Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 27 : Merindukan


__ADS_3

Di sebuah apartemen mewah, tampak seorang pria duduk di sofa sambil menyilangkan satu kaki. Di tangan pria itu memegang cangkir berisi kopi, sedangkan tatapannya tertuju ke layar televisi yang kini sedang menyiarkan berita tentang Gia dan Airlangga.


Pria itu menyesap kopi yang masih mengepulkan uap panas secara perlahan, tatapannya masih tertuju ke berita gosip yang kini sedang hangat diperbincangkan.


“Gia ternyata sudah banyak berubah,” gumam pria itu.


Hingga ponsel yang berada di atas mejanya berdering, pria itu melirik dan melihat nama sang sekretaris terpampang di sana.


“Halo.” Pria itu menjawab panggilan.


“Pak, saya hanya mengingatkan jika Anda besok ada janji bertemu dengan pemilik AIR FOOD.” Suara seorang wanita terdengar dari seberang panggilan.


“Baik, terima kasih,” ucap pria itu lantas mengakhiri panggilan dan kembali menyaksikan berita di televisi.


**


Gia merasa lelah juga pusing karena masalah yang menimpanya, hingga berpikir jika dia butuh istirahat dan refreshing untuk menjernihkan pikirannya yang sudah sekeruh susu coklat.


Gia memijat kedua pelipis berulang kali, bahkan sampai memejamkan kelopak mata sekilas karena begitu penat.

__ADS_1


“Aku butuh secangkir kopi atau coklat panas,” gumam Gia.


Dia pun lantas berdiri dan mengambil ponsel, laptop, juga dompet. Gia meninggalkan mejanya begitu saja tanpa pamit.


“Gia! Mau ke mana?” tanya Citra setengah berteriak, tapi tidak digubris.


Gia berjalan keluar dari ruangan, lantas melangkah menuju ke working space di luar kantor dan memesan secangkir kopi. Gadis itu duduk di kursi yang terdapat di sudut ruangan. Hal itu dilakukan karena semua orang menatap aneh ke arahnya.


Gia memilih mengabaikan, menikmati kopi yang masih mengepulkan uap panas, dengan satu tangan mengutak-atik gadget-nya.


Gadis itu membuka random folder di laptop., hingga dia melihat folder bertuliskan ‘Sampah masa lalu’. Jemari Gia tiba-tiba bergerak membuka folder itu, hingga melihat banyak foto dirinya dan sang mantan kekasih yang bernama Zayn.


Gia menyangga dagu dengan telapak tangan, sedangkan siku bertumpu di meja. Dia tiba-tiba tersenyum sendiri melihat beberapa foto saat dirinya bersama Zayn, Gia seolah asyik bernostalgia dengan masa lalunya.


Hingga tiba-tiba ponsel yang berada di samping laptop berdering, sebuah pesan chat dari sang papa terpampang di sana.


[Kamu sekarang di mana?]


Gia membaca pesan dari ayahnya. Indra sendiri tahu kala Gia sedang bersusah hati.

__ADS_1


Gia tersenyum getir membaca pesan dari Indra, kemudian mengetikkan pesan untuk membalas pesan Indra.


[Aku sedang ingin sendiri, jadi tidak mau diganggu.]


Gia tahu jika sang ayah pasti memikirkan masalah dirinya. Namun, Gia pun tidak ingin membuat Indra terlalu banyak berpikir atau terlibat dalam masalahnya.


Gia melirik ke sekitar, hingga melihat banyak orang mulai memandang dirinya. Dia merasa risih, hingga akhirnya memilih pergi dari tempat itu.


Gia menaiki mobil, pergi ke makam ibunya. Dia merasa jika hanya di sanalah dirinya bisa merasa sedikit tenang.


Gadis itu berjalan dari parkiran ke area pemakaman. Menapaki rumput yang tumbuh subur di sana, menuju salah satu makam orang yang sangat dicintainya.


Gia berjongkok di samping makam ibunya, menyentuh pusara sang mama dengan tatapan sendu dan penuh kerinduan.


“Apa Mama tahu, aku sedang sangat kesal,” ucap Gia mulai berkeluh kesah.


“Aku memiliki atasan yang mata duitan, dia tidak mau membantu orang yang benar-benar baik, di matanya hanya uang dan itulah yang bertahta. Aku benar-benar kesal kepadanya, andai bisa aku ingin sekali membuatnya turun jabatan, agar dia tahu jika tidak semua bisa dilakukannya, terutama dengan uang.”


Gia begitu geram, meluapkan kekesalan dan mencurahkan hati di makam ibunya.

__ADS_1


“Ma, apa mama tahu kalau aku sangat merindukan, Mama.” Tanpa terasa buliran kristal bening tiba-tiba luruh dari ujung kelopak mata Gia.


__ADS_2