
Gavin berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Perutnya baru saja diisi saat dikantin rumah sakit tadi. Huh, makanan rumah sakit memang sehat semua, tapi terasa hambar dilidah Gavin.
Ia butuh makanan manis. Gavin menghentikan langkahnya karena teringat sesuatu. Ia teringat pada cookies yang pernah di bawakan oleh Yuki. Sepertinya enak untuk mengemil setelah makan makanan hambar tadi.
Gavin memutar tubuhnya dan berjalan menuju parkiran. Sepertinya Gavin juga akan membeli bunga mawar berwarna merah muda kesukaan Yuki. Gadis itu pasti akan senang.
Namun tiba-tiba Gavin menghentikan langkahnya. Dilihatnya ada Louis dan Olivia yang sedang mengobrol di samping sebuah mobil. Ekspresi wajah keduanya begitu serius. Gavin jadi menghampiri mereka karena penasaran.
"Pokoknya kau halangi Valeria sore ini. Bilang padanya, kalau mau menjenguk nanti malam saja, gantian sama Andro dan aku" ucap Louis.
"Akan ku usahakan" jawab Olivia. Olivia yang hendak pergi jadi langsung terkejut saat melihat Gavin berdiri tegak di belakangnya.
"Uwah Gavin! Bikin kaget aja" pekik Olivia sambil memukul lengan Gavin. Tapi Gavin mengabaikannya, karena rasanya memang tak sakit.
"Nanti sore ada apa?" Tanya Gavin datar.
Louis nampak menengok ke berbagai arah dan kembali menatapnya. "Lo udah dengar kan jika kecelakaan Yuki ini ada dalangnya?"
Gavin mengangguk sambil berdeham.
"Dalangnya akan kita tangkap dengan jebakan sore ini. Gua ga mau pelaku itu dihajar sampai mati oleh Valeria yang bakalan ngamuk setelah mengetahui kebenaran ini. Gua ga tega liat Valeria yang bakalan ngamuk sambil nangis dan menjerit, gua ga bisa" tutur Louis.
"Jadi, siapa pelakunya?"
"Gua juga belum tahu. Tapi gua cuma ditugaskan untuk mensterilkan lokasi. Kak Axel juga udah menempatkan banyak bodyguard di sekeliling rumah sakit. Jadi bisa terjamin kalau pelakunya dapat tertangkap dengan mudah"
"Bagus kalau begitu" ujar Gavin yang memalingkan wajahnya ke kiri atasnya.
"Jangan bilang Lo juga mau kebagian buat ngehajar pelaku itu" tebak Louis.
Gavin berbalik dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana. "Kali ini Lo ga telmi"
Gavin melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia memasuki mobilnya dan menyalakan mesin mobilnya. Gavin menancapkan gas mobil, membuat mobil sportnya menggerung, lalu ia baru melajukan mobilnya dengan cepat.
Olivia memperhatikan mobil Gavin yang melaju hingga hilang dari pengelihatannya. Louis berjalan mendekatinya dan menepuk pundak Olivia.
"Ada apa?"
"Apa Gavin langsung percaya padamu begitu saja? Kau baru saja berbohong. Kau kan sudah tahu si pelaku itu. Bahkan aku juga baru mengetahuinya dari mu" ujar Olivia dengan takut.
"Hei babe, kalau Gavin langsung tahu, mungkin dia akan langsung pergi ke rumah cewe itu dan menabrak dirinya dengan mobil kesayangannya itu. Kak Axel dan yang lainnya sudah punya rencana sendiri. Aku gak bisa mengacaukannya begitu saja" tutur Louis lembut.
🌸🌸🌸
4.21 p.m.
Nancy berdiri di depan pintu masuk rumah sakit. Wajahnya yang datar sedang memperhatikan seorang pria yang berjalan mendekatinya. Ketika sudah dekat, Nancy membungkuk sedikit, lalu menegakkan kembali tubuhnya.
"Maaf jika tuanku harus mengadakan pertemuan di tempat ini" ujar Nancy.
"Ah, kau pasti kepala pelayan keluarga Cortez. Senang bisa bertemu denganmu" pria itu tersenyum ramah pada Nancy.
"Tolong ikuti saya" Nancy dengan cepat membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju lift. Lift itu langsung terbuka, mereka berdua masuk ke dalam lift dan Nancy memencet tombol nomor 28 disana.
