
8.25 a.m.
Gadis itu berlarian menuruni tangga dengan cepat. Pakaian kasual kini melekat di tubuhnya, ditambah dengan coat berwarna maroon membuatnya terlihat elegan. Dan tak lupa bag pack berukuran kecil yang sudah ia bawa ditangan kanannya.
Kekasihnya telah menatap tajam kearahnya dengan mengetukkan jari-jarinya di pegangan koper berwarna biru dongker. Lelaki ini mendesah pelan ketika melihat gadis itu sudah berhasil menuruni tangga dengan selamat.
Mungkin pakaian gadis itu nampak elegan, tapi tidak dengan rambutnya. Walau rambutnya pendek, jika tak disisir pun rasanya jadi percuma. Rambut gadis ini sudah berantakan seperti habis terkena angin yang kencang.
"Tuhkan! Mom bilang juga apa! Jangan bergadang! Telat kan! Kasihan Andro, pegel tau dia nungguin kamu disini" omel mommy Valeria pada putrinya sendiri.
Valeria memasang wajah sedih sambil melirik kearah kekasihnya. "Maaf bebep ganteng" ujarnya manja.
"Yaudah, kita berangkat sekarang. Tante maaf kita pergi ya" pamit Andro.
"Iya hati-hati"
"Bye mom"
"Oh iya, Tante mau oleh-oleh apa?" Tawar Andro.
"Hm, bagaimana kalau gantungan kerang? Kerangnya doang juga Tante seneng kok"
Ga ada benda lain apa? Batin Andro.
"Hm, tentu. Akan kami belikan. Ayo bep" Andro merangkul pundak Valeria dan menarik koper itu di tangan kirinya.
Setelah memasukkan koper Valeria kedalam bagasi, Andro bergegas masuk ke dalam mobil. Didalam sudah ada Valeria, Louis dan Olivia yang sudah menunggu.
Tanpa basa-basi, Louis langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia menambah kecepatan ketika berhasil keluar dari pekarangan rumah Valeria.
"Gavin bakal ngambek nih kalau kita telat" ucap Louis yang pandangnya lurus fokus pada jalanan yang lumayan padat.
"Bisa-bisa kita ditinggal jet miliknya loh. Lebih cepat!" Perintah Olivia tegas.
"Maaf guys. Semalam gua ga bisa tidur" akhirnya Valeria mengakui bahwa ia yang bersalah.
"Tidur jam berapa kamu semalam?" Tanya Olivia yang menoleh ke belakang. Valeria mengalihkan pandangannya saat Olivia menatapnya serius.
"Uhm, jam 2 mungkin?" Jawabnya ragu.
"Gila ya-- kyaaaaaa...." Olivia memekik karena tubuhnya terhuyung kesamping dan menimpah Louis yang sedang menyetir.
"Hati-hati dong!!!" Marah Olivia, lalu gadis ini membenarkan posisi duduknya.
"Udah tau kita lagi buru-buru, iya wajar aku ngebut. Lagian ini juga kamu yang nyuruh ngebut. Pasang sabuk pengamannya!" Sentak Louis dengan kesal.
Louis yang tadi dimarahi oleh pacarnya, kini memarahinya balik. Olivia langsung memasang seatbeltnya dan duduk dengan tenang. Perasaan bersalah kini juga muncul pada dirinya.
Setelah acara marah memarahi tadi, akhirnya mobil mereka kini sudah berhasil memasuki wilayah bandara. Louis memasukkan mobilnya ke dalam landasan pacu karena tadi Kevin sudah memberi tahu mereka untuk langsung kesana.
Dan, disinilah mereka. Berusaha mengeluarkan koper secepat mungkin karena Gavin yang terus menatap mereka dengan sangat tajam sampai menusuk rasanya.
"Mobil Lo biar di urus sama petugas bandara" ujar Kevin yang datang menghampiri mereka.
Kevin ikut membantu mereka mengeluarkan koper dan membawa salah satu dari koper itu. Petugas bandara juga jadi ikut membantu karena Gavin yang sudah mengomel disana.
"Seharusnya kita berangkat terpisah saja" gumam Valeria.
Mereka semua naik kedalam jet milik keluarga Gerald dan langsung duduk karena pesawat yang akan segera lepas landas.
__ADS_1
Jet pribadi yang mereka gunakan kali ini milik keluarga Gerald. Itu sebabnya Gavin menjadi marah dan tidak sabaran ketika menunggu keempat temannya yang sudah jelas terlambat.
Ketika mereka pulang nanti, mereka akan menggunakan jet pribadi milik keluarga Louis. Kapan mereka akan pulang ya tergantung Louis saja nanti, atau mungkin semua tergantung pada Gavin.
