Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
2. Bertemu


__ADS_3

Jantung Gavin berdetak dengan cepat setelah mendapat pesan dari ayahnya. Bagaimana tidak, dia baru saja mencelakai murid baru yang akan akan menutup pintu dan dengan bodohnya Gavin mendorongnya dengan keras.


Kini Gavin hanya bisa duduk di bangkunya dibelakang. Memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Hei Bro, bagaimana rasanya telah membuat kerusuhan di pagi hari, Mr. Troublemaker?" Tanya Louis Vuitton dengan nada mengejek.


"Jangan manggil dengan nama itu. Lu ganggu aja. Gua lagi mikirin nih, bakalan jawab apa gua kalo ayah gua nanya nanti di ruangannya nanti" jawab Gavin yang sudah pasrah.


Gavin menyesal. Jika saja ia bangun lebih pagi hari ini, dia takkan terlibat masalah ini.


"Yaa baiklah. Terserah lu aja. Tapi kalo dipikir-pikir, tuh cewe kasian juga. Dia celaka di hari pertama sekolah. Bahkan dia aja sampai belum perkenalan namanya tadi" tukas Louis.


"Hahh... Gua jadi ngerasa ga enak. Mending gua nyamperin ayah gua sekarang dah. Biar masalah selesai"


"Tumben lu mau. Biasanya juga kabur. Hayu lah gua anterin sampe depan pintu kepsek"


"Thanks is. Lu emang best friend gua yang paling solid"


Sesampainya di depan ruangan kepala sekolah. Gavin hanya bisa menatap pintu itu dengan pasrah. Dan Louis akan menunggu Gavin di luar.


Louis penasaran. Bagaimana wajah Gavin setelah mendengar ceramahan ayahnya. Louis Vuitton siap untuk menertawakan Gavin La Ligeo Gerald. Wahahaha...


"Nungguin apa lagi? Cepet masuk Vin. Gua penasaran, ayah lu bakal ngomong apa" ucap Louis untuk meyakinkan Gavin agar cepat masuk ke dalam.


Gavin menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Oke! Kini ia siap untuk tempur.


Tok tok tok


"Masuk"


"Jadi, kau akhirnya datang nak. Duduklah dulu. Ayah takkan lama" ayah Gavin menyambut Gavin di depan pintu ruang kepala sekolah miliknya dengan nada yang dingin.


Gavin duduk di sofa yang berada di ruangan itu. Entah kenapa udara disini sangat dingin. Apa pendingin ruangan ini terlalu dingin atau hanya Gavin yang merasakannya.


Gavin menunduk dan mulai berkeringat dingin. Dia tengah bersiap untuk mendengar ayahnya berteriak.


"Vin, ayah lelah untuk memarahimu nak. Kau sudah besar. Sadarlah sendiri. Ayah tak peduli kau mau menyesal atau tidak."


Eehh? Apa? Ayah Gavin tidak marah?


"Ayah tidak marah kan? Maaf yah. Maaf. Gavin juga tidak tau kalau cewek itu ada di belakang pintu. Jadi tidak sengaja" ujar Gavin dengan nada menyesal.


"Bagus kalau kau menyesal. Ayah bangga padamu. Sedikit demi sedikit kau akhirnya berubah" Gavin tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Jarang sekali ayahnya memuji Gavin.


"Kau harus kerumah sakit sekarang. Orang yang kau dorong tadi adalah adik dari teman bisnis ayah. Jangan sampai membuat masalah lagi dengannya Vin"


Gavin hanya bisa memutar bola matanya. Membuat masalah dan memperbaiki masalah. Itu lah yang Gavin lakukan selama hidupnya.


Mau tak mau, sepertinya dia harus minta maaf juga pada cewek itu. Minta maaf pada ayahnya juga takkan cukup.


Gavin dan ayahnya pun bergegas keluar ruangan dan menemukan Louis disana.


"Hai Vin, om. Bagaimana? Selesai masalahnya?" Tanya Louis yang sudah sangat penasaran dengan apa yang terjadi di dalam tadi.


