
Seorang pria berambut blonde kini sedang berdiri di depan cermin kamar mandinya. Setelah mengelap wajahnya dengan handuk, ia kembali meraba sekitar dagunya yang baru saja ia cukur.
Sekarang baru terlihat lebih segar.
Dia tersenyum ketika tak menemukan hal tajam yang tumbuh di dagunya itu. Dia sekarang nampak lebih muda dari umurnya. Ketampanan memang ia turunkan dari sang ayah yang harus ia akui lebih tampan darinya. Tapi dirinya ini memang tampan. Huh, sudahlah.
Axel melangkah menuju walk in closet miliknya. Ia telah mengenakan kemeja, yang ia butuhkan hanya sebuah jas dan dasi. Setelah memasang dasinya, Axel menyisir rambutnya kebelakang dengan rapih. Hanya beberapa anak rambut yang menjuntai menutupi dahinya.
Perfect.
Axel keluar dengan pakaian yang sudah rapih. Tangannya mengambil handphone yang berada diatas malas dekat tempat tidurnya. Ia melangkah keluar.
Ketika akan menutup pintu, Felix datang menghampirinya dengan senyuman lebar. "Tumben ganteng banget. Apa kau akan berkencan?" Goda Felix sambil menyenggol lengan Axel.
"Berkencan dengan kertas yang menumpuk diruangan ku" jawabnya
Felix mendengus kesal. "Hei, kita butuh sosok Kakak ipar disini, asal kau tahu saja"
"Iya lalu aku harus apa?"
Tiba-tiba suara hentakan sepatu heels kini datang menghampiri mereka. Dengan langkah yang lebar dan wajah pucat, Nancy berlari tergesa-gesa dengan wajah ketakutan.
"Tu-tuan!!! SESUATU TERJADI PADA NONA!" Pekik Nancy yang begitu terdengar disepanjang lorong.
Axel langsung mendorong Nancy yang berdiri dihadapannya. Axel berlari sekencang mungkin. Menabrak semua maid yang menghalangi jalannya.
BRAK!
Axel mendorong keras pintu kamar adiknya. Terlihat Alvaro yang sedang mendekatkan telinganya pada pipi adiknya. Axel berjalan dengan tubuh gemetar. Air matanya hampir jatuh. Dengan langkah terseok-seok, Axel terus berjalan.
Ketika sudah dekat, Alvaro memberi kode untuk tidak mendekat. Axel tetap diam disamping Yuki.
Namun tiba-tiba, tangan Yuki terlihat menggerakkan jarinya. Kepalanya mulai sedikit bergerak. Matanya sedikit mengerjap walau masih tertutup.
"Can you hear me?" Ujar Alvaro seperti berbisik.
Yuki kembali menggerakkan kepalanya. Alvaro mengangkat tubuhnya untuk sedikit menjauh. Dipegangnya tangan kanan Yuki dan mengelusnya untuk menyalurkan rasa hangat.
Perlahan mata Yuki mulai terbuka. Matahari yang sangat menyilaukan mata kini mulai berangsur masuk dalam matanya.
Yuki sadar!
Yuki siuman dari komanya selama 4 tahun!
Ini sebuah keajaiban!
Tes.. tes..
Axel akhirnya menjatuhkan air matanya. Ia menangis tersedu-sedu dan sangat terisak. Menangis membuatnya sesak. Axel akhirnya terduduk dilantai. Bersyukur. Sangat bersyukur.
Yuki nampak seperti melamun. Keningnya mulai berkerut. Matanya menatap Alvaro yang juga meneteskan air mata. Mata Yuki melirik kesampingkannya karena mendengar Axel menangis
"Khaa-kak ja-ngan nangis" ujar Yuki lemah.
Axel semakin menangis keras. Axel mendekat dengan menggunakan lututnya. Ia duduk ditepi kasur dan memeluk Yuki dengan perlahan.
"Akhirnya, hiks, se-setelah empat tahun" Axel memeluk Yuki dengan lembut. Yuki tak membalasnya karena tangannya terasa sangat lemas.
"Ha-us kak" ujar Yuki.
Axel melepas pelukannya. Tangannya mengusap air mata yang terus jatuh. Axel tersenyum lebar pada Yuki. Sedangkan Yuki menatapnya bingung.
Axel berdiri tegap. Matanya menemukan Nancy dan Felix didepan pintu yang juga menatap Yuki dengan air mata yang terus berderai.
"Kalian! Cepat ambilkan Yuki minum! Apa yang kalian lakukan? Cepat!" Axel kembali berbicara dengan nada tegas.
__ADS_1
Yuki tersenyum lemah. Matanya kini beralih pada Alvaro yang terduduk di kasur. Alvaro juga menangis dalam diam. Hanya air mata yang berjatuhan. Tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Everything is fine now. Don't ever cry for me" ucapan Yuki kini bisa lancar daripada yang sebelumnya.
"Aku, aku tidak puas dengan diagnosa ku sendiri. Akan ku panggil temanku untuk memeriksa mu, little sister" ujar Alvaro yang mengelus pipi Yuki.
