
Kreeekk...
"Hhhhmmm... Sepertinya aku aman, aku tau ini akan berjalan sempurna, baiklah.." ucap Gavin yang berdiri didepan pintu rumah nya dan mencoba masuk dengan perlahan tanpa ketahuan siapapun.
"Gaviiinn.... Dasar anak tidak tau aturan"
Gavin terkejut. Ibu Gavin berteriak sangat keras dan langsung menyalakan lampu ketika ia melihat Gavin masuk. Yaa bagaimana tidak, keadaan rumah memang gelap karena waktu menunjukkan pukul 3 pagi dan sudah pasti semua orang sedang tertidur pikir Gavin. Tapi itu salah.
"I-ibu? Apa yang ibu lakukan disini? Bukannya ibu lagi tidur? Kenapa harus bangun?" Tanya Gavin pada ibunya bertubi - tubi.
Ibu Gavin langsung menarik Gavin ke ruang tamu dan membiarkan Gavin duduk dilantai dihadapan ibunya yang duduk di sofa. Ayah Gavin bergegas turun ke ruang tamu.
"Gavin? Dari mana saja kau ini?"
Gavin hanya bisa menunduk, menunduk karena merasa bersalah, mungkin.
"Gavin, ibu sudah muak dengan perilaku dirimu yang suka keluyuran malam - malam tidak jelas. Ibu muak, Gavin. Maka kamu harus menerima hukumannya. Kamu haru..."
"Jangan hukum kak vin Bu. Dia tidak salah" sela Sena, adik Gavin .
"Sena jangan ikut campur dalam masalah ini. Gavin! Kamu juga seharusnya jadi panutan untuk adikmu. Tapi apa ini, kau hanya membuat kekacauan. Ayah akan memindahkanmu ke apartemen Tante Vivi yang ada di dekat stasiun sunshine. Ini perintah!!" Ujar tegas ayah Gavin.
"A apa ayah? Aku harus tinggal di sana? Di sana kan sempit. Dan aku akan tinggal dengan siapa? Apa kalian mengusirku?" Ucap Gavin yang terkejut dengan hukuman mengerikannya itu.
" Huhhh... Harus Gavin, kau harus tinggal di sana. Disana tidak terlalu sempit karena apartemen itu milik Tante vivi. Kau akan tinggal sendirian! Kau harus tau dan bisa mengatur keuangan, keperluan dan ketepatan waktu yang kau miliki Vin. Setiap detik akan sangat berharga jika digunakan dengan baik. Dan kami tidak mengusirmu, kami hanya memindahkanmu dan kau juga bisa tetap sekolah, kau bisa kembali setelah kau merubah sikap burukmu itu" penjelasan ayah Gavin yang terkadang keras dan lembut.
"Aku tak bisa melakukannya yah. Aku bisa mati disana" jawab Gavin.
"Kau juga takkan membiarkan dirimu sendiri mati vin, dan tak ada bantahan" ujar ibu Gavin.
"Baiklah baik. Kalian menang dan aku kalah. Aku akan pergi dan nanti kembali. Hhhmmm... Aku paham" ucap Gavin yang mulai pasrah dengan ayah dan ibunya.
Berbeda dengan adiknya yang mulai meneteskan air mata dan pergi meninggalkan ruang tamu. Gavin yang melihat kepergian adiknya, langsung menyusulnya naik ke atas.
"Hei, kau kesal ya sama Kaka?"
"Sangat. Jika kak vin pergi, aku disini sama siapa?" Jawab Sena yang mulai menangis lagi.
Gavin memeluk Sena dengan lembut
"kau bisa mengunjungiku jika kau mau, aku juga akan menemani mu jalan - jalan saat liburan. Tak banyak yang berubah bukan?"
Sena tak menjawab dan hanya diam dipelukan Gavin. Saat dengkuran halus terdengar, Gavin langsung mengangkat Sena dan membawanya ke kamar Sena. Kasian sekali adiknya yang manis ini.
🌸🌸🌸
keesokan harinya...
"Kita sudah sampai Vin. Turunkan barang bawaan mu"
Akhirnya Gavin, ayah dan ibunya sudah sampai di apartemen yang akan ditinggali Gavin. Gavin menatap gedung apartemen nya lama, memikirkan hari - hari yang akan dilewatinya ditempat ini.
