
5 tahun kemudian...
Seorang pria berpakaian serba hitam dan bertubuh kekar berjalan melewati lorong hingga berhenti di depan pintu yang besar. Diketuknya pintu itu beberapa kali.
"Silahkan masuk" ujar seseorang dari dalam.
Pria itu mendorong pintu hingga terbuka dan masuk kedalam. Ia berjalan menuju meja besar itu dan meletakkan sebuah kotak makan disana.
"Makan siang anda tuan. Nona besar bilang, ia tidak sempat mengantarnya sendiri. Jadi ia menyuruh saya untuk mengantarnya" ucapnya.
Sang pemilik ruangan menurunkan lembaran kertas yang sempat menutupi wajah tampannya. Rambutnya yang hitam pekat disisir rapi kebelakang dengan pakaian jas formal yang rapi.
"Brandon, tubuhmu yang kekar itu lumayan menyeramkan jika dijadikan sebagai kurir makanan" sindir Gavin.
"Terimakasih tuan. Saya juga tidak suka jika harus meninggalkan nona hanya untuk mengantar makanan untuk anda. Itu sangat menyebalkan" jawab Brandon dengan kesal dan jujur sekali. Sindiran itu bahkan ia anggap sebagai pujian barusan.
Brandon adalah seorang bodyguard yang khusus untuk menjaga Yuki. Kemanapun Yuki pergi, ia pasti akan ikut. Sampai ketika Gavin dan Yuki berkencan pun ia harus ikut, walau mengikut dari kejauhan. Itu benar-benar menjengkelkan bagi Gavin.
Kini Gavin berada di Rusia. Ia sedang mengurus kantor cabang milik Axel yang sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya. Bahkan dirinya sudah memiliki perusahaan yang sudah ia bangun sendiri mulai dari nol. Berkat bantuan ayahnya, Gavin memiliki pinjaman untuk modal awalnya dan sekarang telah terbayar lunas.
Yuki juga dengan senang hati membantunya. Harus ia akui, kemampuan Yuki mengatasi keuangan perusahaan yang sempat drop memang tidak usah diragukan lagi. Bisa dibilang, Yuki terlalu cerdas. Mungkin inilah bakatnya.
Gadis yang dicintainya sekarang sedang mengurus toko kue yang sepertinya akan berubah menjadi cafe. Karena toko kue Yuki terlalu ramai didatangi pengunjung setiap harinya. Tidak memungkinkan jika ia harus menampung pengunjung sebanyak itu untuk toko yang kecil. Jadi ia sedang mengurus tokonya yang mulai bercabang sampai ke New York. Sangat jauh. Keduanya memang sedang LDR sementara.
Dan Brandon tadi memang ditugaskan Yuki untuk terbang ke Rusia untuk menyiapkan makan siang untuk Gavin. Yuki sangat lah perhatian. Setiap kegiatan Gavin tak luput dari perhatian dari dirinya.
Brandon akhirnya keluar dari ruangan tanpa mengatakan apapun lagi. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada 2 pesan masuk. Gavin membuka yang bawah terlebih dahulu. Karena memang kekasih tercintanya memang di utamakan.
**From : Lucyana Yuki
Hai bebep tercinta... Apa kau sudah memakan makanan yang Brandon bawakan? Aku bingung untuk mencari menu lain. Jadi makanannya sama seperti yang kemarin. Aku sudah bersiap-siap. Besok sore, aku akan Sampai di Rusia. Tidak sabar untuk menjumpai mu. Aku menyayangimu ❤️
Reply :
Me too. Jangan terburu-buru santai saja**.
Jawaban Gavin malah singkat.
Ia kemudian membuka pesan satunya yang belum dibaca olehnya. Hm, dari Valeria ternyata.
**From : Valeria Lirenshi
Lo dimana kunyuk!? Kita udah di restoran hotel. Katanya mau susun rencana? Cepet kesini!! Atau Lo mau gagal lamaran**?
