Love Grow Slowly

Love Grow Slowly
12. Rencana Hampir Gagal


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 5.30 pm. Tapi Gavin tak kunjung pulang. Yuki jadi khawatir. Takut terjadi apa-apa dengan Gavin. Yuki sudah selesai memasak. Tinggal memasak udang crispy kesukaan Sena dan selesai. Tapi masalahnya, Gavin sedang membeli udangnya dan belum pulang.


Dddrrrrttt...


Ponsel Yuki bergetar. Yuki harap itu dari Gavin. Yuki membuka ponselnya dan melihat siapa yang mengirim pesan. Ahh, ternyata Vale.


Valeria Geishani :


Gawat Ki.


Sena minta pulang!


Lo udah selesai belom?


Kita lagi perjalanan pulang sekarang


Lucyana Yuki :


Aduuhh


Mana Gavin masih belum pulang


Dia lagi beli udang


Perlambatan dong pulangnya


Valeria Geishani :


Oke!


Biar gua usahain


Lucyana Yuki :


Thanks vale๐Ÿ’•


Jantung Yuki terus berdebar hebat. Ini pertama kalinya dia ikut membuat surprise party untuk temannya. Apa akan gagal begitu saja? Sepertinya sih begitu. Yuki pasrah sekarang.


Yasudahlah, mau gimana lagi?


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Ckiittt...


Akhirnya mereka sampai dirumah Gavin setelah membiarkan Sena bermain di pantai sesukanya. Vale merasa ragu untuk membawa Sena kedalam. Dia merasa telah sangat membebani Yuki di dalam sana.


Yuki bilang untuk memperlambat perjalanan, tapi Vale tak bisa membiarkan Sena yang terus merengek meminta pulang dengan cepat. Dengan berat hati, Andro pun menancapkan gasnya sedikit lebih cepat dari sebelumnya.


"Ayo kita masuk!" Teriak Sena. Sena berjalan kearah pintu dan memegang kenop pintu. Sena tak bisa membukanya. Apa kenop ini macet atau pintunya memang terkunci?


"Kak Andro? Pintunya ga bisa dibuka, gimana dong?" Tanya Sena.


"Hm? Biar ku telpon ibumu. Sepertinya ia tertidur di dalam" Andro langsung mundur menghindari Sena dan mengeluarkan ponselnya.


"Halo? Iya ini aku"


"..."


"Iya. Kami sudah didepan. Bisa tolong bukakan pintunya?"


"..."


"Tidak dikunci? Oke baiklah"


Andro menutup teleponnya dan kembali mendekati mereka. Andro masih tetap dengan muka datarnya. Melihat Andro seperti itu, Vale tak bisa menenangkan jantungnya yang terus berdegup kencang.


"Apa kata ibu? Apa dia sedang pergi keluar?" Tanya Sena penasaran.


"Pintunya tak dikunci. Buka saja!" Pekik Andro dengan keras. Apa ini? Ini diluar rencana! Aduuhh.. rasanya Vale ingin pingsan saja sekarang!


Sena berjalan sambil ke arah pintu. Sena bingung. Apa yang terjadi dengan Andro? Sena jadi takut untuk membuka pintu ini. Jelas - jelas tadi pintunya tak bisa ia putar, seperti macet. Lalu kata ibunya, pintunya tak dikunci sama sekali.


Apa ada hantu disini?!


Sena merinding saat berada di depan pintu. Dengan ragu, ia menoleh ke belakang dan menatap Andro. Andro menganggukkan kepalanya dan sedikit tersenyum.


'untuk apa takut dengan hantu sekarang? Toh aku juga sedang bersama ketiga kakakku yang pemberani' batin Sena.


Sena memberanikan dirinya untuk membuka pintu ini. Sena mulai menggenggam kenop pintu dan menariknya kebawah lalu mendorongnya dengan keras. Dilihatnya isi rumah sangat gelap gulita.


