Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
19. Zen marah


__ADS_3

"apa? Menginap?"


"Apa yang kau pikirkan Yuki!?" Pekik Gavin.


"Aku janji, aku tak akan merepotkan mu Vin. Aku akan tidur di sofa jika kau mau" ujar Yuki dengan memohon.


"Ga! Gua antar Lo pulang sekarang!" Gavin berdiri dan langsung menggenggam tangan Yuki hingga ia ikut berdiri karena Gavin menariknya, tapi Yuki tetap berusaha menahannya.


"Tidak Vin! Ku mohon! Hanya semalam saja. Aku tak mau pulang sekarang!" Teriak Yuki yang sudah terduduk di atas karpet.


Gavin diam. Berpikir sejenak. Apa tak apa membiarkan seorang gadis menginap di apartemennya? Tapi, Gavin tak tega jika ia harus mengusir Yuki keluar sekarang. Sekarang sudah malam. Baiklah, Gavin akan membiarkan Yuki menginap, hanya semalam kok.


"Baiklah. gua izinin" Yuki langsung menenggakkan kepalanya dan tersenyum lebar.


"Thanks Vin!"


"Tapi Lo harus janji dulu, lu bakalan cerita tentang apa yang terjadi"


"Iya iya Yuki janji, thanks Vin" Yuki loncat dan langsung memeluk leher Gavin


Oh astaga. Apa yang lu lakukan Ki.. astaga jantung gua. Batin Gavin


"Udah dong. Lepas Ki. Mandi sana biar seger" ujar Gavin yang tak tahan di peluk Yuki. Jantungnya sudah tak karuan.


"Eh, tapi aku ga bawa baju"


"Nanti gua kasih"


"Thanks Vin"


"Udah ah, kebanyakan makasih lu"


"Hehehe. Thanks vin"


"Udah sana mandi, nanti gua taruh bajunya di dekat pintu kamar mandi" ujar Gavin.


"Aye aye captain!"


Yuki langsung berlari menuju kamar mandi yang ada di kamar Gavin. Gavin juga langsung mencari baju yang di maksudnya tadi.


Kalau memikirkan kejadian tadi, Untung saja Gavin langsung melepas pelukannya. Karena tadi, Gavin bisa dengan jelas merasakan dada Yuki.


Oh astaga. Itu memalukan. Bagaimanapun, Gavin kan juga pria normal yang bisa khilaf kapan saja. Ia tak mungkin melakukannya dengan Yuki. Bisa habis Gavin di keroyok oleh keempat kakaknya.


🌸🌸🌸


"Vin, I'm done with my bath. Where are you?" Teriak Yuki.


"Dapur" jawab Gavin singkat.


Yuki berjalan menghampiri Gavin yang sedang di dapur. Ternyata Gavin sedang memasak rupanya. Wow, ternyata kulkas berjalan kita bisa memasak.


"Vin, kamu masak apa?"


"Ramen instan. Lu belom makan kan?"


"Belum sih, hanya donat yang tadi saja, aku sudah kenyang"


"Yaudah nih, makan"


Yuki dan Gavin membawa mangkuk ramen masing-masing dan duduk di meja makan.


"Selamat makan!" Ujar Yuki dan Gavin bersamaan.


"Makan sambil cerita Ki, gua penasaran" ujar Gavin.


"Sekarang?"


"Ya iyalah Ki, jadi kan gua punya alasan buat Nerima Lo nginep di sini"


"Jadi, ceritanya tuh gini.."


FLASHBACK ON πŸŽ₯


*Setelah Yuki mengantar Gavin pulang, Yuki langsung naik ke atas. Ia berencana menghubungi Marshall saat ini.


Niiiittt niiiittt niiiittt


"Halo?"


"Halo shall. Kau sudah pulang?"


"Iya nona, saya sudah di rumah" ujar Marshall dengan sopan


"Apa jadwal kak Zen masih ada sampai malam?"