Wow Valeria marah mode on! Buru-buru Gavin langsung merapihkan kotak makannya dan memasukkannya ke dalam tas kecil. Ia mengambil dompet serta ponselnya dan langsung berlari keluar. Ia lupa kalau sudah janjian dengan pasutri itu dijam makan siang!
Setibanya disana, Gavin buru-buru keluar dari mobilnya dan berlarian memasuki hotel. Ia memelankan langkahnya dan menormalkan pernafasannya. Mencoba tenang. Oke, ia siap untuk berhadapan dengan bumil yang satu ini.
Gavin berjalan tenang memasuki ruang makan hotel. Dia berjalan mendekati kedua sahabatnya yang sedang makan dengan tenang. Pasangan itu nampak sedang berdiskusi ditengah-tengah makannya.
"Woi Vin. Gila Lo lama banget!" Seru Andro.
Seorang wanita hamil disamping Andro kini langsung berdiri. Ditariknya telinga Gavin hingga dirinya terduduk di kursi.
"Sakit Vale" ujar Gavin sambil mengelus telinganya.
"Lo yang bikin janji, Lo yang terlambat. Lama-lama gue brojol juga nih disini!" Ujar Valeria marah.
"Uwahh sayang! Jangan berojol sekarang! Kita belom diskusi" ucap Andro panik.
"Ish! Siapa juga yang mau berojol sekarang!? Lagian kan ini baru 7 bulan! Jangan ngawur deh!" Uhh, bumil marah.
__ADS_1
"Huh! Fine! Kita mulai diskusinya! Gua mau lamaran Gavin harus sangat romantis! Biar honeynya gue klepek-klepek tuh gimana caranya?" Valeria mengucapkannya masih dengan emosi.
"Baiklah. Jadi, sesuai yang udah gua rencanakan..."
🌸🌸🌸
3 p.m.
Seorang gadis cantik yang mengenakan gaun tanpa lengan berwarna hijau muda dan dibalut dengan blazer coklat kini berjalan anggun. Ia baru saja keluar dari bandara. Tangan kanannya menarik koper kecil dan tangan kirinya menggenggam ponselnya.
Ketika ia berhenti didepan orang yang ia kenal, gadis itu menurunkan kacamata hitamnya lalu menaruhnya di saku blazernya. Senyuman mengembang ketika ia menatap orang ini
"Andro, maaf udah ngerepotin. Ga biasanya Brandon bisa demam begini. Padahal sekarang musim panas" ucapnya.
"Tak masalah. Lagian Vale juga yang nyuruh. Gavin tadi lagi sibuk"
"Ayoo" gadis ini membuka bagasi mobil dan Andro membantu memasukkan kopernya. Keduanya naik kedalam mobil dan pak supir pun menjalankan mobilnya.
"Gimana keadaan Vale? Kandungannya sehat kan?" Tanya gadis ini.
"Iya. Karena kita udah di Rusia, kayaknya Valeria akan melahirkan disini. Aku takut terjadi apa-apa kalau kita balik ke Italia. Oh ya, pembangunan cafe Lo gimana, Ki?"
Yuki tersenyum. Dirinya malah menyuruh pak supir untuk membuka atap mobil full. Membiarkan angin kencang menerpa kulitnya. Jarang-jarang bisa menikmati musim panas di Rusia yang dingin ini.
Cahaya matahari mulai terasa dikulitnya. Jika wanita lain akan berlari jika melihat matahari terik, Yuki kebalikannya. Dia akan berlari kearah matahari itu untuk merasakan kehangatannya. Cahaya matahari mulai membuat rambut blonde goldnya semakin bersinar cerah.
"Everything is fine. Semua berjalan dengan lancar. Ternyata mengurus sebuah cafe tidaknya sulit sama sekali" ucapnya sambil memperhatikan pemandangan yang terus berlalu.
"Hm, sudah kuduga. Kau memang berbakat. Kau memang ahli mengurus bisnis tanpa kuliah kan? Kau saja yang ragu" ujar Andro..
