Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
33. Ketakutan Terbesar


__ADS_3

Derap langkah kaki berlari itu menggema di seluruh penjuru lorong. 2 pria itu berlari secepat kilat setelah mendengar berita bagai Sambaran petir baginya. Tak peduli berapa orang yang sudah mereka tabrak, mereka tetap melanjutkan langkah mereka.


"Cepat! Nona besar membutuhkan transfusi darah!" Pekik seorang pria dengan jas kedokterannya.


Alvaro langsung berlari melewati kerumunan orang di IGD dan langsung menyambar baju khusus operasinya. Axel juga langsung mengikuti instruksi dokter itu untuk melakukan transfusi darah.


Semua orang panik. Bagai mendapat panggilan alam, awak media dan para wartawan telah mengepung gedung rumah sakit pusat kota ini setelah mendengar kabar bahwa seseorang dengan nama Cortez baru saja memasuki rumah sakit ini.


Gavin dan Kevin diluar rumah sakit ini berusaha menerobos masuk kerumunan itu dengan dibantu beberapa bodyguard. Gavin dan Kevin berlari tak kalah kencang dengan para bodyguard yang terus saja melindungi mereka dari kerumunan itu.


Akhirnya mereka bisa masuk dan kembali berlari kencang. Semua orang di lorong rumah sakit ini langsung menyingkir dan menepi ketika melihat ada beberapa bodyguard berbadan besar masuk bersama dengan kedua majikannya.


Awak media pun semakin gencar melakukan penerobosan masuk ke rumah sakit saat melihat kedua anak keturunan keluarga terpandang di negara ini baru saja masuk secara paksa dan menggunakan perlindungan ekstra. Mereka jadi bertanya-tanya, ada hubungan apa mereka dengan anggota keluarga Cortez yang dikabarkan misterius itu?


"YUKI!!" teriakan Gavin menggema di seluruh lorong rumah sakit. Dan mereka sampai di depan ruangan Yuki ditangani.


Disana sudah ada Zen yang sedang dibopong beberapa suster pria, karena Zen pingsan. Dan juga ada nancy yang air matanya terus mengalir deras, ditambah dengan tubuh yang mematung.


Wajah keduanya yang pucat membuat Gavin semakin tak tenang menunggu seseorang keluar dari sana. Kevin menepuk pelan pundak kembarannya untuk menenangkannya, walau Kevinnya sendiri gemetar ketakutan. Tapi ia berusaha untuk kuat di hadapan adik kembarnya.


*Kumohon jangan ada kabar buruk


Dddrrrrtttttt dddrrrrtttttt*...


Ponsel Kevin bergetar.


Andro Lirenshi is calling....


"Halo?"


"Woy! Ini gimana anjirr!? Kenapa ada banyak banget wartawan disini!? Gua ga bisa masuk!"


"Wartawan datang karena Yuki memiliki nama belakang Cortez. Ditambah mereka tadi liat gua dan Gavin masuk dengan bodyguard, mereka jadi semakin banyak dan heboh"


"WHAT!? bodyguard!? Lo kenapa ga bilang? Ck, kalo gini gua ga bisa masuk dalam setengah jam kedepan"


"Gua tunggu disini. Akan gua kabarin tenang"


"Kalo gua nerobos masuk, gimana ya?"


"Jangan. Percuma. Lo bakalan jadi santapan mereka selanjutnya nanti. Satpam didepan pintu saja tadi sudah kewalahan"


"Sial"


"Hei, sadar diri dong. Lo disini juga anak keluarga terpandang. Jangan macam-macam sama wartawan"


"Please, gua ga mau ada berita buruk lagi. Kita masih didalam mobil. Valeria pingsan dan disini ada louis yang panik juga. Gua takut Louis juga ikutan drop"


"Lo tenang, sekarang Lo tunggu bodyguard Lo dulu. Bakal gua suruh suster buat siapin 2 bangkar buat Valeria dan Louis"


"Lo benar-benar harus tenang Kev. Valeria dan Louis sudah langsung shock denger Yuki kecelakaan"


"Iya Ndro, gue ngerti"


"Bagaimana keadaan Gavin?"


