
Gia pun pergi ke rumah Airlangga untuk melihat kondisi Gani. Tentu saja hal itu dilakukan atas pertimbangan permintaan Zie untuk membela Airlangga, serta sekalian mengumpulkan bukti tentang kondisi Gani.
Sesampainya di sana, Gia langsung disambut Airlangga. Pria itu dan Zie menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Aku tidak bohong, Kak. Tadi Gani benar-benar sendiri di apartemen. Nih lihat, ini pesan dari manager Mama Alina yang mengatakan jika Gani sendirian di apartemen,” ucap Zie sambil menunjukkan pesan dari Auda.
Zie ingin agar Gia percaya ke Airlangga, dan kemudian mau membantu ayahnya.
Gia pun membaca pesan yang dikirimkan Auda ke Zie, hingga kemudian benar-benar memercayai cerita duo papa dan anak itu.
“Apa aku bisa bertemu Gani?” tanya Gia ingin memastikan kondisi bocah itu setelah dari apartemen Alina.
Airlangga mengangguk, kemudian mengajak Zie pergi ke kamar Gani. Di kamar ternyata Gani belum tidur dan masih bermain dengan mainannya.
“Gani, ini ada Kakak yang ingin ngobrol dengan kamu,” kata Airlangga ke Gani.
Gani awalnya hanya menatap Gia, tapi saat gadis itu tersenyum, membuat Gani akhirnya mau bicara.
Gia pun menanyakan beberapa hal tentang apa yang dilakukan Gani di apartemen. Bocah itu pun jujur dan menceritakan yang terjadi, hal itu membuat Gia merasa kasihan dan juga geram.
“Aku akan membantumu mendapatkan hak asuh Gani,” ucap Gia saat sudah selesai menemui Gani, kemudian keluar dari kamar bersama Airlangga.
Airlangga tentunya senang karena akhirnya Gia percaya kepadanya.
“Terima kasih karena mau membantuku,” ucap Airlangga dengan senyum lebar di bibir.
“Jangan salah paham, aku bukannya membantumu, tidak secara langsung. Aku hanya ingin menyelamatkan Gani dari ibu yang tidak bertanggung jawab,” balas Gia yang tidak ingin Airlangga besar kepala.
Airlangga pun tidak mempermasalahkan mau Gia membantu karena dirinya atau Gani, yang terpenting baginya bisa mendapatkan hak asuh putranya.
_
_
__ADS_1
Selepas pulang sekolah, Marsha yang bingung karena sahabatnya pergi begitu saja tadi datang ke rumah membawakan tas.
“Memangnya apa yang terjadi, kenapa kamu tadi lari tanpa tas dan dompet?” tanya Marsha penasaran.
“Itu karena aku mencemaskan Gani."
Zie pun menceritakan semua yang terjadi, hingga membuat Marsha ikut geram karena Alina yang tidak bertanggung jawab.
***
Alina baru saja pulang dari syuting, dia langsung pulang ke apartemen karena Auda terus mencemaskan Gani yang ada di apartemen sendiri.
“Gani!” panggil Alina saat masuk apartemen.
Namun, tidak ada jawaban dari Gani, membuat Alina berpikir jika putranya tidur. Dia pun mencari keberadaan Gani, tapi sayangnya tidak menemukan Gani di mana pun.
“Gani!”
Alina mulai panik, hingga berlari ke balkon dan mencari Gani di sana, berpikir mungkin saja putranya jatuh dari balkon. Namun, tetap saja Alina tidak menemukan Gani, membuat wanita itu frustrasi.
Di saat bersamaan, sebuah pesan masuk dari Airlangga, wanita itu pun buru-buru membaca pesan itu.
[Gani ada bersamaku, dia di rumah karena tadi sakit ]
Alina begitu geram karena Airlangga membawa Gani tanpa izin. Dia pun bergegas pergi ke rumah mantan suaminya itu.
Saat sampai di rumah Airlangga. Alina langsung mengamuk tanpa mendengar penjelasan dari sang mantan suami.
“Kamu sengaja ‘kan bawa Gani saat aku tidak di rumah. Kamu sudah menculiknya dan akan aku pastikan kamu berurusan dengan polisi!” amuk Alina.
“Kamu berani nuduh aku menculik, lalu bagaimana denganmu, hah? Kamu tidak bertanggung jawab menelantarkan anak sendiri, bahkan kamu pasti tidak tahu kalau Gani sakit!” Airlangga ikut mengamuk karena Alina memulainya.
“Jika kamu ingin melaporkanku atas tuduhan penculikan, maka aku akan melaporkanmu atas tuduhan penelantaran anak!” ancam Airlangga.
__ADS_1
Alina kesal karena Airlangga melawannya, lantas mencari Gani tanpa izin Airlangga dan hendak mengajak putranya itu pulang.
Gani terkejut melihat kedatangan Alina di kamar, bahkan sampai bersembunyi di balik selimut.
“Gani, pulang sama Mama, ya,” ucap Alina membujuk.
“Gani nggak mau pulang sama Mama, Gani mau di sini!” teriak Gani dari balik selimut.
“Tapi Gani harus pulang dengan Mama,” ucap Alina lagi, hendak membuka selimut tapi Gani menggenggam selimut dengan erat.
Airlangga melihat Alina yang ingin memaksa, hingga kemudian menarik lengan mantan istrinya itu dan mengajaknya keluar kamar.
“Gani tidak mau, kamu jangan memaksanya!” Airlangga melepas lengan Alina dengan sedikit mendorong.
“Tapi dia putraku! Dia harus ikut bersamaku!” Alina kekeh dengan keinginannya.
“Dia tertekan bersamamu sampai tidak mau ikut denganmu, kamu seharusnya paham. Sekarang kamu pergi dari sini!” Airlangga terpaksa mengusir Alina.
Alina terlihat geram karena diusir, tapi juga tidak bisa melawan di sana. Dia akhirnya keluar dari rumah Airlangga dengan perasaan kesal, hingga berhenti melangkah lantas mendapatkan sebuah ide.
Alina mengeluarkan ponsel, menghubungi salah satu awak media yang dikenalnya sambil masuk mobil. Dia lantas berpura-pura menangis, bercerita jika dirinya baru saja diusir oleh mantan suaminya karena tidak boleh menemui putra mereka. Alina menjual cerita sedih untuk menyerang Airlangga.
“Kamu pikir bisa melawanku, lihat saja yang akan kamu dapat!”
**
Hari berikutnya. Gia langsung menemui Rafli begitu sampai di LPA, tentu saja untuk membahas masalah Gani.
“Pak, saya ingin membahas soal Gani. Kemarin saya mendapatkan informasi jika ternyata selama ini Gani ditelantarkan Alina.” Gia menceritakan semua yang diketahui.
“Kamu masih percaya informasi yang tidak valid? Apa kamu belum lihat gosip yang tersebar pagi ini?” Rafli terlihat murka karena Gia seolah membela Airlangga.
Gia pun segera membuka akun sosial medianya, hingga melihat cerita palsu yang dibuat Alina.
__ADS_1
“Ini tidak benar, semua ini bohong. Alina pasti berbohong ke media.”