"Everything is fine and easy bro" balas Gavin dengan penuh kemenangan.


"Gua harus ke rumah sakit untuk jenguk. Lu harus ikut Is" lanjut Gavin.


"Baiklah gua ikut. Gua juga mau ketemu cewek cantik tadi" jawab Louis sambil tertawa.


🌸🌸🌸


Ruang 805


"Cortez"


Nama yang aneh. Nama itu tertera di pintu kamar rawat inap yang mereka tuju. Benar tidak sih ?Keluarga apa yang memiliki nama yang unik itu?


Tok tok tok

__ADS_1


Tiba - tiba pintu terbuka menampilkan seorang pria bertubuh tinggi dan memiliki rambut blonde mengkilap.


"Ahh.. kau pasti Gavin dan Louis bukan? Ingin menjenguk? Sore sekali kalian datang" Ucapnya pria yang membukakan pintu tadi. Gavin dan Louis hanya mengangguk untuk menjawab.


"Kebetulan Yuki baru saja siuman"


"Apa? Baru siuman? Bukankah dia hanya mimisan tadi pagi?" Tanya Gavin yang tak percaya.


"Ya kau tahu. Sebenarnya mimisan itu karena hidungnya patah dan ada sedikit pendarahan ringan dikepalanya. Tapi tenang. Dia baik baik saja sekarang"


Gavin dan Louis tak bisa berkata apa-apa lagi. Pantas ayahnya memintanya untuk menjenguk ke rumah sakit.


"Jangan berdiri saja disana. Ayo masuk. Aku akan membuatkan kalian teh manis." Ujar pria tadi dan membawa kedua sahabat ini masuk.


Ruangan ini sangatlah mewah. Ada banyak perabotan lainnya seperti dirumah. Lebih tepatnya seperti apartemen.


Mata Gavin tertuju pada gadis yang sedang duduk didepan jendela terbuka dan sedikit membiarkan angin sore yang lembut masuk ke ruangan.


"Hai Yuki. Ada orang yang menjenguk mu dengan senang hati. Mengapa kau tidak menyapa mereka"


Gadis yang diketahui bernama Yuki itu langsung berbalik. Rambut panjang berwarna blonde terlihat mengkilap disinari cahaya matahari sore dan matanya berwarna biru langit, benar benar cerah.


Gavin dan Louis langsung terkejut dengan apa yang mereka lihat. Gavin jelas terkejut karena benar benar belum melihat gadi itu, tapi Louis? Bukankah dia sudah melihatnya pagi ini. Sepertinya ini berbeda. Yuki lebih cantik ketika berdiri disana menurut Louis. Walau ada perban yang melilit hidung dan kepalanya, tidak mengurangi kadar kecantikannya. Wow.


"Mereka bukan kakakku. Siapa mereka? Aku bahkan tidak tahu. Bawa mereka keluar saja" ujar Yuki yang kesal. Karena Yuki memang dari tadi sedang menunggu kakaknya datang menjenguk tapi malah tangan kanan kakaknya, Felix. Ya nama pria ini merupakan Felix.


"Jangan seperti itu. Mungkin kakakmu sedang dalam perjalanan dari Florentine. Lagipula mereka sepertinya ingin mengatakan sesuatu"


"Hahh baiklah akan ku dengarkan mereka sebentar. Duduklah kalian, jangan berdiri disana terlalu lama. Maaf. Tadi aku kasar" jawab Yuki. Dan langsung duduk di sofa dan diikuti juga oleh Gavin dan Louis.


"Terima kasih. Bisa kan dengerin temen gua ini ngomong bentar? Oh iya btw, nama gua Louis dan ini Gavin " Ucap Louis yang berhasil mendapat jawaban 'iya' dari Yuki.


"Maaf. Sebenarnya gua yang dorong pintu tadi pagi dan kena lu" ucap Gavin dengan sepenuhnya melawan gengsinya.