"Iya iya! Kau jadi sangat bawel. Apa ini karena kau sedang belajar jadi seorang ayah?"
Andro tersenyum angkuh sambil mengangkat kepalanya dan menoleh ke kiri. "Aku memang ayah yang terbaik"
Mobil akhirnya berhenti. Yuki bahkan terkejut bukan main. Apa Andro membawanya ke hutan? Karena disamping kanan dan kirinya hanya ada pohon Cemara dimana-mana.
"Kau menculikku!?" Pekik Yuki.
"Aku hanya menjalankan tugas. Ayo turun"
Andro lebih dulu turun dari mobil dan berdiri disebuah pintu kayu yang sepertinya sudah rapuh. Yuki ikut menyusul Andro dengan ragu. Andro mengeluarkan secarik kertas dan sebatang bunga mawar putih laku diberikannya pada Yuki.
"Apa ini?"
"Kau harus membukanya saat aku sudah pergi" jawab Andro serius.
"Saat kau pergi? Tapi kenapa?" Tanya Yuki takut.
Andro mendekatkan wajahnya dan berbisik pada Yuki dengan nada yang menakutkan. "jika kau membukanya sekarang, pembunuh itu akan datang dan membunuhmu sekarang. Kau harus menyelamatkan nyawaku sekarang dan kau harus pulang dengan selamat. Sini, lepaskan blazermu"
Yuki semakin ketakutan. Ia buru-buru membuka blazernya dan memberikannya pada Andro. Yuki mulai berkeringat dan tangannya jadi terasa dingin.
Huh, Andro memang pandai berakting. Andro memasang wajah ketakutan juga dan dengan erat membawa blazer Yuki dan pergi.
Kini Yuki sendirian. Ia membuka secarik kertas itu yang terlipat 3 kali. Ia perlahan membukanya dan membaca isinya.
Jika kau ingin selamat, masuklah lewat pintu itu dan terus berjalan lurus. Kau akan menemukan patung dengan petunjuk lainnya.
Glek.
Yuki menelan salivanya dengan susah. Ia harus cepat-cepat menyelesaikan tugas ini agar bisa cepat-cepat pulang. Tangannya berusaha mendorong pintu tua itu. Kok tak ada perubahan? Yuki meletakkan kedua telapak tangannya dan mendorong pintu itu. Sumpah ini berat sekali.
__ADS_1
Perlahan pintu itu terbuka. Yuki tak bisa lagi membukanya. Ia hanya mendorong pintu itu sampai dirinya bisa memasukinya. Bersyukur ia memiliki tubuh yang ramping.
Yuki melihat kesekitar. Hanya ada semak-semak yang tumbuh tinggi seperti sengaja ditumbuhkan untuk sebuah jalan. Yuki berusaha mengintip. Tapi tidak bisa. Percuma. Heels yang ia gunakan kurang tinggi.
Yuki terus berjalan lurus dan ia langsung menemukan sebuah patung manekin dengan mengenakan gaun putih yang pendek. Tapi ia menemukan sebuah surat lainnya yang tersangkut bersama tangkai bunga mawar merah.
Teruslah berjalan lurus biarkan waktu yang menentukan takdir mu kelak. Lurus lah terus hingga kau menemukan tujuan mu berikutnya
Uh, kalimat di kertas ini semakin membuatnya merinding. Wajah Yuki memucat. Gadis ini berjalan dengan cepat. Karena sudah ketakutan. Penerangan disini mulai tertutup oleh pepohonan yang rimbun. Yuki merasakan hawa aneh sekarang.
Ia sampai di petunjuk berikutnya. Ada sebuah pot bunga tulip putih yang tumbuh berseri disana. Dan ada sebuah secarik kertas lagi.
Uh, Yuki benar-benar benci dipermainkan. Pembunuh seperti apa yang akan membunuhnya? Yuki tidak takut!
Yuki memasang wajah berani dan membuka kertas itu.
