
6.54 p.m.
Sore ini Gavin berada di mansion keluarga Gerald karena ada hal yang sangat amat mengejutkan baginya. Gavin saja hampir tak bernapas saat mendengar berita ini.
Anak sulung keluarga ini, kakaknya Gavin, kembarannya yang katanya kembar identik dengan beda sifat ini tiba-tiba pulang kerumah!
Kevin La Ligeo Gerald tiba-tiba muncul di depan pintu mansion dengan 4 koper besar datang bersamanya. Ada angin apa ini?
"Jadi, kenapa Lo pulang?" Tanya Gavin dingin.
Kevin menyilangkan kakinya dengan kaki kanan berada di atas kaki kiri dan tangannya sedang membersihkan lensa kacamata miliknya. Ya, dan sekarang mereka sekarang kelihatan sama, sama-sama tak berekspresi. Tapi bedanya, Kevin mengenakan kacamata. Mungkin bisa dibedakan dengan itu.
"Ini rumah gua. Suka-suka gua dong. Siapa lu?" Ujar Kevin tak kalah dingin.
Gavin tak merespon. Mereka saling memandang dengan tajam dan sinis. Sepertinya ada perang dingin disini. Atau perang salju? Cukup lama mereka melakukan itu.
Dan akhirnya.......
"Aarrrghhh..... Gua benci kalo harus ngikutin Lo si kulkas berjalan" Kevin mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar. Frustasi dengan Gavin yang, ah jangan ditanya lagi. Kevin muak dengan wajah tak berekspresi milik Gavin.
"Ya ampun kak! Ini hanya kejutan" ujar Sena yang sebenarnya sedari tadi memperhatikan kedua kakaknya ini saling bertatapan satu sama lain.
"Dan hanya kau yang tahu? Ini curang Sena" ujar ibu Gavin yang berjalan mendekati anak-anaknya dengan membawa beberapa gelas es jeruk dan diikuti seorang maid yang membawa camilan.
"Aakkhh, surprise gagal" Gerutu Kevin.
Gavin bangkit dari duduknya, mengambil satu cookies dan pergi menjauh.
"Lo mau kemana? Lo ga mau kangen-kangenan gituh sama gua? Kita kan udah 3 tahun ga ketemu" Kevin mengeluarkan senyuman khas miliknya dan itu sama sekali bukan Gavin. Gavin menoleh dan menatap geli pada Kevin.
"Gua ada urusan. Ga usah ikut-ikut. Lagian ngapain juga gua kangen sama Lo? Mau bertahun-tahun ga ketemu juga kita masih kelihatan mirip" ujar Gavin.
"Nah itu Lo tahu" Kevin antusias.
Gavin pergi meninggalkan keluarganya yang tengah berkumpul lengkap dan naik keatas lalu masuk ke kamarnya. Dan tak lupa ia mengunci rapat kamarnya. Siapa tahu, Kevin akan menyelinap masuk tanpa izin dan mengganggunya.
Ia ingat harus Videocall dengan Yuki. Kalau sampai Gavin lupa, Yuki bisa-bisa tak berhenti mengoceh dihadapannya.
Gavin membuka laptopnya dan menyambungkan WiFi yang ada di mansion ini. Dan pas sekali, panggilan Yuki langsung masuk ketika ia berhasil menyambungkan WiFi nya.
Dan terpampang lah wajah Yuki yang memiliki mata panda dan kantung mata. Jelek. Tapi ga banget. Yuki masih menggunakan piama dengan motif kucing berwarna biru. Dan disana sedikit gelap, apa matahari belum muncul?
"Hei, kudengar dari Valeria, kau di keluarkan oleh Bu Ani dari kelasnya?"
Gavin hanya mengangguk dengan malas.
"Jangan gitu Vin lain kali. Kita belajar matematika aja ya kalau begitu. Catatan yang ku kirim sudah di print belum?"
Gavin menggelengkan kepalanya.
Ah astaga! Kenapa dia tak membuka suaranya.
"Hei? Everything is fine?" Yuki mulai memancing Gavin untuk berbicara.
"Bentar, gua print sekarang" Gavin malah mengalihkan pembicaraan.
...
Yuki menunggu...
...
...
...
...
...
Lama amat sih!