"Ahh jadi begitu. kamu yang membuatku jadi harus berada disini. Baiklah. Sebenarnya ini diluar rencana yang harusnya aku lakuin hari ini" jawab Yuki dengan nada dingin.


"Jadi lu ga mau maafin gua?"


"Shit! Nyesel gua minta maaf ke lu barusan" umpat Gavin yang mulai kesal. Oh ayolah. Ini diluar dari ekspektasi yang Gavin rencanakan selama perjalanan ke sini tadi.


"Ahahahahahahaha. Lucu banget sih. Oke oke. Aku ga mau denger penolakan. Kamu harus terima atau lupain kamu baru saja minta maaf, aku anggap kamu ga pernah minta maaf. Gimana?" Ucap Yuki dengan penuh tantangan.


Mendengar itu, Gavin dan Louis terkejut. Tak mengerti dengan Yuki yang memiliki sifat lembut namun kata kata yang ia ucapkan sangat pedas.


"Oke. Gua turutin kemauan lu. Tapi setelah ini lu ga boleh nyuruh nyuruh gua lagi" jawab Gavin yang mau tak mau harus mengatakan itu dengan pasrah.


"Kayaknya aku ga bisa janji kalo kamu bilang begitu" jawab Yuki.


"Maksud lu apa hahh?" Gavin terkejut.


"Entahlah. Aku juga asal ngomong aja"


Tiba - tiba Felix datang dengan membawa nampan berisi teh dan kue ditangannya. Felix langsung menaruhnya di atas meja yang menjadi tempat perundingan ketiga orang itu.


"Yuki, jangan terlalu kejam loh. Kau hanya akan membuat mereka kesulitan" Felix mengingatkan Yuki. Takut Yuki minta yang aneh - aneh.


"Iya Felix, aku tahu apa yang harus aku lakukan" jawab Yuki.


"Syaratnya adalah kamu harus antar aku jalan - jalan disekitaran kota dan sekolah tentunya selama seharian penuh setelah aku keluar dari rumah sakit. Setelah itu masalah kita selesai. Gimana?"


"Oke oke. Gua setuju, yang penting masalah selesai dan sebaiknya gua ga berurusan lagi sama Lo. Udah gua pulang sekarang" tukas Gavin dan langsung berdiri dan disusul oleh Louis yang tercengang dengan perbincangan ini.


Brakk


Gavin keluar dengan perasaan kesal. Pasalnya Cewek ini telah menambah penderitaan di hidupnya.


🌸🌸🌸


Gavin dan Louis langsung menuju ke arah parkiran rumah sakit. Sesampainya di depan mobil Louis, mereka langsung masuk dan meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


"Antar gua ke stasiun sunshine" ucap Gavin yang sudah lelah.


"Hahh? Ngapain lu kesana? Mobil lu disana?"


"Ga. Gua tinggal di daerah sunshine karena diusir dari rumah gua sendiri"


Ckiittt


Louis terkejut dan langsung menginjak pedal rem mendadak setelah mendengar perkataan dari Gavin.


"Woy. Gila Lo. Gua ga pengen mati sekarang. Penderitaan yang gua rasain sekarang masih banyak. Jangan bikin gua mati sekarang ****"


"Astaga Gav. Gua ga tau penderitaan yang sering lu ucapin sampe segitu. Parah banget bro. Gila ortu lu kejam"


"Yaa gitu lah"


"Lo harus cerita sama gua besok. Ga mau tau gua"


Lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju apartemen Gavin. Gavin harus berpikir. Harus cerita dari mana dulu pada sahabatnya ini. Masalah jadi terlalu panjang.


Sesampainya mereka di depan gedung apartemen Gavin, Louis hanya bisa menatap dengan penuh penasaran.


Apa benar Gavin tinggal disana? Tempat ini tidak terlalu luas dan bisa dikatakan terlalu sederhana. Tak ada pelayan juga. Louis jadi ragu, apa Gavin akan mati bunuh diri disini? Pikir Louis.