"Dengar Gavin! Kau akan tinggal disini. Uang saku mu akan ayah tambahkan karena kau juga butuh makan dan keperluan lainnya. Kau tak bisa menyewa seseorang untuk membersihkan tempat ini dan menyiapkan makan untukmu"
Gavin membelalakkan matanya saat mendengar perkataan ayahnya. Benar - benar gila. Gavin yang selalu dilayani kebutuhan sehari hari nya, harus mengurus dirinya sendiri.
"Itu terlalu kejam untukku. Bisakah ayah berikan sedikit keringanan. Aku bisa mati disini."
__ADS_1
"Baiklah. Ayah kasih keringanan. Baju kotormu bisa di laundry. Puas?"
"Kurang yah, kurang"
"Yaudah kalau begitu tidak jadi ayah kasih keringanan"
"Eehh iya iya yah Gavin puas"
"Nah... Gitu dong. Yaudah ayah pulang dulu. Kamu baik - baik disini. Jangan bikin ulah. Ayah lelah kalau sampai denger kamu buat ulah lagi"
"Ayah akan menemuimu besok disekolah. Awas saja sampai kau terlambat. Hukumanmu akan lebih berat dari ini" lanjut ayah Gavin.
Penderitaan pun bertambah.
Jadi, inikah yang dirasakan saudara kembarnya? Eehh tunggu, Gavin punya saudara kembar? Yaa tentu dia punya. Mereka saudara kembar identik. Yang mungkin hanya punya perbedaan sifat.
Kevin la Ligeo Gerald
Kevin memang tidak tinggal di rumah keluarganya karena harus melanjutkan studinya ke luar negeri. Kevin merupakan anak pertama di keluarganya. Jadi keluarganya sangat mengharapkan Kevin sebagai penerus selanjutnya perusahaan milik ayah mereka.
Gavin bersyukur karena bukan dia yang lahir menjadi anak pertama, melainkan saudara kembarnya.
🌸🌸🌸
Jam baker berbunyi sangat nyaring diatas meja kecil samping tempat tidur Gavin yang menandakan sudah pagi.
"Siapa yang menaruh jam sialan ini di ruangan ini siihhh!" Teriak Gavin yang tiba - tiba terkejut bangun dari tidur damainya setelah mendengar jamnya berbunyi.
Bukannya mematikan jam baker nya dia malah terduduk melamun di pinggir kasur. Dia baru sadar kalau ia tidak berada dirumahnya. Gavin memang memasang jam bakernya disana supaya tidak lupa untuk bangun, tapi entah kenapa dia lupa dan kesel sendiri.
Akankah Gavin menyesal telah membuat ibunya marah dan membuat ayahnya yang sabar akhirnya bertindak?
Setelah berlama - lama di kamar mandi, Gavin langsung mengenakan seragamnya, memasukkan buku kedalam tasnya dan langsung pergi ke sekolah.
Gavin langsung menuju stasiun sunshine yang lumayan dekat dengan apartemennya. Kereta pun tak lama tiba. Gavin mencari - cari gerbong yang tidak terlalu berdesakan. Tapi itu mustahil. Semua gerbong penuh dan mau tak mau dia harus menaikinya.
Saat diperjalanan, Gavin jadi teringat dengan mobil sportnya yang berada di rumahnya. Biasanya dia berangkat menggunakan mobil kesayangannya itu.
Sebenarnya Gavin merupakan anak pemilik yayasan sekolahnya. Walau dia tidak masuk sebulan pun sepertinya tak akan jadi masalah, tapi karena ayahnya merupakan kepala sekolahnya, rasanya jadi sedikit tidak mungkin untuk tidak mendapat hukuman berat darinya.
🌸🌸🌸
Saat keluar dari stasiun, Gavin berpikir untuk mengisi perutnya yang belum sarapan sebelum kesekolah. Dia pergi ke minimarket dekat dengan stasiun dan membeli roti stroberi. Saat keluar dari sana, dia melihat ada beberapa anak yang sepertinya satu sekolah dengannya sambil berlari keluar stasiun. Gavin pun penasaran dan menghampiri mereka yang tengah berlari.
"Woy, kenapa kalian lari begitu? Ada maling yaa?" Tanya Gavin yang hanya ingin tau kenapa mereka tergesa - gesa di pagi hari.
Mereka pun berhenti dan langsung berbalik. Beberapa diantara mereka menertawakan Gavin yang mereka pikir Gavin jadi terlalu polos dengan bertanya seperti itu
"Kamu punya jam tidak? Jam berapa ini? Kita bakalan telat! 3 menit lagi gerbang ditutup!"
Gavin terkejut. Gavin juga tak sadar karena terlalu santai. Gavin pun ikut berlari saat dia ingat dengan wajah marah ibunya.