"Udah"
"Oke kita mulai. Mulai dari ilustrasi.. nah kalau matriks itu--"
"Kapan Lo pulang?" Gavin memotong ucapan Yuki.
Dugh!
Yuki membenturkan keningnya sendiri ke permukaan meja. Aduh, Gavin ini lagi kenapa sih!? Ngeselin. Biasanya Yuki dapat mengabaikan sikap Gavin yang seperti ini, tapi hari ini ia tak bisa! Ia baru bangun tidur. Dan ia baru tidur selama 3 jam saja. Please, jengkelnya nanti aja.
"Yuki?"
"Ga tau berangkatnya kapan. Tapi kak Axel bilang, dia ada urusan disana dan kita bakalan sampai sana besok siang"
"Pakai private jet?"
"Yup"
"Jam berapa?"
"Udahlah ga usah tahu. Besok tuh sekolah. Jangan bolos! Ga usah dijemput! Bilangin tuh sama Valeria" ketus Yuki.
"Aduh Vin, kita ga mulai-mulai. Oke! Lanjut!"
Kemudian mereka melanjutkan belajar mereka lewat Videocall. Belajar online. Yah, apapun itu sebutannya, terserah kalian.
๐ธ๐ธ๐ธ
8.00 a.m, Vuitton's Mansion
Pagi ini, Louis sedang sarapan bersama keluarganya dengan damai, namun tiba-tiba terkejut dengan nada tanda chat masuk ke ponselnya. Suaranya benar-benar nyaring.
Apa sih? Ganggu aja.
Ahh, grup chat rupanya.
Trio Ganteng
GavinGerald baru saja menambahkan Kevin Gerald.
Brrrruuuuuuusssshhhh....
Louis menyemburkan susu yang sedang diminumnya. Mamih dan papihnya pun terkejut.
"Pelan-pelan dong sayang. Susunya panas banget yah?" Ujar mamih Louis.
"Eh, maaf mih. Cuma kaget pas liat hape" Louis menjelaskan alasannya menyemburkan susu tadi.
"Udah gede juga masih minum susu sih. Ribet. Kopi dong" ujar Salacha, kakak perempuan Louis.
"Ck, kakak saja yang minum kopi. Kakak kan tukang bergadang" elak Louis kemudian melanjutkan sarapannya.
Karena sarapannya sudah habis, Louis melirik lagi ponselnya. Benar tidak sih yang dilihatnya tadi?
Kumpulan Cogan
GavinGerald telah menambahkan KevinGerald.
KevinGerald : hai Boys
__ADS_1
AndroLirenshi telah mengubah nama grup "Trio Ganteng" menjadi "Kumpulan Cogan"
AndroLirenshi : apa kabar Kevin?
LouisVuitton : uhhh Kevin! Akhinya muncul juga๐
GavinGerald : astaga Louis. Jijik gua.
KevinGerald : loh? Kenapa Louis?
AndroLirenshi : buset gila! Emoticonnya ga bisa di kontrol.
LouisVuitton : kangen banget sama Kevin. Pengen gua peluk ๐ค
AndroLirenshi : ih pengen muntah gua ngeliat chat Louis masuk.
KevinGerald : loh? Louis kenapa sih guys?
GavinGerald : jijik gua ngeliat Louis pake emoticon.
LouisVuitton : uhh mulai deh kalian๐
KevinGerald : yaa emang kenapa kalo pake emot? Fine aja kan?
AndroLirenshi : jijik Kev!
LouisVuitton : yes! Kevin belain gua๐
GavinGerald : Lo ngapain sih ngebelain si condot itu Kev?
KevinGerald : gua belain si telmi? Kagak.
GavinGerald : Lah terus yang tadi?
LouisVuitton : Kev? Kevin? Belain gua dong๐ฆ
KevinGerald : gua kan dari tadi ga paham situasinya. Makanya gua nanya. Gua ga belain si telmi ya!
LouisVuitton : kecewa gua sama Lo Kev ๐
KevinGerald : oh iya Gav,
GavinGerald : apa?
KevinGerald : kita kan duduk sebelahan. Kok chattingan sih?
AndroLirenshi : ehh koplak nih si kembar.
GavinGerald : ya emang kenapa? Takut kuota Lo habis?
KevinGerald : ehh dodol! Kita kan pake WiFi.
