Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
45. after 4 year


__ADS_3

**4 tahun kemudian....


*Magdeburg, Jerman***


"Begitulah cara kerja perusahaan yang menggerakkan perekonomian negara. Ada pertanyaan?" Ujar pria tua itu sebelum duduk di kursinya.


Seorang pria dengan mengenakan kaos hitam yang dipadu dengan jaket denim kini mengangkat tangannya dari ujung sana. Bangku dan meja berundak yang disebelah kanan dan kirinya terdapat tangga. Dari tempat yang paling belakang dan paling atas, ia dengan berani mengangkat tangannya bermaksud untuk bertanya.


"Ya Gerald?"


"Bagaimana jika perusahaan itu collapse? Apa berpengaruh terhadap negara?" Tanyanya sambil menurunkan tangan.


"Wah, pertanyaan yang bagus. Jika seperti itu maka... Bla... Bla... Bla...Bla...Bla...Bla... Bla... Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...Bla...................."


"Hei Gavin. Apa yang kau tanyakan? Kau hanya akan membuat mata kuliah ini semakin berjalan terus. Aku ingin pulang" bisik seorang pria disampingnya.


"Diamlah Louis. Lebih baik bertanya daripada membuatku terus penasaran nantinya" jawab Gavin dengan bisikan juga.


Gavin kembali memperhatikan Mr. Schalke yang sedang menerangkan materi yang tadi ditanyakan. Begitu berwibawa dan tegas. Gavin memang sudah lama mengidolakan sosok dosennya itu.


Gavin benar-benar sangat ingin menjadi hebat seperti dirinya. Hingga saat itu tiba, Gavin akan terus belajar dari dosen yang selalu menjadi idolanya itu dan Gavin pasti akan menjadi sosok yang hebat juga.


30 menit kemudian....


"Baiklah. Cukup sekian mata kuliah hari ini. Selamat sore dan sampai jumpa dipertemuan berikutnya" pamit Mr. Schalke dengan membawa buku-bukunya yang tebal-tebal.


"Selamat sore" jawab seluruh mahasiswa dikelas itu secara bersamaan.


"Huaahh... Akhirnya selesai juga" ujar Louis sambil menarik kedua tangannya keatas untuk merenggangkan otot.


Louis menoleh dan menatap Gavin dengan kesal. Mata kuliah uang harusnya berlangsung selama satu setengah jam, kini baru saja berlangsung selama 2 jam penuh.


"Hei hei Mr. Troublemaker. Lain kali jangan bertanya di akhir jam seperti itu. Kau membuat semua orang dikelas jadi terlambat pulang" ketua Louis.


Gavin diam tak menjawab. Tangannya lebih sibuk merapihkan barang-barangnya yang lumayan tercecer di meja panjang itu. Dengan kesal, Louis menaik turunkan lengannya dihadapan wajah Gavin.


"Kau senang sekarang?" Tanya Louis lagi dengan ketus.


"Merasa lega, mungkin" jawab Gavin sambil berdiri dan menyampirkan tas ransel di bahunya.


"Hei tunggu" Louis cepat-cepat memasukkan buku catatannya kedalam tas karena Gavin yang tak menghentikan langkahnya untuk menunggu dirinya.


Gavin benar-benar tak menunggu Louis dan terus berjalan. Saat akan sampai gerbang masuk, Louis baru bisa menyusul Gavin dengan berlarian. Tangannya menahan pundak Gavin yang terus berjalan.


"Hah, hah, hah... Gua bilang kan tunggu sebentar, kenapa Lo tetap jalan?" Ujar Louis dengan nafas yang terengah-engah.


"Ck, Lo ini---" ucapan Gavin tercekat ketika mendengar suara gadis yang meneriaki namanya.


"Gaviinn..." Teriak gadis itu yang berjalan menghampirinya.


Gavin buru-buru menyeret Louis untuk terus berjalan. Tapi langkahnya kembali terhenti saat gadis itu menahannya dan telah memeluk lengannya.


Sial


"Lepas, Sheila"


"Kamu kok keluar kelasnya lama banget. Aku udah nungguin dari tadi" ujar gadis itu dengan kedipan mata centil.


Ya, Sheila Yolanda namanya. Gadis berparas cantik dengan body goals ini memang sudah lama mengincar Gavin. Gadis berambut perak ini telah mengejar Gavin selama 3 tahun.


