
Pagi ini, Yuki menuruni tangga dengan gembira. Sepertinya ia lupa dengan kejadian semalam. Ya, sudahlah. Kali ini Yuki memakai kemeja denim dan sweater rajut, untuk bawahannya Yuki juga memakai rok selutut berwarna putih. Ia memakai pakaian yang agak tebal karena musim gugur telah tiba.
Diluar, dedaunan mulai berubah warna dan ada pula yang sudah rontok dari pohonnya. Ini sudah jelas, bahwa sekarang sudah memasuki musim gugur. Angin juga terus bertiup dengan kencang.
Tapi, jangan khawatir. Yuki memakai pakaian yang agak tebal dan Yuki seperti biasanya telah menguncir rambutnya dengan gaya ponytail.
Yuki bahkan terlihat imut hari ini. Ya, Yuki memang terlihat imut di setiap harinya. Gadis ini berjalan menghampiri kakaknya yang tengah memasak di dapur dengan pakaian kantorannya dan sebuah celemek. Ini merupakan pemandangan yang tidak biasa bukan?
"Good morning little sister" ujar Alvaro
"Morning too. Hari ini kak Axel yang masak? Tumben" ujar Yuki
"Sesekali bagus juga kan. Lagian kita punya sirup maple di kulkas. Sayang kalau tak digunakan" jawab Axel seraya membuka celemeknya dan menggantinya dengan jas.
"Baiklah. Mari kita sarapan"
"Eeiitts, tunggu dulu" halang Alvaro.
"Kenapa?"
"Bangunkan kedua kakakmu yang belum bangun dulu. Kasian kan kalau kita menghabiskan sarapan tanpa mereka" ujar Alvaro.
"Iya iya"
Yuki kemudian berdiri dan berjalan menaiki tangga dengan gontai. Kesal. Sarapannya harus ditunda karena kedua kakaknya yang menyebalkan ini.
Yuki memutuskan untuk membangunkan Zen terlebih dahulu. Dia membuka pintu kamar dan berjalan membuka gorden serta pintu balkon. Biar saja udara dingin masuk dan membangunkannya.
Sreekk
"Buset. Terang banget"
Yuki tersentak. Ini kamar Zen, kenapa suara Felix yang terdengar. Yuki langsung berbalik, dan melihat asal suara tadi. Dan lihatlah mereka, Felix terbangun dengan keadaan shirtless dan Zen tidur disampingnya.
"Kalian tidur bersama?" Tanya Yuki tersenyum kikuk.
"Uhm, ya. Semalam kita tak habis pikir dengan keputusan Axel. Jadi ga bisa tidur" ujar Zen yang bangkit dari berbaringnya dan mulai menggaruk-garuk rambutnya.
"Kak Axel sudah membuat keputusan?" Tanya Yuki karena terkejut.
Felix dan Zen mengangguk bersamaan.
Tanpa bertanya lagi, Yuki langsung keluar dari kamar Zen dan berlarian turun ke bawah dengan cepat. Anak tangga demi anak tangga, ia lewati dengan sedikit cepat.
Derap langkah Yuki terdengar hingga ke dapur. Axel dengan cepat juga menghampiri Yuki. Takut Yuki terjatuh.
Mereka berdua berlari saling menghampiri. Yuki dan Axel berhenti bersamaan saat mereka sudah saling berhadapan. Yuki kini menatap manik mata biru milik Axel dengan nafas yang terengah-engah.
Ohh, astaga. Mereka dramatis sekali di pagi hari.
"Kakak sudah buat keputusan?" Tanya Yuki serius.
"Kau dengar darimana? Apa kau menguping tadi malam?" Axel menjawab dengan pertanyaan lagi.
"Itu tak penting! Ayolah kak, aku ingin mendengar keputusan yang kau buat" bujuk Yuki pada kakaknya.
Axel diam dan menatap balik manik mata biru milik Yuki dengan lekat. Mata mereka berdua memang sama. Warna rambut mereka juga sama. Itu menambah pesona mereka yang berkilau.
Dari kejauhan, Alvaro yang sebenarnya hendak berjalan ke meja makan pun jadi tak ingin melanjutkannya lagi. Melihat kakak beradik ini beradu tatapan membuatnya ingin mundur lagi.
Jika dilihat baik-baik, Yuki seperti duplikat Axel versi perempuannya. Mereka benar-benar mirip.
"Nanti sore, kau akan mengetahui segalanya. Sekarang habiskan sarapanmu" ujar Axel. Namun kali ini, dia mengatakannya tanpa kelembutan, hanya ada ketegasan di setiap kata yang barusan diucapnya.
"Jangan bertanya lagi soal keputusan ku semalam. Nanti juga kau akan tahu, bertanya sekarang juga tak ada gunanya" lanjut Axel.