"Cepat pergi lu! Kalo lu ngajak gua keluar malam ini, gua ga mau" lalu Gavin masuk kedalam apartmen meninggalkan Louis. Louis pun pergi.


Gavin langsung menekan tombol pintu lift. Gavin tinggal di lantai 10. Selama menaiki lift, Gavin berpikir tentang apa yang terjadi pada hari ini. Bagaimana mungkin, dia harus membawa cewe ini berkeliling sekitaran kota dan sekolah. Apa kata orang - orang nanti.


Jujur, jarang sekali Gavin sampai haru berurusan dengan seorang wanita kecuali ibu dan adiknya.


Gavin bersyukur karena tak perlu memikirkan perutnya saat ini. Sebab, Gavin dan Louis sudah makan setelah dari rumah sakit tadi.


Gavin berpikir untuk langsung mandi dan tidur lebih cepat agar kejadian tadi pagi tidak terjadi lagi.


Gavin langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur di kamarnya dan menatap langit-langit kamar. Gavin mulai memejamkan matanya.


Tingtong tingtong


Bunyi suara bel. Eh? Tunggu. Bukankah yang mengetahui Gavin tinggal disini hanya Louis dan keluarganya? Lantas, siapa yang mendatanginya malam - malam seperti ini.


Gavin langsung bangun dan berlari kearah pintu, penasaran dengan siapa yang datang.


Gavin langsung membuka pintu dan yang berdiri di depan pintu adalah ANDRO!?


"A Andro!??? Lo ngapain disini? Kok Lo bisa tau gua di sini?"


"Ahahahahahahaha, gua kira gua salah liat tadi dari atas, ternyata ga sama sekali. Lu ga mau bawa gua masuk?"


Gavin langsung membiarkan Andro masuk kedalam dan membawakan dua botol air mineral. Tanpa disuruh, Andro langsung duduk di sofa.


Andro sebenarnya merupakan sahabat Gavin yang paling bijak dan bisa diandalkan. Andro Lirenshi merupakan ketua dikelasnya sekaligus ketua OSIS di sekolahnya.


"Jadi, gimana Lo tau kalo gua tinggal disini? Padahal gua rencananya mau ngasih tau Lo sama Louis besok, kenapa Lo bisa tau duluan hah?" Tanya Gavin bertubi-tubi karena penasaran.


"Waah.. sabar bro. Sabar. Sebenernya gua juga ga tau. Tadi gua ga sengaja ngeliat lu dari balkon gua. Gua tinggal di lantai 3. Itu ga terlalu tinggi. Jadi gua langsung yakin kalo itu Lo. Gua sempet nanya sama Ade gua. Gua suruh dia nanya sama Ade Lo dan ternyata bener. Trus gua langsung turun aja, nanya Ama satpam di depan. Katanya lu baru pindah kesini" tutur penjelasan Andro dengan jelas.


"Kenapa lu langsung yakin kalo itu gua?"


"Hahhhh... Ya jelas lah. Gua sahabatan sama lu udah lama Vin. Gua bisa ngenalin Lo walaupun cuma tutup mata. Lagian dihidup gua, cuma Lo doang yang punya rambut hitam legam kayak gitu" Gavin tertawa terkekeh geli mendengar perkataan dari sahabatnya itu.


" Udah ketawanya? Lu mau cerita ga? Gua penasaran dengan apa yang terjadi lagi sama Lo" Ucap Andro yang mulai penasaran.


"Besok aja deh. Sekalian barengan Sama Louis" ucap Gavin malas.


"Ck, makanya besok - besok dengerin kalo gua ngasih nasehat sama Lo" balas Andro.


"Iya iya gua dengerin besok. Udah sana lu pulang"


Gavin langsung menyeret Andro keluar agar tidak banyak bertanya lagi. Andro langsung kesal telah diusir sahabatnya sendiri.

__ADS_1


Ya lihat saja besok akan jadi seperti apa penjelasan seorang Gavin La Ligeo Gerald.


__ADS_2