Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 57 : Terbongkar


__ADS_3

Di hari yang sama, Alina nampak datang ke kantor polisi untuk diperiksa atas kasus yang menjeratnya. Di sana Alina mendapatkan beberapa pertanyaan, tapi semua jawabannya melenceng dari pertanyaan yang polisi berikan, hingga menimbulkan kecurigaan.


“Apa benar malam itu Bu Alina membawa paksa Gani, lantas dengan atau tidak sengaja mendorong saudari Zie?” tanya polisi mengulang pertanyaan, karena Alina semakin aneh menjawab.


“Apaan sih, kalian kasih pertanyaan nggak mutu. Gani anakku, kenapa kalian yang sewot.” Alina bicara sambil melipat kedua tangan di depan dada, lantas memalingkan wajah dari penyidik.


Polisi pun merasa aneh dengan sikap Alina, hingga merasa kalau Alina menggunakan barang haram sejenis narkotika. Namun, mereka jelas tidak memiliki bukti jika Alina mengonsumsinya, sehingga mereka tidak memiliki alasan untuk meminta Alina melakukan tes urine.


Polisi merasa percuma memeriksa Alina, karena jawaban yang didapat tidak ada yang sesuai dengan pertanyaan yang dilontarkan. Akhirnya polisi mengakhiri pemeriksaan hari itu.


Airlangga ternyata juga datang ke kantor polisi setelah menemui Indra, saat penyidik sudah keluar dari ruang pemeriksaan, dia pun masuk untuk bicara dengan Alina. Dia datang ke sana secara diam-diam agar tidak diketahui oleh wartawan.


Alina menatap kesal ke Airlangga, gara-gara pria itu kini dia harus berurusan dengan polisi. “Mau apa kamu?” tanyanya dengan nada ketus.


“Aku hanya ingin menawarkan sesuatu kepadamu,” jawab Airlangga sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Alina.


Alina membuang muka dan tampak mengembuskan napas kasar, seolah tidak sudi melihat pria itu di sana.


“Aku akan membantumu bebas dari jeratan hukum asal kamu mau melepas Gani dan membuat perjanjian jika tidak akan memperebutkan hak asuhnya lagi, bagaimana?”


Alina langsung menoleh dan memandang Airlangga yang sudah menatapnya.

__ADS_1


“Sebagai gantinya, kamu akan terbebas dari tuntutan, serta masih bisa menjadi artis. Bukankah ini penawaran bagus untukmu?” Airlangga mencoba meyakinkan.


Alina malah bingung, tatapannya menunjukkan kalau dia tidak paham dengan maksud ucapan Airlangga. “Aku tidak tahu apa yang kamu maksud,” ucapnya lantas berdiri dan memilih meninggalkan Airlangga.


Airlangga pun hanya bisa menghela napas, dia berpikir membujuk Alina memang bukan perkara mudah. Wanita itu akhirnya pergi bersama sang manager yang sudah menunggunya di luar. Auda tahu kalau Airlangga menemui Alina di ruangan, hingga membuat wanita itu penasaran.


“Kenapa dia menemuimu?” tanya Auda. “Apa yang dia bicarakan?”


“Dia ingin aku melepas Gani, sebagai imbalan dia akan mencabut berkas tuntutannya,” jawab Alina.


“Bukankah itu bagus kalau memang benar, kenapa kamu tidak melepas saja Gani? Kamu jelas tidak bisa merawatnya. Ini akan menguntungkanmu, pikirkan Alina! Kamu harus menyelamatkan karirmu,” bujuk Auda.


**


Ternyata itu adalah mobil para dewan pengawas, mereka tampak turun dari mobil dan berjalan masuk ke gedung LPA. Mereka langsung masuk ke ruangan Rafli, membuat pria itu semakin kebingungan dan kalang-kabut karena didatangi petinggi LPA.


“Apa sebenarnya yang terjadi di sini? Kenapa para staff berdemo di luar?” tanya salah satu dewan pengawas saat sudah duduk bersama dengan Rafli.


“Mereka hanya sedang terhasut oleh provokasi salah satu staff yang keluar, tidak ada masalah yang sebenarnya terjadi,” elak Rafli menjawab pertanyaan dewan pengawas.


“Sepertinya tidak seperti itu. Bukankah aku sudah menanyakan masalah yang terjadi lewat panggilan telepon, tapi kamu tidak menjawab dan malah mengakhirinya. Sepertinya ada yang kamu sembunyikan,” ucap Irawan yang tahu soal uang pinalty Gia.

__ADS_1


“Itu tidak benar, itu hanya fitnah,” elak Rafli membalas ucapan Irawan.


Dewan pengawas tidak percaya begitu saja, lantas mereka pun meminta dua perwakilan staff untuk diajak bicara bersama.


Rafli ketakutan karena kebusukannya mungkin saja akan terbongkar. Dia pun mengusulkan Sofia, yang memang bawahannya dan berpihak kepadanya, tapi sayangnya dewan pengawas memilih acak siapa yang akan mereka ajak berdiskusi tentang masalah yang terjadi.


Akhirnya dua orang pun diajak masuk untuk bicara bersama. Dua orang staff yang diajak bicara, menceritakan carut-marutnya kinerja dan sistem di LPA tanpa menyudutkan Rafli. Untung saja dewan pengawas tidak memilih Citra, karena jika sampai Citra yang ditunjuk, Rafli pasti akan memojokkan dan menuduh jika Citra melakukan itu karena ingin membela Gia.


“Kami demo juga ingin mempertanyakan tentang Gia yang diminta membayar pinalty dengan jumlah besar. Jika itu terjadi kepada kami, dari mana kami bisa membayar uang pinalty itu,” ucap salah satu staff.


Akhirnya dewan pengawas meminta agar Gia datang ke LPA untuk memberikan klarifikasi apakah yang diceritakan oleh dua staff itu memang benar.


Setelah setengah jam menunggu, Gia pun datang dan hal itu membuat Rafli semakin terpojok.


“Apa benar kamu memberikan uang pinalty ke Rafli?” tanya salah satu dewan pengawas.


“Benar, Pak. Saya memberikan cek senilai lima puluh juta, sesuai yang tertulis di kontrak. Saya sudah menerima notifikasi jika cek itu telah dicairkan oleh Pak Rafli,” jawab Gia dengan sangatb tenang.


Dewan pengawas kini menatap Rafli, salah satunya pun melontarkan pertanyaan. “Apa itu benar? Lalu di mana uangnya sekarang?”


Rafli diam dan tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

__ADS_1


“Kalau kamu seperti ini, tampaknya kamu memang sudah tidak pantas menjadi direktur LPA. Sebaiknya kamu diturunkan jabatan dari direktur dan kami akan mengangkat direktur yang baru.”


__ADS_2