"Para penumpang yang terhormat, pesawat akan segera terbang. Tolong sabuk pengamannya dipasang untuk keselamatan bersama" ucap pilot pesawat ini.
Pesawat mulai melaju di landasan pacu. Semakin jauh, dan perlahan naik ke udara. Dan sekarang pesawat telah mencapai target ketinggian yang diinginkan.
Lampu tanda pemakaian sabuk pengaman akhirnya mati dan sabuk pengaman bisa dilepaskan. Andro menoleh pada Gavin yang duduk disampingnya. Gavin terlihat melamun sambil menatap keluar jendela.
"Sorry Vin, tadi Vale kesiangan" ucapnya.
"Hhmm" jawab Gavin.
Andro kembali menyenderkan punggungnya dan menatap keatas. Ia mendesah pelan. Jawaban Gavin tadi sudah bisa Andro tebak jika orang ini marah. Yasudah lah, Andro juga tak bisa berbuat banyak.
"Kak Vale, ayo kita nonton" ajak Sena yang sudah menarik Olivia bersamanya.
"Tentu. Kamu mau nonton apa?" Jawab Valeria ramah.
"Mau nonton horor, tapi ga mau nonton sendirian" ujar Sena imut.
Valeria dan Olivia mengangguk antusias. Mereka memulai acara menonton film horor dengan camilan masing-masing. Setelah persiapan selesai, film mulai diputar dan ketiga gadis ini merapatkan duduk mereka.
"Kalau takut ya ngapain nonton gitu" ucap Louis yang duduk dibelakang mereka. Kemudian ia menoleh ke kirinya, menatap Kevin yang tengah melebarkan selimutnya dan memangku laptopnya.
"Gua males menanggapi Lo" Kevin akngsung berucap seperti itu karena sebenarnya ia sudah melihat Louis duluan. Ia memiliki firasat jika Louis juga bosan, dan berniat untuk mengajaknya.
"Jahat ya Lo"
Beberapa jam kemudian....
Perjalanan panjang yang cukup melelahkan.
Akhirnya mereka bisa turun dari pesawat. Terpaan angin yang berhembus terasa hangat dikulit mereka. Olivia dan Valeria tersenyum ketika hembusan angin meniup rambut mereka.
Sebuah mini jet bus berwarna hitam berhenti didepan mereka. Seorang pria keluar dari sana dengan pakaian kasualnya. Ia tersenyum lebar ketika melihat mereka.
"Welcome to Florida everyone" ucapnya.
Seorang pria ikut turun dari dalam mini jet bus itu dengan kerutan didahinya. "Kenapa kalian mendarat disini? Kenapa ga ke belakang mansion!? Apa tak ada yang memberitahu kalian?" Gerutu Felix.
"Sudah-sudah tidak apa-apa kok. Ayo masukkan bawaan kalian" ajak Zen dengan ramah.
Kemudian mereka memasukkan koper serta bawaan lainnya ke dalam bagasi bus dengan dibantu petugas bandara lainnya. Karena setelah mereka melihat mobil itu memiliki lambang Cortez, mereka akan langsung berdatangan untuk membantu.
"Okay, sudah selesai. Ayo naik" ujar Zen dengan senang.
"Yeaayy.... Aku mau duduk di depan! Boleh tidak?" Pinta Sena.
"Tentu. Ayo"
Didalam bus, hanya terdapat 2 bangku untuk setiap barisan. Jadi Kevin bersama Gavin, dibelakangnya ada Olivia dengan Louis, lalu Andro dengan Valeria. Dan didepan Kevin dan Gavin ada Zen yang duduk sendiri. Felix yang menyetir dan disampingnya ada Sena.
"Jadi kalian punya landasan pacu sendiri?" Tanya Andro dari belakang sana yang berhasil memecah keheningan.
"Iya, karena bandara itu terlalu sibuk. Jadi kami memiliki landasan pacu sendiri. Dan untuk parkir beberapa jet milik Axel dan Zen" jawab Felix.
Mereka mengobrol dari ujung ke ujung.
__ADS_1
Mini jet bus itu mulai memasuki pusat kota. Kelap-kelip lampu gedung dan beberapa papan iklan menghiasi kota dengan sangat indah. Setelah mereka keluar dari pusat kota, bus itu berbelok di persimpangan, jalan itu sangat sepi dan banyak pepohonan tinggi, lebih terlihat seperti hutan. Dan jalanan mulai menanjak.
"Kok jalannya serem?" Ujar Sena yang sedikit ketakutan.
"Yaa mau bagaimana lagi" sahut Felix seadanya.
"Uhh, takut. Ga mau duduk didepan! Kak Gavin!" Sena memekik ketakutan seraya menutupi matanya.
