Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
47. come to see my girl


__ADS_3

Setelah makan besar, mama Andro kembali menghampiri Gavin di kamarnya. Ia memang mengizinkan Andro, Gavin dan Louis untuk tinggal disini selama menempuh kuliah mereka dinegeri ini.


Kota yang menjadi tempat kelahiran Clara Lirenshi. Kota yang indah. Setiap sudut dan gedung kota ini begitu memanjakan mata. Takkan bosan jika seseorang terus berkeliling mengitari kota ini.


Itulah alasan Clara tak menjual rumah peninggalan orang tuanya. Hanya rumah ini yang menjadi kenangan. Dan lembaran baru bersama orang-orang baru yang selalu tersenyum padanya tak pernah ia lewatkan.


Tok tok tok


"Vin, ini Tante. Can I come in?" Ucap Clara dari depan pintu kamar Gavin.


Tak lama setelah itu, Gavin membuka pintunya dan sedikit menyingkir. Clara tersenyum dan masuk. Wanita itu duduk di kursi belajar Gavin dengan senyuman.


Lalu tak disengaja, matanya kini menemukan bingkai foto seorang gadis berambut blonde cerah dengan mata biru yang sedang merangkul Gavin. Bingkai foto itu diletakkan dimeja belajar Gavin.


"This is the Cortez princess?" Tanya Clara.


"Yes, she is. Cantik bukan?" Ujar Gavin sedikit menunduk.


"Sangat. Kecantikan yang tiada taranya. Apa dia belum sembuh?"


Gavin semakin menundukkan kepalanya sebelum menggelengkan kepalanya. Tangannya kembali meremas celananya sendiri.


"Belum. Padahal aku selalu menghabiskan semua hari liburku untuknya" jawab Gavin dengan suara parau seperti ingin menangis.


"Kau selalu menanyakan kabarnya?"


"Tidak. Aku pasti akan langsung datang ketika libur panjang tiba"


Clara mengangguk mengerti. Ia menyenderkan punggungnya pada senderan bangku. Kepalanya mulai berpikir.


Ide cemerlang akhirnya datang pada ibu beranak satu itu. Clara mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor kontak seseorang disana. Clara menyentuh tombol berwarna hijau itu dan diberikannya pada Gavin.


"Here. Bicaralah dengannya dan tanyakan dia" ujar Clara.


Calling Axelerious Cortez....


Eh?


Gavin segera menerima ponsel itu dan menempelkannya pada telinganya.


"Are you sure? Aku takut mengganggu" tanya Gavin ragu dan ingin memberikan kembali ponsel itu.


"Percayalah. Insting seorang ibu tidak pernah salah"


Gavin terkejut ketika mendengar suara dari ponsel itu. Gavin menggenggam ponsel itu dengan gemetaran dan sedikit tersenyum.


"Ini Gavin, kak. Aku, ingin tahu keadaan Yuki sekarang itu saja. Dan maaf telah mengganggumu istirahat"


"....."


"A-apa? Apa yang kau katakan? Apa ini sungguhan? Yuki... Dia..!?"


"...."


"Baik, terimakasih kak"


Gavin tersenyum lebar dan menatap ponsel itu seolah tak percaya. Kening Clara bahkan sampai mengkerut melihat Gavin yang memucat dan sedikit berkeringat.


"Aku harus ke Florida sekarang! Dia! Yuki! Sudah sadar dari koma! Aku harus pergi sekarang! Aku akan mencari pasporku dan langsung pergi" ujar Gavin bersemangat.


Insting ibu tak pernah salah. Gavin harus akui bahwa itu sangat hebat.


Clara berdiri dan langsung mengecek ponselnya. Dia langsung tersenyum ketika menemukan sesuatu yang akan membantu Gavin kali ini.


"Ada tiket pesawat yang benar-benar kebetulan! Tiket ini menuju Florida. Tapi akan transit dulu di Hollywood Kau tak keberatan?"


"Apa itu berangkat sekarang?"


"Berangkat jam 11. Itu artinya masih ada 2 jam lagi kan? Sana pergilah. Aku yang akan mengurus tiket pesawatnya. Dan bawa Andro bersamamu"


"Terimakasih Tante! Andro!!!!!!" Pekik Gavin sambil berlarian Keluar kamarnya.


