
"jadi, gimana hari pertama Lo sekolah?" Tanya Louis sambil menyesap jus jambu miliknya.
Kevin langsung tersenyum lebar. Ingin sekali rasanya ia berteriak saking senangnya. Tapi jika dihadapan Gavin, ia tak bisa. Nyalinya menciut jika Gavin telah menatapnya tajam. Senyuman lebar Kevin langsung luntur ketika tubuhnya merasa merinding mendadak.
"Seru" jawab Kevin singkat dan datar.
Louis mengangkat satu alisnya dan menatap Kevin dengan heran. "Kau yakin hanya itu? Maksud ku, hanya dengan 1 kata?"
"I-iya... Memangnya harus seperti apa aku menjawab?" Tanya Kevin gugup.
Dreeek..
Gavin mendorong kursinya kebelakang dan berdiri. Sontak Valeria memasang wajah marah ketika ia baru saja datang dengan makan siang mereka hari ini.
"mau kemana? Kamu tidak boleh meninggalkan makan siang. Gua tahu kalau Lo ngelewatin sarapan hari ini. Duduk sekarang!" Ucap Valeria sedikit menyentak.
Gavin duduk kembali dengan wajah suram. Kemudian Valeria membantu pelayan kantin untuk menaruh semua makanan mereka. Gadis ini duduk dengan mendengus kesal.
Semenjak kepulangan mereka dari Florida 3 hari yang lalu, Gavin bersikap lebih dingin dari yang biasanya. Gavin juga lebih banyak diam dan terus memancarkan aura yang membuat semua orang dikelas mereka merinding.
Gavin benar-benar berubah menjadi kutub es yang tak dapat tersentuh. Level kulkas berjalan kini sudah musnah begitu saja. Tak ada pancaran kebahagiaan dari dirinya. Walau setitik pun tidak ada sama sekali.
Hidup Gavin sekarang benar-benar gelap.
Setelah 10 menit, Gavin telah menyelesaikan makannya lebih dahulu daripada teman-temannya. Gavin kembali mendorong kursinya kebelakang dan berdiri. Matany menatap Valeria yang masih memakan makanannya.
"Thanks for the meal" ucap Gavin sebelum pergi meninggalkan kantin.
"Kayaknya gua ga bisa satu kelas lagi deh sama Gavin" bisik Kevin ditelinga Andro.
Andro meletakkan sendoknya dan menoleh. "Lo bisa pindah ke kelas Louis besok" ujar Andro.
"Thanks"
🌸🌸🌸
4 bulan kemudian....
Ayah Gavin berjalan menaiki tangga dirumahnya dengan santai. Tangannya kembali meraba kantung saku celananya untuk memastikan benda yang telah ia sembunyikan sejak tadi tak tertinggal.
Tangannya mendorong kenop pintu itu perlahan. Bisa ia rasakan hembusan angin yang terasa begitu kencang. Matanya menatap langit biru yang begitu bersih. Kakinya melangkah maju dan berhenti di kursi yang memiliki payung besar disampingnya kemudian ia duduk dengan kaki kanan yang berada diatas kaki kirinya.
Tangannya merogoh benda kotak itu dari sisi celananya dan mengeluarkan isinya. Ia juga mengeluarkan pemantik api yang ada di saku kemejanya.
Ia akan merokok secara diam-diam di rooftop rumahmya sendiri.
"Jadi ini yang selalu membuat para pelayan membersihkan lantai rooftop setiap hari Senin?"
Ayah Gavin tersentak terkejut. Ia tak sengaja menjatuhkan rokok itu bersamaan dengan pemantiknya. Dia menoleh kesana kemari untuk mencari seseorang yang tadi terdengar suaranya.
Ternyata Gavin yang telah duduk di pojokan sana dengan memeluk lututnya. Ayah Gavin mengambil kembali rokok serta pemantik api lalu berjalan mendekati Gavin.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya ayahnya yang sedang berusaha menyalakan rokoknya.
"Entahlah"
"Kau menikmati musim semi?" Tanyanya lagi.
"Tidak sama sekali"
"Musim semi tahun depan kau akan mulai kuliah. Ada universitas yang kau incar?"
__ADS_1
"Aku ingin keluar negeri" ucap Gavin sambil menunduk.
"Kau akan meninggalkan Italia?"
Gavin terdiam. Kepalanya terangkat menatap langit cerah. Lalu ia menyender ke tembok. Matanya kemudian menatap mata ayahnya dengan sendu namun terasa sedikit tajam menusuk. Seolah mengerti, ayah Gavin tersenyum tipis.
"Terlalu banyak kenangan hangat yang kau rasakan disini. Ayah mengerti, nak"
Gavin mengangguk pelan.
