
"Hei ada apa?"
🌸🌸🌸
Vale terperangah melihat Gavin dan Yuki berpelukan disana. Oh astaga, apa yang terjadi? Vale datang karena ia harus memberi Yuki makan dan setelah sampai disini, ia melihat fenomena yang sangat jarang terjadi. Gavin peduli pada perempuan, dan itu bukan adiknya. Andro justru malah mentertawakan Gavin.
"Gavin!" Pekik Vale. Gavin langsung melepaskan pelukannya dan menoleh padanya.
"Apa? Ga usah teriak juga kali" ujar Gavin sudah kesal.
"Aduh, Gavin! Lo ngapain sih!?" ujar Vale yang mulai mendekati mereka berdua dan menaruh nampan di meja.
Louis dan Olivia yang mendengar Vale berteriak pun langsung bergegas naik ke atas. Tapi mereka tak menemukan hal yang aneh.
"Kenapa sih Vale teriak?" Tanya Louis.
"Ih! Liat dong! Honeynya gue udah ga suci lagi gegara kulkas berjalan noh!" Tukas Vale sambil memeluk Yuki.
"Ppffftt, kulkas berjalan? Ahaha" Olivia tertawa kecil.
"Eh? Ternyata pacarnya Louis punya suara juga" ujar Andro.
"Emang Lo kira pacar gua apaan hah?" Louis kesal
"Aduh, udah dong. Kenapa jadi ribut disini sih" ujar Yuki yang menghentikan perdebatan.
"Eh iya, gua hampir lupa. Ayo makan Ki, sorry ya" ujar Vale.
"Sini, biar aku suapin. Vale santai aja dulu sama bebebnya" ujar Olivia yang mengambil mangkuk berisi sup jagung yang tadi di bawa Vale.
"Oke. Gavin ih! Minggir! Olivia mau duduk" ujar Vale.
"Ck, iya iya"
Olivia duduk dipinggir kasur, lalu mulai menyuapi Yuki. Yuki sangat senang melihat teman - temannya berkumpul di kamarnya sekarang. Yuki berharap, waktu akan berhenti untuk beberapa saat.
Saat Yuki telah menyelesaikan makannya sampai habis tak bersisa, Olivia langsung membawa mangkuk kotornya ke bawah.
Valeria juga sedang mengupasi buah apel yang sejak tadi malah dimakan oleh Andro dan Louis. Padahal kan dari tadi ini apel untuk Yuki. Huh, dasar tukang laper.
Gavin menyadari bahwa kantung infus Yuki sudah mau habis, ia langsung menghampiri Yuki yang sedang mengobrol dengan Louis.
"Infusnya mau habis" ujar Gavin.
"Ehh iya, sebentar gua kabarin kak Alvaro dulu" vale mengambil ponselnya dan pergi keluar dari kamar. Yuki tersenyum dan tertawa pelan.
"Semoga setelah yang ini habis, aku ga pakai infusan lagi" ujar Yuki.
"Kenapa?" Tanya Gavin.
"Sakit tau pakai infus" ketus Yuki sambil mengerucutkan bibirnya.
Gavin tersenyum tipis dan mengusap pelan kepala Yuki. Louis yang masih duduk di dekat Yuki pun ikut memegang tangan Yuki dan mengusapnya juga.
"Sabar dong" ujar Louis dengan senyum lebarnya dan diangguki oleh Yuki.
"Ki, kata kak Alvaro, dia bakalan pulang sekarang. Jadi jangan tidur dulu ya"
"Oke"
"Gua mau kebawah dulu, kalian mau makan apa? Gua pesan delivery aja nih biar cepet" ujar Vale.
"Buat kalian aja ya, gua sama Olivia mau pulang duluan. Soalnya gua juga ada urusan" ujar Louis dan berpamitan pada Yuki.
"Cepat sembuh Ki. Nanti kita main lagi ya" pamit Olivia.