Jika kau tak melanjutkan perjalanan ini, kau akan mati. Kami memiliki persenjataan yang hebat. Kami akan menembak tepat di dadamu jika aku lari. Jalan sejauh 100 meter, dan kau akan menemukan petunjuk selanjutnya.
Uh, ini terlalu sadis. Semangat Yuki untuk bertemu orang itu menciut kembali. Tapi Yuki tetap berjalan. Sebenarnya, sejauh apalagi sih?
Yuki kembali berhenti didepan patung anak kecil, dia menarik kertas itu lagi dan membukanya.
Berbelok lah ke kanan dan lurus terus. Lalu berbelok ke kiri. Kau akan menemukan kesempatan untuk hidup. Hiduplah dengan bahagia dengan orang itu. Semoga beruntung.
Yuki berlari kencang mengikuti instruksi kertas itu. Dan akhirnya ia menemukan jalan keluar. Ia mempercepat langkahnya.
Namun, heelsnya tersangkut batu. Dan ia terhuyung. Yuki akan jatuh. Ia sontak menutup matanya.
Loh kok ga sakit? Pikirnya.
Ia merasakan tangan kekar yang sedang menahan tubuhnya. Mata Yuki kembali terbuka. Ia mendongak dan langsung tersenyum senang.
"Uwahh Gavin!" Pekiknya yang langsung memeluk Gavin.
Gavin membalas pelukan Yuki dengan erat. Tangannya melilit di pinggang ramping Yuki. Semakin menempelkan tubuhnya dengan tubuh Yuki. Yuki melepas pelukan mereka, namun tangannya masih memeluknya, hanya melonggarkan pelukannya.
"Kamu ga papa, kan? Aku tadi takut banget" rengeknya seperti anak kecil.
"Aku sangat merindukanmu" ucap Gavin dengan senyuman hangat.
Gavin mendekatkan wajahnya perlahan. Yuki paham, ia memejamkan matanya dan sedikit berjinjit. Gavin berhasil menempelkan bibirnya dengan bibir Yuki. Memberinya kecupan basah.
Perlahan ia ******* bibir Yuki dengan lembut. Yuki memindahkan tangannya ke leher Gavin dan pria ini malah menarik tengkuk Yuki agar memperdalam ciuman mereka.
Cukup lama mereka berciuman. Gavin melepasnya saat dirasa Yuki kehabisan oksigen. Wajah Yuki yang putih bersih nampak memerah akibat ulah Gavin.
Gavin sebenarnya ingin lagi. Tapi ada sesuatu yang ia harus lakukan. Ia kemudian melepas pelukan mereka dan mundur selangkah. Tangannya merogoh sebuah kotak kecil beludru berwarna merah. Pria ini membungkuk. Ia membukanya dan mengarahkannya pada Yuki.
"Lucyana Yuki Arvie Cortez. Maukah kau menjadi pendamping hidup ku selamanya. Menjadi istriku. Menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Menempuh pahit manisnya kehidupan bersama ku hingga maut memisahkan" ucap Gavin romantis namun dengan wajah serius
Yuki benar-benar bungkam. Ia bahkan tak bisa berkata apa-apa lagi. Air matanya mulai berjatuhan. Sungguh terharu.
"Would you marry me?"
Yuki tak bisa menahannya lagi. Ia menyentuh kotak beludru itu dan menutup matanya yang terus mengalirkan air mata dengan tangan satunya.
"Iya. Iya aku mau. Tolong nikahi aku secepatnya" jawab Yuki
Wah, Yuki yang jadi bersemangat. Gavin segera menyematkan cincin berlian itu dijari Yuki dan membuang tempatnya kesembarang arah.
Direngkuhnya tubuh Yuki dengan erat. Ia akan segera menikah. Gavin berhasil membuat Yuki menangis terharu dan lamarannya diterima.
__ADS_1
Congratulation...
♥️♥️♥️♥️♥️\=---TAMAT---\=♥️♥️♥️♥️♥️