
Gia melongo mendengar ucapan ayahnya, kenapa juga harus memberikan syarat. Memang dia sedang ingin mengurus surat di kecamatan.
“Papa jangan aneh-aneh,” ucap Gia waspada.
“Siapa yang aneh-aneh? Papa hanya mau memberi syarat, jangan pulang lebih dari jam dua belas malam,” balas Indra diakhiri tawa kecil.
Gia mencebik, bisa-bisanya sang papa memberi syarat aneh seperti itu. Airlangga sendiri menahan tawa, tahu jika mungkin Indra hanya bercanda.
“Bukan apa-apa, Papa hanya takut jika setelah lewat jam dua belas malam, kamu akan berubah lagi."
Gia melongo mendengar candaan sang papa, kemudian memasang wajah cemberut.
Airlangga pun tertawa kecil menyadari perubahan ekspresi Gia lantas berkata, “Saya janji akan mengantar Gia sebelum jam dua belas malam, Pak Indra.
Indra pun terkekeh, dia menepuk lengan Airlangga sebelum berucap lagi, “Titip Gia!"
Airlangga mengangguk, kemudian mengajak Gia pergi setelah berpamitan ke Indra.
Mobil Airlangga pun meninggalkan halaman rumah pria itu, melaju menuju restoran tempat Zayn mengadakan pesta.
“Kamu cantik malam ini, gaun itu sangat pas di tubuhmu.” Airlangga menoleh sekilas ke Gia, sebelum kemudian fokus ke jalanan. Dia memuji penampilan Gia yang malam itu memang begitu berbeda.
Gia tersenyum mendapat pujian dari Airlangga, bahkan sampai menyelipkan rambut yang sebenarnya tidak berantakan ke belakang telinga.
“Kamu juga malam ini juga terlihat berbeda,” balas Gia. Dia tersenyum manis saat menoleh Airlangga.
Keduanya saling melempar senyum, sebelum kemudian memilih diam dan memerhatikan jalan yang dilewati.
Airlangga dan Gia sudah tiba di restoran baru tempat Zayn mengadakan pesta. Airlangga turun terlebih dahulu, kemudian membukakan pintu untuk Gia. Keduanya terpantau banyak orang begitu romantis dan sangat serasi.
__ADS_1
“Terima kasih,” ucap Gia sambil menerima uluran tangan Airlangga.
Gia pun keluar dari mobil dan berdiri sejajar dengan Airlangga, hingga pria itu mengajak masuk sambil menggandeng tangannya.
“Aku terpaksa mau kamu gandeng demi sandiwara, jadi jangan besar kepala,” bisik Gia.
Airlangga menanggapi ucapan Gia hanya dengan seulas senyum dan tidak membalasnya.
Begitu masuk ke restoran, Airlangga dan Gia pun menjadi pusat perhatian semua tamu. Mereka bahkan menyimpulkan jika gosip yang beredar adalah benar.
“Tatapan mereka membuatku tidak nyaman,” gumam Gia.
“Dibawa santai saja, atau sandiwara kita akan gagal,” balas Airlangga dengan cara berbisik.
Gia menghela napas pelan, mencoba bersikap biasa meski semua orang menatap aneh ke arahnya.
Zayn melihat Gia datang bersama Airlangga, lantas berjalan menghampiri untuk menyapa.
Gia memaksakan senyum, sedangkan Airlangga langsung menyapa tuan rumah pesta itu.
“Tentu kami akan datang, bagaimana mungkin tidak,” balas duda tampan itu sambil menjabat tangan Zayn.
Zayn terlihat melirik Gia yang tak acuh, kemudian memilih mengajak berbincang Airlangga.
“Bagaimana dengan produk yang saya pesan, apakah besok sudah siap dikirim?” tanya Zayn yang memilih membahas masalah kerjasama.
“Tentu saja, kami akan mengirimkan barang yang Anda minta tepat waktu,” jawab Airlangga santai.
Zayn dan Airlangga berbincang masalah bisnis, sedangkan Gia memilih menikmati minuman yang diambilnya dari nampan salah satu pelayan di sana.
__ADS_1
Siapa yang menduga salah satu tamu ternyata adalah teman Alina. Wanita itu mengambil foto Airlangga dan Gia, lantas mengirimkannya.
[Lihat, mantan suamimu menghadiri pesta bersama Gia.]
Alina sedikit kesal membaca pesan dan melihat foto yang dikirimkan temannya. Namun, seketika ide muncul di kepalanya. Alina hendak memanfaatkan hal itu untuk mengambil Gani di rumah Airlangga.
Alina bergegas pergi ke rumah sang mantan suami, dia tentunya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja.
Alina menerobos masuk ke rumah Airlangga, bahkan satpam pun tak bisa menghalanginya. Wanita itu lantas mencari Gani di kamar.
“Gani ikut Mama pulang!” ajak Alina sambil menarik tangan bocah itu.
“Gani nggak mau!” tolak Gani sambil meronta.
“Nurut sama Mama!” bentak Alina.
Gani mencoba memberontak, tapi usahanya sia-sia karena kalah tenaga.
Zie yang mendengar suara Gani berteriak pun keluar dari kamar. Hingga melihat Gani yang ditarik paksa Alina dan kini sudah siap menuruni anak tangga.
“Lepaskan Gani!” teriak Zie langsung berlari mengejar.
“Diam kamu! Ga usah ikut campur!” bentak Alina.
“Kakak Zie!” Gani berusaha minta tolong Zie agar tidak dibawa sang mama.
“Dia adikku, kamu tidak bisa membawanya begitu saja saat Papa tidak ada!” Zie pun berusaha menarik tangan Gani. Bocah itu pun menangis, mungkin karena bingung dan ketakutan.
“Kamu ini memang pengganggu!”
__ADS_1
Alina berusaha mempertahankan Gani, hingga melepas paksa tangan Zie yang memegang lengan sang adik. Alina tanpa sengaja mendorong Zie, hingga gadis itu terpeleset di tangga kemudian berguling hingga lantai dasar.
“Kak Zie!” teriak Gani.