"Uhm, maaf jika saya agak penasaran, kenapa tuan Cortez meminta saya untuk datang kerumah sakit? Apa terjadi sesuatu?" Tanyanya.
Ting
Pintu lift terbuka. Nancy berjalan keluar tanpa menjawab pertanyaan orang ini. Pria itu spontan mempercepat langkahnya ketika melihat Nancy yang akan meninggalkannya di lift.
"Nona, anda sangat tidak sopan" gerutu pria itu. Nancy mengabaikannya dan membukakan pintu untuknya.
"Silahkan tunggu diruangan ini. Saya akan memanggilkan tuan Cortez sekarang. Permisi"
Pria itu masuk kedalam ruangan dengan perasaan tidak enak, tapi ia tetap masuk. Dilihatnya ke sekeliling ruangan, apa ini tempat ruang inap VVIP?
Ia duduk dengan melipat kakinya dengan santai. Namun ada hal aneh, ia seperti mendengar bunyi mesin yang menyala. Apa itu berasal dari balik gorden itu?
Cklek.
Axel masuk bersama Alvaro yang berada dibelakangnya. Alvaro dengan cepat menarikkan kursi untuk Axel duduk dihadapan pria ini.
"Selamat datang tuan Fillan Renault" ujar Axel sambil mengulurkan tangannya.
Pria yang diketahui bernama Fillan Renault ini menyambut tangan Axel dengan jabatan tangan. "Senang bisa bertemu denganmu lagi. Apa kita akan membahas proyek yang sedang kita bangun di Thailand?" Tanyanya dengan ramah.
"Tentu. Alvaro, kemarikan berkasnya" Alvaro dengan sigap mengambil sebuah map tebal berisi lembaran kertas di atas meja yang berada di dekat pintu dan memberikannya pada Axel tanpa bicara.
__ADS_1
"Ini, silahkan dilihat dulu. Semalam sudah ku perbaharui. Semoga kau senang"
Axel memberikan berkas itu pada tuan Fillan dan langsung diterima olehnya. Ia membuka map itu dengan cepat. Matanya langsung membola ketika melihat halaman pertama yang terdapat di map itu.
"Apa-apaan ini!? Ini tidak bisa diterima! Kau membatalkan proyek sebesar itu dengan mudahnya!?" Pekik tuan Fillan dengan marah.
"Ah ya, dengan melihat judulnya saja kau sudah mengerti. Pintar. Pintar sekali" ujar Axel yang masih terlihat tenang.
"Apa maksudmu!? Apa kau tidak memikirkan para pekerja yang harus terhenti tiba-tiba karena keegoisan mu sendiri!!!?" Tuan Fillan lebih marah ketika melihat Axel yang nampak tenang.
"Para pekerja itu kan orang-orang mu. Alat berat juga darimu. Kecuali untuk dana pembangunan dan arsitekturnya dariku. Jadi, dengan senang hati aku sudah membayar rugi para pekerja itu dan tanah proyek itu milikku" Axel menyeringai seram dengan mengaitkan kedua tangannya di depan wajahnya.
BRAK!
Tuan Fillan membanting keras berkas tebal itu ke atas meja. Emosinya kini sudah tak bisa dibendung jika sudah begini jadinya.
"Apa maksudmu!!!!? Tanah itu--"
"Tanah itu ditandatangani atas namaku. Aku tak suka jika harus berbagi denganmu. Kau tak usah membayar ganti ruginya karena tanah itu sudah menjadi milikku" potong Axel dengan tegas.
Tuan Fillan sudah tak bisa menahan tangannya. Kedua tangan itu terulur dan menarik kerah kemeja hitam milik Axel dan mencengkeramnya dengan kuat. Cengkraman itu sangat kuat hingga Axel kesulitan bernafas.
"KENAPA KAU MELAKUKAN HAL SEBODOH ITU? APA KAU PUNYA DENDAM PADAKU!?"
Cklek.
Ayah Gavin masuk bersama dengan dua orang wanita dibelakangnya. Tuan Fillan sontak melepas cengkramannya setelah melihat siapa yang datang.
"Herrera? Elise?"
"Fillan? Ada apa ini?" Ucap Herrera pelan.
"Ah, maaf, jadi terbalik begini rencananya" ujar tuan Gerald, ayah Gavin.
"Bahkan ini sangat tepat waktu. Aku tak harus menjelaskannya 2 kali. Silahkan semuanya harap duduk dengan tenang" Axel kembali duduk dengan merapihkan dasinya yang berantakan.