Yuki hanya melambaikan tangannya pada Louis dan Olivia. Huh, padahal mereka belum makan, tapi mereka sudah pulang saja.
🌸🌸🌸
"Apa infusnya bisa dilepas?" Tanya Yuki ragu.
"Aku baru saja pulang, dan kau malah bertanya seperti itu? Apa tak ada kata - kata yang lain?" Gerutu Alvaro
Yuki tak menjawab. Alvaro menaruh tasnya dan mengambil stetoskop dan termometer. Alvaro sedang memeriksa Yuki seperti kebanyakan dokter lainnya. Ia tersenyum saat melihat termometer dari mulut Yuki.
"Hm, bagus. Demammu turun. Tapi ini masih 38.05° dan kau tak boleh sekolah besok." Ujar Alvaro.
"Ini tak adil!" Ketus Yuki.
"Jangan seperti itu. Kau harus melewati masa pemulihan. Bersyukurlah karena aku hanya memberimu satu hari. Apa mau ditambah?"
"Eh ga kak. Jangan ditambah. Maaf"
"Kakak ganti lagi infusnya ya. Ini beneran yang terakhir kok" bujuk Alvaro.
Yuki hanya mengangguk. Alvaro berbalik menghadap Vale dan Andro.
"Pulanglah Vale. Terimakasih atas bantuannya. Kau juga Andro. Gavin, ini!" Alvaro melempar kunci mobil pada Gavin dan langsung ia tangkap.
"Antar mereka pulang. Aku tak melihat ada mobil lain dibawah" Gavin langsung turun kebawah kemudian disusul Andro. Dan Vale harus berpamitan dengan Yuki terlebih dahulu.
"Aku pulang ya. Lusa, kita akan ketemu lagi" ujar Vale
"Thanks Vale"
🌸🌸🌸
Setelah Gavin mengantar Vale dan Andro ke rumah mereka masing-masing, Gavin langsung menancapkan gasnya menuju rumah Yuki kembali. Gavin memasukkan mobilnya ke dalam garasi dan menutup kembali pintu garasinya.
Saat Gavin berada di depan pintu rumah Yuki, Gavin sudah berulang kali mengetuk pintu, tapi tak ada yang keluar dari sana. Tanpa basa-basi lagi, Gavin langsung membuka pintunya dan masuk begitu saja.
Alvaro terkejut melihat Gavin yang tiba-tiba muncul dari balik pintu ketika ia sedang menuruni tangga.
"Vin? Kok ga ketuk pintu?" Tanyanya.
"Ga ada yang bukain. Oh ya nih" Gavin memberikan kunci mobil pada Alvaro. "Ga ada yang harus gua kerjain lagi kan? Gua mau pulang" ucapnya sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Ga ada sih. Makasih ya" ucap Alvaro.
"Hm" jawab Gavin singkat. Ia pun langsung bangun dari duduknya.
"Bye Vin." Ujar Alvaro yang mengantar Gavin sampai ke depan pintu.
__ADS_1
Gavin melenggangkan kakinya keluar rumah. Gavin pulang dengan berjalan kaki. Karena jarak rumah Yuki dengan apartemennya tak terlalu jauh. Lagipula ini belum terlalu larut. Berjalan sambil menikmati semilir angin yang sejuk. Yah, lumayan untuk menjernihkan pikiran. Sekarang pukul 8 p.m. dan matahari baru saja akan terbenam.
🌸🌸🌸
Hari ini, Yuki tak masuk sekolah. Semua orang dikelas pun bingung. Kemana perginya Yuki? Sebab, tak ada yang tahu kalau Yuki sedang sakit.
Huh, Yuki ini terkadang membuat Gavin jengkel. Kalau dia ada disini, mungkin ia akan mengoceh sepanjang hari tanpa henti di sampingnya. Tapi kenyataannya? Yuki tak ada.
