Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 43 : Detektif Rafli


__ADS_3

Hari berikutnya, Rafli datang ke kantor pagi-pagi buta. Dia langsung pergi menemui pak Toman yang memang shift malam.


“Pak, apa yang dilakukan Gia di kantor sampai malam?” tanya Rafli.


Bukan tanpa alasan pria itu bertanya, kemarin saat Rafli pulang kerja, dia masih melihat Gia berada di meja kerjanya. Rafli pun menduga kalau Gia pasti sedang lembur. Maka dari itu Rafli penasaran dan ingin tahu apa yang sebenarnya dilakukan Gia, dan dia yakin pak Toman pasti tahu.


“Mbak Gia ya kerja kek biasanya, Pak,” jawab pak Toman. Meski dia tahu semalam Airlangga datang mengunjungi Gia, tapi pak Toman tidak berniat membocorkan masalah itu.


Rafli menatap pak Toman dengan rasa tidak percaya, tapi kemudian memilih buru-buru masuk gedung dan hendak mengecek apakah yang dikatakan pak Toman benar.


Rafli pergi ke meja Gia, bak detektif ingin mencari bukti apa saja yang dilakukan Gia semalam. Dia pun terkejut saat melihat dua cup bekas kopi di meja dan ada bekas tempat makan juga di sana.


“Semalam dia pasti bertemu orang lain di sini. Dia pikir bisa mengelabuiku.” Rafli bak detektif yang baru saja mendapatkan bukti mencurigakan.


Rafli sangat beruntung karena pagi itu tidak ada staff yang datang pagi. Dia pun kembali menemui pak Toman setelah mendapatkan temuannya di meja Gia.


“Pak Toman berusaha menipuku!” amuk Rafli ke pak Toman.

__ADS_1


“Siapa yang nipu?” tanya pak Toman sambil menatap Rafli yang tampak kesal.


“Aku lihat di meja Gia ada dua cup bekas kopi, semalam Gia bertemu siapa?” tanya Rafli dengan nada suara tinggi.


“Tidak tahu, Pak. Bisa saja mbak Gia yang meminum semuanya. Dia minum satu, kurang puas lalu minum lagi. Namanya juga lembur, Pak. Pasti butuh kopi banyak,” jawab pak Toman yang tetap berbohong dan merahasiakan kedatangan Airlangga.


“Mana mungkin! Pak Toman jujur saja, siapa yang datang menemui Gia semalam,” ujar Rafli memaksa.


Pak Toman kebingungan, tapi beruntung karena satpam yang shift pagi datang dan membuatnya bisa kabur.


Rafli melongo tak percaya karena pak Toman pergi begitu saja, membuatnya semakin yakin kalau ada sesuatu yang terjadi. Rafli menatap satpam yang baru saja datang, hingga terlintas sebuah ide di kepalanya.


“Aku mau lihat rekaman CCTV semalam,” kata Rafli.


“Baik, Pak.” Satpam itu pun mengajak Rafli masuk ke ruang jaga, kemudian mulai mencari rekaman kondisi kantor semalam.


Satpam pun mulai memperlihatkan rekaman , hingga Rafli kaget ketika melihat Airlangga datang ke sana.

__ADS_1


“Ternyata benar. Lihat saja, Gia! Apa kamu masih bisa sombong setelah aku menemukan kesalahanmu,” gumam Rafli dengan seringai jahat di wajah.


Rafli pun mengadakan rapat dadakan, dia berencana membuat Gia kelabakan dengan rekaman CCTV yang dimilikinya. Dia sukses membuat para staffnya kebingungan, Gia bahkan harus terburu-buru karena rapat yang tidak terjadwal itu.


Rafli membuka rapat sepeti biasa, lalu dilanjutkan dengan meminta satu persatu staffnya menyampaikan hasil perkembangan kasus yang ditangani, hingga tiba giliran untuk Gia memberikan laporannya.


“Di sini, saya sudah memantau perkembangan psikologi Gani. Ibu Alina memang tidak memperlakukan Gani dengan baik, bahkan ada bukti di mana ibu Alina juga menelantarkan Gani sendirian di apartemen, bahkan ibu Alina dengan tega mencelakai putri tirinya karena ingin mengambil Gani dari kediaman pak Airlangga, sampai putri tirinya itu mengalami cidera,” ujar Gia menjelaskan.


Tak hanya itu, dia juga menunjukkan bukti-bukti yang dimiliki, hingga tiba-tiba Rafli mengangkat pointer dan mengarahkannya ke layar proyektor.


Semua orang terkejut karena di sana terlihat Gia dan Airlangga sedang duduk berdua sambil berbincang. Mulut Gia menganga lebar, dia menatap Rafli tak percaya karena atasannya itu sampai mencari bukti tentang dirinya dan Airlangga.


“Sepertinya semua penilaianmu sudah berat sebelah. Bagaimana kalau kamu mundur saja dari kasus Gani?” Rafli merasa menang saat melihat ekspresi terkejut di wajah Gia.


Gia benar-benar gemas dengan apa yang dilakukan oleh Rafli. Gadis itu yakin kalau Rafli pasti sengaja mencari-cari kesalahannya.


“Memangnya pak Rafli juga tidak berat sebelah? Jangan pikir saya tidak tahu! semua staff di sini juga tahu, untuk apa Ibu Alina datang menemui Anda? Coba Anda jawab!”

__ADS_1


__ADS_2