Semua orang duduk. Ketiga orang bernama Renault ini duduk dihadapan Axel dan ayahnya Gavin.
Suasana semakin tegang. Ditambah Elise yang panik sepertinya sudah memiliki firasat buruk saat ia tiba-tiba disuruh pergi ke rumah sakit.
BRAK!
"Angkat tangan!" Ujarnya dengan keras dan sudah menodong pistol di kepala Elise. Sontak gadis ini pun mengangkat tangannya, begitu juga dengan Tante dan omnya.
"Ada apa ini sebenarnya?" Tanya Fillan yang terkejut bukan main.
"Herrera Renault dan Elise Renault, kalian kami tangkap atas dasar tuduhan pembunuhan berencana" ujar polisi wanita itu sambil memasukkan pistolnya kedalam saku jasnya.
Polisi wanita ini berjalan ke samping meja. Ia menarik ujung topinya hingga terlepas. Rambut panjang itu terlepas dari penghalang dan tergerai indah. Wanita ini menyeringai dengan tertawa terbahak-bahak.
Sontak Herrera membelalakkan matanya saat melihat polisi itu. "No-nona Salacha?" Cicitnya.
"Iya, ini aku. Inspektur Salacha Vuitton. Hah, akhirnya aku memiliki bukti yang sangat kuat untuk memenjarakan mu seumur hidup"
"Apa maksud kalian? Aku sama sekali tidak mengerti! Siapa yang membunuh siapa?" Tanya Fillan.
BRAK!
Axel memukul meja itu hingga retak. Matanya menyalang tajam. Nafasnya kini tak beraturan. Alvaro cepat-cepat menarik gorden panjang itu.
sreekk..
Terlihatlah Yuki yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan berbagai perban dan mesin yang menempel di beberapa bagian tubuhnya.
"KAU MASIH TIDAK MENGERTI JUGA HAH!? DASAR BODOH! ****! ******! KEPONAKANMU YANG KAU SAYANGI INI HAMPIR MEMBUNUH ADIKKU! ADIKKU SEKARANG KOMA!" Teriak Axel yang tak bisa menahan emosinya dengan air mata berderai.
Tuan Fillan langsung lemas. Ia terperosok ke bawah dan berakhir duduk dilantai. Herrera bangkit dengan tatapan tak terima.
"Kau! Apa maksudmu!? Lucyana Yuki bahkan tak punya keluarga. Dan kau seenaknya mengaku sebagai kakaknya. Lelucon macam apa yang kau gunakan?" Ujarnya dengan marah.
"Dan intelijen seperti apa yang kalian gunakan untuk memanipulasi data rekaman cctv di sekitar lokasi kejadian?" Alvaro kini ikut bersuara karena juga ikut kesal.
"Hahaha, intelijen amatiran. Sangat aneh jika ia tak tahu dengan kata Arvie" ujar Alvaro lagi.
"Arvie? Marga keluarga yang tak pernah ada!" Balas Herrera.
"Arvie adalah kata singkatan dari Arshi Victor Cortez. Mereka adalah orang tua kami" jelas Axel tegas.
__ADS_1
"Ti-tidak! Itu tidak mungkin! Gadis seperti dia berasal dari keluarga terpandang"
"Nona Vuitton. Aku sudah muak dengan semua ini. Cepat bawa mereka" perintah Axel yang memaksa sambil membersihkan air matanya.
"Dengan senang. Hei kalian, cepat borgol mereka"
Bugh!
"LEPASIN GUA! BRENGSEK!" terdengar teriakan seorang perempuan dari balik pintu.
Seorang polisi sontak membuka pintu itu untuk melihat apa yang terjadi. Tiba-tiba Valeria masuk dengan Andro dan Gavin yang memegangi kedua tangannya dan Louis yang memeluk valeria dari belakang. Diikuti dengan Olivia dibelakang mereka.
"Elise?" Ujar Valeria tak percaya ketika melihat gadis itu sedang diborgol oleh polisi.
Reflek Gavin dan Louis melepas pegangannya pada Valeria. Namun Andro malah mengencangkan genggamannya.
"OH! JADI SELAMA INI, PELAKUNYA ADALAH LO! HAH! SEHARUSNYA GUA TAHU INI DARI AWAL. Andro, lepasin tangan Lo. Biar gua hajar si pelaku pembunuhan ini di depan my honey Yuki" tatapan tajam itu beralih menatap sang kekasih yang berusaha menenangkannya.