Sheila adalah Puteri pengusaha yang kebetulan bekerja sama dengan perusahaan Andro, dan disanalah mereka bertemu, di gedung kantor cabang perusahaan Lirenshi. Sheila memang telah melakukan berbagai cara untuk mengajak Gavin berkencan. Bahkan gadis ini tidak tahu malu karena Gavin telah menolaknya sebanyak 39 kali. Kurang satu lagi yah.


Lagipula, siapa yang tidak suka dengan pesona Gavin yang terlihat sangat keren ketika bertemu. Tubuh Gavin bahkan sudah banyak berubah. Ia semakin lebih tinggi setiap tahunnya. Tubuhnya yang tegap dan proporsional membuat semua wanita akan bertekuk lutut di hadapan Gavin.


Tapi hati Gavin tetaplah milik Yuki.


Iya. Yuki memang belum siuman dari komanya selama 4 tahun terakhir. Gavin dengan sabar menunggu gadisnya. Bersikap dingin yang tujuannya agar tidak didekati malah membuat Gavin malah semakin digerumuni. Gavin memang terlalu tenar dikalangan mahasiswa. Dan karena kecerdasannya lah, Gavin sekarang sedang mengerjakan skripsinya.


Yuki yang menjadi sumber semangatnya.


"Maaf Sheila. Aku sudah ditunggu Tante Carla dirumah. Aku tak mau terlambat. Iya kan Louis" ujar Gavin sambil menoleh pada Louis dan menatapnya tajam.


Louis langsung terkejut dan melihat kearah Sheila. Ia baru saja mendapat ancaman mengerikan. Bagai peringatan bahwa bom akan diledakkan padanya.


"I-iya. Aku juga tidak sabar untuk makan banyak malam ini. Dah, pergi dulu ya" ujar Louis sebelum Gavin menyeretnya pergi.

__ADS_1


Belum sempat Sheila mengatakan jika ia ingin ikut, Gavin sudah pergi terlebih dahulu dan menghilang dengan cepat. Gadis ini malah melamun dan terdiam sejenak.


"Woi Vin. Kenapa Lo ga jujur aja sih kalo Lo benci sama dia?" Gerutu Louis.


"Percuma" jawab Gavin singkat.


"Tapi lain kali jangan libatkan gua dong. Gua kan--"


"Nanti di bus Lo boleh duduk dan gua yang berdiri" sela Gavin.


"Oke!" Louis langsung memaafkan Gavin begitu saja. Huh, louis ada-ada saja.


🌸🌸🌸


"Mama sampai kapan bakal di jerman?" Tanya Andro yang sedang melahap makanannya.


"Sampai mama dengar kalau Gavin juga akan wisuda di tahun ini" jawab sang mama.


"Ma, yang anak mama itu aku atau Gavin?" Gerutu Andro.


"Kau cemburu pada kulkas berjalan? Ahahahhah" Carla menertawai puteranya dengan geli sambil mengacak-acak rambut puteranya.


"Kami pulang!" Ucap seseorang dari arah pintu utama.


"Dia bukan lagi kulkas berjalan. Es kutub mungkin cocok untuk sekarang" lanjut Andro.


"Uwah, Andro bener banget tuh Tante" Louis kini memihak pada Andro. Padahal orang ini baru aja datang tapi sudah ikutan ngobrol saja.


Carla bangkit dan berjalan menghampiri Gavin. Dia memeluk erat tubuh Gavin dan berkata "Tante dukung kamu kok. Lakukan yang terbaik"


Hampir setiap hari Carla, mama Andro ini mengatakan hal itu. Mendukung, mendukung, dan mendukung. Melihat ibu Gavin sendiri yang tak bisa berbuat banyak pada anaknya sendiri, mama Andro pun turun tangan sendiri. Menyayangi Gavin seperti puteranya sendiri, hanya itu yang bisa ia lakukan. Carla lakukan itu setiap ia berkunjung ke Jerman 2 bulan sekali.


"Terimakasih Tante" jawab Gavin pelan dan tulus.


🌸🌸🌸


Keesokan harinya...


Andro, Louis dan Gavin kini sedang berada di taman kampus. Dibawah pohon yang rindang dan sinyal WiFi yang kencang membuat mereka betah berlama-lama disini.


