
Sudah terhitung hampir 3 Minggu mereka tinggal disini. Menunggu Yuki, sahabat mereka yang tak kunjung siuman juga. Sudah hampir 1 bulan Yuki koma.
Dan Gavin juga masih selalu setia duduk di samping Yuki. Sambil terus menatap dan mengajaknya mengobrol banyak hal. Tidak sedikitpun Gavin melangkahkan kakinya keluar dari mansion ini. Ia masih terus berada disamping Yuki.
Gavin telah menghabiskan masa liburan panjangnya dikamar Yuki. Gavin terkadang hanya keluar untuk mandi dan sarapan saja. Setelah mengetahui Axel berangkat bekerja ke kantor, Gavin pasti selalu kembali ke kamar Yuki.
Berbeda dengan teman-temannya, mereka terkadang keluar jalan-jalan mengelilingi kota Florida. Namun berkumpul di kamar Yuki juga tidak pernah mereka tinggalkan.
Kini Andro, Valeria dan Kevin sedang menikmati secangkir teh di halaman belakang mansion. Menikmati sore hari ditempat yang indah ini memang sangat menenangkan.
Hamparan bunga mawar kesukaan Yuki pun tak luput menjadi santapan mata mereka. Berbagai macam warna bunga telah memenuhi setiap sudut taman ini. Tak heran jika dulu Yuki sering mengajak mereka untuk liburan di mansionnya.
"Besok lusa kita udah harus berangkat sekolah" ujar Andro memecah keheningan.
"Iya, dan dihari itu akan menjadi hari pertama ku sekolah di tempat itu" sahut Kevin.
Mereka terdiam lagi. Namun Gavin tiba-tiba saja terbesit di dalam pikiran Kevin. Saudara kembarnya itu sudah lama berdiam diri menanti Yuki siuman dari komanya. Bagaimana caranya agar ia mau meninggalkan Yuki untuk pulang dan pergi sekolah?
"Hei, aku... Meragukan sesuatu" ujar Kevin.
Sontak Andro menatapnya heran dan Valeria sedikit tersentak karenanya. Seperti mengerti hal yang dimaksud Kevin, tangannya mulai gemetar dan pikirannya jadi gak tenang.
"Ada apa Kev?" Tanya Andro
"Gua ngerti maksud Lo. Gua juga merasakan hal yang sama" ujar Valeria.
"Apa? Kalian ngomong apa sih?" Tanya Andro semakin heran.
"Sebaiknya kita bicara padanya sekarang. Pelan-pelan, kita harus bicara perlahan agar ia tidak emosi" ujar Kevin serius.
"Lo yang jelasin. Nanti kalau dia nolak, biar gua yang urus" saran Valeria.
"Boleh juga. Oke, kita kesana sekarang!"
Kedua orang itu bangkit. Belum juga berjalan, tangan Andro sudah menahan Kevin dan Valeria bersamaan.
"Kalian ini ngomongin siapa sih?" Ketus Andro.
"Wah, ketularan si telmi tuh" ledek Kevin.
"Kita mau ngajak Gavin pulang. Emangnya dia bakalan gampang diajak apa? Udah hampir sebulan dia lebih dingin dari yang biasanya. Lo ga bakalan bisa tanganin dia sendirian. Udah ah lepas" Valeria menepis tangan Andro dengan kasar lalu pergi meninggalkannya.
"Seperti WiFi yang kehabisan datanya. Dia bakalan Lola. Perumpamaan yang sama seperti Lo sekarang" sindir Kevin dengan tertawa renyah.
"Lola? Bahasa apa itu?" Tanya Andro kesal.
"Loading lama! Ahahahahhahahahahaha hahahahahaahahahahahahahaha hahahaha hahahahaahahhahahahahahahahah HahahahahahahahaahhaahahhahahahahhAhahahababbahabahahahahahahahahahahaha" tawa Kevin begitu menggelegar.
Untuk menghindari baku hantam lagi, Kevin berlari cepat meninggalkan Andro yang masih emosi. Andro kembali duduk dengan deru nafas yang tak tenang.
Setelah sampai di dekat kamar Yuki, Kevin kembali terdiam. Melihat Valeria yang mematung didepan pintu. Seperti tak ada niatan untuk masuk. Kevin mendekat dan mencoba mengetuk pintu itu.
"Kev.."
"Percaya sama gua" Kevin mendorong dua belah pintu itu bersamaan hingga terbuka lebar.
Ia masuk terlebih dahulu dan berdiri di dekat Gavin. Seolah tak perduli dengan sekitarnya, Gavin terus menyibukkan diri dengan seseorang yang terbaring lemah dihadapannya. Tangannya mengelus dahi Yuki yang baru saja dilepas perbannya.
"Apa mau kalian sekarang?" Tanya Gavin dingin.
