Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
10. Susun Rencana


__ADS_3

"Aduuhh.... Ndro! Yang bener dong!" Ketus Yuki dan mulai gemetaran.


"Ett deh! Liat dong!" Andro menunjuk ke arah samping kirinya. "Ini tuh pepohonan semua. Pohonnya tinggi - tinggi lagi. Udah gitu, jalannya sempit dan jelek. Kalau begini, udah pasti kita ada di hutan sebelah barat kota yang terkenal ga ada sinyal!" Papar Andro dengan nada tinggi.


"Shit! Mobilnya ga bisa diputar balik lagi" maki Andro.


Glek. Yuki menelan salivanya dengan susah. Apa dia benar-benar tersesat. Jantung Yuki mulai berdebar kencang. Aduh! Apa yang harus ia lakukan.


"Ndro," cicit Yuki pelan.


"Apa lagi? Lo mau keluar terus teriak minta tolong? Ga ada yang bakal nolongin lu disini!" Ketus Andro.


"Jelasin sistematika tentang hutan barat ini" Yuki mulai angkat bicara dengan dingin. Andro yang mendengarnya pun kaget. Apa ini sisi lain dari Yuki? Andro semakin penasaran, dia pun menjelaskan semua yang ia tahu.


"Hm, oke. Hutan ini emang jauh dari pemukiman penduduk sekitar, karena hutan ini untuk pepohonan langka dan ada beberapa jenis binatang, seperti monyet, ular, serigala, dan beberapa binatang kecil herbivora lainnya..."


"Disini hanya ada satu jalur jalan. Jalan ini sih kayaknya bakalan ada yang bercabang - cabang. Ada yang mengarah ke jurang, pusat hutan atau tengah hutan, dan jalan yang seperti berputar balik. Nah jalan yang terakhir ini, jalan yang bakalan bawa kita keluar dari hutan, udah itu aja yang gua tahu" papar Andro dengan jelas.


Yuki mulai memutar otaknya. Mengingat jalan yang tadi mereka lalui. Semua tikungan, pohon, dan oh ya tadi mereka melewati seperti pertigaan. Ketika itu, mereka memilih jalan lurus dan belum ada tikungan lagi. Ah, Yuki paham.


"Kita hampir mencapai titik tengah hutan" suara Yuki tiba tiba keluar membuat Andro merinding.


Yuki membuka pintu mobil dan turun. Yuki berjalan kedepan mobil. Melirik sesuatu disana. Hal ini membuat Andro semakin berdebar hebat. Rintikan hujan mulai turun dan hujan pun turun dengan derasnya. Yuki berlari cepat masuk kedalam mobil.


"Didepan ada pertigaan. Nanti belok kanan" ujar Yuki sambil mengenakan seatbelt kembali. Tanpa berkomentar apapun, Andro lantas melakukan mobilnya dengan pelan. Dan ketika sampai di pertigaan, Andro menghentikannya lagi.


"Lo yakin? Gua rasa kalo kita belok kanan itu salah deh. Yang bene..."


"Ikutin aja! Lagian kalau kita lurus, kemungkinan besar akan mencapai titik tengah hutan yang ada serigalanya" sela Yuki. Oke, Andro tak ingin menyela lagi. Andro nurut saja deh.


Lalu Andro melanjutkan perjalanan lagi. Menuruti perintah Yuki. Andro tak ingin mati dimakan serigala.


"Belok kanan!" Perintah Yuki.


Dan sekitar selang 5 menit, Yuki melontarkan perintahnya lagi "kanan lagi!"


"Perasaan dari tadi kanan mulu, apa emang Lo yang suka kanan, jadi Lo nyebut kanan mulu hah?" Ujar Andro.


"Diam! Ga usah bacot!" Wah? Yuki ngegas😂.


Dan tak lama kemudian, Andro melihat jalan raya kota. Waahh... Mereka selamat! Yeaayy....


"Waah... Yuki kok bisa?"


"Hm... Aku gitu dong, hebat!" Ujar Yuki membanggakan dirinya sendiri.


🌸🌸🌸


Kini, Gavin, Louis, dan Vale tengah berdiri di depan restoran menunggu kedatangan sahabatnya. Rasa khawatir berkelimpung diantara mereka.


"Aduh... Kok mereka ga sampai - sampai ya?" Louis mulai khawatir karena Andro dan Yuki tak kunjung datang. Sedari tadi, mereka mencoba menghubungi ponsel Yuki dan Andro, tetapi tak ada yang mengangkatnya.


