
"Eh? Gua beneran harus nginep!?" Tanya Gavin.
๐ธ๐ธ๐ธ
"Iya, lagian kan kamu tinggal sendiri kan?" Tanya Alvaro dan diangguki oleh Gavin.
"Iya nginep aja. Aku pinjamkan baju ganti buat kamu sama kak Zen ya" ujar Yuki yang kemudian pergi membawa piring kotor yang telah ia bereskan tadi.
"Ck, gua belum juga jawab" ujar Gavin pelan.
"Sudahlah. Sekali - kali menginap kan tak masalah" ujar Alvaro.
"Gua kira tadi kak Zen cuma bercanda" gumam Gavin.
Alvaro tersenyum. Senang sekali rasanya melihat Yuki yang akrab dengan seseorang selain kakaknya. Dan itu adalah temannya.
Semoga pertemanan mereka terjalin dengan mudah. Tapi, apa pertemanan mereka akan berjalan dengan baik? Apa cinta takkan tumbuh di antara mereka? Entahlah. Author juga ga yakin sama Gavin๐ .
Gavin pun langsung naik ke atas. Di pintu pertama setelah tangga, ada pintu yang bertuliskan "Felix Siauw". Benar kata Alvaro, keluarga ini benar-benar menganggap Felix dan Alvaro sebagai keluarga mereka juga. Tak ada yang dibedakan. Bahkan, Alvaro pernah bilang kalau ia pernah di minta bekerja sesuai keinginannya sendiri, tanpa ada paksaan apapun.
Saat Gavin akan membuka pintunya, Yuki muncul, ia berjalan menghampiri Gavin. Yuki pun tersenyum dan memberi isyarat kepada Gavin, bahwa ia harus mengikutinya. Yuki mengarahkan Gavin ke kamar Zen.
"Kak Zen?" Ujar Yuki yang langsung membuka pintu dan masuk.
"Ada apa darling?" Tanyanya yang sedang fokus pada laptop.
"Pinjam baju ganti buat Gavin dong. Kasih aja kaos sama celana panjang" ujar Yuki yang sudah berbaring di kasur Zen.
"Oke. Nanti kakak anterin. Suruh aja mandi di sini" ujar Zen tanpa menoleh.
"Thanks kak" ujar Gavin. Zen pun terkejut dan langsung menengadahkan kepalanya.
"Gavin? Gua kira lo masih di bawah. Ngapain disitu? Masuk aja. Yuki, keluar sana"
"Hah? Kenapa aku yang disuruh keluar?" Tanya Yuki dengan datar.
"Ga penting juga kamu disini" ujar Zen yang entah sadar atau tidak.
"Kau jahat" ketus Yuki.
"Jangan membuatku jadi kerepotan lagi tolong. Lebih baik bantuin, kalo ga mau ya keluar sana. Ribet banget jadi cewe" balas Zen.
Yuki langsung bangun dari berbaringnya dan menatap Zen, kakaknya. Yuki menundukkan kepalanya, merasa kecewa dengan yang dikatakan Zen. Dia diusir dari kamar kakaknya sendiri?
"Parah banget! Ade sendiri diusir. Ayo Yuki. Kita keluar" ujar Alvaro yang berdiri di ambang pintu. Yuki yang memasang muka cemberu, langsung berlari menghampiri Alvaro kemudian memeluknya.
"Ma-maksud aku bukan gitu darling, kakak kan cuma--"
BRAK.
Alvaro menutup pintu kencang. Dan ia membawa Yuki. Huh, baru juga Zen pulang, dan Yuki sudah ngambek padanya. Gavin yang melihat itu pun langsung masuk ke kamar mandi dan melaksanakan kegiatan mandinya. Tak lama, Zen mengetuk pintu untuk mengantar baju ganti untuk Gavin.
Setelah 15 menit, Gavin baru saja selesai mandi. Ia menggosokkan handuk di rambut basahnya. Dan Zen ada disini. Zen masih berkutat dengan laptopnya. Gavin tak tahu jika Zen menggunakan kacamata.
"Ngapain kak?" Tanya Gavin yang duduk di tepi kasur.
"Skripsi gua nih dikit lagi"
"Oh"
"Lu ga ada niatan buat bantuin gua Napa?"
"Ck, emang gua bisa bantuin apa?"
"Hm.... Bantuin searching aja" ujar Zen antusias.
