
2 Minggu kemudian......
Gavin berjalan ke tempat ia meletakkan seragamnya. Di walk in closet, Gavin meraih Hoodie hijau itu dan mengenakannya. Kemudian ia membalutnya lagi dengan jas almamater sekolahnya. Cukup hangat jika ia keluar dengan mengenakan ini.
Sudah terhitung 3 minggu lamanya ia kembali ke rumahnya sendiri. Tinggal di apartemen tanpa seorang pelayan itu merepotkan bagi seorang tuan muda seperti Gavin.
Tapi tetap saja, hukuman adalah hukuman. Mobilnya memang sudah bisa digunakan, tapi Gavin tidak diizinkan untuk membawa mobil kesayangannya itu. Semenjak mobil itu disita ayahnya, Gavin terpaksa harus berhenti menjadi pembalap liar di malam hari.
Dan Gavin mendadak menjadi kutu buku karena kesepakatannya dengan ayah dan ibunya. Mau tak mau, Gavin hari menjalaninya dengan senang hati, walau terpaksa.
Hello fall to winter, and see you summer. Yup, sekarang musim semakin dingin. Sekolah mereka biasanya meliburkan para siswanya selama 1 bulan penuh di akhir tahun dan masuk kembali di awal tahun.
Drrrrtttt...
Ponsel Gavin bergetar. Ia segera mengambilnya dari atas nakas dan membuka kunci password ponsel itu.
You have new message
Pesan? Dari siapa?
***From : YukiCortez
To : GavinGerald
Hari ini, hari pengumuman hasil ujian! nervous? Aku juga π±***!
Apa-apaan ini? Bukannya gugup, tapi Gavin malah bersikap santai saja. Seperti tidak punya beban. Oh ya, btw hari ini memang hari pengumuman nilai ujian mereka. Setelah 1 Minggu lamanya mereka bertempur dengan kertas lucknut itu, akhirnya mereka bisa menghirup udara segar dan bernafas tanpa adanya gangguan.
Mereka bahkan sudah merencanakan untuk pergi ke Hawaii untuk berlibur di sana. Karena udara disini akan semakin mendingin, jadi mereka putuskan untuk berlibur di tempat panas agar bisa berjemur.
Gavin tersenyum ketika mengingat bahwa mereka akan liburan. Dan kesenangannya meningkat ketika ia mengingat hasil ujian itu. Jika ia mendapat nilai sesuai target, mobilnya akan kembali padanya.
Gavin juga menanti hadiah yang sudah Yuki janjikan. Tapi sebelum itu, Gavin akan menembaknya terlebih dahulu seperti rencananya. ia berencana menembak Yuki di taman hari ini dengan mengendarai mobilnya yang sudah kembali.
Perfect.
Gavin kembali melihat ponselnya dan segera membalas pesan itu.
**From : GavinGerald
To : YukiCortez
Jangan sok tahu. Gua sama sekali ga nervous. Santai**.
Dan disisi lain, Yuki si penerima pesan itu pun mendadak tertawa kecil sambil menutupi mukanya dengan malu-malu. Kakinya terhentak-hentak saking geregetnya.
"Nona, ada apa?" Tanya Nancy yang merasakan pergerakan aneh nonanya dari kursi kemudi.
"Ti-tidak ada. Jalankan saja mobilnya. Aku baik kok"
Nancy kembali melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Mereka harus mampir dulu ke kantor karena Yuki memiliki urusan disana. Ada beberapa keluhan dengan hasil kerja Felix dan Yuki harus segera mengeceknya. Lumayan kan jika ia bisa memeriksa beberapa berkas selama perjalanan.
Dan inilah yang disebut Axel dengan kehidupan tidak normal. Tapi Yuki mengabaikannya dan menganggap semuanya baik selama ia bisa bernafas dengan oksigen seperti kebanyakan makhluk. Normal?
"Uhm, nona.." ucap Nancy dengan ragu.
"Ada apa?"
Nancy melihat keluar jendela sejenak dan kembali menatap ke depan. "Itu, saya tidak bisa menjemput anda nanti siang karena ada beberapa hal yang harus saya urus"
"Yasudah, pergilah" jawab Yuki enteng.
"Ma-maksud saya, anda sangat tidak suka jika ditinggal seorang diri. Apa anda akan baik-baik saja?" Tanyanya lagi.
"Kalau itu keperluan mendesak, aku bisa apa. Jangan terlalu memaksakan diri. Aku bisa pulang bersama temanku. Ingat, aku punya teman tau"
Nancy tersenyum tipis saat mendengar jawaban nonanya. Yuki bersikap terlalu baik. Sebagai seorang nona besar, Yuki bahkan tak memandang status. Ia hanya memandang mana yang tua dan mana yang muda. Yuki akan bersikap sangat sopan jika berhadapan dengan orang yang lebih tua. Bahkan jika itu adalah karyawannya sendiri, Yuki jadi tak ragu lagi untuk memperlakukannya sesopan mungkin.
"Terima kasih nona. Anda sangat pengertian"
Yuki mengangguk cepat dan senyuman manis mengembang di wajahnya. Yuki mengambil sisir dan cermin dari dalam tasnya. Ia lupa untuk mengikat rambutnya yang sudah memanjang ini.
