Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
23. Bandara


__ADS_3

"*Aku tak mau menjawab"


Eh!?


🌸🌸🌸*


Yuki tetap berdiri membelakangi Gavin. Ada apa ini? Apa Yuki enggan untuk kembali ke sini? Gavin jadi makin bertanya-tanya. Tangan Gavin terulur dan menggenggam lengan Yuki.


"Jangan seperti ini lagi ki. Gua ga ngerti" ujar Gavin memelas.


"Aku ga bisa buat keputusan kayak gitu sekarang" jawabnya.


Apa itu artinya?


Axel turun kebawah dengan wajah yang tak berekspresi seperti biasa sambil menenteng sebuah tas ransel berukuran sedang. Dia berjalan ke arah Yuki dan Gavin.


"Kita pergi sekarang yuk. Udah jam 10 nih" ucapnya. Yuki mengangguk dan berbalik menghadap Gavin. Yuki memeluknya dengan erat kali ini.


"Bye Vin"


Gavin membalas pelukan hangat Yuki. Jujur. Gavin sepertinya takut kehilangan Yuki. Yuki hilang beberapa hari saja sudah cukup membuatnya berdebar bukan main. Setelah beberapa saat, mereka melepas pelukannya dan Yuki mengambil tasnya kemudian pergi keluar sambil menggandeng tangan Axel. Mereka seperti pacaran. Menurut Gavin.


"Varo"


"Ya?" Jawab Alvaro yang hendak keluar rumah untuk mengeluarkan mobil


"Aku sudah pesan taxi. Kau tak usah mengantar. Istirahat saja dirumah. Kau kan harus menghandle semua kerjaan Zen besok" ujar Axel tanpa senyuman lagi.


"Fine. Pulang sana" usir Alvaro dengan senyuman lebar.


"Kau mengusir kami?" Ujar Yuki sedih. Alvaro terkekeh.


"It's not for you my little sister. It's for this bastard" jawabnya sambil terkekeh lagi.


"You call me bastard?" Axel kesal.


"Nope"


"I hear you clearly. Don't avoid me."


"I'm not!" Alvaro terus mengelak.


Axel mengeluarkan tatapan tajamnya yang menusuk. Oh astaga. Bikin merinding.


"Yup. Okay fine sorry. Go away now!" Alvaro tak jadi mengajak Axel bergurau.


"Kaku banget sih" gerutu Alvaro.


"Ahahahahahahaha..." Yuki tertawa terbahak-bahak melihat kedua kakaknya bertengkar di depan pintu. Jika mereka terus bertingkah, kapan Yuki dan Axel akan berangkat.


"Lo yang nyebelin disini" Gerutu Axel.


"Stop it.." ujar Yuki.


"Katakan itu pada orang yang ada dihadapan ku ini" ujar Alvaro sambil bersedekap angkuh.


"Bercermin dulu sebelum kau berkata seperti itu. Disini kau yang salah" timpal Axel.


"Bullshit!" Balas Alvaro.


"Wha--"


"Berhenti mengatakan hal yang omong kosong"


Axel mulai jengah.


"Hentikan kalian berdua!" Yuki mulai kesal.


"Hei, katakan itu pada orang di depanmu" ujar Axel.


"Heh, hei! Cepat minta maaf padaku" lanjut Axel.


"Kau yang mulai duluan! Kenapa aku yang harus minta maaf" sanggah Alvaro.


"Kau yang memulainya.." ucapan Axel terpotong.


"Bukankah kau yang mulai?"


Ohh, Mereka mulai lagi.

__ADS_1


"Okay fine. Kita lanjut pertengkaran ini kapan-kapan ya. Bye kak Al. Bye Vin"


Yuki cepat-cepat menarik lengan Axel agar mereka bisa pergi. Bisa memakan waktu lama jika mereka terus bertengkar seperti tadi.


Pertengkaran sederhana yang biasa dilakukan oleh kedua orang ini. Tak memandang atasan dan bawahan. Tak memandang siapa yang lebih tua. Tak memandang siapa yang di panggil 'kakak'. Kedua orang ini terus akan bertengkar hingga salah satu di antara mereka ada yang menengahi secara paksa. Kalau tidak, maka pertengkaran akan terus berlanjut hingga berjam-jam lamanya. Hal ini sudah pernah terjadi. Bahkan kalau Alvaro sedang kumat ingin meledek Axel, kejadian ini akan sering terjadi.


Yuki dan Axel dengan cepat memasuki taxi yang sudah lama menunggu dan langsun berangkat dengan cepat. Tentu saja agar tak terlambat waktu keberangkatan pesawat.


"Ahh, mereka sudah pergi" ujar Alvaro sedikit melamun.


"Vin?"


"Hm?"