LouisVuitton : Kevin? Gimana nasib gua๐ข
AndroLirenshi : hahahaha
LouisVuitton : anjirrr gua dikacangin.
KevinGerald : Gav Gav..
GavinGerald : apa?
KevinGerald : Sena! Ngambek mode on!
AndroLirenshi : wahh gawat tuh
LouisVuitton : yuuuhuuu.... Ada yang peduli sama gua?๐ฅ
*GavinGerald dan KevinGerald meninggalkan chat.
Tak ada yang peduli dengan Louis kali ini. Louis mematikan ponselnya dan menyimpannya di sakunya dengan muka kecut. Salacha yang sedari memperhatikan adiknya ini, jadi penasaran.
Apa pacarnya minta putus? Batin salacha.
"Ada apa denganmu?" Tanya salacha.
"Tak ada. Sudahlah aku berangkat saja. Mamih, Louis jalan duluan ya" pamit Louis.
"Oke. Hati - hati di jalan"
Louis membawa tasnya berjalan dan mengambil kunci mobilnya di tempat mereka menggantung semua kunci dekat. Louis keluar dari rumahnya menuju garasi mobil dan diikuti oleh kakaknya dari belakang.
"Kakak kenapa jadi ngikutin aku?" Tanya Louis saat hendak membuka pintu mobil, namun tak jadi.
"Nebeng" jawab Salacha singkat jelas padat.
"Emang mobil kakak kenapa?"
"Males bawanya"
"Tapi aku mau jemput Olivia dulu"
Salacha mengacuhkan adiknya dan masuk ke dalam mobil dibangku belakang kemudi. Kemudian Louis masuk dan menyalakan mesin mobil.
"Kakak kenapa duduk di belakang" tanya Louis sambil melirik Salacha dari kaca.
"Katanya tadi mau jemput Olivia, ya kakak duduk dibelakang lah"
"Heuh terserah dah"
Louis melajukan mobilnya menuju rumah kekasihnya, Olivia. Salacha dan Louis terus mengobrol dan membicarakan hal lucu selama perjalanan. Yah, pagi yang lumayan damai.
Setibanya di depan rumah Olivia, Louis berniat untuk turun dari mobil, tapi Olivia terlebih dahulu keluar. Louis menurunkan kaca mobil.
"Pagi cantik" goda Louis.
"Pagi juga. Loh? Ada ka Sasa ternyata. Tumben" Olivia terkejut ketika melihat Salacha yang duduk dibelakang. Kemudian dengan antusias, Olivia masuk ke dalam mobil dan duduk dibelakang bersama Salacha.
"Kok kalian jadi duduk dibelakang semua sih?" Tanya Louis kesal.
"Apaan sih Louis. Jangan ganggu ah, udah sih jalanin mobilnya. Nanti telat" ketus Salacha.
"Beib, kamu ga mau pindah ke depan?"
"Ga!" Olivia malah menjawab ketus.
Fix, Louis jadi supir mereka hari ini.
Kesal..nyebelin. dasar wanita!. Batin Louis mencuat.
๐ธ๐ธ๐ธ
Ckiiiitt...
Kevin memberhentikan mobilnya di depan sekolah. Bukannya turun, Gavin malah melamun melihat ke depan. Karena kesal, Kevin pun memukul kepala Gavin hingga kepalanya membentur dasbor mobil.
Dugh!
"Apaan sih Lo!?" Gavin marah sambil mengelus kepalanya yang terbentur kaca mobil.
"Kita udah nyampe dari tadi. Turun Lo! Malah bengong disini"
__ADS_1
"Terserah gua dong. Ini kan mobil gua"
"Ini emang mobil Lo. Tapi kan gua yang bawa. Udah ah cepet turun. Gua mau pulang"
Gavin turun dari mobil dengan kesal dan membanting pintu mobil. Entah kenapa Kevin ikut turun dan meneriaki Gavin lagi.
"Woy kampret! Berhenti Lo!" Pekik Kevin.
Gavin berhenti dan membalikkan badannya.
"Apa?" Tanya Gavin.
"Lu pikun atau sengaja sih? Tas Lo ketinggalan ****!"
"Oh. Sini" Gavin mengambil tasnya yang dipegang Kevin tadi dan berlalu meninggalkan Kevin.