Bahkan bisa dikatakan, Gavin seperti kesepian sekarang. Gavin terus menatap keluar jendela yang terbuka sambil menopang dagunya dengan tangan.
Gavin bahkan tidak bisa memperhatikan pembelajaran hari ini. Ingin rasanya Gavin loncat dari atas gedung ini dan menemui Yuki sekarang. Ia hanya ingin melihat si bawel yang menjengkelkan itu. Sebentar juga tak masalah.
Andro dan Valeria yang melihat tingkah Gavin hari ini pun bingung harus bagaimana. Ini merupakan pertama kalinya Gavin peduli pada seorang gadis, selain adiknya. Sepertinya Yuki begitu spesial di hadapan Gavin.
Kriiinggg...
Akhirnya, bel pulang yang Gavin tunggu sedari tadi berbunyi juga. Pak Gema pun langsung pamit undur diri dan semua murid pun langsung berhamburan keluar kelas. Gavin langsung memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dan membawanya keluar kelas.
Gavin memilih menuruni tangga, daripada berhadapan dengan banyak gadis di lift nanti. Itu akan merepotkan baginya. Sesekali menuruni tangga juga tak masalah. Anggap saja sebagai olahraga setelah duduk di kelas selama berjam-jam.
"Kak Gavin!" Gavin yang merasa terpanggil pun langsung menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Apa?" Tanyanya.
"I-ini kak. Coach hari ini tak datang. Dan ia minta kakak yang melatih kami untuk sparring dengan sekolah sebelah" ujar adik kelas yang datang dengan seragam basketnya.
"Sparring antar kelas 10 dengan sekolah sebelah?" Gavin mengangkat alisnya sebelah. Dan adik kelas itu pun menganggukkan kepalanya dengan semangat dan penuh harapan.
"Minta aja sama Valeria. Gua harus pergi sekarang. Urusan gua lebih penting dari ini" ujar Gavin.
"Ta-tapi kak, kita in--"
"Kalau ga mau, yaudah siapin mental kalian aja untuk nutupin muka malu kalian yang habis kalah tanding" ujar Gavin dengan datar.
"Eh, jangan kak! I-iya nanti kita minta bantuan kak Valeria kok" ujarnya sambil gemetar.
Tanpa basa-basi lagi, Gavin langsung melenggangkan kakinya meninggalkan adik kelasnya yang masih gemetar disana.
🌸🌸🌸
Kini Gavin telah sampai di depan pintu rumah Yuki. Ada 2 mobil yang sedang terparkir di depan rumahnya. Kira - kira siapa yang datang. Gavin pun membunyikan bel rumah.
Ting tong
Tak lama pintu akhirnya terbuka juga dan menampilkan Zen dengan cengiran khasnya.
"Gavin! Kebetulan banget. Aduh, lu penyelamat gua hari ini" ujar Zen yang menarik tangan Gavin masuk kedalam.
Ternyata di ruang tamu mereka terdapat 3 orang yang menggunakan pakaian jas. Sepertinya mereka adalah tamu Zen.
"Silahkan pak. Sepertinya bapak harus pergi duluan dan saya akan menyusul setelah saya terima tamu terlebih dahulu" ujar Zen yang menggiring 3 orang tadi keluar dari rumahnya.
Sebenarnya apa yang terjadi sih?
Setelah menggiring 3 orang tadi keluar, Zen langsung memeluk Gavin dengan erat. Gavin juga terkejut. Memangnya apa yang dilakukan oleh Zen hingga menganggap Gavin adalah penyelamatnya.
"Tadi itu tamu bukan? Dan kau mengusirnya?" Tanya Gavin dengan dingin.
"Tamu tak diundang, tidak penting" ujar Zen lalu ia menggidikkan bahunya.
"Ck, iya iya. Mereka penting" ujar Zen sambil memegang keningnya sendiri.