__ADS_1
"Kita harus bicara" jawab Kevin serius. Gavin bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat. Tatapannya yang tajam berhasil membuat Kevin memundurkan kakinya dua langkah. Pengecut.
"Cepat. Disini. Atau tidak sama sekali" tawar Gavin yang gak mau basa-basi.
Kevin sampai kesulitan menelan salivanya sendiri karena saking terkejutnya. Bukan terkejut, melainkan takut. Walau mereka saudara kembar identik, tapi sifat mereka benar-benar bertolak belakang.
Terkadang Gavin lebih dewasa daripada Kevin dan terkadang begitu sebaliknya. Benar-benar saling melengkapi tapi tidak bisa bersatu.
Walau Kevin bisa mengendalikan segala masalah, tapi satu yang ia tak bisa kendalikan, hanya Gavin. Baginya, Gavin adalah sisi lainnya yang tak bisa ia gapai. Berbagai hal telah ia telah lakukan, tapi Gavin tetaplah Gavin. Gavin benar-benar Tak bisa taklukan. Jangankan ditaklukan, diajak ngobrol saja susah.
"Kita harus pulang karena besok lusa sudah masuk sekolah" ujar Kevin dingin. Meniru Gavin, mungkin.
Gavin mengalihkan pandangannya dan kembali menatap Yuki dengan lembut. "Gua ga bisa meninggalkan dia begitu saja" ucapnya.
"Vin, gua mohon. Kalau Lo ga pulang, ayah pasti marah besar. Dan ini juga kesempatan gua untuk nyobain sekolah milik ayah. Gua harap Lo gak ganggu momen berharga ini" tutur Kevin pelan.
"Lo manfaatin gue?" Sindir Gavin keras.
"What!? Hah, gua ga ngerti jalan pikiran Lo sama sekali" ketus Kevin.
"Gavin ini bukan main-main!" Ucap Valeria yang melangkah maju beberapa langkah, namun masih tetap dibelakang Kevin.
"Siapa yang bilang kalau ini ga serius?" Timpal Gavin.
"Ini bukan masalah Lo doang! Ini juga masalah gua! Sebaiknya kita bekerja sama atau akibatnya akan lebih buruk" ujar Kevin.
"Jadi begitu? Fine. Sekarang Lo ajukan kesepakatan yang akan terdengar menarik ditelinga gue" ujar Gavin sambil menunjuk telinga Kevin.
Ck, sial!
"Wait, what do you me---"
"Salah ucap aja, gua bakalan langsung nolak dan Lo yang akan terima semua konsekuensinya" potong Gavin tegas.
Kevin sebenarnya tahu apa yang Gavin inginkan. Tapi, haruskah ia ucapkan itu? Sepertinya iya.
"Gua akan tahan sikap heboh gua kalo sama Lo. Gua ga akan ngerepotin Lo. Dan gua ga bakalan ganggu apalagi ngeledek Lo! Puas!" Kevin akhirnya meneriaki yang Gavin maksud sejak tadi.
"Great. Kapan kita berangkat Vale?" Gavin memiringkan tubuhnya dan mendapati Valeria yang sejak tadi sudah berdiri jauh disana.
Valeria nampak menghela nafas berat dan sedikit tersenyum. "Kita berangkat setelah makan malam. Menggunakan jet pribadi milik kak Axel yang lebih besar untuk kita tidur"
"Hm, baiklah" Gavin berbalik. Berjalan dan duduk kembali di kursinya yang tadi ia duduki sejak awal.
"Akan kusuruh orang untuk membereskan barang-barang milikmu" ujar Valeria sebelum pergi.
🌸🌸🌸
8.45 p.m.
"Kalian akan berangkat setelah ini?" Tanya Axel sambil memakan pudingnya.
Setelah makan malam selesai, kini mereka tengah menikmati hidangan penutup. Puding coklat yang didalamnya terdapat buah strawberry adalah puding kesukaan Yuki. Semua yang Yuki sukai selalu Axel hidangkan dimeja makan akhir-akhir ini.
"Iya. Karena kami harus sekolah besok lusa" jawab Andro.
"Sekolah yaa.. apa Gavin juga akan ikut bersama kalian?" Ucap Felix agak sedikit ragu.
"Aku rasa Gavin akan lebih memilih berdiam diri disini sambil menemani Yuki. Lihat saja sekarang, dia bahkan tidak ada dimeja makan" ujar Zen.
__ADS_1
"Tidak! Gavin akan pulang dan itu mutlak!" Ketus Kevin.
"Sesuatu terjadi padanya?" Tanya Axel.
"Tenang Kev, kau masih berada dimeja makan" sindir Alvaro yang merasa terganggu dengan nada tinggi yang dikeluarkan oleh Kevin.