Sena berkeringat dingin dan ia menutup matanya dengan cepat. Terasa dari belakang ada yang mendorongnya dan membuat Sena maju kedepan 2 langkah. Sena gemetar hebat. Dan...


"Surprise!" Teriakkan semua orang yang ternyata ada didalam rumah setelah lampu dinyalakan. Sena terkejut, haru, dan sangat senang. Bercampur menjadi satu. Air mata Sena langsung jatuh dari pelupuk matanya saat melihat Gavin memapah kue tart ditangannya.


"Hey! Happy birthday my little sister!" Ujar Gavin sambil berjalan menghampirinya. Sena langsung menghapus air matanya dengan kasar dan senyuman lebar kembali terukir di wajah berserinya.


"Ayo, tiup lilinnya Miss Senalish" ujar Gavin yang telah berada di hadapan Sena.


Sena pun meniup lilin yang berbentuk 14 disana dan lilin - lilin kecil yang sepertinya juga berjumlah 14 buah. Sorak ria terdengar setelah Sena meniup semua lilin di kuenya.


Yuki berjalan menghampiri keduanya dan mengambil alih kue yang dipegang oleh Gavin. Sena menyadari keberadaan Yuki dan bertanya - tanya, siapa gadis cantik ini?


Gavin sedikit membungkuk dan membuka tangannya, memberi isyarat kepada Sena untuk memeluknya. Tapi itu sia - sia dilakukan oleh Gavin. Sena lebih tertarik pada Yuki yang sedang memperhatikannya juga.


"Uwahhh, kakak ini siapa? Kakak sangat cantik" ujar Sena yang ternyata lebih tertarik pada Yuki dari pada memeluknya.


Gavin kecewa! Saudara - saudara!


"Hai gadis kecil, namaku Yuki" ujarnya sambil tersenyum hangat. Gavin mengambil kembali kue yang tadi diambil Yuki. Yuki melirik sedikit dan tertawa kecil saat melihat Gavin cemburu.


"Kau memanggilku gadis kecil? Kenapa?" Sena memiringkan kepalanya karena bingung. Yuki menekuk lututnya agar pandangannya sejajar dengan Sena.


"Karena kau sudah berumur 14 tahun, itu artinya kau sudah menjadi gadis cantik, dan kau sangat imut. Jadi aku memanggilmu gadis kecil. Kau tidak suka ya?" Tanya Yuki. Sena langsung tersenyum dan memeluk Yuki dengan erat.


"Aku suka! Terimakasih kak Yuki!" Ujar Sena yang masih betah dalam pelukan mereka. Tapi Yuki berhasil melepas Sena dari pelukannya dan mengelus kepalanya dengan lembut.

__ADS_1


"Lihat" Yuki menunjuk ke arah Gavin yang sedang berdiri dibelakangnya sambil memegang kue. "Dia ini sedari tadi menunggumu untuk memeluknya tahu" ujar Yuki. Sena hanya tertawa geli melihat ekspresi wajah datar Gavin.


Akhirnya Sena pun membuka tangannya dan berkata "kemarilah kakakku si kulkas berjalan" Gavin menaruh kue tart di atas meja dan beralih memeluk adiknya.


"Happy birthday little sister. Miss you so much" bisik Gavin.


"Me too" balasnya dan pelukan mereka pun merenggang.


"Ayo semua, kita makan malam bersama! Pelayan! Keluarkan makan malamnya" pekik Gavin sambil menggandeng tangan Sena dan membawanya ke meja makan. Semua orang mengikuti mereka berdua kecuali Vale dan Yuki. Vale berjalan mendekati Yuki dan langsung memeluknya.


"Hah... Yukiiii... Kau membuat ku takut!" Ujar Vale.


"Semuanya baik. Tenang saja."


"Thanks ya. Kamu memang bisa diandalkan"


"Ga usah terimakasih. Kita kan melakukannya bersama" Yuki melepas pelukannya dan menatap Vale.


"Ayo kita susul mereka"


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Semua orang sudah mulai makan tanpa menunggu Yuki dan Vale. Saat mereka berdua hendak duduk, Sena langsung tersenyum lebar.