"Bagian ini, ini, dan yang sebelah ini. Ada kata-kata yang tidak fleksibel. Ganti. Dan judul di bagian sebelum penutupan juga diganti" ucap Gavin.


"Hanya itu kan? Baiklah gua ganti dulu sebentar" Andro mengangkat laptopnya yang tadi dipegang Gavin dan mulai mengubah sedikit kata-kata dikalimat yang Gavin unjukkan tadi.


"Enak banget sih kalian. Baru di tahun ketiga udah bisa ikut bikin skripsi" ujar Louis.


"Makanya jangan main terus. Bulan depan Lo magang kan? Magang yang bener!" Ujar Andro tanpa mengalihkan pandangannya.


"Yaudah deh. Gua pulang duluan ya. Ada es krim keluaran terbaru di minimarket seberang. Gua kesana dulu. Bye" pamit Louis sebelum pergi


Setelah 5 menit, Andro kembali menunjukkan layar laptopnya pada Gavin. Gavin mengangguk dan Andro langsung tersenyum.


"Gua rasa Lo ga bakal kena revisi lagi" ujar Gavin. Perkataan Gavin seolah menyemangatinya, Andro langsung menyimpan file itu dan menutup laptopnya.


"Gua akan print ini sekarang. Thanks Vin. Nanti malam gua juga bakal bantuin skripsi Lo!" Andro cepat-cepat menggendong tas ranselnya dan menenteng laptopnya sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Gavin.


"Gua harap kita bisa wisuda tahun ini" gumam Gavin sambil menatap Andro yang berjalan dengan berjingkrak kesenangan.


Kini Gavin sendiri. Ini hal yang Gavin sukai. Menyendiri dibawah pohon rindang membuatnya dapat berpikir dengan jernih. Gavin menyalakan laptop miliknya dan membiarkannya. Ia harus membaca ban sebelumnya sebelum memulai penutupan skripsinya sendiri. Padahal ia tadi sudah membantu Andro, tapi skripsi miliknya sendiri pun sama sekali belum selesai.


Sheila POV


Berjalan di bawah pohon sakura memang menyenangkan. Ini sudah 2 putaran sejak ku berjalan mengelilingi pohon besar ini. Pohon dengan daun dan bunga berwarna pink ini hanya mekar setahun sekali. Sayang bukan jika aku harus melewatinya?


Tiba-tiba aku jadi teringat sesuatu setelah melihat sepasang kekasih berjalan dihadapan ku. Aku ingat Gavin! Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan ku.


3.20 p.m.


Ini sudah mendekati jam selesainya kelas yang Gavin ikuti. Hm, aku berpikiran untuk menunggunya dan mengajaknya jalan-jalan hari ini.


Aku melangkahkan kakiku kedalam kampus. Setelah menaiki lift, aku sedikit mengintip di kelas yang seharusnya diisi oleh Gavin. Tapi setelah mengintip sedikit, aku langsung terperangah melihat kelas ini kosong melompong.


Kemana semua orang?


"Permisi, kemana orang-orang di kelas ini?" Tanyaku pada orang yang kebetulan lewat di hadapanku.

__ADS_1


"Ah, iya. Kelas ini jadwalnya dibatalkan" jawabnya dan langsung pergi begitu saja.


Dibatalkan?


Itu artinya Gavin sudah pulang?


Gavin kan orangnya suka menyendiri. Dia pasti ada di taman sebelah selatan. Iya, karena disana kan jarang didatangi orang banyak.


Aku langsung berlarian ke arah taman itu. Setibanya disana, aku langsung tersenyum lebar melihat pria itu. Pria idamanku kini sedang duduk dibawah pohon dengan laptop terbuka dan ia sedang membaca bukunya. Uh, suami idamanku sangatlah tampan.


Aku berjalan menghampirinya tanpa ragu. Semakin dekat, ia terlihat semakin tampan. Tapi guratan wajahnya yang serius membuatku ragu. Gavin memang tidak suka diganggu jika sedang belajar. Tapi aku penasaran dengan apa yang dibacanya. Kenapa ia selalu membaca buku di setiap saat?


Apa buku lebih menarik dari pada aku? Aku cantik, populer, anak konglomerat. Apa kekuranganku padanya? Kenapa ia sebegitu kekeh tidak mau menerimaku sebagai kekasihnya?