Yuki menunduk kemudian berjalan menuju meja makan. Alvaro juga langsung menghampiri Yuki dan mengelus pelan kepalanya. Tapi itu tak membuat Yuki tersenyum.
Alvaro mulai menghidangkan pancake yang tadi di buat oleh Axel. Yuki dan Axel sudah duduk terlebih dahulu. Keheningan terjadi. Sepertinya Axel tadi salah ngomong. Lihat Yuki sekarang, Yuki bahkan tak mau melihatnya. Diam dan termenung.
Tak lama kemudian, Felix dan Zen turun bersamaan dan mereka duduk berhadapan. Alvaro juga ikut duduk di samping Felix dan ia juga membawa semangkuk buah blueberry.
"Kau mau ini tidak?" Tanya Alvaro pada Yuki sambil menunjuk mangkuk berisi blueberry.
Yuki diam.
"Hei, sweety. Tak sopan jika kau mendiami seseorang yang menawarkan sesuatu padamu" ujar Axel dengan lembut kembali.
"Maaf kak" jawab Yuki. Yuki mengulurkan tangannya untuk mengambil beberapa buah blueberry dari tangan Alvaro.
Mereka mulai makan sarapannya.
Dan keheningan terjadi lagi. Tak ada obrolan, canda bahkan tawa. Hanya ada suara dentingan garpu dan pisau yang saling beradu dengan piring.
Axel jadi merasa bersalah dan tidak enak. Gara-gara dia, sarapan kali ini jadi terasa sedikit asing. Axel telah merusak suasana nyaman di pagi hari.
Baiklah, Axel akan mencoba memperbaiki suasana. Axel memotong pancakenya dan sedikit mencocolnya dengan selai strawberry. Axel mengarahkan garpunya ke wajah Yuki. Ia berniat untuk menyuapi Yuki.
"Coba ini, enak loh" bujuk Axel.
Yuki menatapnya dengan tanpa ekspresi. Ini membuat Axel jadi semakin ragu. Dan kenapa Yuki diam saja?
Hap
Yuki memakan suapan yang diberikan Axel. Axel tersenyum tipis seketika. Zen yang sedari tadi memperhatikan pun jadi ikut tertawa.
Yuki mengambil serbetnya dan mengelap selai strawberry yang berada di sudut bibirnya. Yuki tersenyum manis pada Axel dan ia pun sedikit tertawa.
Yes! Axel berhasil!
"Enak kak!" Ujar Yuki dengan senyum sumringah.
Axel juga jadi tersenyum lebar ketika melihat Yuki tersenyum karenanya.
"Uhh, drama dipagi hari. Aku juga mau menyuapi Yuki. Ayo Yuki, ahh" Felix kini mengulurkan tangannya untuk menyuapi Yuki.
__ADS_1
Yuki tertawa kecil dan berdiri. Dia mencondongkan tubuhnya dan memakan suapan dari Felix, kemudian duduk kembali.
"Curang! Aku juga mau. Ayo little sister. Aku akan menyuapimu juga" ujar Alvaro yang berusaha memotong pancakenya dan diberikannya pada Yuki yang duduk diseberangnya. Jika Axel memberikan dengan selai strawberry dan Felix dengan sirup maple, maka Alvaro akan mencobanya dengan selai coklat kacang.
Yuki dengan senang hati menerima suapan dari Alvaro dan tersenyum ketika mengunyah makanannya.
"Hentikan semuanya, kalau aku terus memakan makanan kalian, punyaku takkan pernah habis nantinya" ujar Yuki.
"Bagaimana dengan aku? Aku kan belum punya kesempatan untuk menyuapimu" ujar Zen memelas.
"Baikla--"
"TIDAK USAH!!" Ujar Alvaro, Axel, dan felix bersamaan.
"Ke-kenapa?" Ujar Zen ketakutan karena ketiga orang ini berbicara bersamaan tadi.
"Pancakemu ditaburi gula. Bisa-bisa Yuki terkena diabetes karena mu" ujar Alvaro dingin.
"Hiiihh menyebalkan! Lantas, apa yang kalian berikan padanya tadi?" Zen mulai kesal.
"Selai strawberry yang dibuat Alvaro itu tanpa gula" tukas Axel.
"Sirup maple juga biasa digunakan di pancake" sahut Felix.
"Tak ada yang salah dengan selai coklat rendah kalori" ujar Alvaro tak mau kalah hebat dengan yang lainnya.
Yah, mereka berempat terus bertengkar adu mulut. Yuki mengabaikannya. Ia tak peduli. Selama mereka tak saling memukul, Yuki rasa itu aman.
Yuki terus memakan sarapannya dengan hikmat.