BRAK!


Gavin membuka kasar pintu kamar Andro dengan semangatnya yang sudah membara. Andro yang sedang bermain play station bersama Louis sampai terlonjak kaget dengan aksi mengejutkan Gavin.


"Yuki udah sadar dari komanya!" Ucap Gavin..


Andro dan Louis langsung berdiri dengan raut wajah terkejut. Keduanya berjalan mendekati Gavin.


"Andro, temenin gua ke Florida sekarang. Gua harus bertemu Yuki" ucap Gavin serius.


"Now? Woi! Disini ga ada jet pribadi. Lo mau naik pesawat biasa?" Tanya Louis.


"Ada pesawat yang berangkat 2 jam lagi. Kurasa tak ada masalah kan?" Ucap Clara yang sudah berdiri di ambang pintu

__ADS_1


"Ma, sebentar lagi ada sidang wisuda. Jangan bercanda deh" ujar Andro.


"Hem, tunjukkan kalau kau menjalin hubungan persahabatan yang erat dan tulus, nak" ucap Clara pada anak semata wayangnya.


Andro pasrah. mamanya sekarang terasa seperti teman.


"Mama benar. Cepat siap-siap. Bawa baju beberapa saja. Kita takkan lama disana. Ingat itu Vin. Setengah jam waktu mu untuk membereskan barang bawaan. Begitu juga denganku. Dan kau Louis, antar kami ke bandara" ucap Andro yang langsung merubah pikirannya.


"Thanks Ndro"


40 menit kemudian...


Tin tin tin......


"Uwoooohhhhh..." Pekik Louis yang sedang menyetir dan baru saja menghindari sebuah truk besar yang melaju dari arah yang berlawanan.


"Louis! Lo gila hah! Hati-hati! Lo bisa bawa mobil ga sih?" Marah Andro yang terus berpegangan pada pegangan yang ada diatas pintu mobil.


"Lo juga sih rese! Jangan panik! Gua juga ikutan panik" balas Louis sambil mengeratkan pegangan pada roda kemudinya.


"Udah woi tenang!" Ucap Gavin dengan suara berat.


"Hah, kalian berdua ga ada yang benar"


🌸🌸🌸


Florida, 4.43 p.m.


Gavin berjalan dengan tidak sabaran sambil menggerek kopernya. Andro pun hampir tertinggal. Bukan setengah berlari lagi, tapi Gavin sudah berlari kencang tidak karuan. Berulang kali roda kopernya sampai mengangkat hingga tak menyentuh tanah. Mungkin karena saking entengny koper itu.


Andro yang tertinggal dibelakang pun terus berlari sekuat tenaga karena Gavin kini sudah tak ada di pengelihatannya.


"Woi Gavin! Lo dimana sih!?" Pekik Andro yang sudah keluar dari bandara.


Tin tin..


Sebuah taksi berhenti dihadapannya. Kaca pintu belakang taksi perlahan turun dan menampilkan Gavin yang sudah didalam. Tapi, sejak kapan?


"Naik. Cepat"


Andro dengan cepat membuka pintu taksi itu dan langsung masuk. Dengan 2 buah koper itu sedikit merepotkan saat duduk di taksi yang tidak terlalu besar ukurannya.


"Kemana saya harus mengantar anda tuan-tuan sekalian?" Tanya pak supir.


"Ke mansion Cortez tolong" ucap Andro yang masih sedikit terengah-engah.


Ketika sedikit lagi akan sampai di tujuan mereka, pak supir sedikit memelankan laju mobilnya dan mengintip Gavin dan Andro dari kaca kecil.


"Maaf, saya baru ingat. Saya hanya bisa mengantar sampai gerbang utama. Apa anda tidak keberatan?" Tanyanya dengan sopan.


"Iya. Tak apa. Lajukan saja mobilnya dengan cepat" jawab Andro.


"Baik tuan terimakasih"


Pak supir kembali menaikkan kecepatan sedikit lebih cepat dari yang sebelumnya. Untunglah mereka sudah memasuki kawasan perbukitan jadi jalanan tidak semacet saat saat dipusat kota.


