Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
30. Test Begin


__ADS_3

Yuki memperhatikan dirinya dalam pantulan cermin kecil yang selalu ia bawa. Memainkan ujung rambutnya yang berubah. Rambut lurus yang biasa ia kuncir kebelakang mendadak menjadi tergerai dengan indah yang baru saja di curly.


Yuki menoleh ke samping, memperhatikan sang pelaku yang membuat rambutnya seperti ini. Yuki menatap tajam pada orang yang sedang mengemudi di sampingnya.


"Jangan hanya memperhatikan cermin nona. Buku dipangkuan mu itu jadi teracuhkan" ucap Nancy tanpa menoleh pada Yuki.


"Hei, berikan aku ikat rambut!" Ketus Yuki.


Ckiiitt...


Mobil yang Yuki tumpangi berhenti di depan lobby sekolah. Ya, Nancy memasukkan mobilnya ke dalam pekarangan sekolah. Ia takkan membiarkan nona besarnya kelelahan karena berjalan.


"Segeralah turun. Penampilan baru di saat hari ujian itu bagus. Ah ya, dan saya akan menjemput anda di jam pulang nanti. Semoga hari anda menyenangkan" ujar Nancy dengan formalnya.


Yuki mendengarkan ucapan Nancy dengan seksama dan jengkel. Yuki masih menatap Nancy dengan tajam dan alisnya sedikit berkerut.


Kapan wanita ini akan berhenti formal padaku? Batinnya


Cklek.


Pintu mobil tiba-tiba terbuka dan Yuki terperanjat saking terkejutnya karena pintu mobil tiba-tiba terbuka. Dan ternyata Valeria dan Andro lah orang yang membuka pintu mobilnya.


"Morning honey, sampai kapan kau akan duduk disana?" Ujar Valeria.


"Ah, maafkan aku" Yuki dengan cepat membuka seatbeltnya dan turun dari mobil tanpa berterimakasih pada Nancy.


Valeria merangkul pundak Yuki dan ia pun tertawa. Sudah terhitung 1 Minggu sejak Yuki tidak masuk sekolah. Yuki masuk kembali di saat ujian akhir semester akan dimulai. Jadi, Yuki takkan tertinggal ujian apapun.


"Aduh, ini masih pagi" gerutu Valeria yang memperhatikan Andro dari belakang.


Valeria melepas rangkulannya. Ia berlari ke dalam kerumunan itu untuk menyelamatkan Andro kekasihnya yang sepertinya sudah sesak di dalam sana.


"Minggir Lo semua!!" Teriakan Valeria menggema di sepanjang lorong kelas. Valeria langsung menggandeng tangan kekasihnya dan membawanya pergi.


Dan cewek-cewek itu pun pergi dan berhenti menggerumuni Andro. Yuki tersenyum dan sedikit tertawa. Bagaimana tidak, sahabatnya baru saja membuat kehebohan di pagi hari.


Pasangan yang sedang hangat-hangatnya ini baru saja melupakan sesuatu. Ya mereka benar-benar melupakan Yuki yang tertinggal dan mereka dengan seenaknya naik lift tanpa Yuki.


"Yuki?"


Yuki menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengenali suara berat yang baru saja memanggilnya. Dengan keberanian yang berakhir jadi kikuk, Yuki membalikkan tubuhnya, tapi ia malah menundukkan kepalanya.


"Rambut lo--"


"Ah! Ini! ... Ini ulahnya kepala pelayan kami. Iseng sekali dia ya ahaha.." Yuki tersenyum kikuk


Gavin berjalan mendekat seperti biasa tanpa ekspresi. Yuki semakin gemetar dan jantungnya seperti akan loncat keluar jika Gavin berbuat yang tidak-tidak.


Tangan Gavin terulur dan menyentuh ujung rambut Yuki dengan lembut.


"Cantik" ucapnya yang nyaris tak dapat terdengar.


'wajahku memanas. Apa wajahku sudah memerah!?' pekik Yuki dalam hati.


"Kak Gavin!" Teriak seseorang yang berlari menghampiri Gavin dan Yuki.


"Kak, semuanya udah kumpul. Meeting dadakan siap dimulai" ujarnya.


Gavin mengangguk dan junior itu pun langsung pergi seolah mengerti apa yang di maksud Gavin.


"Lo duluan aja masuk kelas. Gua mau ke ruang basket bentar" ujar Gavin. Tapi Yuki malah diam dan Gavin menunggu respon dari Yuki.