"Apa salahnya dengan gula pasir yang ku gunakan!?" Pekik Zen.
"Gula pasir penyebab utama penyakit gula!" Sahut Alvaro.
"Betul!" Felix ikut-ikutan.
Yuki mulai lelah mendengar mereka bertengkar.
Pas sekali, pancake milik Yuki tinggal selembar. Ia membaginya menjadi empat potong dan mengambil 4 buah blueberry.
"Hentikan!" Yuki berteriak.
Langsung hening, senyap, tak bersuara.
"Ini"
Yuki menyodorkan pancake dengan buah blueberry di atasnya pada Axel. Axel pun bingung. Yang lain juga sama begitu.
"Berhenti bertengkar. Sebagai gantinya aku akan menyuapi kalian satu persatu. Bagaimana?" Tawar Yuki.
Hap.
Axel memakan suapan dari Yuki. Begitu juga dengan yang lainnya. Alvaro, Felix dan yang terakhir Zen.
Axel menghampiri Yuki yang sedang mencuci piring di dapur. Ia memperhatikan adiknya dari belakang.
"Aku akan pergi ke rumah Gavin untuk belajar" ujar Yuki tanpa menoleh.
Axel yang sedang berdiri dan sedikit melamun pun terkejut. Tiba-tiba Yuki berbicara, Axel pikir Yuki tak tahu jika ia berada di belakangnya.
"Aku tahu kau disana kak" Yuki berbalik menghadap Axel.
"Kau tahu aku disini?" Tanya Axel.
"Iya. Oh ya, apa kau akan ke kantor?" Ujar Yuki.
"Ya, aku kan sedang memakai jas. Sudah pasti akan ke kantor. Minta Felix untuk mengantarmu hari ini. Pulang sebelum jam 5"
"Baiklah" Yuki mengangkat tangannya dan melakukan hormat ala tentara dengan senyuman yang manis.
Axel tersenyum tipis kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Yuki di dapur. Axel pergi mencari keberadaan Alvaro dan Felix yang sudah tak berada di meja makan. Dan tentu saja, mereka sudah di ruang tamu.
"Apa?" Tanya Alvaro.
"Al, kita ke kantor sekarang. Dan kau Felix, antar Yuki hari ini" ujar Axel tegas.
"Siap boss" sahut Felix dan Alvaro bersamaan.
🌸🌸🌸
Yuki berjalan keluar rumah dengan Tote bag di tangan kirinya dan ponsel di tangan kanan. Ia mengetuk kaca mobil dan pintu mobil pun langsung terbuka.
"Kau akan pergi kemana?" Tanya Felix yang menyalakan mesin mobil.
"Rumah Gavin. Hari Senin ujian akan dimulai. Ada beberapa materi yang tertinggal. Kami akan belajar bersama"
"Fine." Felix menginjak pedal gas dan mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
Yuki menyalakan radio di mobil untuk mendengarkan berita hari ini.
"Apa pintu mansion lainnya sudah kau pasangi finger print?" Tanya Yuki.
"Bukan finger print. Itu menyulitkan. Yang ku buat adalah face print. Cukup berdiri di depan pintu. Dan pintu akan terbuka"
"Hhmm, pinter banget sih" goda Yuki.
"Hmph.. Felix gitu loh" ujar Felix membanggakan diri.
"Ehh, tunggu Felix. Berhenti di kedai itu!" Pekik Yuki sambil menepuk lengan Felix berulang kali.
Felix dengan cepat menepi tepat di depan kedai yang Yuki maksud. Yuki segera melepas seatbeltnya dan turun dari mobil.
Kling
Lonceng kedai berbunyi ketika Yuki membuka pintunya. Yuki berjalan menuju lemari kaca yang didalamnya tersusun banyak kue yang sangat menggoda.
__ADS_1
"Ada yang saya bisa bantu nona?" Ujar si pelayan.
"Apa ada cookies?"
Pelayan itu mengangguk.
"Kalian jual satuan atau bagaimana?"
"Kami jual dalam bentuk toples nona" jawab si pelayan.
"Baiklah, aku beli 2 toples"
"Baik, akan saya ambilkan. Tolong nona tunggu sebentar"
Pelayan itu pergi untuk mengambil pesanan Yuki. Sambil menunggu, Yuki mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Felix. Yuki kini menelponnya, karena ribet kalau ia harus keluar.
"Felix?"
"Apa?"
"Tunggu sebentar. Pesanan ku akan segera tiba. Apa kau ingin nitip sesuatu"
"Apa disana ada cheesecake?"
"Kurasa ada"
"Belikan 1 loyang"
"Oke"
BIP
Yuki menutup telponnya Karen pelayan tadi sudah kembali dengan paper bag besar. Itu sudah pasti pesanan Yuki.