"Sepertinya kau serius jika menghadapi hal berbau gadis itu. Apa kau begitu mencintainya sampai kau punya niatan ingin menikahinya?"
"Jika aku bisa menikahinya, kenapa tidak" ujar Gavin penuh percaya diri.
Ayah Gavin membelalak ketika mendengar penuturan Gavin. Terdengar seperti tidak memiliki beban.
"Ka-kau ya-yakin?" Tanya ayah Gavin sedikit tercekat.
"Ya"
"Hei, menikahinya bukanlah perkara yang mudah asal kau tahu saja. Kau tahu kan? Yuki adalah seorang nona besar keluarga terpandang. Jika di ibaratkan, kita ini hanya sebagai bangsawan biasa yang memiliki niat untuk melamar Puteri kerajaan. Apa kita bisa?"
Gavin mendesah pelan. Kemudian ia berdiri dan menatap ayahnya tajam.
"Bangsawan tetaplah bangsawan. Bangsawan akan naik derajatnya jika ia bisa meluaskan daerah jangkauannya. Itu yang akan aku lakukan. Ketika berhasil, aku akan melamarnya dihadapan sang raja. Dan sang raja akan tersenyum sambil menerimaku" jawab Gavin dengan serius.
"Jangan terlalu meremehkan anakmu sendiri. Kau terlalu banyak membandingkan ku dengan Kevin. Kevin memang anak pertama yang akan mewarisi perusahaan. Aku mengerti jika Kevin harus diutamakan. Tapi jangan sampai kau melupakan anakmu yang lain. Terutama Sena" lanjut Gavin dingin.
Ayah Gavin tertegun dengan penuturan Gavin. Benarkah ia selama ini sejahat itu? Bila dipikirkan kembali ke masa lalu, berapa banyak kata-kata jahat yang telah ia ucapkan pada Gavin ketika memarahinya? Belasan? Puluhan? Atau mungkin ratusan kali, sampai ribuan?
"Ma-maaf Vin. Maafkan ayah" ucap pria itu dengan perasaan bersalah yang baru saja ia sadari.
Dan tanpa mereka sadari, Kevin sudah menguping sejak tadi dari balik pintu. Sejak awal mereka mulai membicarakan Gavin yang akan pergi keluar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.
Kevin begitu tercengang ketika Gavin mengatakan bahwa ia merasa terus dibandingkan oleh ayahnya. Karena selama ini ia pikir hanya dia seorang yang mengerti jika ayah mereka memang tidak suka pada Gavin.
Tapi Kevin salah. Gavin berhasil menyembunyikan segalanya. Semua emosi, perasaan dan keinginan. Ia pendam sendirian tanpa bantuan siapapun.
Ternyata selama ini Gavin juga menyadari bahwa ayahnya memang tidak suka padanya. Jadi inikah yang membut Gavin terus bersikap dingin dan jarang tersenyum jika kumpul bersama keluarga? Jangankan kumpul, Gavin takkan kuat berkumpul dengan keluarganya yang lengkap lebih dari 10 menit.
"Maaf Gav. Maaf. Seharusnya gua ngomong masalah ini dari dulu sama Lo" ucap Kevin dalam diam.
🌸🌸🌸
Dihari-hari berikutnya, Gavin begitu bersemangat dalam hal belajar. Ia bahkan mengundurkan diri sebagai ketua tim basket yang sangat ia sukai. Gavin tak pernah terlihat lagi bermain basket. Menyentuh bola basket pun tidak sama sekali.
Gavin pun semakin menjauhi orang-orang. Ia hanya berkumpul dengan teman-temannya saat makan siang disekolah. Setelah itu, ia akan kembali menyendiri. Kumpul ditempat tongkrongan mereka pun tak pernah Gavin datangi lagi.
Semua kegiatan baru ia lakukan seorang diri. Mulai dari berangkat sekolah sendiri, sarapan di kantin sekolah sendirian, berjalan kesana kemari sendirian. Kecuali untuk malas siang, ia tak bisa menghilangkan kegiatan makan bersama teman-temannya.
Tempat yang paling sering ia datangi adalah taman dan perpustakaan kota. Musim yang selalu mendukungnya untuk keluar rumah. Matahari terus memancarkan sinarnya dengan cerah. Dan ketika weekend, Gavin biasanya akan pergi ke tempat gym atau hanya sekedar joging di sekitar rumahnya.
Semua serba sendiri.
Walau Kevin selalu membuat segala cara dan alasan untuk membuat kembarannya ini bahagia, tapi Gavin tetap menolaknya mentah-mentah. Bahkan Sena pun telah berulang kali merengek setiap kali Gavin menolak, keputusan Gavin memang sudah tidak bisa diubah. Sena jadi harus mengalah dan membiarkan kakaknya menyendiri dengan tenang.