Musim gugur memang menyebalkan. Angin yang bertiup dengan kencang selalu saja membuat rambut Yuki jadi kusut. Karena rambutnya kini sudah sampai menutupi punggungnya namun belum sampai ke pinggangnya.
Rambut panjang jika kusut itu sulit untuk di luruskan kembali. Jadi Yuki harus selalu membawa sisir di setiap tasnya.
πΈπΈπΈ
"Yukiiiiii...... Morning honey" teriak Valeria yang berhasil membuat semua orang di kelas jadi berpindah fokus padanya.
"Hei, ini masih pagi Vale"
"Huuuu Valeria bikin heboh doang"
"Astaga Valeria"
"Andro, pacarnya terabaikan tuh kasian"
Protesan orang-orang dikelas. Valeria tak mendengarkan mereka dan masih memeluk Yuki dengan erat. Tapi Valeria malah merosot ke bawah dan berakhir duduk dilantai.
__ADS_1
"Vale, jangan duduk dibawah. Dingin tahu" Yuki berusaha melepaskan tangan Valeria dari pinggangnya, tapi Valeria malah menyandarkan kepalanya di paha Yuki.
"Ada apa?" Tanya Gavin yang baru datang dan segera menghampiri mereka yang terlihat aneh dengan posisi begitu.
"Akhirnya kita terbebas dari jeratan maut" cicit Valeria yang nyaris tak jelas.
"Hah?"
"Kamu ngomong apa sih Vale. Ayo bangun. Andro, tarik bangku kesini dong"
Andro dengan sigap menarik satu bangku ke dekat Valeria dan mengangkat kekasihnya ini untuk duduk di bangku. Tapi Valeria masih tetap memeluk erat Yuki.
Valeria memindahkan tangannya yang berawal berada di pinggang Yuki, kini berpindah dan bertengger di pundak Yuki. Ia mendekatkan wajahnya dengan telinga Yuki dan mulai berbisik.
"Aku tahu apa yang akan diminta oleh Gavin ketika melihat hasil ujian itu. Apa kau siap?"
Blush
Wajah Yuki merah merona dalam sekejap. Ia meraih punggung Valeria dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Valeria.
Andro dan Gavin pun semakin bingung. Tentang Apa yang di bicarakan Valeria sampai Yuki jadi malu-malu seperti itu?
"Valeria ngomong apa? Kok gua jadi kepo yah?" Ujar Andro yang menyenggol lengan Gavin.
Tapi Gavin tak bersuara dan hanya mengangkat bahunya. Dan Andro masih penasaran.
"Babe, tadi kamu bisikin Yuki apa sih? Kepo tau" ujar Andro blak-blakkan.
Valeria melepas pelukannya dan menatap sinis Andro. Gadis ini menarik kerah Andro dan meremasnya dengan perlahan. Andro merinding seketika melihat Valeria yang marah.
"Ini urusan perempuan. Kalian laki-laki pergilah yang jauh. Sebaiknya kau berdoa, semoga kau mendapatkan nilai lebih besar daripada aku. Kau ingat perjanjian kita?" Ujar Valeria dengan aura pemaksaan.
"I-iya iya. Aku ingat"
"Bagus" Valeria melepaskan tangannya
Perjanjian?
Ya, Andro dan Valeria memang membuat sebuah perjanjian. Atau lebih tepatnya seperti taruhan. Jika nilai Valeria yang tertinggi, maka Andro harus jadi supir Valeria selama ia melakukan girls time bersama Yuki dan Olivia. Dan jika Andro memiliki nilai yang tertinggi, mereka berdua akan pergi berkencan ke Madrid selama 1 Minggu penuh.
Cukup adil? Tentu saja. Karena ini memang kemauan mereka. Jadi, author bisa apah. Author hanya bisa menyampaikan apa keinginan mereka kan?
πΈπΈπΈ
3.00 p.m.
Hari yang lumayan damai.
Tapi jujur, Yuki sebenarnya terus menutupi degupan jantung yang heboh ini. Yuki terus berbicara dan sebisa mungkin ia berbicara lancar agar Gavin tak menyadarinya.
Yuki memang sangat berharap nilai Gavin mencapai target. Tapi Yuki jadi gugup jika mengingat hadiah yang Gavin minta.
"Yukiiii.... Over here!" Pekik Louis dari ujung lorong sambil melambaikan tangannya.
Disana orang-orang berdesakkan dan berkumpul di depan mading. Louis dan Olivia tersenyum lebar ketika Yuki sampai dan berdiri di samping Gavin.
Tapi mereka tak bisa melihat hasil ujian itu. Gavin menatap tajam kerumunan itu dan berkata, "minggir Lo semua!"
Hening seketika. Orang-orang langsung panik dan menghindari mading untuk memberi Gavin dan Yuki jalan.
"Vin, kamu agak kasar, jangan gitu" bisik Yuki.
Gavin mengacuhkan Yuki dan berjalan ke depan mading. Hatinya langsung berubah ketika melihat kembaran kertas yang menempel di sana. Tapi itu tak sebanding dengan ekspresi wajahnya sendiri.