"Gua atau Lo yang hajar dia?" Tawar Valeria.
"Vale, tenang nak. Elise akan diadili lewat hukum" ayah Gavin kini ikut berbicara menenangkan Valeria.
"Orang hina ini sudah sering kali membully Yuki dan masih banyak lagi korban pembullyan dia om! Sebaiknya om restuin Vale buat kasih pelajaran buat dia!" Jawab Valeria.
"Silahkan. Andro, tolong lepaskan tanganmu" celetuk Axel dingin dan Andro melepas tangan itu.
Valeria sontak berlari kearah targetnya dan menendang perut Elise hingga gadis itu terdorong dan terjatuh bersama seorang polisi tadi yang memasangkan borgol.
"GILA LO!" Pekik Elise
"Disini Lo yang gila! Lo! Lo yang udah nyelakain Yuki! Sahabat perempuan pertama gua! Dan dengan hati gembira, Lo senang kan saat dengar Yuki masuk rumah sakit? Psikopat Lo! Lo pasti udah sakit jiwa! Sekarang Lo ngaku, kenapa Lo lakuin semua itu!?"
"KARENA GUA SUKA SAMA GAVIN! KALAU GUA GA BISA MEMILIKINYA, SIAPAPUN TIDAK BOLEH! TERMASUK SI GADIS BUSUK ITU!"
Axel bangkit dan berjalan mendekat. Tatapan matanya menyalang tajam menusuk. Tangannya mulai melayang di udara.
Plak!
"Anda sangat tidak berhak untuk merendahkan adikku!"
"Gua nyesel udah pernah baik sama Lo" ucap Gavin dengan tatapan jijik.
"Tidak. Vin, aku lakuin ini semua buat kamu!"
"Itu bahkan bukan cinta" sindir Olivia.
"Cinta aku tulus! Lebih tulus dari siapapun!" Elise masih tak mau mengaku salah.
"Itu bukan cinta. Itu namanya obsesi! Ngaca dong! Lo sama sekali ga pantas buat Gavin. Dasar psikopat" ucap Andro seraya membuang mukanya.
"Kak Caca nungguin apa lagi? Cepet bawa dia" ujar Olivia. Salacha memberikan kode pada anak buahnya untuk membawa kedua wanita itu pergi.
"Ah ya, tuan Renault. Aku sarankan kau tak usah mencari pengacara yang bagus. Karena sebelum berperang di pengadilan, kau sudah kalah duluan. Ada sekitar 17 keluarga korban pembullyan keponakan mu ini yang akan ikut menuntutnya" ujar Salacha dengan senyuman mengejek.
Fillan Renault langsung berlari menyusul istrinya dan keponakan tercintanya dibawa oleh polisi.
Masalah selesai.
"Terimakasih nona Salacha" ujar Axel kembali tenang.
"Jangan sungkan. Yuki bersahabat baik dengan adikku. Aku bahkan tak menyangka jika adikku yang telmi ini bisa bersahabat dengan adikmu" jawab Salacha dengan kekehan kecil dan merangkul pundak Louis.
"Kakak, aku tidak telmi" gerutu Louis.
"Iya iya Louis ganteng. Ah ya, akan ku pastikan Herrera Renault menderita di penjara. Dan untuk Elise, apa yang kau inginkan?"
"Serahkan pada tangan kananku" ujar Axel sambil menunjuk Alvaro dibelakangnya.
"Okay. Ayo kita pulang. Aku akan menjenguk Yuki dengan pakaian yang lebih normal nanti. Dah" Salacha merangkul pundak Louis dan Olivia dikanan dan kirinya.
"Loh loh loh.. kenapa aku juga ikut ketarik?" Ujar Olivia yang berusaha melepas tangan Salacha.
"Ayolah kalian. Antar aku ke kantor polisi. Lalu kita pulang untuk ganti bajuku ini. Nanti balik lagi deh kesini. Kakak janji. Bye bye kalian semua"
Ketiga orang ini keluar dengan terpaksa Louis dan Olivia harus jadi supir Salacha kali ini. Semua orang sekarang bisa bernafas lega.
Axel terduduk lemas dengan tangan yang terus memegangi kepalanya. Valeria bahkan masih sangat kesal, gadis ini terus memukul tembok dengan pelan. Dan dengan setia Gavin sudah duduk di samping ranjang Yuki, tangannya telah menggenggam tangan mungil itu.
__ADS_1
Tenang, tenang. Semua akar permasalahan telah selesai.