"Hujannya lebat banget lagi"


"Kita tadi suruh mereka jalan kan sekitar jam 11.45. Sekarang sudah jam 2 dan mereka tak kunjung datang. Ini tak masuk diakal" ujar Vale.


Gavin terus diam, pikirannya sudah kalang kabut tidak karuan. Dimana Yuki? Gavin semakin khawatir ketika ia ingat bahwa Andro itu tidak bisa hafal jalan yang jarang ia lalui. Dengan kesimpulan, Andro si tukang nyasar!


Arrhghh... Bisa - bisanya ia mempercayai si tukang nyasar itu. Huh, baiklah Gavin memilih untuk memperhatikan jalanan yang kurang penglihatan gara gara hujan lebat.


🌸🌸🌸


Tak lama kemudian, mobil Andro akhirnya terlihat memasuki parkiran didepan restoran. Gavin belum bisa bernapas lega kalau ia belum melihat Yuki muncul. Terlihat Andro keluar dari mobilnya menggunakan blazer peach sebagai pelindung dari hujan dan memutari mobil dengan cepat membuka pintu sebelah kemudi, dan akhirnya Yuki pun keluar. Mereka berlari bersama melewati lebatnya hujan. Gavin tak suka melihat itu. Mereka berjalan berdekatan seperti sedang berpelukan dari belakang.


"Waahh... Blazerku penyelamat hari ini!" Ujar Yuki ketika ia akhirnya menginjakkan kaki didepan pintu restoran.


"Yukiiii... Kau membuat kita tak..." Ucapan Vale tertunda karena,


Grep.


Gavin tiba-tiba memeluk Yuki dengan erat. Yuki pun membelalakkan matanya saat itu. Yang lainnya pun ikut terdiam dengan tingkah laku Gavin kali ini.


Gavin tak peduli. Gavin malah makin mempererat pelukannya saat Yuki berusaha melepaskan diri. Tapi Gavin malah mengelus punggung Yuki untuk menyalurkan kehangatan padanya. Yuki juga sampai heran,


'ada apa dengan Gavin?' batinnya.


"Kau membuat masalah lagi" bisik Gavin pelan ditelinga Yuki.


Yuki yang mendengarnya pun langsung terkekeh kecil dan membalas pelukan Gavin. Yuki juga malah melingkarkan tangannya di pinggang Gavin.


"Sudah kubilang kan? Jika aku sedang dalam masalah, aku pasti akan menyelesaikan masalah dengan sempurna" jawab Yuki.


Gavin merenggangkan pelukannya pada Yuki. Lalu mendorong bahu Yuki perlahan dan menatapnya dengan tajam. Yuki bergidik ngeri setelah mendapati bahwa Gavin sepertinya akan meledak sekarang juga.


Dan sebelum Gavin akan meledakkan amarahnya, Louis dan Vale menarik bahu Gavin dari belakang. Gavin pun mundur beberapa langkah dari hadapan Yuki.


"Marahnya nanti aja Vin. Dan Lo Vale, bawa Yuki ke toilet buat cuci tangan pakai air hangat" syukurlah Louis berhasil mencegah Gavin. Dan Vale langsung merangkul pundak Yuki lalu membawanya ke toilet.


"Tunggu Ki!" Ujar Gavin. Lalu ia melepaskan kemeja lengan pendeknya dan diberikan kepada Yuki. Untungnya, Gavin memakai baju dua lapis hari ini walaupun tipis. Mungkin memang sedikit panas ketika ia mengenakannya, karena sekarang sudah memasuki musim panas.


"Pakai ini. Bra Lo kelihatan" ujar Gavin dengan dingin lagi. Wajah Yuki langsung berubah merah jambu dan melipat kedua tangannya di depan dadanya. Yuki sangat malu sekarang.


"Andro! Blazernya kemarikan!" Ujar Yuki dengan panik.


"Sorry Ki. Blazer lo basah"


Aah... Yuki kecewa sekarang. Blazer tercintanya sekarang tak dapat dikenakan karena basah. Bolehkah Yuki berkata kasar sekarang? Oh tidak bisa. Yuki bahkan tidak pernah berpikiran seperti itu.


Yuki lantas menerima kemeja milik Gavin dan langsung berlari kedalam resto. Vale juga ikut serta berlari bersama Yuki.