"Ingin menginap lagi?"


"Besok sekolah"


"Tenang. Aku antar lebih pagi biar kamu bisa merapihkan buku sekolahmu besok"


"Jangan bilang kalau lu kesepian kak" ledek Gavin.


"Ck, no. Never." Ketus Alvaro.


🌸🌸🌸


Setibanya Axel dan Yuki di bandara, mereka langsung bergegas turun dan Axel juga langsung membayar tagihan taxinya. Kemudian, mereka mendapati Valeria, Louis dan Andro disana. Dengan sedikit berlari, Valeria menghampiri Yuki kemudian memeluknya.


"Vale? Kok ada disini?" Tanya Yuki karena terkejut.


"Tadi Gavin bilang, katanya kamu mau pergi ke luar negeri malam ini. Jadi kita mau ketemu kamu--" ucapan Valeria terpotong.


"Katanya Valeria takut kangen sama Lo Ki" ujar Louis.


"Louis!" Pekik Valeria.


Yuki tertawa kecil kemudian menggenggam tangan Vale dan menatapnya.


"Aku juga bakalan kangen sama kamu Vale"


"Uunncchh.. love you, honey" Valeria Senang.


"Ayo Ki. Katanya mau beli celana panjang dulu" ujar Axel.


"Celana panjang untuk apa?" Tanya Andro spontan.


"Disana lagi turun salju. Aku tadi lupa ganti baju. Aku malah pakai dress. Tapi untungnya, aku udah pakai boots yang senada sama dress-nya" tutur Yuki.


"Lalu mantelnya?" Tanya Louis.


"Bawa kok"


"Yaudah, aku temenin aja yuk" ujar Valeria semangat.


"Oke"


"Kakak tunggu di gate ya" ujar Axel sedikit keras.


Lalu kedua gadis ini pergi meninggalkan mereka. Andro sebenarnya ingin ikut, tapi ia takut kalau Yuki dan Vale akan bergi ke toko pakaian dalam wanita. Di dalam toko pakaian wanita itu pasti ada aja toko pakaian dalamnya, itu membuatnya canggung. Karena Andro pernah mengalaminya saat mengantar valeria berbelanja. Huh, kapok, tidak lagi deh.


"Terus kita gimana?" Tanya Louis


"Makan aja yuk. Laper nih" jawab Andro.


"Oke. Kabarin Valeria. Kak Axel mau ik-- ehh? Kak Axel mana!?" Louis gelagapan karena menyadari Axel sudah tak bersama mereka.


"Udah pergi tadi pas tuh gadis-gadis pergi"


"Yahh.."


"Yaudah sih berdua aja"


"Cuss...."


🌸🌸🌸


Kini Yuki dan Valeria telah menemukan hal yang mereka cari sejak tadi. Tujuan awal yang hanya untuk membeli celana, mereka jadi kebablasan belanja banyak. Bahkan Yuki tak lagi memakai dressnya. Dia membeli blouse bermotif bunga dan celana panjang berwarna coklat muda. Valeria juga jadi ikut-ikutan belanja dengan Yuki.


"Nah kan kalo begini aman Ki" ujar Valeria.

__ADS_1


"Iya. Aku jadi harus beli tas juga untuk membawa belanjaan" sahut Yuki.


"Pokoknya nanti kita harus adakan 'girls time'" lanjut Yuki.


"Girls time? Kita harus ngapain?" Tanya Valeria bingung.


Yuki mengernyitkan dahinya. Bingung. Kenapa Vale bertanya seperti itu. Yuki jadi diam sejenak. Ahh, iya! Yuki ingat, Valeria kan sedikit tomboy. Pantas saja dia bertanya seperti itu. Teman mainnya sejak kecil saja cowo, ya siapa lagi kalau bukan Gavin dan Andro. Ya, mereka berteman sejak kecil. They were a childhood friends. Manis sekali Valeria ini.


"Iya kita bisa jalan - jalan, Ke salon, belanja, dan itu tanpa adanya cowo" tutur Yuki.


"Hm, boleh juga tuh!"


"Nanti kita bisa ajak Olivia"


"Ide bagus!"


Yuki dan Valeria berjalan menuju gate yang tadi di maksudkan oleh Axel. Setibanya disana, Axel sudah menunggu lama adiknya yang tak kunjung datang.


Jengkel, tapi sayang. Entah mau sampai kapan adiknya ini berbelanja. Axel terkejut dengan apa yang dibawa oleh Yuki. Awalnya Yuki pamit untuk membeli leging atau celana karet, tapi sepertinya Yuki malah memborong sampai 1 tas berukuran sedang. Yah, tak apa lah. Yang penting Yuki senang. Membiarkan Yuki berbelanja sedikit saja takkan membuat Axel bangkrut. Bahkan, ia bisa saja membelikan 1 toko bila perlu. Tapi itu gila, dan pemborosan.