"Mereka dosen gua. Mereka nyariin gua karena skripsi S2 gua yang belum selesai" lanjutnya.
"Oh. Yuki mana?" Tanyanya.
"Lo ga peduli sama skripsi gua?"
Gavin tak memperdulikan Zen yang sedang mengoceh di sana dan langsung naik ke atas.
"Hm, yaudah. Vin, temenin Yuki sebentar ya. Di rumah ga ada orang. Gua pergi dulu. Bye" akhirnya Zen pun memutuskan untuk menyusul ketiga dosennya tadi.
Gavin yang sudah di depan pintu Yuki pun langsung mengetuk pintunya. Tak ada jawaban. Karena tak sabar, Gavin membuka pintunya perlahan dan masuk.
Terlihat gadis si pemilik kamar ini yang tengah tertidur pulas. Infus yang tak lagi tertancap di tangannya, ini menandakan bahwa Yuki memang sudah sembuh dan masih dalam masa pemulihan. Gavin berjalan mendekatinya dan duduk di pinggiran kasur.
Ruangan ini pun terasa sedikit pengap. Mungkin memang sekarang sedang musim panas dan AC di ruangan ini juga tak menyala. Lantas Gavin membuka lebar pintu balkon untuk mengurangi suhu disini. Ah, sangat sejuk saat udara segar mulai masuk kedalam.
Gadis yang merasa tidurnya terusik pun mulai menggeliat di tempat tidurnya. Ia membuka matanya perlahan dan menghela nafas berat.
"Apa yang kau lakukan? Biarkan aku tidur sebentar." Ujar Yuki sambil menyembunyikan kepalanya dalam selimut.
"Seharusnya Lo bilang terimakasih. Bukannya menggerutu seperti itu" jawab Gavin yang sedang melihat ke luar balkon.
Gavin menghampiri Yuki yang masih di dalam selimut. Betah sekali dia. Entah apa yang ia rasakan didalam situ. Apa tidak pengap?
Gavin menyingkapkan selimut yang dikenakan Yuki dengan paksa, karena Yuki yang terus saja memegang erat selimut itu. Alhasil, selimut itu akhirnya terlepas dari sana. Yuki membulatkan matanya dan sedikit kesal.
"Ck, Gavin! Kau menyebalkan" gerutu Yuki.
"Mandi atau gantilah baju sana! Lihat!" Gavin menyentuh kening Yuki yang sedikit basah.
"keringatnya banyak banget"
"Tak masalah. Aku akan mandi besok pagi dan berangkat sekolah" jawab Yuki sambil berusaha mengambil selimutnya yang sedari tadi dipegang Gavin.
"Jadi Lo ga mau bangun?" Tanya Gavin. Yuki pun malah menggembungkan pipinya, menatap marah pada Gavin.
"Padahal gua udah bawain Lo 3 cupcake sekaligus" Gavin mulai memancing Yuki agar ia bangun dari tidurnya.
"Apa itu dengan krim coklat?" Tanya Yuki antusias.
"Hm, gua lihat dulu.." Gavin melihat ke dalam paperbag yang ia bawa tadi. "2 coklat dan 1 vanila" lanjutnya.
Yuki membulatkan matanya dan langsung bangun dari berbaringnya. Yuki terkejut ketika Gavin bilang cupcake itu ada krim coklat dan vanila kesukaan Yuki.
"Mana cupcakenya? Berikan padaku!" Ujar Yuki yang langsung loncat dan turun dari kasur. Ia pun berlari menghampiri Gavin.
"Owh, I won't give that things to you. Until you change that clothes" Gavin memicingkan matanya dan menunjuk kening Yuki dengan telunjuknya.
Yuki yang langsung panik pun langsung berlari menuju kamar mandi di kamarnya. Gavin yang melihat tingkah Yuki pun terkekeh kecil. Mudah sekali mengerjai gadis ini.