"Lo ga punya komputer di kamar ini?" Tanya Gavin yang meletakkan handuk di senderan bangku yang diduduki Zen.
"Ga punya. Tapi, sebentar. Gua pinjam laptop sama Yuki ya" Zen bangkit dari duduknya dan melepas kacamatanya.
"Yuki kan lagi ngambek sama lo, kak"
Zen menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Miris rasanya. Huh, iya Zen lupa. Jika Zen tetap ke sana juga, pasti akan diusir Yuki. Apalagi Alvaro sekarang ada bersama dengan Yuki. Apa Zen harus minta maaf?
"Yaudah, gua yang kesana" ujar Gavin kemudian ia keluar dan berjalan menuju kamar Yuki.
"Lo emang penyelamat gua hari ini Vin" ujar Zen yang kembali duduk seraya menepuk dahinya sendiri.
๐ธ๐ธ๐ธ
Gavin mengetuk pintu kamar Yuki. Tapi, tak ada jawaban. Gavin lantas membuka pintunya. Ruangan ini gelap. Yuki tak ada di dalam. Gavin menutup kembali pintunya dan berjalan menuruni tangga. Dia juga tak bisa menemukan Yuki dimana pun. Ia sudah mencarinya di ruang tamu, dapur, ruang keluarga, tapi Yuki tetap tak ia temukan.
"Ngapain Vin?" Tanya seseorang dari belakang Gavin.
"Eh? Kak Alvaro" Gavin terkejut.
"Nyari apa sih? Sampai harus keliling rumah gitu?"
"cari Yuki. Tapi, ga ketemu"
"Yuki? Dia ada di teras depan. Ada tamu" jelas Alvaro.
"Oke kak, thanks"
Gavin pun langsung berjalan ke pintu masuk rumah ini. Gavin langsung membukanya dan Yuki ada disana bersama seorang pria dan wanita yang tak dikenalnya. Yuki juga terkejut melihat Gavin yang muncul tiba-tiba. Mereka jadi harus menghentikan pembicaraan.
"Ada apa Vin? Ngagetin aja" tanya Yuki.
"Gua mau pinjam laptop. Ada?"
"Baiklah kalau begitu. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, nona" ujar pria itu sambil berdiri.
"Iya tak apa. Jika ada masalah, jangan sungkan untuk menghubungi ku" jawab Yuki. Lalu kedua tamu Yuki pun akhirnya pamit pulang. Yuki menutup laptopnya yang berada di atas meja dan memberikannya pada Gavin.
"Nih" ujarnya.
"Tadi itu siapa?" Tanya Gavin yang menerima laptop Yuki.
"Biasa, karyawan baru. Mereka memang selalu seperti itu. Ragu untuk membuat keputusan yang akan dilakukannya" jelas Yuki.
Gavin hanya menjawab dengan ber'o'ria saja. Ia pun hendak masuk ke dalam rumah, namun ditahan oleh Yuki.
"Untuk apa laptopnya?" tanya Yuki.
__ADS_1
"Gua mau bantuin skripsi kak Zen. Kasian dia. Jadi ga semangat. Mungkin gara - gara dia salah sama Lo tadi" jelas Gavin
"Hm! Itu memang salahnya sendiri" Yuki melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Lo ga mau baikkan?"
"Ngapain aku yang ngajak baikkan. Dianya juga diam aja kok. Aku takkan bicara padanya sampai ia minta maaf" ketus Yuki.
Ternyata, kedua adik kakak ini suka sekali bertengkar. Gavin kira, hanya dia dengan adik dan kembarannya saja. Jadi, Yuki juga merasakannya. Apa ini yang dinamakan keluarga.
Hubungan baik akan selalu terjalin, selama ada orang tua yang selalu mendukung dari belakang. Tapi, keluarga ini? Mereka tak mempunyainya. Bahkan mereka yang membuat peraturan sendiri, selama itu baik untuk mereka lakukan, itu tak akan jadi masalah besar.
Menurut cerita yang Gavin dengar, peraturan yang ada di dalam keluarga mereka dibuat oleh Axel, kakaknya Yuki dan tentu saja Alvaro. Zen dan Felix yang biasa melanggar dan Yuki sebagai pengingat saja.