"Hm? Tunggu sebentar saya cek dulu. Tolong jangan matikan ponsel anda"


...


"Halo nona? Kau masih disana?"


"Aku sudah menunggumu dari tadi, cepatlah"


"Maaf nona. Saya langsung saja, pak Zen sekarang kemungkinan ada di hotel Key. Dia sedang makan malam dengan rekan bisnis yang kebetulan adalah sahabat lamanya"


"Jam berapa mereka mulai pertemuannya?"


"Saya menulisnya jam 7.15 p.m. .kalau tidak ada yang telat, kemungkinan mereka sudah mulai pembicaraan mereka bukan?"


"Kau benar. Terimakasih Marshall. Maaf mengganggu waktu mu"


"Tak apa nona, sudah kewajiban saya"


BIP


Yuki menutup ponselnya sepihak dan langsung memesan taksi online dan langsung menuju Hotel Key yang di maksud Marshall tadi.


Saat sampai di depan hotel, Yuki langsung berlari masuk ke dalam, tapi langkahnya terhenti karena seorang satpam berbadan besar memegang lengannya dengan kasar.


"HEI!! anak kecil tidak bisa sembarangan masuk ke hotel ini. Pergi! Dan carilah orangtua mu sana pergi" satpam itu menarik lengan Yuki dengan keras.


BRUK


Yuki di lempar ke luar. Sikunya sekarang terluka. Yuki meringis kesakitan. Ia hampir menangis, tapi tak jadi, karena ia ingat tujuannya datang kesini.

__ADS_1


Kemudian Yuki bangkit dan melangkah ke depan dengan muka dingin. udara di sini menjadi dingin seketika.


"Masih berani kau melangkah maju, akan ku telpon polisi!" Pekik satpam itu.


"Heh, hanya karena seragam.." gumam Yuki sedikit tak jelas.


"Apa kau bilang?" Satpam itu mendorong bahu Yuki hingga ia terjatuh lagi. Ingin mengamuk rasanya.


Seorang wanita berlari ke arah mereka dengan menggunakan baju khas perhotelan. Muka wanita itu kini ketakutan.


"Oh astaga nona Cortez. Apa anda tak apa?" Ujar wanita itu sambil menjulurkan tangannya pada Yuki, tapi Yuki menepisnya dengan kasar dan bangkit sendiri.


"Cih, formalitas" decak Yuki.


"Kami benar - benar minta maaf nona. Maafkan kami. Kami janji, hal seperti ini tak akan terulang lagi"


"Kau mengatakan maaf dan besok lusa kejadiannya akan terulang kembali. Hanya karena seragam sekolah yang ku kenakan? Heh, lebih baik aku cabut kembali saja saham ku untuk hotel ini" wajah wanita itu pun memucat pasi.


"Kau ini hanya adik dari investor terbesar di hotel ini, jangan sombong ya" ujar pria yang tiba-tiba datang menghampiri. Yuki mengenal orang ini. Mr. Kin, wakil direktur hotel Key.


"Heh, menarik sekali" ujar Yuki dengan smirk yang menyeramkan kali ini.


"Kau sepertinya lupa Mr. Kin. Saham itu memang di pegang oleh perusahaan Cortez dengan mengatasnamakan namaku, Lucyana Yuki Arvie Cortez"


Kini, pria yang telah kita ketahui namanya dengan Mr. Kin ini bungkam.


"Ma-maaf nona kami janji, kejadian seperti ini tak akan terulang kembali. Apapun akan kami lakukan, asal jangan menarik saham anda" pria itu kini membungkuk pada yuki.


"Baiklah. Tapi dengan satu syarat"


"Kedua orang tua ku kini sudah tiada. Tapi, satpam mu ini, dia menyuruhku untuk mencari mereka. Ini konyol bukan? Maka dari itu, lusa terbangkan dia ke Florentine untuk bilang 'mohon maaf atas kesalahan saya' sebanyak 100 ribu kali di depan makam orang tuaku. Aku akan menyuruh orangku untuk mengawasinya setelah aku selesai rapat dengan direktur kalian besok lusa. Dia tak boleh meninggalkan tanggung jawabnya sebelum selesai dengan hukumannya"


"Terimakasih nona atas kebaikannya" ujar pria dan wanita itu. Yuki langsung berbalik meninggalkan mereka.


