
Bugh!
"AARRGGHHHH! SIAL!" Axel meninju tangan pohon besar itu sendiri hingga tangannya mengeluarkan beberapa tetes darah. Ia melihat sendiri darah yang keluar dari tangannya.
"Darah ini bahkan tidak bisa menyamai penderitaan yang Yuki rasakan" gumamnya.
"Axel..." Panggil Alvaro pelan.
"Tidak, tidak Varo. Yuki tidak boleh sampai mati. Aku tidak terima! Dia bahkan baru berumur 16 tahun. Akh, seharusnya aku memasukkannya ke dalam kelas 10. Bukan kekelas 11. **** banget sih"
"Yuki belum meninggal, Xel. Dia koma. Jika ada kemajuan dalam kondisi tubuhnya, kemungkinan besar dia akan segera sadar"
"Iya, segera. Tapi kapan?"
"Kita harus terus sabar"
"Apa ada hal lain yang bisa kita lakukan?"
"Selain berdoa, sepertinya kau bisa terus mengajaknya berbicara" jawab Alvaro.
"Berbicara? Ngobrol gitu? Tapi Yuki kan tak bisa menjawab"
"Sudah kukatakan jika dia tak mati! Yuki koma Xel! Otaknya masih bekerja. Dan tentunya dia pasti bisa mendengarmu"
"Apa benar begitu?"
"Kau meremehkan ku?" Alvaro tersenyum dengan paksaan. Antara marah dan ingin tetap tenang, berakhir dengan senyuman. Ya, bisa kalian bayangkan sendiri.
Axel menyeringai melihat Alvaro tersenyum paksa. "Kau ingin mengajakku bertengkar? Kebetulan kita berada di taman yang sepi"
Alvaro membalikkan tubuhnya sambil mendengus. "Hah, kau ini dinasihatinya kok susah banget. Kali ini aku akan mengalah" ujar Alvaro.
Axel bersedekap di depan dadanya lalu memincingkan matanya pada Alvaro yang membelakanginya.
"Tumben ngalah. Pasti ada maunya"
"Memang"
Axel menaikkan satu alisnya "apa?"
"Aku ingin kau membawa si pembunuh itu. Supaya aku bisa menjadikannya sebagai monyet percobaanku selanjutnya" jawab Alvaro.
"Apa yang kau ciptakan kali ini?"
"Aku baru saja menyelesaikannya. Awalnya aku ingin memberikannya pada pihak keamanan kita. Itu adalah serum yang bisa membuat siapapun yang terkena akan lumpuh dalam jangka waktu setahun. Menarik bukan?"
"Menarik. Sangat sangat menarik. Kau lumayan juga. Apa kau akan naik pangkat menjadi profesor sekarang" puji Axel dengan nada meledek.
"Sudah pasti. Aku pasti akan mendapat gelar itu" balas Alvaro dengan bangga.
"Percaya diri sekali"
"Iya dong. Karena kau, Axelerious Arvie Cortez baru saja mengakui kejeniusan ku, Alvaro Siauw"
"Aku muak dengan ucapan menjijikan itu" Axel melontarkan tatapan jijik pada Alvaro.
"Hohoho, jadi kau menarik pujianmu barusan?"
"Kau terdengar seperti sinterklas. Jika bisa ditarik, akan kutarik langsung tanpa kau bertanya"
"Kau ini yak!" Alvaro bangkit dan menarik kepala Axel. Ia mengunci kepala Axel di ketiaknya.
"Alvaro bauuu banget ketek Lo!! Jijik. Lepas!"
Axel terus meronta ingin dilepaskan. Bukannya melepas, Alvaro malah semakin mengencangkan kunciannya.
"Woi! Lo mau bunuh gua!?" Pekik Axel.
Alvaro spontan melepaskan tangannya dan Axel akhirnya terjatuh kerumput. Alvaro tertawa keras dan menundukkan kepalanya.
"Jangan stress ya. Yuki koma. Zen demam tinggi. Paniknya Felix juga ga berhenti. Jangan nambahin beban gua, oke?" Alvaro mengulur tangannya, berniat membantu Axel.
"Gua ga janji" Axel bangkit sendiri dan mengabaikan tangan Alvaro yang terulur.
Axel duduk kembali di bangku taman dan menengadahkan kepalanya keatas, menatap langit mendung tanpa cahaya sedikitpun. Sebenarnya, angin terus bertiup kencang sejak mereka duduk di taman. Tapi Axel tak merasakannya.
Apa salju akan turun?
"Kalau kalian berdua tak kuanggap sebagai keluarga, mungkin aku sudah mengamuk dan berakhir stress" ujar Axel jujur.
__ADS_1
"Gua akan selalu ada buat Lo. Gua akan selalu mempelajari semua hal, supaya gua bisa dampingi lu di setiap keadaan. Semua itu akan ku lakukan sampai dia datang"
"Dia? Dia siapa?" Tanya Axel spontan karena tak mengerti.