Berbeda dengan keluarga Gavin. Yang membuat peraturan di rumah mereka, ya tentu saja ayah dan terutama ibunya. Ibunya bisa dikatakan sangat disiplin. Jika ketiga anaknya benar - benar mengikuti peraturan ibunya dengan baik, mereka tak akan merasa kesulitan di masa depan. Itu yang ibu mereka pikirkan.
"Hei Vin" Yuki mengibaskan tangannya di depan muka Gavin. Gavin nampak melamun melihat ke depan. Entah apa yang ia pikirkan. Tapi Gavin tak kunjung menjawabnya. Oke, Yuki kesal. Yuki lantas masuk ke dalam rumah meninggalkan Gavin yang masih melamun.
Tak lama Gavin melamun, akhirnya ia sadar juga. Gavin menggeleng cepat dan mengusap kasar wajahnya. Gavin pun masuk kedalam dan menutup pintu
Apa yang ia pikirkan?
Gavin berjalan santai menuju kamar Zen seraya menenteng laptop milik Yuki. Ketika sampai didepan pintu kamar Zen, ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
"Wah Vin? Lo dapetin laptopnya? Hebat banget Lo" ujar Zen yang langsung bangkit dari duduknya.
"Kita langsung mulai aja" ujar Gavin yang langsung membuka laptopnya. Untung saja laptop Yuki tidak disertai dengan password didalamnya. Gavin hanya perlu menyalakannya dan langsung bisa digunakan.
"Oke. Coba cari bagian ini Vin"
Akhirnya mereka memulai kerjaannya. Sebenarnya ini buka kerjaan, tapi tugas. Seharusnya Zen bisa mengerjakan tugasnya sendiri, tapi Zen juga butuh bantuan orang lain. Segala urusan di hidupnya sudah terlalu banyak berkecamuk. Ia bahkan jarang sekali bisa menikmati akhir pekannya bersama Yuki. Ia harus lebih pintar mengatur waktu antara pekerjaan dan kuliahnya.
Zen bisa dikatakan sangat pintar. Karena diusianya yang ke 23 tahun, ia akan menyelesaikan pendidikannya sampai ke tingkat Strata 2. Sudah cukup untuk pendidikannya, Zen akan lebih fokus pada pekerjaan kantorannya setelah wisuda S2 nya nanti.
11.35 pm.
Setelah berjam-jam berkutat dengan laptopnya, kedua pria tampan ini akhirnya mengakhiri kegiatannya juga. Gavin yang sudah pusing terlalu lama melihat layar laptopnya pun juga langsung menutupnya.
"Thanks Vin" ujar Zen yang sedang mengangkat tangannya dan merenggangkan otot lengannya. Gavin tak menjawab. Ia langsung berjalan menuju pintu dan melenggangkan kakinya keluar. Zen juga langsung tidur di kasurnya.
"Hah, hampir aja gua tadi ngajak Gavin bergadang" gumam Zen.
๐ธ๐ธ๐ธ
Pagi ini, Yuki yang sudah cantik dengan seragam musim panasnya sedang memasak sarapan di dapur. Karena Yuki melewatkan jadwal masaknya kemarin, jadi Yuki memasak sarapan hari ini. Kali ini, Yuki memasak pancake sederhana dengan mentega diatasnya.
"Kau lumayan bersemangat ya, bagus sekali" ujar Alvaro yang sedang mengupasi buah alpukat untuk dijadikan jus.
"Tentu saja. Setelah 2 hari tiduran di kasur sepanjang hari, aku jadi lebih bersemangat" jawab Yuki dengan senyum lebarnya
"Apa Gavin sudah bangun?" Tanya Alvaro.
"Entahlah. Aku akan membangunkannya sekarang. Kak Al lanjut saja buat jusnya" ujar Yuki yang berlari menaiki tangga dan masih mengenakan celemeknya.
Yuki berjalan pelan ketika sampai di lantai atas. Yuki mengetuk pintu. Tapi, tak ada jawaban. Ia pun menempelkan telinganya di pintu, siapa tahu Gavin sedang memakai pakaian.
Tapi, tak ada yang terdengar.
"Gavin! Bangun... Ini sudah pagi" teriaknya.
Gavin pun menggeliat, sadar dari alam mimpinya. Yuki membuka gordennya untuk membangunkan Gavin. Gavin yang merasa terusik pun akhirnya bangun, lalu duduk di pinggir kasur dengan mata yang masih tertutup.
"Hei, bangun Vin" ujar Yuki seraya menepuk pelan kedua pipi Gavin.