🌸🌸🌸


Kini Gavin, Louis dan Andro sedang duduk di meja restoran dan menunggu pelayan memanaskan kembali makanan mereka yang sudah dingin.


"Jelasin Ndro!" Gavin bertanya seperti menginterogasi seorang penjahat sekarang.


"Jangan emosi Vin" ujar Louis.


"Iya maaf. Ini memang salah gua. Gua yang ga hafal jalan disekitaran ujung kota"

__ADS_1


"Lo nyasar lagi?" Tanya Louis dan diangguki oleh Andro.


"Kali ini Lo nyasar kemana? Masuk hutan? Hahaha" tawa Gavin miris.


"Iya gua masuk hutan" jawab Andro. Louis sampai tersedak ketika sedang minum.


"Uhhuukk uhhuukk... Gila Lo Ndro!" Pekik Louis.


"Dan pasti Yuki yang bawa kalian keluar hutan?" Tanya Gavin.


"Iya"


"Huh... Untung Yuki ga kenapa - kenapa" Gavin merasa lega sekarang.


"Kok Lo masih pentingin Yuki sih? Lo ga nanya keadaan gua yang habis keluar dari hutan juga?" Ujar Andro tak percaya.


"Ga! Ga penting juga gua nanyain keadaan Lo" ujar Gavin. Jahat.


"Cih, dasar temen biadab Lo" sedih Andro.


🌸🌸🌸


Setelah selesai dengan urusannya di toilet, Vale dan Yuki langsung menghampiri temannya yang sedang duduk disana. Yuki yang menatap dari kejauhan jadi merasa ragu untuk bergabung.


"Kenapa Ki?" Ujar Valeria.


"Aku ga yakin Vale. Kemeja ini bikin aku absurd banget" sahut Yuki.


Vale langsung berjalan mendekati Yuki dan mulai beraksi dengan 1001 cara ampuhnya. Eh, ga deng, satu aja😂.


Karena kemeja yang dipakai Yuki terlihat terlalu kebesaran, ia pun melipat lengannya sampai atas sikunya. Dan dibagikan bawah, ia membuka beberapa kancing dan mengikatnya sebatas pinggang Yuki. Oke. Yuki siap!


"Kau yakin?" Yuki masih tetap ragu.


"Ini baru baju Ki, aman... coba kalau rambut yang berantakan, bisa langsung pulang dah lo" ujar Vale.


"Eh iya ya. Yaudah yuk. Aku juga udah lapar"


Akhirnya dengan kepercayaan diri yang setengah-setengah, Yuki mau juga menghampiri temannya yang sudah kelaparan juga.


"Yuki udah beres guys" pekik Vale


Gavin langsung tak bisa mengalihkan pandangannya pada Yuki. Dia terus menatapnya. Padahal, Gavin memakai kemeja itu kan hanya iseng, tapi entah kenapa itu sangat cocok di Yuki.


Pletak!


"Aww!"


Yuki menyentil dahi Gavin. Yuki tak tahan diperhatikan seperti itu. Si kulkas sangat aneh hari ini.


"Berantemnya nanti aja, sekarang makan dulu. Kasian nih Yuki mukanya udah pucat" ujar Vale yang menyelamatkan Gavin dari Yuki.


Tadinya, Yuki akan menyemprot Gavin dengan kata - katanya, tapi gagal. Lupakan itu! Yuki akhirnya duduk disamping Louis. Meja yang mereka tempati hari ini berbentuk lingkaran. Yuki sepertinya sedang menjauhi Gavin.


Mereka pun memulai makan siang mereka yang tertunda sejak tadi. Tertunda 2 jam. Jangan salahkan Yuki, salahkanlah Andro yang tak hafal jalan. Seharusnya Andro mengaku saja dari awal pada Yuki.


🌸🌸🌸


"Kita langsung saja bahas tentang party Sena" ujar Andro yang mulai mengalihkan pembicaraan.


"Hm? Ada yang menghindar nih.." ledek Louis.


"Yasudah, langsung to the point aja. Aku ingin cepat pulang" ujar Yuki.


Dengan cepat, Vale mengeluarkan buku catatan berukuran kecil dan tak lupa pula pulpennya. Gavin memanggil pelayan untuk membawa piring makan mereka dan menggantinya dengan dessert yang manis.


"Walaupun acaranya masih Minggu depan, tapi gua mau acaranya lebih heboh dari tahun kemarin" ujar Gavin.