Alvaro bangkit. Ia berjalan menuju balkon untuk menelpon temannya yang juga seorang dokter.
Cup.
Axel mengecup lama kening Yuki. Menyalurkan rasa hangat. Yuki ikut terpejam selama Axel mengecup keningnya. Matanya kembali terbuka saat Axel melepas kecupannya. Bibir pucat itu tersenyum kecil menatap kakaknya.
Kebahagiaan kini tak bisa lagi Axel gambarkan. Sedari tadi Axel terus tersenyum lebar menatap Yuki. Mereka hanya saling menatap karena Yuki tak bisa berbicara banyak, tenggorokannya kering dan terasa sakit.
Nancy akhirnya tiba dengan botol air minum yang terdapat sedotan panjang di tengahnya. Axel menerimanya dan langsung menyodorkan sedotan itu pada mulut Yuki.
"Pelan-pelan saja" ujar Axel lembut.
Yuki menyedot minumnya dengan perlahan agar tak tersedak saat menelannya. Bibirnya yang pucat terus saja menyedot air itu hingga tandas. Axel sampai melongo terkejut melihatnya. Adiknya baru saja sadar dari komanya lalu meminum seliter botol air minum. Wow
"Kau sangat haus ya?" Tanya Axel.
"Entahlah. Rasanya aku sudah lama tidak minum air"
Cklek.
Seorang pria datang dengan pakaian dokternya dan sebuah tas hitam yang lumayan besar. Ia datang menghampiri Yuki dan membungkuk.
"Saya langsung kemari setelah mendengar nona sudah siuman. Bagaimana perasaan anda sekarang? Apa ada hal aneh yang anda rasakan?" Ujar dokter itu.
Alvaro datang dari balkon dengan wajah gembira. Ia langsung memeluk temannya yang baru saja datang. Ia terkekeh geli. Melihat sahabat seperjuangannya ini begitu bahagia ketika adiknya siuman.
"Woi. Gua lagi formal depan nona besar. Lu malah nangis" ujarnya sambil ikut memeluk Alvaro.
Alvaro melepas pelukannya dan memukul dada sahabatnya pelan. "Ryan! Lo lama banget sih! Cepet kita lakukan pemeriksaan" ucap Alvaro sambil mengelap air matanya.
"Terimakasih dokter Ryan" ucap Yuki.
"Wah. Kau masih mengingatku? Saya merasa sangat terhormat nona. Jadi, apa kau merasa sakit di tubuhmu?"
"Maksudmu pegal-pegal? Ya. Tanganku juga terasa lemas. Begitu juga dengan kakiku" ucap Yuki sebelum dirinya menyadari rambutnya sendiri yang begitu menjuntai panjang ke lantai dari atas kasur.
"Apa rambutku sepanjang itu? ... Apa yang terjadi padaku!?" Yuki nampak terkejut dan kembali memucat pada wajahnya yang cantik.
Ryan mengalihkan matanya pada Alvaro dan Alvaro sendiri malah menggelengkan kepalanya. Ryan mengerti. Ryan mengangkat dagunya seolah bertanya. Alvaro mengangguk dan mengarahkan tangannya agar Ryan mengatakannya secara perlahan.
"Nona, kau tak ingat sama sekali tentang apa yang terjadi padamu?" Tanya Ryan.
Yuki nampak bingung. Alisnya terangkat sebelah dan ia memiringkan kepalanya. Yuki terdiam untuk beberapa saat. Karena tak ingin memaksakan otak Yuki, Ryan lebih memilih diam juga. Menunggu Yuki yang masih mengingat.
"Ah! Aku ingat! Truk kuning itu! Menabrak ku dan Elise yang mendorongku!" Ucap Yuki dengan nada tinggi.
Huh, sudah kuduga. Batin Axel.
"Setelah itu..... Aku tidak ingat. Apa yang terjadi padaku?"
Ryan tersenyum kecut. Matanya yang sipit terlihat seperti sedang terpejam ketika tersenyum. Alvaro ikut duduk disamping Ryan dan menggenggam tangan Yuki yang masih disambungkan dengan selang infus.
"Little sister, jangan terkejut ya" ujar Alvaro lembut.
Alvaro kemudian menatap tajam Axel, memberi kode agar dia juga ikut duduk disamping Yuki. Dan Axel pun mengerti. Dipeluknya Yuki dari samping dan 1 tangannya berada di atas kepala adiknya.
Huh, kebanyakan bahasa isyarat. Atau kode-kodean?
"Kau baru saja siuman dari koma selama 4 tahun. Tabrakan dengan truk itu hampir membuatmu remuk. Tapi kau dengan hebat dan cekatan membuat perlindungan didepan dada dengan tanganmu sendiri" tutur Alvaro dengan perlahan sambil menatap mata Yuki.
__ADS_1
"Kau hebat sweety. Terimakasih sudah kembali" ucap Axel lembut sambil memeluknya.
"Aku, tertidur selama itu?"
🌸🌸🌸
Dan ditempat lain, dan diwaktu yang sama, Gavin kini sedang berdiri dihadapan Mr. Schalke yang sedang memeriksa skripsi miliknya. Pria tua itu tersenyum. Diturunkannya kertas itu yang sempat menutupi seluruh wajahnya.