"Masakan kak Yuki yang terbaik! Sangat enak!" Ujar Sena.


"Terimakasih Sena"


"Kak, ini udangnya makan juga dong. Ini kan makanan kesukaan aku" Sena mengambilkan dua udang goreng dan hendak menaruhnya di piring Yuki, namun ditolak olehnya.


"Jangan! Aku tak bisa makan udang" larang Yuki. Sena langsung diam mematung. Suasana juga seketika diam tak bergeming.


"Eh? Kok diam? Maaf, jangan pedulikan aku. Lanjut saja makannya" ujar Yuki jadi merasa tak enak. Sena masih diam, merasa bersalah juga. Hampir saja Sena membuat Yuki celaka.


"Kau alergi udang?" Tanya Gavin pelan dari samping. Lalu Yuki mengangguk malu.


Akhirnya makan malam pun terlaksana dengan baik dan lancar. Ya walaupun ada sedikit kecanggungan, tapi itu bukan masalah besar.


Setelah selesai makan malam, pelayan rumah pun datang dan membereskan semua piring kotor dimeja. Yuki pun berdiri dan semua orang memperhatikannya.


"Terimakasih karena sudah memakan semua masakanku sampai tak bersisa. Aku sangat senang. Aku sudah buatkan kalian dessert untuk malam ini. Silahkan ditunggu" ujar Yuki dan langsung meninggalkan meja makan.


"Sebenarnya, berapa banyak makanan yang Yuki buat?" Tanya Louis bingung. Karena sejak tadi, mereka sudah makan masakan Yuki mulai dari nasi, ayam, udang, soup, jamur, dan sekarang masih ada lagi?


Yuki kembali dengan para pelayan yang membawa nampan berisi... Es krim?


"Yuki kau bisa buat es krim?" Tanya ayah Gavin.


"Iya, karena hari ini spesial ulang tahun Sena" Yuki tersenyum pada Sena.


Para pelayan langsung membagikan es krim masing-masing dan langsung izin mengundurkan diri lagi. Semua orang memakan es krim buatan Yuki dengan bahagia.


Ini gila, sungguh gila. Gua cuman ninggalin dia 3 jam dirumah gua, dan dia udah masak sebanyak ini? Batin Gavin.


Setelah makan malam benar - benar selesai, para tamu pun berpamitan pulang. Teman - teman Sena pun juga ikut pulang. Sena sendiri pun sudah tertidur pulas sejak ia masih memakan es krim.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Oh jadi gitu?"


"Iya, gila bro, Sena kalau lagi merengek, aduh, ga bisa gua tolak" ujar Louis.


"Ya mau bagaimana lagi. Lagipula, Yuki lebih jago menghadapi keadaan yang berbalik" ucap Vale.


"Huh, gua bersyukur waktu itu ngajak Gavin ke balap liar" ujar Louis seperti ngelantur.


"Heh gila! Maksud lu apa?" Ujar Gavin.


"Waktu itu kan gua ngajakin dia ke balap liar, terus Gavin pulang pagi dan kepergok ibu sama ayahnya dan berakhir di apartemen. Pagi itu, dia bangun telat, lari - larian biar ga telat masuk sekolah. Akhirnya dia ga sengaja celakain Yuki di pintu kelas. Sejak itu, Yuki jadi sahabat kita. Dan seperti inilah kita sekarang. Itu yang membuat gua bersyukur" jelas Louis sambil menengadah ke atas.


Yuki tertawa terbahak-bahak dan yang lain pun juga ikut tertawa. Sedangkan Gavin, dia hanya tersenyum tipis. Dia juga tak pernah terpikirkan hal seperti ini.


"Stop guys!" Pekik Andro dan mereka pun tiba - tiba menghentikan tawanya.


"Louis, bukannya Lo mau ceritain tentang masalah pacar baru Lo?" Kata - kata Andro berhasil membuat yang lainnya terkejut.


