Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 49 : Serius


__ADS_3

Zayn diam dan tak menanggapi ucapan Airlangga. Pria itu kesal karena tidak bisa menunjukkan kemarahan. Zayn sadar selain menjadi rekan bisnisnya, Airlangga kini juga menjadi saingan berat dalam mendapatkan hati Gia.


Namun, menyadari Gia tampak biasa saja, membuat Zayn ragu apakah gadis itu menganggap serius ucapan Airlangga.


Gia sendiri sebenarnya terkejut dengan pengakuan Airlangga, jantungnya bahkan berdebar-debar tak karuan. Namun, sebisa mungkin dia menyembunyikan perasaan itu.


Gia berusaha tetap tenang dan berpikir Airlangga pasti hanya bercanda, dia mengatakan itu pasti hanya untuk membuat Zayn cemburu.


“Kamu sebaiknya pulang dulu karena aku di sini ingin membicarakan hal serius dengan Gia,” ucap Airlangga ke Zayn karena mereka sempat diam cukup lama.


Zayn dan Gia menoleh memandang Airlangga, hingga Zayn sadar diri kalau dirinya memang diusir dari sana.


“Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu,” ucap Zayn meski sedikit terpaksa.


Zayn pun akhirnya pergi, sedangkan Gia dan Airlangga terus menatap mobil pria itu sampai meninggalkan halaman rumah. Gia lantas menoleh Airlangga, dia ingat tujuan Airlangga datang adalah untuk membicarakan hal penting dengannya.


“Apa yang ingin kamu bicarakan?”


“Apa yang ingin aku sampaikan sudah dibahas Zayn tadi," jawab Airlangga.“Kenapa kamu melakukan itu?” tanyanya kemudian.

__ADS_1


“Aku melakukan itu karena hati dan keinginanku sendiri, bukan karenamu. Aku hanya tidak ingin melihat LPA hancur karena pak Rafli,” jawab Gia.


Airlangga mengangguk menerima alasan dari Gia. Sebelum kembali berkata, “Tapi soal aku ingin melamarmu, aku serius dengan hal itu.”


Gia terperangah mendengar perkataan Airlangga, tentu saja hal itu sangat membuatnya terkejut dan tidak menyangka. Namun, sedetik kemudian gadis itu malah tertawa cekikikan hingga membuat Airlangga keheranan.


“Bercandamu tidak lucu,” kata Gia sambil mencoba menghentikan tawa.


“Siapa yang bercanda?”


***


“Bagaimana? Papa sudah bicara dengan kak Gia?” tanya Zie antusias.


“Sudah, memang benar dia melaporkan atasannya, tapi dia beralasan semua itu dilakukan karena hati dan tidak ingin LPA rusak karena atasan yang mementingkan diri sendiri,” ujar Airlangga. Dia juga menceritakan semua yang dilakukan Gia untuk membantu mengurus masalah Gani.


Zie mendengarkan dengan seksama ucapan Airlangga, remaja itu terlihat takut kalau LPA tempat Gia bekerja, tidak mau membantu sang papa mendapatkan hak asuh sang adik.


Diam-diam Airlangga memperhatikan wajah Zie, hingga melihat luka jahitan yang ada di kening putri tirinya itu.

__ADS_1


“Apa kamu mau operasi plastik untuk menghilangkan bekas luka di keningmu itu?” tanya Airlangga. Dia cemas kalau luka itu akan membekas sampai Zie dewasa nanti.


Zie menyentuh keningnya sebelum tersenyum lebar ke arah sang papa.


“Kalau Papa ingin aku operasi plastik, jangan hanya di bekas luka jahitan ini. Kalau perlu hidung dan pantatku juga Papa biayai. Aku ingin hidungku terlihat lebih mancung, juga pantatku agar lebih bahenol,” ucap Zie.


Airlangga pun tertawa gemas mendengar permintaan sang putri, hingga mencubit pelan hidung Zie.


“Hem … ditawari dikit aja sudah ngelunjak kamu ya!"


“Aduh … Papa!” pekik Zie.


Airlangga pun melepas hidung Zie, gadis itu mengaduh kesakitan dan masih membuatnya terkekeh geli.


“Papa tahu kamu masih mencemaskan Gani, tapi yakinlah kalau semua akan baik-baik saja. Gani akan tetap bersama kita,” ucap Airlangga saat menyadari kecemasan dari sorot mata putrinya itu.


Zie mengangguk lantas memeluk Airlangga penuh kasih sayang dan manja.


"Setelah urusan Gani selesai, Papa carikan kami Mama baru ya!"

__ADS_1


__ADS_2