Dan wow! You win, Mr. Gerald!
**1. Lucyana Yuki Arvie 986
Andro Lirenshi 975
Valeria Geishani 965
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Olivia Kardashian 810
.
.
.
Gavin La Ligeo Gerald 802
.
.
.
Louis Vuitton 760**
Uwoooohhhhh........ Gavin mencapai target!
"Yesss! Kita menang!!! Madrid wait for us!" Pekik Andro yang langsung merangkul pundak Gavin. Gavin terkekeh kecil karena tak disangka, ia melampaui batas target tujuannya.
"Selamat Yuki, usaha Lo ga sia-sia buat ngajarin kita bertiga. Dan ini nilai plus" ujar Olivia.
"Thanks Ki. Thank you banget! Kalo bukan karena Lo gua bisa-bisa rangking 100 kebawah" ujar Louis. Olivia dan Louis berjalan mendekati Yuki dan kompak memeluknya. Yuki dengan hati gembira, membalas pelukan mereka berdua dan air matanya lolos begitu saja.
"Lo nangis Ki?" Tanya Gavin. Yuki melepas pelukan mereka dan beralih menghadap Gavin. Gadis ini berusaha menghapus air mata itu dan Gavin memeluknya dengan lembut.
"Gua anggap itu air mata bahagia. Dan setelah ini, kita akan terus bahagia bersama selamanya" bisik Gavin pada telinga Yuki.
πΈπΈπΈ
**From : GavinGerald
To : YukiCortez
Nanti malam, gua jemput. Dandan yang cantik. Ga usah dibalas. Ini pernyataan, bukan pertanyaan**.
Apaan sih maksa banget.
Tapi Yuki tetap tersenyum malu-malu. Ia membaca pesan itu sambil berjalan menuju gerbang sekolah dan sesekali tertawa kecil.
Tadinya ia ingin pulang dengan Valeria, tapi Yuki telat. Andro terlalu heboh dengan liburannya ke Madrid dengan Valeria. Louis dan Olivia juga langsung pergi berkencan setelah tak lama mereka melepas pelukan tadi.
Gavin? Jangan ditanya. Kulkas kita lebih bersemangat dari siapapun. Ia langsung ngibrit lari pulang untuk menagih janji pada ibu dan ayahnya.
Semua orang senang. Yuki juga senang. Karena sedang senang, Yuki akan memaafkan semua orang. Yuki berniat mencari taksi dari depan gerbang, ia harus cepat pulang dan menagih janji pada Axel juga. Huh, ujian ini kenapa jadi ajang taruhan sih!?
"Woy cewe kegenitan!"
Hah, suara itu lagi. Jengkel deh dengernya.
Yuki dengan malas membalikkan tubuhnya untuk menghadapi gadis yang tadi memanggilnya. Itu Elise
Eh, tumben, kemana antek-anteknya pergi?
"Bisa ga sih Lo jauhin Gavin demi gue? Gue muak liat Lo semakin deketin cowo gue! Berhenti jadi cewe kegatelan!" Ujar Elise dengan marah.
"Oh gitu yah" jawab Yuki malas. Yuki berbalik lagi dan melirik ke jalanan untuk mencari taksi.
Emosi Elise semakin tak tertahankan. Gadis ini berjalan mendekati Yuki dan mencengkeram kuat bahu Yuki kemudian ia membalikan tubuhnya.
"Gue peringatkan sama Lo! Jauhin cowo gue!"
"Kamu ngehalu sudah sejauh mana? Udah sampai mars belum?" Yuki malah menjawab dengan ejekan.
"Bullshit! Gue benci sama Lo! Gavin itu cuma milik gue! Ga ada satu pun yang boleh memiliki dia selain gue! Hanya gue!"
"Ahh, sepertinya kehaluanmu sudah sampai ke planet Uranus, atau mungkin Pluto" Yuki semakin terkekeh, kini ia tak peduli dengan cengkraman Elise yang semakin menusuk kulit.
"Lo sebaiknya mundur. Karena Gavin hanya milik gue. Dan selama liburan ini, gue akan pergi ke mansion Gavin untuk pendekatan dengan keluarganya" sahut Elise dengan bangga.
"Hm, itu artinya kau belum pernah kesana. Aku sudah sering. Keluarganya bahkan sangat suka padaku. Apalagi adiknya, Sena, ia sangat menggemaskan ketika sedang manja. Ah ya, dan--"
"DIAM KAU!"
"Maaf. Bukan aku, tapi Kau yang seharusnya diam. Jangan buat hidup mu yang berharga hancur hanya karena obsesimu yang buruk!" Yuki berusaha menyadarkan Elise.
"Bullshit! MATI SAJA KAU! PERGI SAJA KE NERAKA!"
Elise melepas cengkramannya pada bahu Yuki yang sudah berdarah dan menendang perut Yuki. Yuki terdorong jauh hingga ke jalan raya. Sebuah truk melaju dengan sangat cepat dan,
BRAK!!!
secepat angin, semua itu terjadi dengan begitu bengisnya.
__ADS_1