"Oh iya, gua hampir lupa. Makasih Ndro" lalu Louis mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan membuka galeri. Ia menaruh ponselnya di atas meja, disana ada foto Louis dan seorang gadis berambut panjang bersamanya. Andro, Gavin, Yuki dan Vale langsung mendekat dan memperhatikan foto tersebut.


"Ini kan ketua cheerleader" ujar Yuki memecah keheningan.


"Kok Lo bisa kenal?" Tanya Andro penasaran


"Iya, dia ini yang bantuin aku kemarin masukin buku pelajaran ke dalam paperbag di perpustakaan. Dan waktu itu, dia sedang mengenakan pakaian cheerleadeernya gitu. Awalnya aku juga ga tau kalau dia ketuanya, tapi pas aku liat hanya pakaian dia aja yang beda, aku jadi bisa ngambil kesimpulan kalau dia ini ketuanya" jelas Yuki.


"Yup, dia ini ketua cheerleader. Namanya Olivia Kardashian" ujar Louis.


"Wah, keren Is" Yuki mengacungkan jempol pada Louis.


"Dia kelas 11.C?" Tanya Andro.


"Iya. Gua minta dia untuk jangan bilang hubungan kita pada siapapun, gua takut dia juga digangguin sama gengnya si Elise."


"Bukannya geng cheerleader si Olivia ini setara sama gengnya si Elise?" Tanya Andro.


"Iya setara. Tapi Lo liat lagi dong, dibelakang dia tuh ada tantenya si ketua kesiswaan" ujar Gavin.


"Ah, iya gua lupa" Andro menepuk dahinya dengan telapak tangannya.


"Kapan - kapan, ajak dia main sama kita dong Is" ujar Yuki tersenyum lebar.


"Wihh, pasti dong. Tapi ga sekarang"


"Eh iya, btw, ada yang mau jadian loh.." ujar Louis menggantung. Perkataan Louis membuat Valeria merinding dan Andro pun sepertinya sadar juga.


"Siapa?" Tanya Yuki dengan mata berbinar dan Louis tersenyum pada Andro. Ini semakin meyakinkan Vale bahwa bukan Yuki yang sedang di bicarakan oleh louis.

__ADS_1


"Jadi pas dipantai tuh, si a.."


"Louis! Berisik banget Lo!" Pekik Vale yang menyela perkataan Louis.


"Andro bilang suka sama Vale?" Ujar Yuki.


Ack, skakmat!


"Hm? memanfaatkan keadaan yang ada. Pinter juga Lo Ndro. Vale harusnya juga jujur" ujar Gavin dengan nada datar. Kini wajah Vale berubah merah, Semerah tomat yang ada di pasar.


"Jadi beneran ya? Padahal tadi aku cuman asal tebak aja" ujar Yuki. Kemudian Yuki tersenyum dan menghampiri Vale yang sedang duduk di samping Gavin. Yuki berdiri dihadapannya.


"Jangan gantung Andro dong Vale, kasian tuh Andro jadi salting" ledek Yuki, tapi Vale malah menyembunyikan wajahnya diperut Yuki. Tawa pun pecah diantara mereka yang melihat tingkah laku Vale. Kemana perginya Vale yang tomboy?


"Gua juga lagi nunggu jawaban dari Vale" ujar Andro yang akhirnya membuka suaranya.


"Diam Lo Ndro!" Pekik Vale.


Gavin menarik tangan Yuki agar menjauh dari Vale. Gavin sepertinya menarik terlalu kuat, sampai - sampai Yuki jatuh terduduk tepat di samping Gavin. Bahu mereka saling bersentuhan membuat jantung Gavin berdetak kencang. Ada apa ini?


"Nah, gitu dong! Andro kan jadi bisa terus melirik wajah cantik Vale" ledek Louis.


"Ahahaha, coming soon! Cerita cinta antara Andro dan Vale" ucap Yuki.


"Iya, tungguin aja" balas Andro.


"Cie cieee!"


