Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 16 : Ide Cerdas


__ADS_3

“Sudah kamu katakan ke pria itu?”


Rafli seperti tak sabaran mendengar kabar dari Gia, pria itu sampai keluar dari ruangannya untuk bertanya. Rafli tak peka bahwa staffnya itu baru saja kembali dan bahkan baru akan melepas tas dari pundak.


“Sudah Pak,” jawab Gia malas. Ia memutari meja lalu duduk di kursi, membiarkan Rafli yang kepo bingung dan kembali bertanya padanya bagaimana respon Airlangga.


“Dia menyebut Anda licik.”


“Apa?”


Semua mata kini tertuju pada Gia dan Rafli. Mereka tak menyangka bahwa Gia bisa sesantai itu mengatakan tanpa sungkan ke sang atasan.


Citra menggigit bibir bawah melirik ke temannya yang pemberani itu. Jika saja waktu bisa diputar kembali, Citra pasti tidak akan memilih Rafli sebagai direktur saat pemilihan dulu.


Lembaga Perlindungan Anak tempat Gia bekerja memang berbentuk yayasan, mereka memiliki dewan pengawas yang setiap lima tahun sekali akan melakukan musyawarah memilih direktur. Nahas, dulu baru dua bulan bekerja Citra sudah harus ikut acara pemilihan direktur - yang dia belum tahu bagaimana seluk beluknya. Alhasil gadis itu asal pilih karena temannya yang lain memilih Rafli.


“Dia bilang Anda pasti menerima uang lebih banyak dari mantan istrinya,” ucap Gia dengan suara lantang dan penekanan.


Rafli tak bisa berkata-kata, dia berdehem lalu memandang ke arah semua bawahannya. Mereka langsung menunduk berpura-pura bekerja.


“Sudahlah tidak perlu dibahas lagi.”

__ADS_1


“Bukannya Anda sendiri yang bertanya,” cibir Gia. Ia bahkan berani tertawa meremehkan Rafli.


“Ck … lalu bagaimana itu, kelanjutan kasus anak yang diperebutkan ibu kandung dan ayah yang bukan ayahnya itu.” Rafli akhirnya memilih untuk membahas hal lain.


Gia tertawa, dia mengambil berkas yang dia tumpuk di dekat laptop miliknya. Ia menunjukkan hasil Analisa ke dua tentang kesehatan mental anak yang dimaksud Rafli.


“Dia sangat melekat pada papanya, meski Pak Gama bukan ayah kandung tapi dia membesarkan Maha dengan baik. Saya akan menjadi saksi di pengadilan nanti. Pokoknya saya tidak akan membiarkan orang yang suka menyuap karena banyak duit menang,” cerocos Gia dengan kecepatan tinggi.


Rafli sampai dibuat memundurkan kepala. Menghadapi anak buahnya yang satu ini memang butuh lebih banyak energi. Mungkin Rafli harus makan tiga piring nasi agar bisa menyamai energi Gia yang bak baterai yang baru saja diisi.


Pria itu akhirnya kembali ke ruangannya setelah memastikan bahwa Airlangga sudah tahu dia tidak akan mau membantu lagi.


“Gia! Kalau tidak ada kasus, kita juga akan kehilangan pekerjaan. Kamu itu!”


Citra memajukan bibir, dia cemberut karena doa temannya. Dipandanginya laptop seharga tujuh belas juta yang dia kredit dari sebuah toko komputer.


“Belum lunas nih,” imbuhnya.


Sementara itu di tempat lain, Alvian nampak berdiri di depan Airlangga yang baru saja kembali dari bertemu Gia. Sekretaris itu heran mendapati sang atasan diam seribu bahasa sejak masuk dan duduk di kursinya.


“Pak, apa Anda ingin saya buatkan teh? Atau saya ambilkan air mineral.”

__ADS_1


Alvian mencoba memecah lamunan Airlangga, tapi pria itu tetap saja diam dan tak membalas ucapannya.


Alvian menggaruk kepala. Ia menyesal tidak ikut menemui Gia tadi. Jika dia ikut setidaknya bisa tahu apa yang terjadi dan tidak bingung seperti ini.


“Al, apa yang harus aku lakukan sekarang?”


“Hah … bagaimana, Pak?” meski kaget, Alvian merasa lega karena Airlangga akhirnya mau bicara.


“Apa aku biarkan saja Alina mendapatkan Gani? tapi aku yakin anakku pasti tidak terurus jika bersamanya. Kenapa aku harus mengalami nasib seperti ini?" keluh Airlangga.


Alvian merasa iba, baru kali ini dia melihat Airlangga putus asa. Hingga ide cemerlang pun terlintas di pikirannya dan langsung dia sampaikan ke sang atasan.


“Pak, bagaimana kalau meminta bantuan ke gadis itu.”


“Gadis mana?” tanya Airlangga dengan mimik muka kebingungan.


“Gadis yang Anda kirimi bunga sebagai permintaan maaf.”


“Gia?”


Alvian mengangguk dan tersenyum penuh arti, dia bahkan menaikturunkan alis matanya. “Dekati dia Pak, agar mau membantu Anda. Bagaimana? Saya cerdas ‘kan?”

__ADS_1


__ADS_2