"Skripsi milikmu sekarang sudah sangat sempurna. Aku akan memberikanmu sebuah kertas dan kau harus memberikannya pada panitia sidang. Walau kau dapat urutan paling akhir, jangan putus asa ya. Hanya tinggal selangkah lagi" ujarnya.
Gavin membelalakkan matanya. Matanya terus mengerjap berulang kali menatap sang dosen idolanya. Seolah tak percaya, Gavin menempelkan kedua tangannya di meja itu dan mencondongkan tubuhnya.
"Kau tidak bercanda kan, Sir? Maksudmu aku bisa mengikuti sidang tahun ini?" Tanya Gavin dengan sedikit berkeringat di tempat yang lumayan dingin ini.
"Jika kau lulus sidang dengan nilai sempurna, kau akan mendapat gelar cumlaude di wisuda nanti" ucapnya lagi.
"Yang benar pak!?" Tanya Gavin lebih bersemangat.
"Iya! Sidangnya 5. Jangan sampai kau tidak datang ya. Ini, bawa kertas ini dan susun ulang. Panitia sidang akan memberikanmu sampul skripsi yang asli" Gavin dengan gembira menerima kertas-kertas itu dan berlarian keluar ruangan Mr. Schalke.
Gavin berlari taman selatan kampus. Karena Louis berada disana sedang menunggunya. Ia bilang ia akan menunggu sampai Gavin selesai bimbingan dengan dosennya. Ia sangat excited untuk mendengar berita baik hari ini.
Gavin berhamburan memeluk Louis dengan erat. Louis pun terkejut. Ini seperti bukan Gavin.
Apa ini Kevin? Pikirnya.
"Gua bisa ikut sidang tahun ini"
"Uwoooohhhhh.... Congrats bro" Louis membalas pelukan itu tak kalah erat. Saking eratnya, kedua pria ini malah sampai sesak napas.
Mereka berdua melepas pelukan mereka. Dengan wajah yang memerah, Louis tersenyum lebar dan langsung merangkul pundak Gavin.
"Kita pulang sekarang dan kita kasih kabar gembira ini sama tante Carla sekarang" ujar Louis sambil menarik Gavin untuk berjalan bersamanya.
Mereka akhirnya berjalan keluar kampus bersama dan saling merangkul. Saat sampai di halte bus, baru mereka melepas rangkulannya dan naik ke dalam bus.
Setibanya dirumah, Louis yang lebih dahulu masuk kedalam rumah. Louis berlarian seperti anak kecil yang baru saja pulang dari petualangan menangkap kumbang dimusim panas. Ia pun berteriak heboh ketika sampai diruang keluarga dan mendapati Tante Carla bersama Andro.
"Holla hello hallo masyarakat yang damai abadi. Louis Vuitton datang membawa berita baik dan ini sangat menggemparkan dunia" ujar Louis dengan segenap kehebohan dalam dirinya.
"Ada apa sih?" Tanya Andro.
"Jadi, 5 hari lagi, Gavin akan ikut sidang bareng Andro!!!!!!!!"
Andro matanya langsung membola dan tersenyum lebar. Ia berlari dan memeluk Gavin dengan erat. "Selamat Vin! Gua tahu Lo pasti bisa. Jangan malu-maluin ya nanti disidang" ujar Andro.
Gavin juga merengkuh tubuh Andro dan memeluknya dengan begitu erat. "Jangan khawatir. Gua pasti lakukan yang terbaik"
"Jangan kecewakan siapapun" ujar Andro sambil melepas pelukannya.
Pelukan pada Gavin kini bergantian dengan mama Andro. Ia juga memeluk Gavin dengan hangat. Gavin tak membalas pelukannya dan lebih memilih menaruh wajahnya pada bahu wanita ini.
"Tante tahu, kamu pasti bisa. Tunjukan pada orangtua kamu, kalau kamu adalah anak mereka yang paling cerdas" ucap Carla sambil melepas pelukannya.
"Karena mama udah dengar Gavin akan ikut wisuda denganku, apa mama akan kembali ke Italia?" Tanya Andro.
"Mama akan menetap disini sampai hari wisuda Gavin. Jadi mama ga akan pulang begitu saja" ujar Carla.
Andro mendengus "sebenarnya siapa sih yang anak kandung disini" gerutunya.
"Mama akan masak malam malam yang banyaaaaaaaaakkkk.... Khusus untuk Gavin" ujar Carla sebelum meninggalkan ruang keluarga.
"Tuhkan sekarang makin kelihatan. Siapa yang anak angkat dan siapa yang anak kandung" ucap Andro kesal.
"Acieee cemburu" ledek Louis.
__ADS_1
Andro berjalan menghampiri Gavin. Tangan kekar itu kembali merengkuh tubuh Gavin. Andro tersenyum. Rasanya sangat tenang jika sudah berpelukan seperti ini.
"Sekali lagi, selamat ya Vin. Gua juga ga nyangka banget" ujar Andro memberikan selamat pada Gavin, lagi.