Tak lama kemudian, taksi itu kembali mengentikan rodanya. Andro melirik nominal uang yang harus dibayarnya. Tangannya merogoh beberapa lembar uang dari dompetnya dan diberikannya pada pak supir. Sedangkan Gavin sudah mengeluarkan koper mereka dan menunggu diluar.


Mata hitam pekat itu menatap gedung mansion yang berdiri lumayan jauh dari pagar besar ini. Seorang pria berbadan besar dengan pakaian serba hitam datang sambil berlari menghampiri mereka.


"Tuan Gerald? Silahkan masuk. Saya yang akan membawakan koper Anda" ujarnya formal.


Tuan Gerald. Gavin sebenarnya sangat tidak suka dengan panggilan itu.


Pria itu mengambil alih kedua koper yang Gavin bawa dan mempersilahkan keduanya masuk kedalam.


"Saya tahu anda ingin bertemu nona besar. Tolong jangan tergesa-gesa dan bersikaplah tenang. Didalam ada tuan Alvaro, jadi berusahalah untuk bersikap tenang" kata pria itu seolah memperingatkan.


Gavin mengangguk dan mempercepat langkahnya. Begitupun dengan Andro, dia juga harus mempercepat langkahnya agar tak ketinggalan langkah Gavin yang begitu besar.


Mereka berhasil masuk kedalam berkat bantuan 2 orang bodyguard yang memang sedang berjaga didepan pintu masuk.


Gavin kembali mempercepat langkahnya saat pintu lift terbuka. Gavin sampai seperti setengah berlari sekarang. Hentakan kakinya begitu terdengar dan sedikit menggema di sini.


Brak!


Gavin mendorong dua belah pintu itu bersamaan. Nafas yang terengah-engah dengan keringat yang terus mengalir dari dahinya.


Gavin memperhatikan gadis itu. Perlahan Gavin melangkah maju dan mendekat. Matanya menangkap gadis itu yang tertidur tenang. Wajahnya yang pucat masih sama seperti beberapa tahun silam. Tiang infus yang berdiri masih belum dipindahkan.


Apa Yuki benar-benar sudah siuman dari koma?


Gavin duduk di tepi kasur. Tangan kanannya berada di samping wajah Yuki. Gavin mendekatkan wajahnya pada wajah Yuki. Tapi tiba-tiba, ekspresi Yuki jadi aneh. Ia terlihat seperti menahan nafas.


Dengan iseng, Gavin memencet hidung Yuki hingga sang pemilik hidung itu tak bisa bernafas sedikit pun.

__ADS_1


"Happpuuuuaaahhhh....." Yuki membuka matanya ketika Gavin melepaskan tangannya.


Yuki mengelus hidungnya yang sedikit kemerahan dan menatap Gavin. Gadis ini tersenyum manis sekali.


"Hei. Surprise... Apa kau terkejut?" Ujar Yuki pelan.


Gavin bukannya menjawab, tapi malah ia mengeluarkan air matanya. Gavin menangis tersedu-sedu hingga air matanya terjatuh mengenai wajah Yuki. Yuki tersenyum dan sedikit terkekeh. Tangan mungilnya mengelus pipi Gavin lembut.


Andro datang menghampiri mereka. Dia langsung membantu Yuki agar bisa duduk tegak dengan sandaran sebuah bantal di punggungnya.


"Kau tahu, saat dijalan, pria ini begitu heboh" ucap Andro sambil mengelus rambut Yuki.


"Ahahahaha... Kulkas berjalan heboh dijalan? Aku tidak percaya" ucap Yuki terkekeh.


Direngkuhnya tubuh kecil Yuki. Gavin kembali menangis dalam pelukan. Air mata mulai membanjiri bahu Yuki. Yuki mengelus punggung lebar itu.


"Kau tidak perlu menangisi ku lagi. Sejak kemarin semua orang sudah menangisi ku. Aku tak ingin melihat air mata lagi"


"Jadi, kapan kau siuman?" Tanya andro antusias.


"Kemarin sore. Hei Vin, apa yang sedang kau lakukan kemarin sore?" Tanya Yuki.


Gavin melepas pelukannya dan menatap Yuki dengan lekat. Tangan Yuki kembali mengelap air mata Gavin dengan selimutnya.