"Cepatlah swetty. Pesawatnya berangkat sekarang" ujar Axel.


Setelah mendengar ucapan Axel, Yuki berlari terburu-buru menghampiri Axel dan ia langsung menggandeng tangan kakaknya itu kemudian berbalik sedikit.


"Bye - bye Valeria!!" Yuki melambaikan tangannya tinggi-tinggi.


"Bye honey!" Pekik Vale.


Cepat pulang ya. Baik-baik disana. Batin Valeria.


Valeria terus menatap Yuki hingga perlahan-lahan Yuki hilang dari pandangannya. Ingin sekali Valeria menahannya agar tak pergi, tapi Valeria tak bisa melihat Yuki terus menderita saat melihat Zen. Biarkan dia menenangkan diri terlebih dahulu.


Saat Valeria sedang sibuk memikirkan Yuki akan kembali atau tidak, Yuki dan Axel terus berlari. Seperti sedang dikejar hantu. Banyak pasang mata yang melihatnya, namun tak aneh jika seseorang terburu buru di dalam bandara. Mereka sudah tahu jawabannya. Ya, mereka mengejar waktu keberangkatan pesawat. Tak aneh bukan?


Saat sampai di pintu masuk, Yuki terperangah dengan apa yang dilihatnya sekarang. Sebuah karpet merah tergelar dilantai dan banyak pramugari cantik yang sedang berbaris dan membungkukkan diri mereka saat Yuki dan Axel datang.


"Selamat datang di penerbangan kami tuan dan nona Cortez" ujar para pramugari bersamaan.


"Terimakasih. Bisa kita masuk sekarang" jawab Axel dengan penuh kebijaksanaan tanpa melepas genggaman tangan Yuki.


"Tentu tuan, silahkan lewat sini. Saya Garriel pramugara disini akan memandu anda tuan dan nona Cortez. Mari lewat sini" ujar seorang pramugara yang kelihatannya sangat profesional.


Yuki dan Axel pun berjalan masuk kemudian Axel mengeluarkan 2 tiket pesawatnya untuk di scan. Pramugara tersebut memandu Yuki dan axel masuk ke dalam pesawat. Banyak penumpang yang bertanya-tanya dengan perlakuan khusus yang didapat kedua orang ini. Ya abaikan itu.


Yuki dan Axel duduk di kursi yang cukup nyaman dan ini paling depan, dan tentu saja mereka duduk berdampingan. Padahal, di dalam tiket, Yuki mendapat kursi nomor 10 dan Axel mendapat nomor 13.


"Hei, kak. Apa yang kau lakukan?" Bisik Yuki pelan pada Axel.


"Apa maksudmu?" Tanya Axel tak mengerti.


"Karpet merah itu, para pramugari dan kursi ini. Kau yang merencanakannya kan? Aku kan sudah bilang, jangan sampai kita jadi mencolok"


"Bukan aku yang melakukannya. Mungkin Alvaro"


"Huhh, rese" Yuki menggerutu.


"Sudahlah, tak apa" Axel berusaha menyentuh kepala Yuki, tapi Yuki menghindar.


"Hei hei apa yang kau lakukan? Kau menghindari ku?" Ledek Axel.


"Tidak. Wleekk" Yuki tersenyum dan menjulurkan lidahnya. Yuki dan Axel terus saja bercanda.


"Tes tes.." tiba-tiba suara speaker aktif. Sepertinya pesawat akan berangkat.


"Oke, baiklah. Selamat datang di penerbangan kami. Terimakasih telah menggunakan layanan Greenedy air. Saya, Peter Crouch, akan menjadi pilot pada penerbangan anda kali ini. Penerbangan malam ini akan menuju Florida dengan memakan waktu sekitar 15 jam perjalanan. Silahkan pasang sabuk pengaman anda karena pesawat akan segera terbang" ujar pilot itu.


"Kak, pasangin dong" ujar Yuki.


"Huh, kamu ini. Manjanya ga inget tempat" Yuki terkekeh.


"Ah ya. Dan saya ucapkan selamat datang pada tuan dan nona Cortez. Suatu kehormatan yang besar bagi saya untuk menjadi pilot anda pada penerbangan kali ini. Sekian terimakasih" lanjut pilot itu.


"Mereka terlalu banyak berterimakasih" gerutu Yuki.


"Memangnya kenapa?"


"Seharusnya kan kita yang berterimakasih karena mereka sudah menunggu kita tadi"


"Hm, kau benar. Bagaimana jika kita berterimakasih saat kita sudah mendarat nanti" tawar Axel.

__ADS_1


"Baiklah. Ide bagus kak"


__ADS_2