"Dingin amat sih! Bilang makasih kek apa kek" gerutu Kevin. Gavin memutar bola matanya dan berbalik lagi kemudian berjalan menghampiri Kevin.
"Pergi sekarang. Atau Lo bakalan digerumunin cewek-cewek centil nanti. Pergi Lo" ujar Gavin.
"Wihh gila. Jadi ga sabar gua sekolah"
"****! Cepet pergi!"
"Iya iya gua pergi. Belajar yang bener. Kalo kagak, nih mobil bakalan buat gua"
"Kek ga punya duit aja Lo ngarepin mobil gua"
Aduuhh si kembar malah berantem di pinggir jalan. Kevin yang kesal pun akhirnya melajukan mobil meninggalkan Gavin. Gavin masih menatap mobil itu hingga memudar dari pengelihatannya.
Untung disini sepi.
๐ธ๐ธ๐ธ
12.13 p.m.
Andro datang bersama paman Thomas menghampiri meja makan yang biasa mereka pakai. Kali ini Andro membantu paman Thomas untuk membawa makanan ke meja mereka. Ya sekalian, karena Andro yang bayar hari ini.
"Oke guys. Paket 1 untuk bebep Vale, spaghetti punya gua, paket 3 untuk Gavin dan Louis. Dimsum untuk Yu-- ehh, sorry guys. Gua lupa kalo Yuki ga ada" ujar Andro yang lupa jika Yuki tak ada bersamanya sekarang.
Paman Thomas pun pamit dan pergi. Andro duduk disamping Valeria. Valeria menyandarkan kepalanya di bahu Andro dan ia pun mengelus halus pundak Valeria. Valeria kangen berat sama Yuki. Gavin terus menatap dimsum itu dan beralih menatap Valeria. Sepertinya Gavin tahu apa yang membuatnya menjadi semangat kembali.
"Gua punya 2 berita bagus" ujar Gavin tiba-tiba.
Andro menaikkan salah satu alisnya. Seperti mengisyaratkan kata 'apa?'.
"Kevin udah pulang kemarin sore"
"Apa!?" Valeria terkejut.
"Itu mah udah tahu" ujar Louis.
"Hiiyy.. yang gua tunggu itu Yuki, kenapa jadi Kevin yang pulang?" Gumam Valeria.
"Vale, ga boleh gitu ah" Andro mengingatkan Vale.
"Terus, berita keduanya?" Tanya Andro.
"Yuki pulang hari ini"
"Apa!?" Valeria membelalakkan matanya dan menegakkan tubuhnya. Valeria tersenyum lebar dan terus berkata Yeay.
"Yuki juga ngajak kita sore ini untuk makan di toko kue 'Cake&Cream' yang dekat persimpangan jalan rumah gua. Katanya dia dapat kupon makan gratis disana" tutur Gavin sambil mengunyah makanan.
"Uwaaahh... Gua mau ikut--" ucapan Valeria terpotong.
"Hari ini ada turnamen Vale. Lupa? Ga mungkin kan ketua tim ga ikut main" ujar Andro yang sekedar mengingatkan.
"Ih ngapain diingetin coba" Valeria kesal.
"Lo gimana Ndro?"
"Biasa. Gua ada rapat sama koordinator tiap kelas. Dan Louis salah satunya, jadi ya kita ga bisa ikut"
"Ajak Kevin aja"
"Oke"
"Oh ya, besok itu libur kan?" Tanya Louis.
"Bukan libur! Tapi siswa disuruh belajar dengan serius di rumah untuk ujian nanti hari Senin" jelas Andro.
"Hhmm, berarti kita buat barbeque party aja malam ini. Mumpung besok ga sekolah. Kita rayakan kepulangan Kevin. Yuki mau ikut ga ya?" Valeria menatap Gavin. Seperti meminta jawaban.
"Lihat sikon nanti. Takut dia kecapean"
"Sikon apaan?" Tanya Louis.
"Situasi dan kondisi. Gitu aja masa gak ngerti sih!"
๐ธ๐ธ๐ธ
3.45 p.m.
