
“Pak Rafli sendiri bagaimana? Bukankah Bapak juga berat sebelah? kemarin Bapak tersenyum-senyum menerima Alina di sini, padahal jelas dia dilaporkan karena melakukan kekerasaan terhadap anak kandungnya sendiri. Apa pak Rafli pikir itu tidak membela?” Gia pun mengajak debat Rafli karena merasa jika pria itu sudah menyerang secara personal.
Para staff di ruang rapat itu pun lantas menatap curiga ke Rafli karena ucapan Gia barusan. Sedangkan Rafli berpikir Gia sedang balik memojokkannya, sehingga dia pun mencoba mengelak dari tuduhan itu.
“Bu Alina ke sini hanya untuk berkonsultasi, tidak lebih.”
“Mana mungkin? saya juga pernah melihat pak Rafli bertemu Alina di luar LPA,” bantah Gia agar Rafli makin terpojok.
Rafli semakin gelapan, tapi dia tidak ingin mengalah begitu saja dari Gia.
“Itu hanya pertemuan biasa! Aku tidak kayak kamu, kamu malam-malam didatangi pria berstatus duda, lantas kamu mendukung dan membelanya, memang kamu pikir ini lembaga perlindungan duda?” Rafli terus saja mengajak Gia berdebat.
“Ya sama saja, Pak. Pak Rafli pikir ini juga lembaga perlindungan janda!” bantah Gia.
Rafli kehilangan kata-kata karena terus dibantah Gia, hingga akhirnya dia pun mengancam anak buahnya itu.
“Kalau kamu tidak mau nurut dengan peraturan LPA, lebih baik kamu keluar saja. LPA nggak butuh staff macam kamu!”
Semua orang terkejut mendengar ucapan Rafli, hingga mereka langsung menatap Gia.
Gia terlihat begitu emosi, sampai-sampai mengepalkan telapak tangannya. “Tidak bisa! Kalau saya keluar dari LPA, maka lembaga ini akan semakin bobrok karena Anda!”
Rapat itu akhirnya dibubarkan karena Gia dan Rafli malah berdebat sendiri. Gia tidak terima dan semakin kesal. Dia pun bertekad untuk menemui dewan pengawas LPA dan melaporkan sikap Rafli.
Setelah semua orang kembali ke mejanya masing-masing, Gia mengambil tasnya dan hendak pergi.
“Kamu mau ke mana?” tanya Citra saat melihat Gia mengambil tas dari kursi kerjanya.
__ADS_1
“Pergi untuk urusan penting, aku tidak bisa diam saja melihat si rambut cangkok itu berbuat seenaknya,” jawab Gia, lantas buru-buru meninggalkan Citra.
Sahabat Gia itu tak bisa berkata-kata dan hanya melongo, dia jelas tidak berani menyusul karena bisa-bisa Rafli juga akan membuatnya kesulitan.
***
Selama ini Gia memang tidak mau bertemu dan berurusan dengan dewan pengurus LPA, yang ketuanya ternyata adalah ayah Zayn. Dia terlalu malas karena Irawan—ayah Zayn, tahu kalau dirinya dan Zayn pernah menjalin kisah asmara.
Namun, karena masalah Gani dan juga perdebatannya dengan Rafli tadi, Gia pun membulatkan tekad untuk mendatangi Irawan dan tidak peduli dengan resiko yang harus dihadapi.
Gia datang ke satu kampus ternama di kota itu. Irawan tidak hanya dewan pengurus LPA, tapi juga seorang rektor di sana.
“Maaf, pak Irawan hari ini tidak bisa bertemu tamu karena jadwalnya yang sangat padat,” kata sekretaris Irawan yang menemui Gia.
Gadis itu seketika kecewa, wajahnya nampak tertekuk sebelum kembali mencoba membujuk. “Apa tidak bisa disampaikan dulu kalau saya dari LPA?” ucapnya.
“Maaf tidak bisa, mungkin Anda bisa membuat janji dulu lain kali,” jawab sekretaris Irawan.
Gia pun akhirnya keluar dari gedung rektorat dengan wajah penuh kekecewaan.
“Masa iya aku harus minta bantuan Zayn,” gumam Gia. Ia cepat-cepat menggelengkan kepala.
Zayn pasti akan besar kepala kalau sampai Gia datang dan meminta tolong, bisa-bisa pria itu berpikir Gia membutuhkan dirinya.
Gia pun menepis pikiran itu dan berjalan menuju area parkir. Namun, tak dia sangka di sana dirinya malah bertemu dengan Zayn yang baru saja keluar dari mobil.
“Gia.”
__ADS_1
Putri Indra itu tidak bisa kabur karena Zayn sudah melihatnya dan bahkan kini berjalan mendekat.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Zayn saat sudah berdiri berhadapan dengan Gia.
Gia terlihat bingung, haruskah dia jujur ke Zayn soal maksud kedatangannya ke kampus. Gadis itu ganya diam dan Zayn masih terus memandangnya seolah menuntut jawaban.
“Sebenarnya aku ke sini karena ingin menemui pak Irawan,” ucap Gia. Ia merasa bingung sampai menggaruk sisi keningnya.
Merasa kepalang tangggung, Gia akhirnya menceritakan yang terjadi dan maksudnya datang.
“Oh begitu.” Zayn menganggukkan kepala. “Apa kamu mau ikut denganku? Kebetulan aku ingin menemui Papa dan makan siang bersama. Aku bahkan membawa makanan langsung dari restoranku,” ucap Zayn menawari Gia sambil menunjukkan kotak makanan yang dibawa.
“Kamu bisa sekalian menyampaikan masalahmu ke papa sambil makan siang,” imbuh pria itu.
Gia terlihat bingung, haruskah dia berhutang budi ke Zayn dengan menerima tawaran ini. Gia sendiri sudah buntu memikirkan cara, dia merasa tidak punya pilihan lain, mungkin ini lah satu-satunya cara agar dia bisa bertemu dengan Irawan.
“Jika kamu tidak keberatan,” lirihnya.
Pada akhirnya Gia menerima bantuan dari Zayn karena memang hanya pria itu yang bisa menolongnya untuk saat ini.
Zayn pun mengajak Gia pergi ke gedung rektorat kembali, keduanya berjalan bersisian. Hingga orang-orang yang melihat berpikir mereka sangat serasi.
“Wah, beruntung sekali dia bisa mendapatkan anak rektor,” bisik salah satu staff fakultas yang melihat Gia dan Zayn.
“Iya, mana putra pak Irawan sangat tampan,” timpal yang lain terkagum-kagum.
Meski sama-sama mendengar, tapi baik Zayn dan Gia hanya diam. Mereka terus mengayunkan kaki menuju lift tanpa berbincang.
__ADS_1
“Tapi dia pasti tidak pintar, nyatanya memilih bisnis kuliner dari pada menggeluti bidang akademis seperti ayahnya.”
GUBRAK....