"Hm, itu sih gampang. Tunjukin Vale rencana kita" jawab Louis dengan enteng.


"Gua udah susun rencana tadi saat nungguin kalian datang..." Vale menjeda kata katanya dan melirik Yuki.


"Oke, untuk Yuki, ini adalah pertama kalinya Lo ikut kita diskusi serius, Lo siap terima keputusannya?" Tanya Vale dan diangguki oleh Yuki.


"Sip. Jadi gini rencananya, karena Gavin sudah ga tinggal dirumahnya lagi, gua mau bikin Sena percaya kalau Gavin sudah ga peduli lagi sama dia.."


Gavin membelalakkan matanya saat mendengar Vale. Ini hanya candaan kan? Kalau Sena tak mau memaafkannya, apa yang harus ia lakukan?


"Lanjutin Vale, sebelum Gavin salah paham sama rencana yang kita susun" ujar Louis.


"Iya sabar dong. Nah, rencananya besok gua..."


Kenapa ga dilanjutkan? Iya namanya juga rahasia. Masa rahasia mau dikasih tahu sekarang kan ga mungkin.


🌸🌸🌸


Setelah mereka selesai berdiskusi dan keputusan sudah bulat, mereka pun berniat hendak pulang kerumah masing-masing. Lagipula hujan diluar sana sudah berganti menjadi langit yang cerah. Matahari kembali tersenyum.


"Ndro! Antar gua pulang, kita kan searah" ujar Vale seenaknya.


"Ck, tadi gua diomelin, dimaki-maki, sekarang? Dia minta dianterin lagi. Enak banget sih hidup Lo" racau Andro.


"Jangan gitu dong. Kalian kan searah, ga ada salahnya kok" sahut Yuki.


"Dasar cewek!" Gavin pun ikut bersuara.


"Ayo Ndro!" Ajak Vale.


"Iya, gua juga ada urusan lagi. Kita duluan ya guys..." Ujar Andro.


"Bye guys. Happy weekend!" Vale melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan mereka.


Setelah mereka berdua sudah pulang, Louis juga ingin bergegas pergi menemui kekasih tercintanya.


"Gua juga duluan ya. Bebeb gua nungguin. apa kalian mau gua antar sekalian?" Ujar Louis.


"Aku ga usah. Tadi udah minta jemput kok" sahut Yuki.


"Lo gimana Vin?" Tanyanya.

__ADS_1


"Gua nebeng aja sama Yuki" ujar Gavin tanpa bertanya apa ia boleh ikut nebeng dengan Yuki? Walau ga ditanya juga, Yuki pasti masih mengizinkannya kok, tenang guys.


"Oke gua duluan. Bye!" Ujar Louis.


Akhirnya tinggallah Gavin dan Yuki saja. Yuki juga langsung berdiri meninggalkan Gavin.


"Mau kemana Lo?" Tanya Gavin.


"Mau ambil blazer yang tadi di laundry, tunggu disini sebentar" ujar Yuki, tapi ia berbicara tanpa menatap ke arah Gavin, Yuki malah lebih memilih menunduk dan lanjut pergi.


Setelah selesai mengambil blazernya, Yuki mengajak Gavin untuk keluar restoran. Tapi sebelum itu, Yuki harus membayar makanan yang mereka makan hari ini.


"Totalnya 760.000" ujar kasir.


"Ini" Yuki menyodorkan kartu kreditnya dan diterima oleh Kasir.


"Ini kak kartunya. Terimakasih, silahkan datang kembali" ujar si kasir sambil mengembalikan kartu kredit milik Yuki.


Yuki dan Gavin pun keluar dari resto. Setelah diluar, mereka duduk di bangku yang ada di trotoar jalan. Hari semakin sore. Yuki menatap langit dan tersenyum halus.


"Gila Lo senyum sendiri?" Ledek Gavin. Yuki melirik dan langsung menatap kembali langit sore yang sudah mulai berwarna oranye.


"Kenapa? Ga suka? Atau mau diajak senyum?" Balas Yuki.


Gavin langsung salah tingkah mendengarnya. Gavin menurunkan kakinya yang tadi dilipat dan ia lipat kembali. Bodoh sekali. Ngapain juga ia turunkan kalau ujung - ujungnya dilipat kembali.


"Eh, ehm, oh iya, gua hampir lupa. Emang Lo beneran mau bawa mobil?" Gavin berhasil menemukan celah menghindari Yuki menyadari tingkah bodohnya tadi.