"Dia Xel, nyonya Axel dimasa depan"
"Dih, pikiran Lo mulai ga bener"
🌸🌸🌸
1.43 a.m.
Kevin perlahan membuka matanya yang terasa berat. Ia tertidur di ruang inap Yuki. Lebih tepatnya ia tertidur di sofa yang sangat sempit bagi tubuhnya sendiri.
Kevin bangun dan memegangi leher belakangnya. Terasa pegal. Ia berusaha menetralkan pengelihatannya yang kabur dengan kacamata. Terlihat Gavin tertidur sambil duduk di samping Yuki. Tangannya terus menggenggam tangan gadis itu.
Kevin berjalan mendekat untuk menyelimuti kembarannya. Dilebarkannya selimut tebal itu untuk menutupi bagian belakang tubuh Gavin. Kepalanya bahkan sampai tersandar di bantal Yuki. Kepala mereka bersentuhan.
Kevin tersenyum tipis melihat mereka. Ini pertama kalinya Gavin dekat dengan seorang perempuan, selain Sena. Kebahagiaan yang singkat itu hanya terjadi 1 tahun. Kebahagiaan yang singkat, sangat singkat.
Kebahagiaan mereka terlalu singkat. Disaat ingin jujur satu sama lain tentang perasaan mereka, tiba-tiba ada penghalang bagai benteng besar yang dapat menahan siapapun untuk memanjatnya. Jangankan dipanjat, dihancurkan pun rasanya sangat sulit.
Kevin terkejut ketika melihat Yuki meneteskan air mata! Apa Yuki akan sadar? Kevin langsung berlarian keluar untuk mencari seseorang.
Saat berada didepan pintu, ia ingat kalau ia baru saja menjenguk Zen di ruangan sebelah. Sepertinya semua orang ada disana.kevin bergegas masuk kedalam. Ruangan ini begitu gelap.
"Gavin?" Ucap seseorang dari kegelapan.
"Ini Kevin"
Orang itu menarik tangan Kevin dan membawanya keluar. Setelah diluar, Kevin baru bisa melihat orang itu. Dia, Axel. Sepertinya orang itu juga tak bisa tidur, pikirnya.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Barusan, Yuki meneteskan air mata. Aku tak tahu apa yang terjadi" tutur Kevin.
Axel terkejut. Ia langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Alvaro.
"Hallo? Kau belum tidur? Aku sedang diparkiran. Kau butuh sesuatu?" Ujar Alvaro dari seberang sana.
"Yuki baru saja meneteskan air mata. Cepat kesini"
BIP*
"Tenang Kev, tenang. Aku sejak tadi berusaha untuk tenang. Kau tak boleh panik" Axel mengusap kepala Kevin dan Kevin mengangguk.
4 menit kemudian...
Alvaro datang dengan sekantong plastik berisi camilan. Ia berjalan cepat dengan langkah yang pelan. Namun kantong plastik yang ia bawa terus saja bergesekan dan menghasilkan bunyi yang tak enak didengar, huh jadi percuma.
"Bagaimana?" Tanya Alvaro.
Axel merampas kantong plastik itu dengan kasar. "Yuki tadi seperti menangis. Tapi matanya tak terbuka. Nafasnya juga tak sesak. Ia hanya menangis kecil"
"Ku periksa dulu" pamit Alvaro yang masuk ke dalam. Ia menghentikan langkahnya dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Gavin masih disini. Duduk dengan posisi yang sama seperti beberapa jam yang lalu.
Alvaro mulai memeriksa Yuki. Ia tak melepas tangan Gavin. Biarkan saja. Gavin bahkan tak bisa mengendalikan dirinya sendiri tadi. Jadi Alvaro akan memeriksa Yuki tanpa mengganggu Gavin sedikit pun.
Keningnya berkerut bingung. Air mata Yuki berhenti mengalir dan mulai mengering. Tak ada kejanggalan apapun yang ia rasakan. Kondisi Yuki masih sama seperti beberapa jam yang lalu saat ia periksa. Tak ada yang memburuk dan tak ada kemajuan. Aneh?
"Apa yang kau mimpikan, little sister?"
Alvaro bergegas keluar untuk menemui Axel dan Kevin. Ia tak bisa memanggil keduanya masuk. Gavin bisa terbangun nanti.
"Bagaimana?"
"Tak ada yang aneh. Mungkin ia hanya bermimpi"
"Kau yakin?" Axel merasa tak puas dengan jawaban Alvaro
"Ya mau bagaimana lagi? Keadaannya sama saja. Tak ada penurunan dan kemajuan. Ini memang aneh"
Axel kembali melirik Yuki dari balik pintu. Menghela nafas dan bersender di dinding. Tangan Kevin terulur dan mengelus punggung Axel.
