
Rafli jelas tak kaget saat suara Gia terdengar memanggil namanya. Ia meminta bawahannya itu masuk dan memposisikan diri bergaya di kursi empuknya. Rafli memandang remeh Gia, sedangkan gadis itu memandang dengan tatapan mencibir.
“Apa?”
“Seharusnya Anda tahu jelas apa yang ingin saya lakukan.”
Gia meletakkan kertas yang tercetak rangkaian kalimat pengunduran dirinya ke meja. Ia mendorongnya mendekat ke arah Rafli, saat pria itu memandangi.
“Surat pengunduran diri, saya tidak mau lagi bekerja di Lembaga Penjahat Anak.” Gia sengaja mengganti singkatan LPA untuk menyindir Rafli.
Pria rambut cangkok itu tersenyum miring, dia tahu bahwa Gia harus membayar pinalti, karena tak menyelesaikan lama kerja sesuai dengan kontrak yang sudah disepakati.
“Kamu tahu ‘kan kalau mengundurkan diri sekarang kamu akan terkena denda.”
Gia menatap tajam Rafli, dia merogoh kantung blazernya untuk mengeluarkan selembar cek yang tadi dia ambil dari laci sang papa.
“Saya sudah membaca kontrak dengan baik, saya bahkan tahu berapa denda yang harus dibayar karena keluar dari sini,”ucap Gia.
Telapak tangannya masih menutup cek yang sudah dia letakkan ke depan Rafli, Gia menyeringai melihat wajah Rafli yang penasaran sambil menjauhkan tangan perlahan, dan setelah itu Rafli menyipitkan mata sibuk menghitung angka nol yang tertera di sana.
__ADS_1
“Tunggu! apa nominalnya ini sudah benar? Jangan-jangan kamu asal.” Rafli menyambar cek itu, menunjukkan dengan jelas sifat mata duitannya. “Aku akan mengeceknya dulu nanti, dan pengundurann dirimu aku terima.”
Gia tertawa di dalam hati, dia masih tidak tahu untuk apa dan siapa, uang denda pinalti pekerja yang tidak mematuhi kontrak.
Namun, untuk kasusnya ini, Gia yakin Rafli pasti akan memakannya sendiri, untuk itu dia sengaja memancing. Rafli pasti akan dengan mudah masuk ke dalam jebakannya.
“Sudah tidak ada lagi yang perlu saya bahas dengan Anda, jadi saya mau pergi!”
“Ya sudah pergi sana!”
Meski geram dengan kelakuan Rafli, Gia mencoba tetap tenang. Ingin rasanya dia menguliti rambut kepala atasannya ini, tapi dia sadar itu malah akan membuatnya terkena masalah sendiri.
“Gi, kamu bercanda ‘kan? ini semua bohongan ‘kan?” tanya Citra.
“Tidak! aku benar-benar memberikan surat pengunduran diri ke pak Rafli.” Gia menoleh Citra, dan malah meminta temannya itu mengambilkan pajangan bunga yang tak terjangkau olehnya.
“Aku juga sudah membayar uang denda.”
Gia diam sejenak, dia membuang napas kasar dari mulut karena baru menyadari satu hal. Memang akan sangat mudah untuknya keluar dari LPA dan membayar denda karena papanya kaya, tapi untuk rekan kerjanya yang lain ini pasti sangat sulit.
__ADS_1
“Cit, aku tidak bisa bekerja dengan tikus got seperti dia,”kata Gia sambil menunjuk ruangan Rafli dengan kepala. Di dalam sana Pria itu sedang sibuk memandangi cek darinya sambil memutar-mutar kursi kerja.
“Aku keluar dari sini, tapi aku tidak meninggalkan kalian yang punya mimpi sama sepertiku. Percaya padaku, aku akan menggulingkan Rafli setelah ini,”bisik Gia.
Citra pun lega, dia awalnya ragu dan berpikir Gia sudah menyerah. Namun, mendengar kalimat yang dibisikkan Gia barusan dia yakin kalau temannya ini memang tidak akan pantang menyerah dengan tujuannya.
“Kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa mengandalkanku,”ujar Citra.
“Tentu saja, aku pasti sangat membutuhkan bantuanmu.” Gia menaikkan tali tasnya yang ada di bahu, dia mengangguk ke Citra seolah meyakinkan bahwa keluarnya dia dari LPA bukan akhir dari perjuangan.
“Ini masih pagi, kamu mau pergi ke mana?” tanya Citra khawatir.
“Entah, tapi ada satu orang yang ingin aku ganggu, karena semua masalah ini berawal karena dia.”
“Siapa?”
“CEO Kecap,”jawab Gia dengan tawa lebar.
Wajahnya bahkan semringah. Sama sekali tak menunjukkan seseorang yang baru saja kehilangan pekerjaan.
__ADS_1