
Hari itu Airlangga melakukan pertemuan bisnis yang lumayan penting dengan salah satu pengusaha restoran ternama. Pria itu tak tahu kalau yang melakukan pertemuan dengannya adalah Zayn—mantan kekasih Gia. Mereka pun membicarakan kesepakatan dengan serius dari awal hingga akhir.
“Senang bisa bekerja sama dengan Anda.”
Airlangga mengakhiri rapat itu dengan menjabat tangan Zayn sebagai tanda jika kerjasama mereka telah disepakati.
“Saya juga senang bekerjasama dengan Anda,” balas Zayn yang juga menjabat tangan Airlangga.
Para staff yang ikut hadir pun meminta izin keluar ruangan, hingga kini tinggal Zayn dan Airlangga saja yang ada di sana.
Zayn memandang Airlangga yang bersiap pergi, dia tersenyum karena tidak menyangka bisa bertemu dengan pria yang diberitakan berselingkuh dengan Gia.
“Apa Anda tahu, saya mengenal Gia." Ucapan Zayn membuat Airlangga menghentikan langkah.
Tentu saja Airlangga terkejut mendengar ucapan Zayn, tapi dirinya mencoba bersikap biasa. Airlangga mengulas senyum kemudian sedikit mengangguk, tidak ingin menanggapi berlebih ucapan Zayn.
“Saya akan mengadakan pesta pembukaan salah satu cabang restoran yang baru Minggu depan, apakah Anda bisa datang?” tanya Zayn kemudian karena Airlangga tidak menanggapi ucapan sebelumnya.
Sikap Airlangga yang terlihat tidak acuh saat Zayn membahas Gia, malah membuat Zayn yakin jika ada hubungan di antara keduanya.
“Tentu saya akan datang,” jawab Airlangga yang tidak mungkin membuat kecewa rekan bisnisnya itu.
Zayn pun mengulas senyum sambil mengangguk, dia memandangi penampilan Airlangga dari atas ke bawah, menurutnya pria itu masih terlihat sangat muda.
**
__ADS_1
Sore harinya, Gia keluar dari lift setelah usai bekerja, terlihat gadis itu membuat patahan leher sambil berjalan. Dia terlihat lelah, selain memikirkan tentang kasus Gani, Gia juga harus sedikit tertekan dengan berita hoaks yang menyeret namanya.
Saat baru saja akan menginjakkan kaki di pintu lobi, langkah Gia terhenti saat melihat siapa yang berdiri di sana sedang memandang dirinya.
“Mau apa dia ke sini? Kenapa tiba-tiba muncul di sini?” Gia bertanya-tanya dalam hati.
Gia terlihat kesal melihat Zayn di sana dan kini menatap dirinya. Meski begitu Gia sejatinya memiliki sedikit rasa ke pria yang pernah mengisi hari-harinya itu.
“Kamu ada waktu? Mau minum kopi?” tanya Zayn dengan senyum hangat di wajah.
Gia sebenarnya ingin menolak, tapi entah kenapa bibir malah berkata 'iya', hingga akhirnya mereka berjalan ke arah kafe yang ada di seberang gedung LPA.
Namun, tak diduga Rafli melihat dan langsung menghampiri Citra yang kebetulan hendak keluar dari lobi.
Citra langsung menoleh, melihat atasannya itu tampak penasaran.
“Kamu nanya?”
Sontak apa yang dikatakan Citra, membuat Rafli sangat terkejut.
“Sepertinya kamu juga tidak waras seperti Gia,” cibir Rafli yang kemudian memilih pergi meninggalkan Citra.
Citra terkejut karena dibilang tidak waras, bahkan bibirnya sampai komat-kamit karena kesal.
“Kamu tuh atasan gila!” umpatnya.
__ADS_1
***
Meski Gia mau ikut bersama Zayn, tapi kenyataannya dia sama sekali tidak menoleh atau memandang Zayn yang berjalan di sampingnya. Dia masih memendam rasa kesal terhadap mantan kekasih yang sudah menyakitinya itu.
Mereka sudah berada di kafe dan memesan kopi, tapi Gia memilih memalingkan wajah daripada harus menatap pria di hadapannya itu.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Zayn saat melihat Gia yang tidak memandang ke arahnya.
“Baik,” jawab Gia masih tidak mau memandang ke arah Zayn.
Zayn tersenyum mendengar jawaban Gia, hingga kemudian kembali bertanya, “Bagaimana kabar papamu, juga pekerjaanmu di LPA.”
“Semua baik,” jawab Gia meski terkesan tak acuh tapi ternyata melirik mencuri pandang.
Zayn mengangguk-angguk, kemudian memilih menyesap kopi yang dipesannya. Gia pun melakukan hal sama, tapi posisi duduk Gia miring dan tidak ingin menghadap ke Zayn langsung.
“Soal gosip yang menyebar, apa itu benar? Apa kamu dan pria itu memang dekat?” tanya Zayn yang penasaran.
“Ya, tentu kami dekat. Airlangga adalah kekasihku,” jawab Gia yang diliputi rasa kesal.
Gia kembali menyesap kopinya, masih tanpa menghadap ke arah Zayn.
“Oh ya, minggu depan perusahaanku akan mengadakan pesta dan aku mengundang Airlangga juga. Jika dia datang, kamu pasti akan diajak juga ‘kan karena kalian sepasang kekasih?”
Pertanyaan Zayn hampir membuat Gia tersedak, gadis itu lantas menoleh dan menatap Zayn yang sudah memandangnya.
__ADS_1