__ADS_1


"I-iya. Hati-hati" akhirnya Yuki bersuara juga.


"Gua yang harusnya bilang itu. Dah" Gavin membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Yuki.


Yuki langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya bahkan panas ketika ia sentuh sendiri. Semerah apa sih mukanya ini?


Senyuman lebar dan hati yang berbunga-bunga nampak dengan jelas di wajah berserinya. Ingin sekali ia loncat-loncat sekarang saking senangnya.


"Kyaaahahaaaa... Aku dibilang cantik"


🌸🌸🌸


10 a.m.


"Baiklah anak-anak. Ujian matematika telah usai. Saya berharap banyak pada nilai kalian. Terutama pada anda tuan Gerald" ujar Bu Ani yang menyindir Gavin secara terang-terangan.


Bu Ani merapihkan kertas jawaban ujian dan membawanya pergi. Kelas pun menjadi ricuh. Ujian kali ini di buka oleh pelajaran matematika.


Yuki merenggangkan tangannya ke atas hingga terasa sampai ke pundak. Sekarang sudah memasuki musim dingin. Yuki bahkan membalut kemejanya dengan sweater dan di tambahi dengan jas almamater sekolah yang belum pernah ia pakai.


Gavin diam-diam memperhatikan Yuki disampingnya dan hal itu ketahuan oleh Valeria.


"Jangan mencuri pandang seperti itu, kau terlihat menjijikan, ditambah lagi dengan wajah datar mu itu" sinis Valeria dengan nada pelan.


Gavin beralih menatap tajam Valeria. Dan Andro tiba-tiba datang dengan Tote bag di tangannya.


"Hari ini waktu istirahatnya sebentar. Jadi gua buatin Lo semua sandwich Mozarella" ujar Andro dengan semangat.


"Wah, Mozarella" Yuki dengan antusias menarik mejanya agar menyatu dengan meja Gavin. Valeria dan Andro pun ikut menarik kursi mereka.


"Hei hei... Ku dengar barusan ada yang bilang sandwich Mozarella" ujar Louis yang muncul dari balik pintu dan berlari ke arah mereka.


🌸🌸🌸


Setelah sampai disana, ternyata perpustakaan lebih ramai dari hari biasa. Mungkin ini memang karena sedang dalam masa ujian. Jadi semua murid datang berbondong-bondong ke perpustakaan untuk belajar dengan serius.


"Hm, denda mu jadi banyak nih" ujar senior Bella yang sedang menghitung denda buku yang Yuki pinjam.


"Ini yang harus kau bayar. Ini kamu foto, lalu scan di bank"


"Oke kak. Di perpanjang ya" jawab Yuki.


Beberapa menit kemudian, senior Bella pun selesai mencatat buku yang akan di pinjam Yuki dan ia membawa buku-buku itu pergi.


Yuki harus bertemu Gavin sekarang. Tadi sih ia janjian akan bertemu di dekat perpustakaan, tapi Gavin tak ada. Yuki memilih untuk kembali ke kelas untuk mencari Gavin.


"Heh gadis penggoda!" Pekik suara perempuan yang sepertinya tak jauh dari Yuki.


Tapi Yuki mengabaikannya. Yuki terus melangkah ke depan. Ia tahu jika panggilan itu untuknya, tapi Yuki pura-pura tak dengar. Biarkan saja. Lagipula, wanita mana yang mau dipanggil 'wanita penggoda'?


Derap langkah beberapa orang pun terdengar seperti berjalan mendekati Yuki. Namun Yuki tetap mengacuhkannya. Hingga langkahnya terhenti karena seseorang mencengkeram bahunya dan mendorong Yuki hingga menabrak tembok.


"Lo ini punya kuping ga!? Kalau dipanggil itu, sahutin dong. Ga sopan banget lu" ternyata wanita yang memanggil Yuki adalah Elise.


Huh, Elise lagi. Bosen tahu.


"Hei, aku punya nama ya. Namaku bahkan lebih bagus darimu. Lucyana Yuki Arvie. Tolong diingat baik-baik" ujar Yuki dengan nada yang lebih angkuh.


"Heh, ga ada tuh keluarga yang bermarga Arvie. Eh ups oh iya, kau kan tidak punya keluarga. Di data sekolah, nama orang tuamu saja tidak ada. Kosong" Elise mulai mengolok-olok Yuki.


"Hehehe, keluarga? Tentu saja aku punya. Keluarga itu, tak harus memiliki orang tua. Cukup dengan orang-orang yang sayang dan peduli, itu sudah keluarga namanya" balas Yuki.