Tanpa kusadari, aku sedari tadi terus berjalan perlahan. Gavin kini sudah ada dihadapan ku. Mata hitam pekat miliknya kini menatapku dengan kesal. Bukan membuatku mundur, justru aku malah duduk dan mendekatkan diriku padanya.


"Hai baby. Kau sedang baca apa sih? Aku ingin lihat"


"Pergilah. Kau mengganggu" ucapnya dingin.


Aku menarik paksa buku itu dan langsung membaliknya. Aku terbelalak ketika melihat judul buku itu.


Skripsi!?


"Kau sedang buat skripsi? Kau masih berada di tahun ketiga sama sepertiku. Kok bisa?" Tanyaku seolah mengatakan bahwa ini tidak benar.


Gavin diam tak menjawab. Tangannya malah merebut kembali buku itu dengan kasar. Gavin mendengus kesal dan membaca buku itu lagi.


"Apa kau secerdas itu?" Tanya ku.


Gavin mengacuhkan ku. lagi.


Aku tertunduk. Mataku kini melirik laptopnya yang dibiarkan menyala. Wallpaper itu lagi. Foto gadis berambut blonde cerah yang sedang tertawa manis. Sebenarnya siapa sih gadis itu? Oh! Apa jangan-jangan...


"Apa karena gadis di foto ini yang selalu membuatmu menolakku?"


"Ya. Dia. Gadis yang selalu kucintai sejak beberapa tahun belakangan ini"


Degh!


Apa Gavin bicara jujur barusan? Ada apa dengan ekspresi itu? Ekspresi wajah yang begitu menggambarkan ketenangan diri. Aku bahkan tak pernah melihat ekspresi itu.


Hatiku terasa sakit.


Ini sungguh tidak adil! Aku yang selama ini mencintainya tidak pernah mendapat ekspresi seperti itu. Walau aku baru saja melihatnya, tapi perasaan itu bukan ditujukan padaku.


Seketika, aku jadi benci gadis di foto itu.


"Apa gadis ini benar ada? Aku tak pernah melihatnya. Apa kau sedang membuatku cemburu?"


Aku mencoba menggodanya. Tapi Gavin malah menatapku dengan tajam. Sangat tajam hingga rasanya menusuk hati. Gavin menatapku dengan begitu marah. Tapi, kenapa?


"Aku tidak suka kau mencintai gadis ini" ucapku sambil menunjuk layar laptopnya.


"Ini semua bahkan tak ada hubungannya denganmu" ucap Gavin dingin lalu mengalihkan matanya dariku.


"Apa? Kenapa? Sudah jelas ini berhubungan! Aku ini kekasihmu!"


"Jangan berkata hal yang tidak mungkin terjadi!!" balasnya.


Rahang ku semakin mengeras. Aku meraih kedua pipinya dan menakupnya. Ku alihkan wajahnya hingga menatapku juga. Matanya yang tajam membuatku terus mendekatkan wajah ini. Kini wajah kami hanya berjarak beberapa centimeter saja.


"Kenapa tidak mungkin? Itu semua bisa terjadi jika kau mau membuka hatimu itu! Gadis itu bahkan sama sekali tidak mencintai mu! Percuma saja jika kau menunggu dan terus mencintainya dengan segenap hati! Gadis itu bahkan tidak pernah terlihat mendukungmu yang tengah berjuang dikampus! Gadis yang kau cintai itu adalah gadis terburuk yang pernah kulihat walau itu hanya difoto!"


Gavin menepis kedua tanganku dengan kasar hingga aku sedikit tertarik kesamping. Matanya kini lebih menatapku tajam. Gavin marah. Benar-benar marah!


"Don't you dare bad mouth at her! Kau tidak tahu apa-apa! Just shut up your mouth!"


Gavin berteriak begitu keras ditelingaku. Gavin sangat murka sekarang. Tangannya mendorongku agar menjauh dan ia langsung menutup laptop itu. Ia langsung pergi berlarian setelah membawa buku-bukunya dan laptopnya.


Dia sekarang membenciku.


Siapapun kau, gadis yang dicintai Gavin! Aku pasti akan membuatmu tidak dicintai lagi oleh Gavin!


Gavin hanya akan menjadi suamiku dimasa depan! Hanya aku yang pantas.

__ADS_1


Sheila POV end πŸ”–


__ADS_2