"Mereka tadi sedikit bertengkar. Tapi sekarang sudah baikkan kok" lerai Valeria.
Keadaan semakin tak mengenakan setelah Alvaro sedikit kesal dan Valeria mencoba melerai mereka dengan beberapa kata. Axel terdiam. Mendengarkan ucapan mereka dan memahami sesuatu. Tangannya meletakkan sendok itu diatas meja dan matanya menatap Kevin.
"Kalian duluan saja ke tempat landasan jet. Aku yang akan urus Gavin" ujar Axel datar seperti biasanya.
"Kau yakin? Gavin bukanlah orang yang akan dengan mudah mendengarkan seseorang. Yaa mungkin kecuali untuk Yuki" ujar Alvaro seolah memperingati.
"Tak apa"
Axel bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menaiki tangga. Dengan langkah perlahan, Axel mencoba berpikir. Reaksi apa yang akan Gavin keluarkan ketika ia sedikit menasihatinya. Dan bagaimana caranya Axel bertindak jika Gavin menolak. Masih ia pikirkan.
Tak terasa terlalu lama berpikir, Axel telah sampai didepan kamar Yuki. Tanpa mengetuk pintu, ia masuk kedalam. Gavin masih disini. Tidak duduk seperti yang biasa ia lakukan, kini ia berdiri disamping Yuki. Dapat Axel lihat, Gavin seperti berbicara di mulutnya, tapi tak terdengar suara apapun, mungkin yang terdengar hanyalah mesin detektor denyut jantung Yuki.
"Kau sudah siap? Teman-teman mu sudah menunggu di jet" ujar Axel.
Gavin mengatupkan bibirnya untuk berhenti mengoceh yang menurut Axel tidak jelas karena tak ada yang terdengar dan menoleh. Kantung mata yang begitu kendur dapat Axel lihat walau dari posisi yang agak jauh. Keadaan Gavin sangat memprihatikan.
Perlukah ia dibawa ke psikiater? Batin Axel
"Kau sadar kalau aku disini kan?" Tanya Axel untuk memastikan keadaan Gavin.
Stress. Mungkin itu yang terlihat pada diri Gavin.
"Iya. Tentu. Ada ..... Masalah?" Ucapan Gavin yang terjeda-jeda.
Axel jadi sedikit yakin jika Gavin baik-baik saja. Ya, hanya sedikit. Masih diragukan oleh Axel.
"Kau harus pulang. Teman-teman mu sudah menunggu. Ayo kuantar kau kesana" ujar Axel sambil mencoba menarik lengan Gavin.
Gavin menahannya sekuat tenaga. Kakinya tak mau bergerak walau Axel telah menariknya kuat. Gavin menggertakkan giginya. Ingin mengatakan sesuatu tapi sulit.
"Sebenarnya, aku tak mau pergi. Aku ingin menunggu Yuki hingga ia siuman dari komanya" akhirnya Gavin mengatakan keinginannya.
Axel mendesah dan melepaskan tangannya. Ia menatap Gavin dengan lekat. Seolah terhipnotis, Gavin juga terdiam menatap mata Axel dengan tenang.
"Dengar. Aku punya beberapa saran yang akan membuatmu harus benar-benar mengikutinya"
Gavin menganggukkan kepalanya.
"Sebaiknya kau pulang sekarang. Sekolah yang benar. Jadilah orang yang berguna diluar sana. Buat semua orang datang untuk memberikan rasa hormat mereka pada mu. Disaat Yuki siuman dari komanya, Yuki pasti bangga pada dirimu yang telah berubah"
Perkataan Axel 90% mirip dengan apa yang dikatakan Valeria. Gavin tertegun dan menundukkan kepalanya. Axel memegang kedua bahu Gavin dan sedikit menariknya mendekat padanya.
"Lakukan semua itu untuk Yuki. Hanya Yuki. Dan teruslah berharap" ucapan Axel kini lebih tegas dari yang sebelumnya.
Gavin mengangkat kepalanya dan membalas tatapan tajam Axel. Senyuman kecil muncul diwajahnya. Tangannya mendorong Axel pelan hingga tangan Axel pun terlepas dari bahunya.
"Kuanggap itu sebagai lampu hijau" ujar Gavin dengan percaya diri.
"Jika kau tak berhasil, lampu hijau akan berubah menjadi lampu merah" ucap Axel.
"Thanks. I'll go now. Tolong jaga Yuki" pamit Gavin sebelum ia melangkah keluar.
__ADS_1
Axel berbalik untuk melihat Gavin berjalan keluar. Setelah Gavin terlihat benar-benar keluar, ia tersenyum tipis. Sekarang ia yakin jika Gavin akan melakukan hal yang ia katakan barusan.
"Kita lihat saja nanti"