"Tunggu!"
Satpam yang sedang menutup pintu gerbang langsung berhenti dan membiarkan mereka masuk karena melihat Gavin yang ikut berlarian.
Satpam pun bingung. Ada apa ini? Anak pemilik sekolah yang selalu membawa mobil sportnya ke sekolah, hari ini berlarian karena telat.
__ADS_1
Saat Gavin berhasil melewati gerbang, dia menghela nafas berat. Bersyukur telah lolos dari satu masalah. Gavin berjalan santai menuju kelasnya yang berada di lantai 4. Gavin berada di kelas 2 SMA.
Saat sedang berjalan ditengah lapangan yang sudah sepi, Gavin melihat Bu Ani yang berjalan di lantai 4 dan akan menuju kelasnya. Gavin berlari lagi menuju lift. Tak peduli dengan aturan, yang penting dia selamat dari guru killer satu ini.
Akhirnya Gavin tiba dilantai 4 dengan cepat. Dia langsung berlari menuju kelasnya. Saat sampai di depan kelas, Gavin langsung membuka pintu dengan keras.
Duaakk
"Kyaaa"
"Apa kau baik-baik saja?"
"Hei hidung dan dahinya berdarah"
"Sepertinya dia pingsan"
Semua orang dikelas Gavin langsung menggerumuni seseorang yang terkena dorongan pintu yang didorong oleh Gavin. Ohh tidak. Gavin berbuat ulah lagi. Entah apa yang akan dikatakan ayahnya setelah mendengar kejadian ini.
"Gaviiin apa yang sebenarnya kau lakukan hahh?" Teriakan Bu Ani mampu membuat kelas yang awalnya ricuh langsung sunyi seketika.
"Cepat gotong dia ke UKS. Jangan pedulikan Gavin" ujar Andro si ketua kelas.
Ada sekitar 3 anak laki-laki yang mulai mengangkatnya dengan hati - hati. Gavin yang melihatnya pun mulai panik.
"Tenang Vin tenang, sepertinya dia hanya pingsan karena terkejut. Biar gua yang urus" ujar Andro yang mulai mengambil alih masalah.
Memangnya siapa yang pingsan itu? Sangat asing. Murid barukah?
🌸🌸🌸
Setelah bel istirahat berbunyi, Gavin menghampiri Andro di kantin untuk bertanya mengenai masalah pagi tadi.
"Dro, gimana? Dia udah sadar belom di UKS?" Tanya gavin.
"Lu nanya? Tumben. Kesambet apaan lu?" Jawab Andro yang langsung menghentikan aktivitas makannya.
"Serius gua nih. Cepetan gua juga laper" Andro langsung tertawa kecil setelah mendengar perkataan dari Gavin.
"Oke oke. Cewe tadi awalnya di bawa ke UKS. Terus kata susternya, dia tuh harus dirujuk kerumah sakit, gua juga ga ngerti. Susternya sih ga ngomong apa - apa lagi. Terus gua langsung telpon ambulans lah" jawab Andro.
Gavin terkejut ketika mendengar cewe tadi dibawa ke rumah sakit. Separah itukah?
"Apa gua ngedorong pintu terlalu keras ya?" Tanya Gavin antar terkejut dan bingung.
"Jelas lah Vin. Tadi pagi itu lu kan buru buru kan? Jadi lu reflek buka pintu cepet - cepet, tanpa lu sadari lu udah pake seluruh tenaga lu buat buka pintu. Sedangkan itu cewe posisinya mau tutup pintu. Jadi gimana dia mau ngehindarin pintu yang kebuka secepat itu. Gitu loh Vin"
"Wow. Ga salah gua temenan sama lu. Hebat banget lu kalau hal yang begituan. Makasih loh"
"Iya sama - sama"
Gavin dan Andro pun langsung melanjutkan makan yang sempat tertunda. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampiri mereka.
"Permisi kak Gavin ya?" Ujar laki - laki itu yang diduga sebagai adik kelas mereka.
"Iya kenapa?" Jawab Gavin.
"Saya cuma mau nyampein pesan aja. Kaka ditunggu sama kepala sekolah di ruangannya nanti setelah pulang sekolah. Kalo gitu saya langsung pergi kak" adik kelas itu langsung pergi karena takut dengan aura Gavin yang mulai mendingin dan menakutkan.
__ADS_1
"****** Luh" ujar Andro dengan nada mengejek.
"Shit. Harus bilang apa gua" ucap Gavin