Buku bacaan yang kini menjadi temannya.
Hanya itu.
Tiduran di rerumputan hijau yang ada dihalaman belakang rumahnya pun menjadi spot ternyaman saat ini. Gavin benar-benar sangat menikmati pancaran matahari.
__ADS_1
Dan ditempat lain, kembarannya sedang berjalan menyusuri trotoar seraya bersiul pelan. Kevin berhenti disalah satu cafe yang sudah lama mereka jadikan tempat tongkrongan. Tangannya mendorong pintu kaca itu dan masuk.
Bel terdenting ketika Kevin mendorong pintunya. Dilihatnya sudah ada Andro, Valeria, Louis dan Olivia. Owh, apa mereka sedang melakukan double date? Huhuhu.... Kevin jadi sedih jika mengingat dirinya yang masih menjomblo.
"Haruskah aku pulang sekarang?" Tanya Kevin yang sudah berdiri dihadapan mereka.
Valeria mengernyitkan keningnya bingung. "Lo ini kenapa sih?" Tanya Valeria.
"Habisnya, ngeliat kalian berpasangan begitu kan jadi iri" ujar Kevin sambil menarik kursinya kemudian duduk.
"Mana Gavin? Dia udah lama banget ga pernah kesini lagi" ujar Olivia mengalihkan pembicaraan.
"Dia lebih menghindar dari gue sejak hari itu" jawab Kevin sedih.
"Hari itu?"
"Iya. Hari dimana dia jujur sama ayah kalau dia merasa terus-menerus dibandingkan sama gue dan menyatakan dirinya kalau dia akan pergi keluar negeri saat kuliah nanti. Dia selama ini merasa ga nyaman berada dalam rumah itu. Jadi dia ingin pergi" tutur Kevin sendu.
"Gavin merasa begitu? Kok gua baru sadar" ucap Olivia sambil menenggak keatas dan menatap langit-langit cafe.
"Wajar lah. Kamu kan baru ketemu Gavin setahun" ujar Louis menepuk pundak Olivia.
"Serius Gavin merasa begitu? Tapi, gimana Lo bisa tahu?" Andro mulai penasaran.
"Gua kan nguping diam-diam hehehehe"
"Cih" Olivia mendecih setelah mendengar kata menguping.
"Tapi, Lo kan nguping. Siapa tahu Lo salah dengar" ucap Valeria.
"Ga! Gua nguping sejak awal mereka mulai bicara" ucap kevin membela dirinya.
Mereka terdiam dan kembali berpikir. "Hm, gua lupa sejak kapan ya Gavin jadi dingin begitu" ujar Louis.
"Kalian ingat saat gua lompat kelas waktu kelas 3 SD? Mungkin sejak itu. Dan pas SMP, gua nunda satu tahun, jadi kita sekelas lagi" ucap Kevin yang berhasil membuat Andro menyadari sesuatu.
"Ah iya gua ingat! Saat itu kan gua mau ajak Gavin main, waktu itu posisinya gua baru aja masuk kerumah kalian. Disana Tante lagi ngomelin Gavin karena dia ga lompat kelas bareng sama Lo" ujar Andro sambil menunjuk Kevin.
"Jadi sejak waktu itu ya ... Lumayan lama juga. 9 tahun Gavin menahan diri untuk terbuka pada siapapun" sahut Louis
"Pantas saja dia jadi sangat tergantung pada Yuki. Ternyata Yuki adalah tempat yang paling nyaman baginya untuk bercerita. Gua ga tahu kalau Gavin begitu mempercayai Yuki. Buat apa gua jadi sahabatnya selama ini" ucap Valeria sambil mengaduk-aduk es kopinya dengan sedotan.
"Jangan begitu. Mending sekarang kita cari tahu negara mana yang bakalan jadi incaran Gavin" ujar Louis.
"Gimana kalau kita ajak Gavin ke Jerman? Kebetulan mama gua asli sana dan disana ada perusaahan cabang papa gua. Kita juga punya sebuah rumah disana. Gua yakin pasti Gavin mau" usul Andro semakin membuat Louis bersemangat.
"Gua ikut!" pekik Louis.
"Jerman? Kayaknya kita bakal LDR ya" ujar Valeria pada Olivia.
"Iya. Padahal kita mau ajak kalian ke Prancis. Tepatnya di Paris" sahut Olivia lesu.
"Yah, gua ga suka LDR" ujar Louis dengan nada manja.
"Lo gimana Kev? Wanna stay here or come with us?"
"Sebenarnya Belanda adalah tujuan gua sekarang. Sorry guys" jawabnya sambil tersenyum kecut
"It's okay. Yang penting kita berjuang dan sukses bersama!" Semangat Andro kini membara.
"Gua suka gaya Lo"
__ADS_1