"Jangan bawa cupcakenya kemana - mana! Aku akan mandi dengan cepat!" Teriaknya dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Huh, dasar si cewek nyebelin. Kalau soal makanan manis aja, langsung gercep. Batin Gavin.
🌸🌸🌸
Setelah Yuki menghabiskan waktu sekitar 10 menit untuk mandi dan berpakaian, ia pun bergegas keluar dan menghampiri Gavin yang tengah berada di balkon kamarnya.
"Mana cupcakenya?" Tanya Yuki.
"Lo udah mandi?" Tanya Gavin untuk memastikan.
"Udah kok. Mana ih cepetan!" Yuki mulai tak sabaran.
Gavin pun menunjuk ke arah meja belajar Yuki. Disana ada paperbag yang berisi cupcake. Mata Yuki langsung berbinar. Ia berlari dan langsung menyambar paperbag itu. Tanpa menunggu apapun, Yuki menarik kursi di meja belajarnya, kemudian duduk dan makan dengan lahap.
"Makannya santai aja dong" ujar Gavin sambil berjalan mendekat.
"Ini tuh ga bisa ditunda. Dan, uhhuuk uhhuukk.."
Yuki tersedak. Gavin langsung berlari, mengambil gelas berisi air di meja kecil di samping kasur dan memberikannya pada Yuki. Ia langsung meminum airnya dengan sekali tenggak.
"Tuh kan, gua bilang juga apa" Gavin mengambil sapu tangan dari sakunya dan membersihkan krim yang ada di pipi gadis ini.
"Lihat nih! Lo tuh ga ada.." Gavin diam tak melanjutkan perkataannya.
Degh degh
Mata mereka bertemu dan kini saling menatap satu sama lain. Apa ini? Gavin jadi tak bisa memalingkan pandangannya sekarang. Tapi jantung ini terus saja berdetak dengan cepat. Entah apa yang dipikirkan oleh Gavin, sekarang ia malah menatap bibir ranum Yuki yang kini tak pucat lagi.
Yuki juga tak mengerti. Yuki juga terus menatap Gavin. Tak ingin lepas rasanya. Gavin mendekatkan wajahnya pada wajah Yuki dan memiringkan kepalanya.
"Vin? Everything is fine?" Ujar Yuki memecah keheningan. Gavin langsung menyangkal perasaannya dan memalingkan wajahnya ke samping.
"Nih! Lo lap sendiri tuh pipi Lo!" Jawab Gavin sambil menyodorkan sapu tangannya dan diterima oleh Yuki. Gavin melenggangkan kakinya keluar kamar, meninggalkan Yuki didalam.
"Kenapa sih?" Lirih Yuki pelan.
Sebenarnya apa ini? Aduh, jantung gua ga bisa diam. Batin Gavin.
🌸🌸🌸
6 p.m.
Yuki kini sudah puas melamun memikirkan Gavin tadi. Gavin tadi kenapa? Yuki menelan salivanya dengan susah dan ia pun akhirnya keluar untuk menyusul Gavin.
Setelah menuruni tangga, Yuki menemukan Gavin yang sedang duduk di depan tv. Tapi tv itu tak menyala. Gavin juga sedang memainkan ponselnya.
"Vin, tadi kenapa sih?" Tanya Yuki.
"Ga apa - apa" jawab Gavin yang masih berkutat dengan ponselnya tanpa menoleh pada Yuki.
Cklek
Pintu rumah yang tiba tiba terbuka menampilkan 2 pria tampan di sana. Ya, mereka adalah Alvaro dan Zen.
"Kak Zen!" Yuki berlari menghampiri Zen dan langsung memeluknya.
"Uhhh... Darling, katanya kamu sakit, gimana sekarang? Udah baikan belum?" Ujar Zen melepas pelukannya.
"Everything is fine now!" Jawabnya.