"Tidak nona! Jangan lakukan itu!" Teriak satpam itu.


Yuki berhenti dan membalikkan tubuhnya, "ahh, akhirnya kau bersikap formal padaku. Kenapa? Kau menyesal?"


"Jangan kirim saya ke tempat pemakaman. Saya fobia tempat itu!"


"Hm, bagus dong" Yuki tersenyum puas sekali dan melanjutkan jalannya lagi.


Saat sampai di ruang makan hotel, Yuki bisa melihat Zen dari kejauhan dan langsung menghampirinya. Dan ternyata Zen sedang berbincang dengan teman wanitanya.


"Kak!" Panggil Yuki.


"Eh? Yuki, kamu ngapain disini?"


"Kita harus bicara kak, sekarang!"


"Apaan sih!? Aku masih ada urusan, kamu pulang aja sana!"


"Aku ga mau!"


"Yuki ini udah malam! Kamu mau bicara apa sih!? Ngomong sekarang!" Zen membentak Yuki sambil berdiri.


"Ini pribadi kak. Kalau masih lama, aku tunggu disini sampai selesai deh"


"Astaga Yuki! Jangan keras kepala! Pulang sana!"


"Kenapa kakak jadi marah? Lagian aku juga ga punya kunci rumah. Felix kan lagi ke Florentine. Sama aja nanti kalau pulang, aku juga ga bakalan bisa masuk" Yuki sedang berusaha berbicara dengan sabar.


"Apa sih kak? Aku tuh benera--" ucapan Yuki terpotong oleh Zen.


"Alasan aja terus! JANGAN KERAS KEPALA!"


"Aku benci kau kak! Kau jahat!" Pekik Yuki tak tahan.


"YUKI! JAGA BICARAMU! PULANG SANA! "


"Apa!? MAU BILANG AKU KERAS KEPALA LAGI!? IYA!? AKU BENCI BERPIKIRAN UNTUK MINTA MAAF DULUAN! KAU TAK SAYANG PADAKU KAK! LEBIH BAIK AKU SUSUL AYAH DAN BUNDA SAJA."


PLAK!


Zen yang tak tahan dengan ucapan Yuki pun akhirnya menampar wajah Yuki hingga Yuki meringis kesakitan.


"JANGAN SESEKALI KAMU MENGATAKAN HAL ITU YUKI! BERHENTI JADI ANAK MANJA!"


"Aku kesini hanya untuk berbicara sebentar kak. Tidak sampai 5 menit" cicit Yuki.


"PERGI DARI HADAPANKU! JANGAN PERNAH KAU MENEMUI KU SAAT KEPALAMU INI BELUM DINGIN!"


"AKU BENCI KAU ALEXZANDER!"


"YUKI! DASAR TIDAK SOPAN!"


Yuki pergi berlari meninggalkan Zen dan Zen pun mengejarnya. Tapi Zen kalah cepat, Yuki lebih dahulu menghilang dari pandangan Zen.


Ternyata Yuki bersembunyi di samping gedung. Yuki aman. Tak ada seorang pun yang akan menemukannya di sini. Kini, nafasnya terengah-engah karena berlari menghindari Zen tadi.


"Cih, aku benci kau Zen. Ayah bunda tolong aku" Yuki menangis.


Andai orangtuanya masih hidup, Yuki tak perlu bersusah payah menyelesaikan konflik. Ia pasti akan mengadu pada bundanya kemudian ayahnya pasti akan memarahi Zen. Yuki sangat ingin seperti itu. Tapi, kini semua itu mustahil terjadi.