"Ada lagi yang bisa dibantu?" Tanya pelayan itu.
"Oh ya, cheesecake nya satu loyang tolong"
"Baik nona"
Pelayan itu membungkuk dan mengeluarkan sebuah kue dari lemari kaca itu. Pelayan itu langsung membungkusnya. Yuki beralih mencari dompetnya dan mengeluarkan kartu ATM dari sana.
"Anda akan membay--"
"ATM saja. Cepat" sela Yuki. Takut Felix menunggu terlalu lama. Yuki jadi menyentak si pelayan ini.
Setelah membayar, Yuki langsung mengambil apa yang sudah dibelinya dan pergi keluar. Didalam mobil, Felix sudah bosan menunggu Yuki. Oke, jangan salahkan Yuki, salahkan di pelayan tadi yang lamban.
🌸🌸🌸
*Ting tong Ting tong
Cklek*.
Pintu mansion keluarga Gerald terbuka dan menampilkan sosok pria dengan balutan pakaian khas kantor.
"Good morning Miss Cortez. Cari Gavin atau Kevin?" Ujar ayah Gavin.
"Gavin, om. We Will study together" jawab Yuki dengan menunjukkan Tote bag berisi beberapa buku didalamnya.
"Hm, bagus. Masuk lah."
Ayah Gavin membawa Yuki masuk. Ternyata mereka masih sedang sarapan. Padahal kan sekarang sudah jam setengah sepuluh. Apa mereka sengaja bangun siang? Tapi ini hari Jumat.
"Kak Yuki!? Kakak berkunjung, bawa apa kak?" Ujar Sena yang sangat antusias melihat kedatangan Yuki di meja makan.
"Aku bawa cookies. Kebetulan aku bawa 2 toples. Ku berikan satu untuk mu. Belajar yang rajin ya" Yuki mengeluarkan 1 toples cookiesnya dan diberikannya pada Sena. Sena pun menerimanya dengan gembira.
"Thanks kak! Kakak mau sarapan?"
"Tidak. Kakak sudah sarapan. Dimana Gavin?"
"Masih tidur" ujar Kevin yang sedang memakan sereal.
Yuki memutar bola matanya, kesal. Ini sudah akan siang, dan Gavin belum bangun?
"Naik saja keatas. Bangunkan dia. Kalau perlu, siram dengan air sebaskom besar. Biar banjir sekalian tuh kasurnya" ujar ayah Gavin.
"Oke siap om!"
Yuki akhirnya naik ke lantai 3 dimana kamar Gavin berada. Tak usah di tanya ataupun dicari, kamarnya Gavin bahkan dapat dengan mudah Yuki temukan.
Itu sudah pasti, karena hanya pintu itu yang berwarna hitam. Pintu berwarna hitam di sebuah mansion serba putih ini? Aneh. Tapi pemilik kamar itu sudah pasti Gavin.
Tanpa mengetuk pintu, Yuki masuk kedalam begitu saja tanpa berpikir apapun lagi. Mumpung pintunya sedang tak terkunci. Sudah baik Yuki mau datang belajar bersama Gavin. Eh, Gavinnya malah masih enak-enakan tidur di kasur king size miliknya.
Yuki menyalakan lampu. Ruangan ini menjadi lebih terang benderang lagi ketika Yuki juga membuka gorden balkon dan lampu yang menyala bersamaan. Bagaimana? Sudah terang belum?
Gavin akhirnya merasa terusik dan menarik selimut, menyembunyikan kepalanya di dalam selimut. Yuki berjalan menghampiri Gavin yang masih tertidur.
Yuki tidur telentang dengan menindih tubuh Gavin. Sepertinya Yuki tiduran di atas dada Gavin.
"Hei hei... Bangun. Kau tidak ingat mobil kesayangan mu?" Ucapan Yuki membuat Gavin tersentak dan membuka matanya.
Gavin menurunkan selimut dari wajahnya dan mendapati Yuki yang tiduran di atas dadanya.
"Ngapain Lo disini!? Bangun!" Perintah Gavin.
Yuki malah berguling dan berakhir tidur di tengah-tengah kasur. Sudah pasti tidur di samping Gavin.
"A-apa yang Lo lakukan!? Anak gadis tidak boleh tiduran di atas kasur pria!" Pekik Gavin.
"Mandi sana. Sekarang jam setengah sepuluh. Kita harus belajar Vin. Ntar aku suruh orang buat antar sarapanmu ke kamar" ujar Yuki.
Tanpa menunggu apapun, Gavin loncat dari kasurnya dan berlari ke kamar mandi. hah, Gavin... Gavin... kamu ini ga berubah-berubah. capek nih author mikirin kamu yang tindakannya suka seenak jidat.
__ADS_1