"Kemarin, aku mendapat kabar kalau aku akan ikut sidang wisuda bersama Andro" ucap Gavin.


"Apa!? Wisuda?"


🌸🌸🌸


9.25 p.m.


Klak


Pintu mobil hitam itu terbuka. Kaki sebelah kanan pria itu lebih dahulu menginjak tanah, kemudian baru disusul dengan kaki kirinya. Tangannya menenteng sebuah tablet yang memang selalu ia bawa kemanapun.


Pria itu berjalan lurus dan berhenti didepan pintu. Pintu itu mengeluarkan cahaya yang ada di bagian atasnya. Tak sampai lima detik, pintu itu terbuka otomatis karena sudah melalui proses scanner wajah dari pria itu.


Pria itu kembali berjalan memasuki lift ditemani oleh seorang pelayan laki-laki. Ketika pintu lift terbuka, pria itu kembali melangkahkan kaki jenjangnya dan langsung terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Wow


Baru saja ia memberi kabar pada orang itu kemarin malam soal keadaan adiknya. Orang itu sekarang sudah duduk di meja makan bersama adik lelakinya dan adik angkatnya.


"Kapan kau tiba?"


Gavin menoleh dan sedikit tersenyum. Dapat Axel lihat, Gavin memiliki kantung mata yang agak menghitam dan raut wajah yang kelelahan. Apa dia begitu stress ditempat kuliahnya?


"Tadi sore. Sebenarnya kami sedang menunggu mu pulang untuk makan malam bersama. Tapi, kau terlalu lama sampai. Jadi kami makan duluan" ucap Gavin panjang.


Gavin berbicara panjang? Wow. Andro saja bahkan sampai melongo dan menurunkan kembali sendok yang akan ia masukan kemulutnya.


"Tak masalah. Aku juga su---"


"Kakak! Kau pulangnya telat sekali" ujar seorang gadis dari belakang Axel.


Axel tersentak dan langsung membalikkan tubuhnya. Ternyata itu adik tercintanya. Yuki yang duduk di kursi roda dan ada Nancy yang mendorong kursi roda itu dibelakangnya.


Axel tersenyum dan berjalan menghampiri adiknya. Pria ini berlutut didepan sang adik agar posisi tinggi mereka sejajar.


"Kenapa kau belum tidur? Kau harus istirahat penuh agar bisa pulih sepenuhnya, kan?" Tanya Axel lembut.


"Aku ingin makan malam bersama. Apa kau sudah makan malam?"


Axel terdiam sejenak. Kembali berpikir, jika ia bilang sudah makan, apa adiknya akan kecewa? Atau Axel harus berkata sebaliknya? Takut mengecewakan adiknya lagi, Axel akan berbohong.


"Kakak belum makan kok. Kita makan sama-sama ya"


Axel akhirnya berbohong!


Yuki tersenyum. Gadis ini merentangkan tangannya sambil tertawa kecil. Axel sampai menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah lucu adiknya.


Benarkah ini adiknya yang sudah berusia 20 tahun?


Axel mengangkat tubuh adiknya dan menggendongnya. Nancy dengan dengan cepat menarik kursi meja makan untuk Yuki. Tempat khusus Yuki yang berada di sebelah kanan Axel. Perlahan Axel mendudukkan Yuki dikursi. Pria ini tersenyum tipis dan duduk ditempatnya.


"YUKI HILANG!!" Pekik seorang pria yang berdiri di atas tangga. Matanya yang membelalak dengan nampan yang diatasnya ada sebuah mangkuk.


"Alvaro, apa yang kau katakan? Konyol sekali" ejek Axel.


"Sudah kubilang bahwa Yuki hilang! Cepat keluarkan semua penjaga dan periksa cctv!" Ujar Alvaro serius sambil menuruni tangga dengan kepala tertunduk.


"Lalu, siapa yang duduk disini?" Tanya Axel.


Alvaro menghentikan langkahnya setelah tidak menginjak tangga lagi. Kepalanya terangkat dan langsung terkejut.

__ADS_1


"Loh? Sejak kapan Yuki disitu?"


Alvaro panik tak beralasan. Yasudah lah kita tinggal saja.


__ADS_2