"Sena tenang. Itu bukan hutan. Itu adalah kebun apel dan jeruk" ujar Zen sambil mencondongkan tubuhnya kedepan.
"Kebun?"
"Iya. Nah coba lihat kedepan. Kita sampai.."
Mini jet bus itu mulai memasuki pagar besar yang diperkirakan memiliki tinggi 3 meter. Jalanan mulai terang. Taman indah disepanjang pekarangan. Bus ini sedikit berputar ketika melewati sebuah air mancur yang besar.
Mereka akhirnya sampai didepan mansion Cortez yang terlihat sangat megah. Mansion yang memiliki gaya Eropa ini berdiri megah dan mewah dengan beberapa pilar di pintu masuknya.
Mereka keluar dari bus bersamaan. Para butler berdatangan untuk membantu menuruni koper mereka.
Terperangah? Terkejut? Termenung? Ya, itu bisa mereka rasakan ketika menatap mansion ini. Jika dibandingkan, mansion ini seperti 5 kali lebih megah dari pada mansion Gavin dan Kevin.
Apa Yuki memang berasal dari sini? Pertanyaan itu muncul dari benak mereka.
"Ayo masuk. Welcome to our mansion" ujar Zen yang menarik Gavin masuk.
Yang lainnya hanya mengikuti langkah kaki Zen. Entah ia akan membawa mereka kemana. Saking kagumnya, Kevin bahkan tak bisa melepas tangan Sena.
Mereka akhirnya berdiri didepan pintu mansion yang megah ini. Zen berdiri dan lampu di atas pintu itu berkedip-kedip. Lalu pintu itu terbuka otomatis setelah beberapa detik Zen berdiri di depan pintu. Face scanner, itu yang mereka gunakan untuk mansion ini.
Ketika memasuki mansion, hal pertama yang akan mereka lihat adalah sebuah lukisan cantik yang menggambarkan sepasang kekasih yang sedang saling merangkul, dengan 2 bocah laki-laki di depan sepasang kekasih ini dan si perempuan yang nampak tengah hamil besar.
Perempuan itu mirip sekali dengan Yuki. Benar-benar sangat mirip. Yang berbeda mungkin hanyalah warna rambut mereka. Di lukisan ini gak ada Yuki, apa wanita yang tengah mengandung itu ibunya?
Zen tersenyum ketika melihat mereka yang memandangi lukisan itu dengn kagum. "itu keluarga kami" ucapnya pelan.
Gavin menoleh dan menyentuh gambar wanita cantik itu. "Ini bunda yang tak pernah Yuki ceritakan?" Tanya Gavin.
"Iya. Ini ayah kami. Kak Axel dan Yuki beruntung menuruni rambut blonde cerah milik ayah kami. Tapi aku lebih beruntung karena bisa menuruni rambut coklat milik bunda kami" ucap Zen sedikit sendu.
"Ah iya, dan ini kak Axel dan aku. Imut sekali kan..." Ucap Zen lagi, tapi dengan ekspresi yang berbeda.
"Ayo ayo. Silahkan lewat sini" Zen berjalan ke arah kanan. Olivia, Valeria, dan Kevin masih mengikuti langkah kaki Zen yang entah mau membawa mereka kemana. Tapi Gavin masih memandangi lukisan itu. Dan Andro yang bingung, kenapa kejalan itu? Ia penasaran dengan jalan kesebelas kirinya
"Disebelah sana ada apa?" Tanya Andro yang datang menghampiri Zen.
"Hum, kalau kesana adalah jalan menuju kenyasaran...." Jawab Zen yang meniru suara pahlawan super favoritnya.
"Jangan bercanda" ketus Kevin.
"Hehehe.. iya iya. Kalau kesana ada pintu masuk ballroom. Kalau kesini lift. Apa kalian mau naik tangga ke lantai 4?" Ujar Zen yang tak lagi main-main.
"Lift aja. Capek tau" sungut Olivia.
"Baiklah lewat siniiiii...." Zen kembali menarik Gavin. Kenapa Zen jadi senang dekat-dekat dengan Gavin? Gavin jadi risih sendiri.
Didepan lift, terdapat tangga yang megah. Hm, jadi ini yang dimaksud Zen tadi. Tinggal pilih, mau naik tangga atau naik lift.
Setelah menaiki lift, mereka akhirnya keluar di lantai 4, lantai tujuan mereka. Dan ternyata ada Nancy yang sudah menunggu mereka. Nancy berpakaian formal lengkap dengan jas dan rok span yang menutupi lututnya. Nancy berdiri bersama dengan para maid di belakangnya.
__ADS_1
"Selamat datang di mansion utama Cortez. Semoga anda sekalian nyaman selama tinggal disini" ujar mereka bersamaan sambil membungkuk.