"Hooooaaaammmmm..." Gavin menguap.
"Bangunlah Vin. Mandi dan kita sarapan. Aku tunggu dibawah. Jangan sampai aku minta kak Al buat seret kamu ke bawah loh" ujar Yuki yang berjalan keluar kamar dan menutup pintu dari luar.
Setelah semua nyawa Gavin terkumpul, akhirnya Gavin memutuskan untuk bangun. Ia menarik tangannya ke atas dan menjinjit kakinya untuk merenggangkan ototnya. Gavin mengambil seragamnya yang tergantung di dinding dan membawanya ke kamar Zen untuk mandi.
Ketika Gavin masuk ke kamar Zen, ternyata si pemilik kamar ini masih tertidur pulas. Gavin berniat untuk membangunkan Zen, tapi Gavin jadi teringat dengan ancaman Yuki tadi. Dia juga tak mau kalau ia harus diseret ke bawah oleh kak Alvaro. Oke, Gavin langsung mandi dengan cepat.
Setelah 10 menit Gavin menghabiskan waktu di kamar mandi, ia pun keluar dengan keadaan sudah wangi dan bersih. Kadar ketampanan Gavin juga sudah pasti 60% meningkatkan. Gavin menghela nafasnya ketika melihat Zen yang masih tidur. Tapi, kasihan juga kalau dia tidak dibangunkan. Gavin melirik jam di nakas kecil.
Dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 8.13 am. Karena Gavin kasihan dengan Zen, ia pun menarik jempol kaki Zen hingga sang empunya terlonjak kaget. Owh, astaga. Zen tetap saja masih menutup matanya. Huh, Gavin kesal. Bodo amat dengan Zen. Yang penting, Gavin sudah berusaha membangunkannya.
Oke, ini usaha terakhir Gavin, akhirnya dia memutuskan untuk menutup pintunya dengan keras. Siapa tahu, Zen akan kaget dan bangun.
BRAK!
Sip, Gavin telah melakukannya. Gavin turun menuruni tangga dan mendapati Alvaro yang sedang makan di meja makan, sendirian.
"Pagi Vin" sapa Alvaro yang berdiri dan berjalan ke dapur.
"Jus alpukat atau mangga Vin?" Tanya Alvaro yang sedang membuka lemari es.
"Alpukat saja" jawab Gavin yang menarik kursi dan duduk.
Alvaro kembali ke meja makan dan membawa segelas besar jus alpukat. Dan disusul Yuki di belakangnya yang membawa 2 piring berisi beberapa lapis pancake dan menaruhnya di meja.
"Habiskan sarapannya. Lalu kita berangkat bersama" ujar Yuki yang mulai melahap sarapannya, begitu juga dengan Gavin dan Alvaro.
Setelah mereka akan selesai sarapan, hentakan kaki yang menuruni tangga berbahan kayu itu terdengar sangat keras. Zen turun dengan pakaian kantornya yanh berantakan dan dasi yang belum terpasang.
"Yukiiii! Kenapa kau tak membangunkanku!? Aku hampir telat!" Pekik Zen yang membuat Yuki menghentikan aktivitas sarapannya.
"Gua udah bangunin Lo, tapi Lo ga bangun kak" ujar Gavin seraya mendengus dingin. Tanpa berterimakasih pada Gavin, Zen langsung duduk dan menatap Alvaro.
"Al, mana sarapannya? Laper nih" ujar Zen yang sedang membenarkan dasinya.
"Tak ada sarapan untuk orang yang tidak punya perasaan!" Ketus Yuki.
Ack. Kejamnya Yuki kalo lagi ngambek. Zen membelalakkan matanya. Bukankah hari ini Alvaro yang memasak sarapan?
"Yuki, jangan gitu dong. Kakak kan harus ke kantor hari ini, masa ga sarapan" rayu Zen. Tapi Yuki tetap mengabaikan.
"Oh iya, Yuki kalau mau berangkat, bawa mobil sendiri ya. Bareng Gavin. Aku harus pergi ke bandara sekarang" ujar Alvaro yang bangun dari duduknya. Oke fix, Zen benar - benar tak dianggap ada kali ini.
"Oke. Bye. Have a safe flight" ujar Yuki yang ikut berdiri dan memeluk Alvaro.