"Tidak bisa dijelaskan"


"Tunggu gua, setengah jam lagi gua masuk"


"Iya. Santai aja bro. Tenang"


"Thanks"


BIP


Kevin memasukkan ponsel itu kedalam saku celananya. Ia kembali melihat Gavin yang sudah tegang sekujur tubuhnya, Gavin terlihat kaku dan ahh, Kevin jadi ingat perkataan Andro tadi. Takut Gavin juga ikut pingsan karena saking takutnya.


"Vin, duduk" Kevin menarik kembarannya agar duduk dengan tenang. Gavin hanya menurut. Dan bukannya tenang dan rileks, kakinya malah bergetar yang bisa Kevin lihat di kursi yang ikut bergetar juga.


Fix, Gavin ketakutan setengah mati.


Cklek


Axel keluar dengan wajah peluh membasahi keningnya dan sangat pucat. Ia memegangi lengannya dengan sebuah kapas. Keringat sebesar biji jagung terus mengalir tak deras di tengkuknya.


"Cepat makan vitamin ini dan minum susu ini. Sudah kusuruh orang untuk mengantar makan malam mu. Jangan sampai kau pingsan seperti Zen tadi" Alvaro datang dengan berpakaian serba hijau khas ruang operasi dan ia membawa vitamin serta susu kotak dan diberikannya pada Alvaro.


Awalnya mereka akan mengambil darah Zen tadi, tapi Zen keburu shock parah dan berakhir pingsan. Akhirnya mereka terpaksa menunggu Axel dari bandara untuk melakukan transfusi darah. Darah yang dimiliki keluarga Cortez memang tergolong darah yang langka. Jadi itu akan menyulitkan mereka jika sedang seperti ini. Memiliki darah yang langka memang sangat beresiko.


Kevin memegangi pundak Axel dan mengarahkannya untuk duduk di kursi. Axel terlihat sangat kacau. Masih ingat pakai baju saja itu sudah bersyukur.


Daun pintu berwarna putih itu terbuka lebar dengan sebuah bangkar yang ditarik oleh beberapa orang.


Itu Yuki!


Gavin membelalakkan matanya dan langsung berdiri untuk menghampirinya. Dilihatnya, Yuki terbaring mengenaskan dan berlumuran darah dengan masih memakai pakaian lengkap seragam sekolah.


Gavin memegang besi bangkar itu dan ikut berjalan kemana bangkar itu pergi. Kevin tak ikut dengannya karena ia tak kuat melihat Yuki begitu mengenaskan seperti itu.

__ADS_1


"Vin, tenang dan tunggu diluar. Tolong berdoa saja" Alvaro memegang pundak Gavin untuk meyakinkannya. Gavin melepas genggamannya dan bangkar itu masuk kedalam sebuah ruangan,


Ruang operasi.


Pintu itu tertutup seiring dengan jatuhnya Gavin ke lantai. Hancur. Gavin merasa hancur. Ia merasa tak berguna. Ia tak pantas jadi pelindung bagi Yuki.


Andai aku bisa menggantikan posisi Yuki. Aku akan melakukan apa saja.


Tapi itu sia-sia. Bagaimanapun juga Yuki sedang berjuang di dalam sana. Gavin harus benar-benar positive thinking.


Lampu di atas pintu operasi itu menyala menandakan bahwa operasi sudah berlangsung.


Setetes air mata akhirnya turun dari pelupuk mata pria ini, kemudian aliran air mata itu terus saja deras. Isakan mulai terdengar. Kalian sudah melihat bagaimana lemahnya Gavin pada orang yang dicintainya. Inilah Gavin. Pria yang biasanya tak pernah berekspresi pada wajahnya, kini menangis meratapi gadis yang dicintainya.


Tak lama kemudian, Felix berlari dan terlihat di ujung sana ada Andro yang ikut berlari bersama 4 bodyguardnya. Felix berlari dengan air mata yang benar-benar mengalir deras.


"Ba-bagaimana ini bisa terjadi? Axel jawab! AXEL!?" Felix terus mengguncang tubuh Axel. Dan pria itu sendiri memiliki tatapan kosong. Air mata yang kini sudah mengering, membuatnya terlihat seperti mayat hidup.


"Yuki tidak seceroboh itu. Gadis itu memang ceroboh, tapi dengan posisi ia terjatuh, sudah pasti ada dalang dibalik semua ini" ujar Felix mendingin.