"Kau yakin?" Tanya Alvaro
"Kak Al ga percaya? Tanya saja sama Gavin" Yuki menunjuk ke belakang dan terdapat Gavin disana. Satu alis Alvaro terangkat, ia merasa tak yakin.
"Dia udah sehat kok. Soalnya tadi udah makan cupcake 3 sekaligus" jawab Gavin dengan tangan yang melipat didepan dadanya.
"Huh, pantas saja"
"Darling, kalau mau dessert seperti itu, kenapa tidak bilang, kakak kan bisa belikan untukmu. Jika perlu, kakak akan beli 1 truk penuh" ujar Zen yang merangkul pundak Yuki.
"Hm, ya. Bagus Zen. Jika Yuki sampai diabetes karena kebanyakan gula yang kau kasih, ku bunuh kau!" Ujar Alvaro menyeramkan. Bulu kuduk Zen pun langsung berdiri seketika.
Sudah tak aneh bagi Yuki, jika ia sudah makan makanan yang manis, Yuki akan kembali ceria.
Tapi, ancaman Alvaro lebih menyeramkan. Alvaro jarang sekali sampai harus mengancamnya. Jika ia sudah berkata seperti itu, kemungkinan besar Zen akan benar-benar terbunuh kalau ia membuat Yuki diabetes.
"Jangan pulang dulu Vin, makan malam disini ya" ujar Yuki menepuk pundak Gavin. Gavin mengangguk tanpa senyum. Dan Yuki tersenyum lebar. Senang sekali rasanya. Ini ketiga kalinya ia makan malam bersama Gavin.
"Nah bagus tuh. Sekalian aja nginep disini Vin" ucap Zen dengan cengiran khasnya.
Tanpa menunggu jawaban, Zen naik ke atas untuk istirahat di kamarnya sedangkan Alvaro mulai berjalan ke dapur dan masak.
🌸🌸🌸
Setelah Alvaro selesai memasak, Yuki membantu membawakan makan malam ke meja makan. Zen sudah duduk dimeja makan berhadapan dengan Gavin. Setengah jam sudah mereka duduk dan menunggu makanan di meja makan.
"Simpan laptopnya! Apa perlu ku buang?" Ujar Alvaro sambil menaruh piring untuk Zen.
"Jangan gitu dong, ini tuh skripsi gua udah di acc, udah nyampe bab 2 lagi" ketus Zen.
"Kak Zen! Tak ada yang boleh membicarakan tentang pekerjaan di meja makan" Yuki mengambil laptop Zen dan menaruhnya di dapur.
"Yuki! Jangan di bawa ke dapur! Nanti kalo basah gimana?"
"Duduk dan diam!" Tukas Alvaro.
Gavin terus melihat tingkah 3 orang ini yang terus saja memarahi Zen. Keluarga macam apa ini? Ribet banget. Dan setelah berdebat panjang selama setengah jam, akhirnya mereka mulai makan malamnya.
Huh, mau makan aja pake berantem dulu. Dan Gavin terus menatap ke bangku yang biasanya di tempati kepala keluarga pada umumnya.
"Siapa yang duduk disana? Sampai dikosongkan gitu" ujar Gavin memecahkan keheningan saat makan.
"Masa ga tau sih Vin. Ya tempat kepala keluarga lah" ujar Zen di sela makannya.
"Ini tempat Axel, kakaknya Yuki yang pertama. Anak tertua di keluarga Cortez" jawab alvaro.
"Iya Vin. Nanti kalau kak Axel kesini, aku kenalin deh" ujar Yuki dengan semangat.
"Ide bagus!" Sahut Zen.
"Gimana? Makanannya enak ga?" Ujar Yuki yang sedang merapikan meja makan.
"Enak" jawab Gavin singkat.
__ADS_1
"Oh iya Vin. Kamu bisa pakai kamar di lantai 2. Kebetulan Felix ga ada dirumah" ujar Alvaro.
"Eh? Gua beneran harus nginep!?" Tanya Gavin.