teman Gia mengintip dan terlihat cemas karena Gia dan Rafli berdebat lagi.
“Cit, kenapa kamu tidak kasih pengertian ke Gia, dia ini cari masalah saja!” hardik salah satu staff LPA.
“Kalian juga tidak usah sok tutup mata dengan kebusukan LPA!” sindir Citra kemudian.
Para staff terdiam mendengar sindiran Citra, hingga kemudian mereka memilih membubarkan diri.
Gia geram karena terus dipojokkan, tidak tahu harus bagaimana lagi membuat Rafli sadar jika tindakan pria itu selama ini salah.
“Jika Pak Rafli masih terus mendukung yang salah, saya akan melaporkan Bapak ke dewan pengawas LPA karena kinerja yang buruk!” ancam Gia pada akhirnya.
Rafli langsung diam mendengar ancaman Gia, bahkan terlihat salah tingkah dan kebingungan.
__ADS_1
Di sisi lain. Indra diberitahu oleh sekretarisnya jika Gia masuk berita. Pria itu pun dengan antusias menonton berita itu dari televisi.
“Wah, tampaknya mereka ada sedikit kemajuan,” gumam Indra senang melihat kedekatan Airlangga dan Gia.
**
Saat sore hari. Gia pulang dengan rasa kesal, berpikir dengan keras bagaimana membuat Rafli mengikuti keputusannya karena Gia merasa dia benar.
Indra terlihat senyum-senyum sendiri melihat Gia pulang, lantas meminta putrinya itu untuk duduk bersamanya.
“Wah, tampaknya ada kemajuan,” kata Indra.
Gia mengerutkan dahi, tidak paham dengan maksud sang papa.
“Kemajuan apa, Pa?” tanya Gia keheranan.
“Ya, tidak apa-apa kalau mau berpura-pura, tapi yang jelas Papa senang,” jawab Indra.
Saat Indra terus menggoda Gia, ponsel gadis itu berdering dan ada pesan masuk ke sana. Indra mencoba menengok siapa yang mengirimkan pesan, hingga pria itu tahu jika Gia mendapatkan pesan dari Airlangga.
Gia membuka pesan itu, lantas membacanya.
[Apa kamu baik-baik saja dengan gosip yang tersebar. Aku merasa bersalah karena kamu ikut terseret dalam masalahku.]
__ADS_1
Gia terdiam sejenak membaca pesan itu, bingung harus membalas apa, sedangkan Indra berdeham untuk menggoda Gia karena diperhatikan Airlangga.