"Hm, kau benar. Bagaimanapun juga, orang-orang tidak tahu jika Yuki adalah seorang Cortez"


Felix melepas cengkramannya pada Axel dengan kasar. "Aarrgghhhh!! AKAN KUCARI SI PEMBUNUH ITU!"


"Kau benar, kita buat si pembunuh adikku menderita sampai ke akarnya. Felix, kau tahu apa yang harus dilakukan" Axel tiba-tiba mengeluarkan suaranya dengan seram. Aura membunuh kini menguar dari dalam tubuhnya.


Jadi ini yang berusaha kau beritahu waktu itu kan? Sweety...


🌸🌸🌸


7 jam kemudian...


Lampu operasi dimatikan dan sudah pasti operasi sudah selesai di dalam sana. Gavin bangkit dari duduknya. Disusul oleh Kevin, Axel dan Andro.


Pintu operasi terbuka dan keluar lah Alvaro dari dalam. Ia menurunkan maskernya dengan tertunduk.


"Al, apa yang terjadi? Lancar kan?"


Alvaro kembali meneteskan air matanya dan memeluk Axel. "Little sister kita, operasinya lancar. Tapi dia semakin kritis, keadaannya memburuk! Jika seperti itu terus, Yuki, dia akan---"


"Sssstt... Apa yang kau katakan, adik kita pasti sembuh. Dia gadis kuat. Ayo, kau harus menjelaskan diagnosa Yuki kan?" Potong Axel dengan lembut. Alvaro mengangguk dan membawa Axel ke ruangannya.


Di dalam ruangan ini, Axel duduk di sofa berhadapan dengan Alvaro yang sedang melepaskan sarung tangannya dan penutup kepala.


"Ekkhem, oke aku siap. Jadi, saat mengalami kecelakaan itu, Yuki untungnya dengan sigap memasang perlindungan di dadanya, sehingga itu melindungi organ penting. Ia juga dengan cekatan berusaha jatuh dengan tidak membenturkan kepalanya, kemungkinan Yuki tak mengalami amnesia karena aku gak melihat kejanggalan apapun di kepalanya. Yuki jadi hanya mengalami pendarahan kecil di kepalanya. Tapi lehernya malah patah"


Alvaro mulai menganalisa dengan apa yang terjadi dengan Yuki berdasarkan luka yang terdapat di tubuh mungil itu.


"Dan karena Yuki terjatuh telentang, ada 2 retakan di tulang punggungnya" Alvaro memegang kepalanya sendiri dengan kedua tangannya. " Yuki remuk Xel, remuk"


Axel lemas mendengarnya. Tapi ia berusaha terlihat kuat. Ia berusaha memasang ekspresi biasanya untuk mengelabui semua orang.


"Hei, kau bilang hanya patah dan tidak remuk. Kenapa kau berkata seperti itu?" Ujarnya.


"Yuki kritis Xel, hiks. Hiks. Kritis!"


"Yuki pasti bisa melewatinya. Percaya lah. Kau ini dokternya, ingat?"


Alvaro kini tidak bisa membendung lagi air matanya. Ia beralih memeluk Axel dan Axel membalas pelukan itu. Ia juga butuh sandaran. Rasanya sangat sakit melihat Yuki terbaring lemah seperti itu.


Sreeekk..


Tirai itu tersingkap, menampakkan wajah Zen yang pucat pasi. Apa Zen mendengar semuanya?


"Kak, operasi Yuki bagaimana? Transfusi darahnya bagaimana?"


"Hei kemarilah, operasinya lancar karena aku sudah memberikan darahku. Yuki akan baik-baik saja. Sudah ku sewa ruang VVIP di sebelah ruangan Yuki untuk kita beristirahat. Cepat kesana, kau harus makan. Andro akan mengantarmu"


Zen mengangguk nurut seperti anak kecil. Ia berjalan keluar dan menutup pintu dengan pelan. Alvaro masih menangis sesenggukan dipelukan Axel.


Axel mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah nama disitu. Kemudian ia menempelkan ponselnya di telinganya.


"Halo? Ini aku"


...


"Tolong perketat penjagaan luar dalam"


...


"Iya luar dalam. ... Tentu"


BIP.


"Al bangun"


Alvaro melepas pelukannya dan menjauh dari tubuh Axel dengan mata yang sudah membengkak.