"Kita tak boleh terus bersedih. Kau baru saja mengingatkan ku" ujar Kevin menenangkan.
"Dasar bocah" ujar Axel sambil terkekeh pelan.
🌸🌸🌸
__ADS_1
7.24 a.m.
Gavin membuka matanya dan perlahan bangun. Tangannya ternyata menggenggam tangan Yuki semalaman dan tanpa terlepas.
Gavin mengangkat tangan itu dan mengecupnya lama. Ia menghirup bau tangan Yuki yang harum. Yuki memang sudah 2 hari terbaring tanpa membuka matanya alias koma.
Gruuuukkk...
Perut Gavin bergemuruh keras. Dilihatnya sekeliling ruangan. Sepi. Huh, untung di sini sepi. Hanya ada mereka berdua.
Jika Yuki tidak koma dan mendengar suara perut Gavin barusan, mungkin gadis itu akan tertawa kencang dan langsung memasakkannya sesuatu.
Tapi itu tak bisa terjadi. Khayalan tetaplah khayalan.
Cklek.
Pintu terbuka. Menampilkan sosok Kevin dengan rambutnya yang sedikit basah. Apa ia sudah mandi?
"Aku sudah mandi. Tadi ibu datang dan membawakan kita pakaian baru. Mandi sana. Lalu kita sarapan" ujar Kevin langsung ke inti.
Gavin mengangguk. Ia melepas genggaman itu dan bangkit dari duduknya. Punggungnya bahkan terasa kaku dan pegal. Berapa lama ia terduduk di bangku itu?
"Morning Vin, muka bantal banget sih" sapa Felix yang nampak keluar dari kamar mandi. Gavin mengangguk lagi dan masuk kedalam kamar mandi.
"Gavin kenapa?" Tanya Felix pada Kevin.
"Gavin? Sikap dia seperti biasa kok. Ga ada yang aneh"
Setelah 10 menit Gavin mandi dan berpakaian, akhirny ia selesai dan keluar dari kamar mandi dengan keadaan segar.
Dilihatnya ada Sena yang sudah datang dengan beberapa kotak makan. Kevin malah sudah mendahului Gavin untuk makan sarapan.
"Sarapan kak cepat, sini" Sena mengajak Gavin untuk sarapan bersama.
"Kau datang dengan siapa?" Tanya Gavin yang mendaratkan bokongnya di sofa.
"Ibu dan ayah. Tapi mereka sedang diskusi dengan kakaknya Yuki. Aku gak boleh masuk ataupun ikutan. Mereka seperti sedang rapat perusahaan" jawab Sena.
Hm, Gavin jadi penasaran.
"Oh iya! Kak Kevin! Nanti kita harus turun kebawah, saljunya mulai berjatuhan dan sebentar lagi akan menumpuk banyak. Aku mau buat boneka salju"
"Salju? Salju sudah turun?" Tanya Gavin
"Iya! Salju kak salju! Salju tahun ini datang lebih cepat dari perkiraan" jawab Sena semangat.
Gavin tersenyum tipis melihat adiknya begitu bersemangat jika membahas salju. Andai Yuki tak kecelakaan dihari itu, pasti mereka sudah menjadi sepasang kekasih sekarang, dan mungkin juga Yuki pasti berada di mansion mereka dengan secangkir coklat panas digenggamnya untuk menghangatkan tubuh.
Tuhkan, Gavin melamun tentang Yuki lagi. Sepertinya Yuki sudah meracuni pikirannya.
"Jangan terlalu lama main diluar. Kalau kau sampai kedinginan dan flu bagaimana? Kak Zen sudah demam tinggi tuh karena kedinginan" ujar Gavin serius, seperti biasa dengan datar.
"Demam? Uhh, aku tidak mauu! Kak Kev, batalin aja ya main saljunya" ucap Sena dengan imut.
"Hah, kau ini ada-ada saja"
Kevin tertawa sedangkan Sena terus mencebikkan bibirnya imut. Gavin tak mau ikut campur lagi. Walau ia duduk ditengah, tak ada niatan untuk mendamaikan keduanya.
"Berhenti tertawa!"
"Ahahahahaha... Kau lucu sekali"
"Ihh! Kak Gavin! Tolongin aku.."pinta Sena
"Hah" desah Gavin menyerah.
"Kak Gavin!" Pekik Sena.
"Sena, ini rumah sakit. Ingat? Tidak boleh berisik" ujar Alvaro mengingatkan dengan lembut.
"Kapan kau masuk? Kok tidak kedengaran?" Celetuk Kevin yang menaikkan sedikit kacamatanya.
"Uppss, sorry uncle" cicit Sena.
"Ppfftt.. uncle? Bwaaaahahahahahahhaah..." Kevin malah tertawa lebih keras
"Apa aku setua itu?" Gumam Alvaro.
Kevin terlalu banyak tertawa. Bahagia sekali dia hari ini.
__ADS_1