"Aku tak akan bertemu kak Zen! Akan ku buang ponsel ku supaya dia tak perlu mencariku lagi. Aku juga akan menarik uang dengan nominal besar supaya tidak ketahuan keberadaan terakhir ku. Oh ya, aku punya Hoodie, aku akan memakainya, siapa tahu kakakku yang sialan itu mencari ku lewat cctv. Pintar sekali!" Yuki menyusun rencana dengan cemerlang.


Yuki memberhentikan sebuah taxi dan mengarahkan taxi itu menuju apartemen Gavin*.


FLASHBACK OFF πŸŽ₯


"Gituh Vin"


Bukan Yuki yang cerita, tapi author. baik kan author. hehehe


"Hihh kakak lu lagi kenapa ya?"


"Ga tau. Mungkin karena aku ganggu dia lagi sama pacarnya, dia jadi ngamuk gitu" yuki menyeruput kuah ramen nya


"Gua selesai, nanti kalo udah, cuci piringnya ya, gua ngantuk tidur duluan. Lu pakai aja kamar di samping kamar gua. Udah gua pasang seprai baru kok"


"Thanks Vin"


"Hhmmm"


🌸🌸🌸

__ADS_1


Mentari pagi kini telah terbit. Cahayanya yang mengintip lewat jendela pun mulai mengusik tidur nyenyak seorang lelaki. Lelaki itu menggeliat dan akhirnya terbangun dari tidurnya. Gavin terduduk di kasurnya dengan mata yang masih terpejam.


Perlahan-lahan, Gavin membuka matanya, ia melamun sebentar dan melakukan perenggangan otot lengannya yang sedikit pegal rasanya.


Gavin melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan melakukan ritual mandi paginya. Setelah selesai, Gavin mengenakan seragamnya dan merapihkan sedikit rambutnya.


Cklek


"Vin, sudah bangun ya? Tadinya mau ku bangunkan?" Ujar Yuki yang tiba-tiba membuka pintu. Gavin terlonjak kaget saat Yuki membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"Astaga Ki, gua lupa kalau lu lagi nginep di sini" ujar Gavin sambil mengelus dadanya pelan.


"Ups, sorry. Lain kali ku ketuk dulu pintunya. Kamu kaget ya?"


"Banget!" Ketus Gavin.


"Yaudah, kalau udah selesai, kita sarapan bareng ya. Aku udah masak" Yuki keluar dan menutup pintu dengan pelan.


Beberapa menit kemudian, Gavin keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapih. Dan jangan lupakan, sangat tampan.


"Nasi goreng?" Gavin menarik salah satu bangku dan duduk.


"Iya. Di dapur kamu tuh cuma ada beras, Frozen food sama bumbu instan doang" Gerutu Yuki.


"Iya maklum. Kan gua ga bisa masak"


"Yaudah sih makan aja sekarang"


Gavin langsung melahap nasi goreng buatan Yuki. Jujur, masakan Yuki kali ini berlipat ganda enak banget.


Setelah selesai makan, Gavin dan Yuki pun berangkat ke sekolah dengan menggunakan mobil Yuki yang ada di basemen apartemennya Gavin. Mereka memberhentikan mobil saat lampu merah.


"Mata Lo kenapa? Agak merah, bengkak lagi" ujar Gavin sambil mengelus pipi Yuki.


"Mungkin bekas semalam"


"Lo nangis pagi ini"


"Ga kok" bohong Yuki.


"Terserah Lo deh"


🌸🌸🌸


"Ki? Everything is alright?" Tanya Valeria yang menggenggam tangan Yuki.


"Eh? Vale? Ada apa?"


"Lo dari tadi ngelamun terus" ujar andro yang ikut mengusap kepalanya.


"Cerita dong kalau punya masalah" lanjut Andro.


"Semalam, dia sama kakaknya berantem. Terus kakaknya ga pulang. Jadi dia nginep di apartemen gua" ujar Gavin yang berhasil membuat Valeria terkejut.