__ADS_1


"Hahahaha.. kau ini benar-benar ya. Lebih baik kau hilang dari muka bumi. Sudah tak punya orang tua, keluarga yang tidak jelas, dan plus, asal-usul yang tidak jelas. Jika dibandingkan dengan diriku, aku jauh lebih sempurna darimu! Kau tak pantas dapat kebahagiaan! Dan ga usah sok kecantikan deh!!"


Oh, apa ini karena rambut curl Yuki?


"Heeeehh.. siapa kau yang berani mengatur hidupku?" Jawab Yuki dengan seringaian yang menyeramkan.


"Camkan baik-baik! Kau tak pantas hidup. Kau tak pantas untuk Gavin! Hanya aku yang pantas bersanding dengan Gavin! Kau terlalu banyak menggodanya! Dasar ular!!!" Pekik Elise.


"ELISE!"


Pekik seseorang yang datang. Derap langkah sepatu bootsnya terdengar di seluruh lorong. Dia, Olivia datang dengan wajah yang sangat marah. Olivia yang biasanya tenang dan pendiam, kini berubah menjadi pemarah.


Olivia datang dengan pakaian cheerleadeernya dengan membawa anggota lainnya. Yang bahkan lebih banyak dari antek-anteknya Elise.


"Jauhi Yuki!"


"Siapa kau yang berani memerintahkan ku!?" Jawab Elise.


"Kalau ku lihat lagi, kau sedang mengganggu hidup Yuki, akan ku kirimkan surat pernyataan perang dari geng cheerleader ku pada geng abal-abal mu itu"


"Cihh aku takkan takut sama sekali!"


"Owh, aku takkan segan-segan untuk meminta Valeria untuk menghajarmu dengan tim basketnya"


"Heh, apa hebatnya tim basket itu?" Elise mulai lebih angkuh dan sombong.


"Kau belum dengar rumornya ternyata, tim basket perempuan baru saja membuat 25 preman kota masuk rumah sakit bulan lalu. Jika hanya menghajar kalian yang lemah, kurasa Valeria akan dengan senang hati melakukannya"


"Mundur!" Elise akhirnya menyerah. Ia membawa antek-anteknya pergi.


"Huh, pergi juga dia. Kau tak apa?" Ujar Olivia yang melembut


"Aku baik. Terimakasih Olivia" Yuki memeluk Olivia dengan erat.


"Iya sama-sama. Ayo kita cari Gavin. Akan ku marahi bocah itu!"


Tanpa membuang-buang tenaga dan waktu, Gavin akhirnya muncul dengan sendirinya. Ia menghampiri keduanya dan mengambil alih paper bag yang dipegang Yuki.


"Lain kali, jangan biarin Yuki sendirian, tadi dia hampir di keroyok lagi" ujar Olivia yang menatap tajam Gavin.


"Oke" jawab Gavin singkat.


Bugh!


"Sakit!" Gavin meringis kesakitan seraya memegangi perutnya.


"Nanti aku nyusul ya. Kamu duluan aja" ujar Olivia pada Yuki. Dan tanpa perasaan bersalah, ia pergi begitu saja tanpa meminta maaf pada Gavin.


Gavin tersenyum tipis ketika berjalan bersama Yuki. Hari ini mereka berencana untuk belajar dirumah yuki bersama dengan Louis dan Olivia.


Andro dan Valeria? Mereka akan pergi belajar sendiri-sendiri. Andro tak bisa membiarkan nilainya turun jika belajar dengan yang lainnya juga. Andro tak bisa membiarkan seorang pun mengambil posisinya di peringkat pertama.


Begitu pun dengan Valeria. Gadis yang selalu menjadi nomor 2 itu pun takkan kalah begitu saja dari Andro. Walau Andro pacarnya, tapi tak ada yang namanya kekasih dalam medan tempur.


Tin tin


Sebuah mobil membunyikan klaksonnya di hadapan Yuki. Yuki pun mengajak Gavin untuk naik ke dalam. Mereka berdua duduk di belakang dan ternyata yang menjemputnya masih Nancy seperti pagi ini.


Nancy menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan sekolah. Keadaan pun menjadi hening. Yuki yang biasanya mengoceh pun kini membungkam mulutnya dan lebih memilih fokus untuk belajarnya. Gavin diam saja sih sudah biasa. Tapi Yuki? Baiklah, ia sedang fokus membaca buku jadi wajar kalau diam.


Apa Yuki masih marah dengan nancy?

__ADS_1


__ADS_2