Karena akan bertemu dengan teman-teman, Yuki akhirnya memutuskan untuk tampil cantik. Ya, biasanya juga cantik. Tapi dia ingin sedikit berbeda. Yuki memakai blouse berwarna mint dan di padu dengan rok di atas lutut. Roknya sedikit mengembang Karena memang ada beberapa lapisan didalamnya. Dan tak lupa pula ia memakai sneaker putih. Untuk rambutnya, ia biarkan tergerai saja hari ini. Oke, cantik!
Karena sudah berbaikan, hari ini Zen bisa mengantar Yuki untuk bertemu temannya. Tapi Yuki malah menyuruhnya untuk berhenti di depan halte bus. Awalnya Zen menolak, tapi Yuki bersikeras untuk naik bus. Baiklah, Zen menurut saja kali ini. Zen mengiyakan kemauan Yuki, asal nanti Zen jemput lagi. Bahaya jika membiarkan adiknya pulang dengan angkutan umum nanti. Jangan sampai kejadian kemarin terulang kembali.
Saat sampai di depan halte bus, Zen memberhentikan mobilnya dan Yuki langsung turun. Tanpa menunggu, bus itu pun tiba dan Yuki menaikinya.
Yuki turun dari bus di halte tujuannya. Sebenarnya tempat Yuki berhenti ini jadi mengharuskan Yuki berjalan sedikit agar sampai di toko itu. Jadi harus Yuki berjalan. Ya sekalian menikmati semilir angin.
Dari kejauhan, Yuki dapat melihat Gavin yang sedang menyender di dinding sambil memainkan ponselnya. Yuki tersenyum senang dan berlari kearahnya. Tetapi saat jaraknya sudah dekat dengan Gavin, Yuki berhenti sejenak dan mengerutkan dahinya.
"Sejak kapan Gavin pakai kacamata?" Ujar Yuki.
Tapi Yuki mengabaikannya dan berlari kembali ke arah Gavin. Saat sampai, Yuki langsung bergelayutan di lengan Gavin. Dan anehnya, tubuh Gavin malah menegang dan menatap Yuki sinis.
"Langsung aja yuk. Aku mau makan shortcake yang banyak" ujar Yuki kemudian dia menarik lengan Gavin agar ia berjalan mengikutinya. Tapi lelaki ini malah menepis tangan Yuki dengan kasar dan tatapan tajam tertuju padanya. Yuki terkejut dan bingung.
Laki-laki ini berjalan mendekat ke arah Yuki. Itu membuat Yuki sedikit takut dan perlahan mundur. Yuki terus memundurkan langkahnya hingga ia menabrak dinding di belakangnya.
Yuki membulatkan matanya saat jarak di antara mereka benar-benar dekat, hanya berjarak beberapa centimeter saja. Laki-laki itu meletakkan kedua tangannya di samping kanan dan kiri telinga Yuki, mengukung gadis ini. Tubuh Yuki pun merinding ketakutan.
"Gua ga kenal sama Lo. Jangan macam-macam deh" ujarnya dingin.
Yuki memberanikan dirinya dan menatap Gavin yang aneh kali ini dengan tajam juga. Jika ia bisa, kenapa Yuki tak bisa.
Dugh!
"Aw aw aw" Yuki menendang betis orang dihadapannya ini hingga ia meringis karena kesakitan.
"Nyebelinnya nanti aja. Aku udah bilang kan, aku mau makan shortcake sekarang!" Yuki beralih menggenggam tangan Gavin dan menariknya agar berjalan mengikuti langkahnya lagu. Dia akhirnya menyerah dan mengikuti kemana Yuki akan membawanya.
Tiba-tiba ada seseorang yang menggenggam tangan kiri Yuki dan menariknya kebelakang. Hingga Yuki terhuyung kebelakang dan melepaskan genggaman di tangan kanannya.
Bugh
"Aduuh sakit" lirih Yuki. Yuki meringis kesakitan karena ia baru saja menabrak seseorang dan itu membuat hidung mancungnya sakit. Tetapi orang ini malah memeluk Yuki dengan posesif. Ini membuat Yuki sedikit takut lagi.
"Sakit tahu! Eh!?" Yuki membelalakkan matanya saat ia menenggak ke atas melihat seseorang yang tadi menariknya. Dadanya berdetak kencang.
__ADS_1
"Gavin!?" Pekik Yuki dan ia menoleh kebelakang melihat orang yang tadi dibawanya.
"Kok Gavinnya ada dua!!?"