"Apa!? Yuki nginep di tempat Lo!? Astaga honey, kamu ga di apa - apain kan sama si kulkas ini" Yuki terkekeh pelan mendengarnya.


"Ga kok, justru dia baik, dia semalam masakin aku ramen loh" ujar Yuki dengan sombong.


"Ramen instan ga baik buat kesehatan. Apalagi kalau buat makan malam" sindir Andro.


"Ga papa kok sesekali makan kata Gavin" ujar Yuki dengan percaya diri tinggi.


"Aaaaa, Yuki kau ini polos banget" ujar Valeria.


"Gavin kok di percaya" ledek Andro.


🌸🌸🌸


Bel pulang telah berbunyi sedari tadi, tapi Yuki dan Andro masih berada di kelas. Mereka berniat menunggu kedua sahabatnya selesai ekskul. Ya, Valeria dan Gavin sedang latihan basket di lapangan sekolah. Dan Andro serta Yuki menunggu mereka.


"Sejauh mana lu ngajarin Gavin?" Tanya Andro yang masih berkutat dengan laptopnya.


"Kemarin sih, kita belajar perang dunia 1. Karena pas banget ada pr tentang itu. Seharusnya aku mulai dari perkembangan manusia purba. Gavin jadi bertanya terus menerus, aku jadi pusing juga" curhat Yuki.


"Hehehehe.... Jadi sekarang Lo guru privatnya Gavin"


"Tidak. Lebih tepatnya mungkin, guru teman sebaya. Gavin memang tipe yang dapat di ajarkan dengan sistem teman sebaya"


"Maksudnya? Jadi kalo gurunya lebih tua dari Gavin, dia ga bakalan ngerti gituh?" Andro semakin tak mengerti.


"Iya kurang lebih begitu. Gavin juga jadi tak ragu bertanya kalau tak mengerti"


"Pinter juga Lo Ki"


"Haaahhh capek!" Pekik Valeria yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan keringat yang masih mengalir.


"Gedein ac-nya Ndro" pinta Yuki.


"Ga usah! Kita langsung pulang aja" tolak Valeria.


"Cuss kita pulang. Gavin juga udah pulang tadi" ujar Valeria lagi


"Oh iya, lu jadi nginep di rumah Vale malam ini?" Tanya Andro pada Yuki.


"Jadi dong!"


"Uhhh ikutan dong" rayu Andro.


"Ih babe, ini tuh acaranya ladies. Cowok ga boleh ikut" Valeria lagi - lagi menolak.


"Iya iya. Kamu jadi bawel babe" balas Andro.


Yuki, Andro dan Valeria pergi menuju parkiran sekolah bersama. Setelah di katain 'bawel' oleh Andro, dia jadi diam. Tak mau bicara. Mungkin Valeria lelah. Saat sampai parkiran, Andro menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Yuki.


"Lo ga bawa mobil Ki? Akhir - akhir ini kan lu selalu bawa" ujar Andro.


Yuki diam tak menjawab. Dan berpikir sejenak.


'aduh, kalau ku bilang bawa mobil, berarti aku harus bawa itu mobil ke rumah Valeria. Aduuhh, di mobil itu ada kamera dan GPS lagi, nanti kalau kak Zen nyari aku terus ketemu gimana? Sebaiknya aku berbohong!' batin Yuki berkecamuk.


"Aku tak bawa mobil kok" ujar Yuki tersenyum kikuk.


'oh astaga. Ya Tuhan! Aku baru saja berbohong' batin Yuki menyesal.


"Yaudah, gua antar Lo berdua. Ayo babe" jawab Andro.

__ADS_1


Andro juga tak menyadari bahwa Yuki baru saja berbohong. apalagi Valeria, dia orang yang paling percaya sama Yuki. Andro merangkul pundak Valeria dan berjalan mendahului Yuki.


Akhinya Yuki bisa bernafas lega. Tapi, Yuki baru saja membohongi sahabatnya, semua akan baik-baik saja kan?


__ADS_2