"Yuki, kakak laper" ujar Zen membujuk Yuki pelan. Dan Alvaro melepaskan pelukannya.
"Oh iya," ujar Yuki menggantung dan hal ini membuat Zen berbinar, berharap adiknya menanggapinya.
__ADS_1
"Gavin, panaskan mobilnya gih, aku akan membereskan piring kotor ini dan kita berangkat deh" ujar Yuki.
Zen kehabisan akal "Alvaro.. tolongin gua" ujar Zen pasrah dan itu membuat Alvaro tersenyum kikuk. Ingin sekali tertawa keras, tapi ia tak tega.
"Sorry Zen. Taksi pesananku sudah didepan. Aku berangkat ya, takut ketinggalan pesawat" jawab Alvaro yang melenggangkan kakinya keluar rumah sambil menarik kopernya.
Zen pasrah. Saat Zen berpikir untuk meminta bantuan Gavin, ia pun menoleh kebelakang. Gavin sudah tak ada. Cepat sekali orang itu menghilang. Apa Zen harus mengadu pada Axel, supaya ia jadi penengah di antara mereka? Tapi, nanti bukannya Zen yang dibela, sepertinya malah dia yang akan terpojokkan.
Ck, dasar mulut sialan! Seenaknya sendiri kau mengucapkan kalimat laknat itu. Batin Zen.
Zen duduk kembali di kursi, membungkuk dan akhirnya kening Zen pun menyentuh meja. Zen menghela nafas berat. Pikirannya sudah kalang kabut sekarang. Apa ia harus menunda meeting pagi ini?
Kling
Yuki menaruh piring berisi 2 lembar pancake yang tadi ia masak. Zen dengan sigap langsung duduk dengan tegak dan menatap Yuki. Tak ada cahaya sedikitpun di wajah adiknya ini. Ahh, Zen jadi lebih merasa bersalah.
"Kok cuman 2 sih pancakenya? Dan mana minumnya?" Tanya Zen. Ahh, bodohnya Zen malah bertanya seperti itu.
Bukannya meminta maaf dan berterimakasih atas makanannya, dia malah meminta lebih. Dan Yuki jadi semakin lebih kesal. Tanpa mengatakan apapun, Yuki melenggangkan kakinya pergi meninggalkan Zen.
"Ck, punya kakak kok ga bisa bilang maaf sama terimakasih sih" Gerutu Yuki.
๐ธ๐ธ๐ธ
BRAK
"Tutup pintunya biasa aja dong" ketus Gavin.
Yuki tetap diam tanpa menjawab Gavin. Ia pun melajukan mobil menuju sekolah. Selama perjalanan, Yuki hanya terus menatap keluar jendela tanpa mengatakan apapun. Hal ini membuat Gavin merasa aneh. Kemana perginya ocehan gadis ini?
"Vin.." ujar Yuki yang akhirnya membuka suaranya.
"Hm?" Jawab Gavin tanpa menoleh.
"Aku mau curhat. Mau dengar tidak?" Tanya Yuki memelas.
"Hm"
"Ihh!" Pekik Yuki yang membuat Gavin terlonjak kaget.
"Apaan sih!?" Ketus Gavin.
"Jangan hammm heemm Hamm hemmm mulu! Jawab apa kek" balas Yuki.
"Huhh, untung kita lagi di lampu merah Pas Lo teriak. Coba kalo kita lagi di jalan tol, bisa mati kita" ujar Gavin sambil mengelus dadanya.
Memang harus ekstra sabar pagi ini. Mungkin ini efek pertengkarannya dengan Zen tadi. Ini ga bisa di biarkan. Yuki tidak boleh sampai memarahi semua orang nanti disekolah. Gavin harus mengatakan sesuatu.
"Ga baik kalo marahan terlalu lama. Apa lagi sama kakak sendiri" ujar Gavin sambil fokus menatap jalanan di depan.
"Bukannya gitu Vin. Aku tuh cuma--"
"Lo juga harusnya bisa ngertiin kakak Lo dong. Dia itu kuliah tahun terakhir sambil kerja kantoran. Wajar kalo pikiran dia kacau banget terus tanpa ga sengaja ngomong gitu ke lu" ujar Gavin yang berhasil memotong pembicaraan. Wow. Jarang sekali Gavin berbicara panjang lebar dan bijak. Biasanya, Gavin akan berbicara panjang kalau hanya sedang emosi. Apa balok es di dalam dirinya mencair?