"Gavin ga percaya? Aku punya kok. Punyaku sendiri loh..." Sahut Yuki.


"Oke oke gua percaya. Siniin hp Lo" perintah Gavin. Yuki dengan senang hati memberikannya. Gavin pun mengetikkan nomor teleponnya di hp Yuki.


"Nih, nanti hubungin gua kalau Lo nanti udah di depan apartemen gua" ujar Gavin.


"Waah.. Vin? Ini beneran? Aku kan.." kalimat Yuki terpotong.


"Tapi setelah ini, Lo ga boleh chat gua kalo ga penting"


"Oke bos" ujar Yuki sambil hormat ala tentara dengan cengiran manisnya.


Tin tin!


Mobil didepan mereka tiba - tiba berhenti dan membunyikan klaksonnya. Kaca mobil itu pun turun dan menampakkan Zen yang ada disana.


"Hai darling. Pulang yuk" ujarnya.


"Waah kak Zen? Tumben banget, kesambet apa kak?" Ujar Yuki yang masih didepan pintu mobil.


"Gua tinggalin baru tahu rasa Lo" Zen mulai kesal. Karena jarang sekali Zen bisa menjemput Yuki seperti ini. Bukannya dapat pujian, eh dia malah dapat ejekan dari adiknya. Untuk sayang, coba kalo kagak, aduh ga tau lagi dah.


"Yaelah kak. Bercanda doang juga. Oh iya, Gavin mau nebeng loh" ujar Yuki.


Gavin pun langsung membuka pintu bagian belakang kemudi dan masuk begitu saja. Zen mulai paham dengan sifat Gavin yang lumayan aneh ini.


"Hei! Main masuk aja, aku aja baru bilang, masuk aja belum" ujar Yuki.


"Yaudah masuk. Biar kita bisa cepet pulang" ujar Zen. Yuki pun menurut dan ia pun duduk di samping Gavin.


"Seatbelt darl, ingat dong" ujar Zen yang sedang mengemudi.


"Kan Yuki dibelakang, aman dong kak" balasnya.


"Ga usah ngelawan!" Oke, Yuki hanya bisa menurut.


"Hei gimana hari ini? Senang ketemuan sama teman ga?" Tanya Zen.


"Wiihh senang banget loh kak"


"Oh ya kak, Minggu depan tuh ulang tahunnya adik Gavin. Aku mau datang, boleh?"


Gavin yang melihat Yuki pun menggeleng - gelengkan kepalanya. Yuki sangat childish.


"Eh? Boleh dong. Kamu ga usah tanya" ujar Zen.


"Dan aku mau bawa mobil, boleh?" Tanyanya lagi.


"Boleh dong. Itu kan hak kamu dek. Lagian mobilnya ga pernah dipakai"


Ya, mobil Yuki tak pernah ia pakai. Hanya untuk keadaan darurat. Axel membelikannya mobil karena ia pikir, Yuki sudah besar dan bisa mengaturnya sendiri, lagipula Yuki sudah punya SIM.


🌸🌸🌸


"Hai Felix! Aku pulang!" Teriak Yuki saat memasuki rumahnya.


"Jangan berteriak Yuki, ini rumah bukan hutan!" Ketus Felix yang sedang menuruni tangga.


"Felix mau kemana? Aku baru saja pulang dan kau akan pergi dengan pakaian serapih ini?" Tanya Zen.


"Ada urusan mendadak. Tadi Alvaro bilang, ia akan sampai di bandara dan sepertinya Alvaro juga akan menginap malam ini, aku harus bergegas" ujar Felix.


"Hanya Alvaro?" Tanya Zen.


"Iya. Axel tak ikut sepertinya"


"Kau akan ke bandara?" Tanya Yuki.


"Iya. Ada apa?"


"Bisakah kau belikan aku sesuatu di toko Little Tiny?"


"Little Tiny? Maksudmu toko dengan perhiasan pink itu? Kau sudah banyak memiliki barang berwarna pink"


"Bukan untukku, ini untuk seseorang"


"Your new friend?"


"Yup. Thanks Felix. Oh ya, tanyakan pada kak Al, dia ingin makan malam apa?" Ujar Yuki.


"Oke. Siap my princess.."

__ADS_1


"Hati - hati dijalan" Yuki melambaikan tangannya pada Felix. Zen memutar bola matanya malas, sebenarnya siapa sih kakaknya Yuki? Zen atau Felix?


__ADS_2