"Suruh dokter lain yang menjaga Yuki secara bergilir. Kau terlalu shock, kau butuh istirahat"

__ADS_1


"Baik"


🌸🌸🌸


6.15 a.m.


Malam yang mencekam bagi mereka kini telah berganti pagi. Namun matahari pagi bersembunyi malu-malu di belakang awan hitam yang terus mengeluarkan petirnya. Sepertinya badai akan datang.


Axel bangkit dari tidurnya. Ada Zen yang masih tertidur tenang disampingnya dan Felix yang tertidur di kasur lantai.


Alvaro sudah bangun sejak subuh tadi untuk memantau perkembangan kondisi Yuki. Axel turun dari atas kasur dengan perlahan. Jangan sampai gegabah hingga membangunkan adiknya. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Beberapa menit kemudian, Axel keluar dengan wajah yang lebih segar daripada yang sebelumnya.


Ia harus mencari sarapan untuk mereka makan pagi ini. Ia berjalan keluar ruangan dan menemukan Nancy yang sudah berdiri didepan pintu.


Sejak kapan wanita ini berdiri disitu?


"Kau masih merasa bersalah?" Tanya Axel.


Nancy memang sangat merasa bersalah dengan kecelakaan yang ditimpa nonanya. Sejak semalam, ia terus mematung dan tak berani untuk berbicara dengan Axel. Namun ia berani dan telah berbicara dengan Felix dan tentu pria itu menyampaikannya pada Axel.


Nancy merasa berhak untuk yang paling disalahkan. Sebab sudah tugasnya lah untuk mengantar jemput Yuki dengan selamat. Tapi dengan satu urusan saja sudah membuat Yuki celaka.


"Sa-saya, ma-maafkan saya tuan" Nancy Akhirnya menurunkan tubuhnya. Ia sujud di depan kaki Axel dengan air mata yang terus berderai.


"Tolong hukum saya tuan. Tolong. Hukum mati saja" ujar Nancy dengan sedikit isakan kecil.


Axel merasa iba dan membantu wanita ini untuk berdiri. "Cukup kau jaga Yuki di ruang inap. Aku mau kau jaga selama 24 jam penuh. Jangan sampai Yuki lepas dari pengelihatan mu hingga ia bangun. Selagi aku dan yang lainnya mencari si pembunuh itu" ujar Axel dingin.


Nancy mengangguk pelan dan menghapus air matanya dengan sapu tangan. Wanita ini akhirnya tersenyum lebar setelah mendengar tuannya telah memaafkan dirinya.


"Siapkan sarapan. Zen dan Felix pasti akan bangun dalam sejam. Aku harus lihat keadaan Yuki terlebih dahulu"


"Baik tuan"


Axel melepas tangannya dari pundak Nancy dan berjalan lurus. Namun ketika ia sampai didepan pintu rawat adiknya, langkahnya terhenti. Matanya terpejam dan sedikit menormalkan pernapasannya.


Semoga air matanya tak jatuh lagi didepan adik manisnya.


Oke, Axel siap.


Cklek.


Axel dan masuk dan kembali mematung. Matanya membulat sempurna.


"Eh? Nyonya Gerald?"


Ya, itu ibunya Gavin. Wanita ini sedang berdiri di samping tempat tidur Yuki dengan sesekali mengelus rambutnya dengan lembut. Nyonya Gerald tersenyum. Bukan menuju ke depan Axel, tapi ia malah duduk di sofa. Wanita ini menepuk sofa pelan untuk memberi tahu Axel untuk duduk disampingnya.


Axel pun duduk dengan tenang.


"Yuki sudah seperti Puteri ku sendiri. Jadi aku harus mencari kesempatan untuk menjenguknya agar tak diganggu siapapun. Dan, ini masih terlalu pagi. Maaf, apa aku mengganggu?"


Axel tersenyum dan menundukkan kepalanya. "Tidak, tidak sama sekali. Aku bahkan tidak bisa tidur. Jadi, dimana Gavin?"


Nyonya Gerald terkekeh geli sambil menutup bibirnya dengan tangannya. "Anak itu semalam diseret paksa oleh bodyguard kami saat setelah operasi Yuki selesai. Dan aku sudah memberinya obat tidur. Dia akan terbangun setelah tertidur 15 jam"


Anaknya sendiri dicekokin obat tidur dan ibunya tertawa geli? Sungguh psikopat sekali anda.