"Iya aku tahu, tapi kan--" jawab Yuki terpotong lagi.
"Ga ada tapi-tapian! Pokoknya hari ini juga Lo harus minta maaf sama kak Zen!" Tegas Gavin dengan aura dingin yang sudah menyebar ke seluruh mobil yang mereka tumpangi. Yuki juga jadi merasa merinding seketika.
"Kamu Gavin kan? Kok agak aneh ya?" Ujar Yuki mulai meragukan perkataan Gavin.
"Uwaahhh.... Apa kau penjahat yang menyamar sebagai Gavin?" Pekik Yuki.
Astaga. Mendengar itu, Gavin rasanya ingin tertawa terbahak-bahak. Tapi ia tahan. Apa yang sebenarnya di pikirkan oleh Yuki? Tiba - tiba ide jahil pun terbesit di pikiran Gavin.
Sepertinya ini akan seru. Batin Gavin.
"Hah? Siapa Gavin? Oh iya, cowok yang bawa tas ransel tadi yah" ujar Gavin yang mulai melancarkan aksinya.
Degh degh..
Jantung Yuki berdegup semakin kencang. "A-apa maksud anda?"
Begitukah reaksi Yuki? Sepertinya dia menganggap ini serius. Oh astaga. Gavin benar benar ingin tertawa sekarang, tak tahan melihat ekspresi Yuki yang sudah pucat. Oke, tahan Vin.
"Orang itu sudah gua buang ke sungai depan gapura komplek"
Yuki membelalakkan matanya. Terlonjak kaget. Pikirannya langsung kosong dan telinganya terus berdengung.
"Apa Gavin sudah mati!?" Pekik Yuki.
"Tak usah ditanyakan, mungkin orang itu sudah hanyut sampai laut dan dimakan oleh ikan"
"A-apa yang sebenarnya kau inginkan sampai harus membuang Gavin ke sungai?" Tanya Yuki sambil gemetar dan bersandar di jendela mobil.
"Tentu saja untuk uang"
Gavin tersenyum miring. Yuki mudah sekali di bodohi. Gampang di culik nih cewek๐. Oke, Gavin suka keadaan seperti ini. Tingkah Yuki yang childish sepertinya sudah merasuki pikiran dan alam bawah sadarnya.
Jika ini adalah acara tv, mungkin cerita kali ini sudah mendapat rating sempurna untuk penilaiannya. Dilihatnya jalanan pagi ini sedikit renggang, Gavin langsung menancapkan gasnya sedikit di atas rata-rata.
Bruuuummmm....
"Kyaaaa.." teriak Yuki ketika Gavin hampir saja menyenggol mobil di sampingnya saat menyalip. Tangan kiri Yuki kini telah berpegangan erat di pegangan pintu yang ada di atas. Sedangkan tangan kanannya terus memegang seatbelt dengan sangat erat.
sekarang kita lihat kemampuan mantan pembalap liar. Batin Gavin.
Hanya butuh waktu 10 menit untuk Gavin mengemudikan mobil ke sekolah dengan kecepatan tinggi seperti tadi. Yuki yang sudah gemetar ketakutan setengah mati pun terus menutup matanya. Tak mau melihat jalanan dan terus merapalkan doa.
Tapi Karena penasaran, Yuki mengintip dibalik kelopak matanya dan langsung membelalakkan matanya saat melihat mobilnya berbelok tajam di gerbang sekolahnya.
"Kyaaaa.... Jangan tabrakan mobilnya! Awasss ada orang! Minggir lah kalian!" Pekik Yuki yang membuat Gavin ngakak tak tertahankan.
Ckiittt..
Mobil pun berhenti mendadak dan ternyata sudah terparkir dengan sempurna sesuai dengan garis yang ada di parkiran. Nafas Yuki pun memburu tak karuan. Keringat dingin terus mengalir di keningnya. Gavin pun langsung membuka kunci pintu mobil dan Yuki juga langsung membuka seatbeltnya dan keluar dari mobil dengan terburu - buru.
"Eh? Yuki kenapa!?"
Ternyata yang bertanya ini adalah Valeria yang baru turun dari mobil Andro. Yuki tak menjawab dan malah mengeluarkan air matanya dengan wajah datar dan pucat. Yuki malah mirip seperti mayat hidup.
Bruk
"Yuki!!!"
__ADS_1