Arrhghh... Vale tak kuat menahan cobaan ini ya tuhan! Vale terus menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Jarang sekali Vale dijadikan bahan candaan seperti ini.


"Permisi tuan" tiba - tiba ada seorang pelayan perempuan yang datang menghampiri mereka dengan membawa sebuah kotak.


"Ini ada paket untuk non Sena" ujarnya sambil memberikan kotak itu pada Gavin. Gavin penasaran dengan kotak paket yang datang. Gavin pun membuka bungkus berwarna coklat tersebut. Ternyata di dalamnya ada sebuah kotak hadiah dan sepertinya itu untuk Sena. Ada secarik kertas yang terikat di pita kotak. Bertuliskan,


***Happy birthday little sister


Maaf aku tak bisa pulang


Aku tak pernah melupakan adikku yang manis


Kevin La Ligeo Gerald ๐Ÿ’›***


Jadi ini dari Kevin? Gavin meletakkan kotak itu di atas meja.


"Seharusnya kau tak membukanya seperti itu" ujar Yuki.


"Gua ga buka isinya" jawab Gavin.


Tiba-tiba ponsel Yuki berdering di atas sofa yang di duduki Andro. Karena tadi Yuki duduk disamping Andro, mungkin tadi ponselnya terjatuh saat ia bangun menghampiri Vale.


"Yuki, ini hp lu!" Andro mengambil ponsel Yuki dan dilihatnya siapa yang menelepon.


"Ini dari.. Alvaro?"


"Eh? Kak Al? Kemarikan Ndro!" Ujar Yuki yang langsung berdiri mengambil ponselnya dan berjalan agak menjauh dari mereka.


"Halo kak?"


"..."


"Iya aku sedang dirumah temanku"


"..."


"Bandara? Dekat kok. Ada apa?"


"..."


"Eh? Jemput sekarang? Bukannya kak Al lagi di Greenedy?"


"..."


"Oh begitu. Oke aku kesana sekarang"


Yuki menutup telponnya dan kembali pada temannya. Yuki berniat untuk berpamitan.


"Maaf ya, aku harus pergi sekarang" ujar Yuki.


"Kenapa pulang? Menginaplah disini. Yang lain juga berniat menginap" ujar ibu Gavin yang muncul dari tangga.


"Maaf Tante. Aku harus jemput seseorang di bandara sekarang. Kasian dia kalau menunggu terlalu lama"


"Hm, baiklah. Gavin, antar Yuki kebawah!" Perintahnya.


"Iya Bu. Ayo ki!" Ajak Gavin.


"Aku pulang ya guys. Bye!" Yuki melambaikan tangannya.


"Maaf Vale, pulangnya sama bebeb Andro aja ya" ledek Yuki yang langsung pergi menyusul Gavin ke bawah.


"Yukiiii!!!" Teriak Vale.


"Ahahahahahahaha..." Yuki tertawa puas setelah meledek Vale.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Kini Yuki dan Gavin sudah ada di dalam garasi mobil. Yuki mengeluarkan kunci mobil dari tas selempangnya dan menekan tombol disana. Yuki yang hendak membuka pintu mobil pun tidak jadi membukanya karena melihat Gavin yang terus melihat mobil di sampingnya.


"Rindu sama mobil sportnya?" Tanya Yuki pelan. Gavin hanya mengangguk.


"Coba bicarakan sama ayah dan ibumu. Siapa tahu mereka mau mengizinkanmu membawa mobil lagi" ujar Yuki sambil mengusap punggung Gavin.


"Gua ga yakin. Rasanya itu mustahil terjadi"


"Ga ada yang ga mungkin. Usaha aja belum, masa mau nyerah duluan"

__ADS_1


Gavin tak menjawab. Ia hanya diam memikirkan perkataan Yuki.


"Bye Vin!" Yuki masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin mobil. Memundurkannya sampai keluar dari garasi. Yuki langsung menancapkan gasnya meninggalkan pekarangan rumah Gavin.


__ADS_2