"Ah, begitu ya" respon Axel sangat singkat sekali.


"Hei, kau lupa dengan apa yang kukatakan tadi?" Tanya ibu Gavin.


"Eh apa?"


"Baiklah, akan ku ulangi. Aku sudah menganggap Yuki sebagai anakku juga. Kau kakaknya, secara otomatis kau juga putera ku" jawab ibu Gavin dengan lembut.


Axel terkejut dan tak merespon, hanya diam terpaku.


"Jangan sungkan untuk meminta bantuan. Dengan senang hati dan tanpa paksaan, kami sekeluarga akan membantu memecah kasus ini. Intel kami sudah mencoba mengecek semua cctv yang ada disekitar lokasi kejadian. Tapi semua rekaman cctv itu sudah dimanipulasi total. Kau tahu apa artinya? Ini bukan kecelakaan! ini pembunuhan berencana!"


Setetes air mata Axel akhirnya lolos juga. Sesuai dengan dugaannya sejak semalam, bahwa ini murni bukan kecelakaan. Ada seseorang di balik peristiwa ini.


Ibu Gavin mendekati Axel dan langsung memeluknya, memberi pelukan hangat untuk menyemangatinya.


"Aku dan suamiku, sudah lama memperhatikan gerak-gerik mu. Menjadi orangtua sekaligus tulang punggung, kau lakukan diusia yang masih belia. Aku sangat salut padamu. Bersikap keras untuk menunjukkan kekuasaan, itu sangat sulit. Kau sudah lama menahan ekspresi mu. Menangis lah. Menangis hingga kau takkan pernah menangis lagi. Jangan ada lagi air mata. Manusia tetaplah manusia. Mereka juga bisa lemah karena seseorang yang dicintainya. Hidupmu terlalu berat nak. Kau bisa cerita padaku. Ceritakan semua beban hatimu sekarang"


Air mata itu semakin deras dan membasahi pundak ibu Gavin. Axel melepas pelukan itu dan menunduk. Matanya terpejam dengan air mata yang masih mengalir.


"Yuki segalanya bagiku. Dia sumber semangat hidupku. Aku bertahan hidup untuknya. Aku ingin memberinya kebahagiaan yang tiada tara seperti gadis lain pada umumnya. Hiks. Tapi adikku berbeda. Yuki berbeda. Disaat aku sakit, entah kenapa ia bisa tahu tanpa bertanya, dia selalu ada untukku. Tapi disaat ia tersakiti diam-diam, aku bahkan sangat tidak peka. Walau dia ceria dan cerewet, tapi Yuki pintar menyembunyikan hatinya"


"Semakin ku manja dengan harta, Yuki semakin menolak keras. Ia hanya lebih suka diperhatikan. Ia butuh perhatian. Ia butuh kasih sayang orangtua, dan itu tak bisa kuberikan. Walau ia tak minta, tapi aku merasa ia perlu. dan yang ia katakan hanyalah 'aku hanya punya kau, kak. Aku tak butuh apapun. Barang-barang mewah itu tak berguna. Yang kubutuhkan hanya kau selalu berada di dekatku, itu saja' begitu katanya. Tapi aku, ... Aku malah terkadang tidak pulang berminggu-minggu bahkan pernah aku tidak pulang kerumah selama 8 bulan. Aku begitu bodoh. Bodoh"


"Aku meninggalkannya hanya untuk urusan bisnis. Disaat semuanya sedang sibuk dengan sekolah mereka dan aku dengan perusahaan itu, ia sendirian dirumah besar itu. Pelayan yang selalu bersikap formal saja itu kurasa tidak cukup. Yuki terkadang bersikap lebih dewasa dari usianya. Gadis itu pintar menyembunyikan kesedihannya dibalik sifat lugu dan manjanya. Itu selalu membuatku khawatir"


Axel mengeluarkan semua unek-uneknya yang tidak bisa ia ceritakan pada siapapun. Ini pertama kalinya Axel terbuka mengenai masalah kehidupan Yuki.


"Hiks hiks. Akan kucari si pembunuh itu dan akan kubuat dia menderita sampai ke akarnya"

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ps. Author nulis ini sampe nangis😭. Sebenarnya beneran ga tega sama tokoh favorit author. Tapi ya mau gimana lagi😔. Silahkan hujat Vivi sepuas kalian🤧


__ADS_2